
“Kok ke sini?” tanya Kara, bingung, karena Adji malah membawanya ke kamar milik Adji yang tadi.
“Ya lu tunggu di sini lah, nanti gue suruh orang buat beli baju lu. Di sini kan ada baju gue, baju lu juga ada beberapa kan, tapi gak ada gaun, jadi beli dulu. Emang lu mau keluar dalam keadaan begini?”
Sejak kecil mereka tumbuh bersama, mandi bersama pun sudah biasa. Hanya sejak entah kapan, mungkin saat mereka dianggap sudah memasuki usia remaja, baru orangtua mereka tidak mengijinkan lagi mereka mandi bersama. Tapi untuk tidur, orangtua mereka hanya berpikir tak mengapa.
Alhasil sampai saat ini Adji dan Kara memang sering tidur bersama, di kamar yang sama, di ranjang yang sama. Jadi tak perlu heran bila di mana pun tempat Adji pasti sudah tersedia barang-barang milik Kara, termasuk beberapa helai pakaian gadis itu, begitu pun sebaliknya.
“Ya enggak sih, gue kotor begini.. ya udah lah ayo masuk, gue perlu mandi kayaknya..”
“Hadeuh, punya cewek ribet, begini nih..” gumam Adji pelan.
“Hah? Lu bilang apa?” tanya Kara yang mendengar gumaman Adji, namun karena suara yang dikeluarkan Adji sangat pelan jadi tak begitu terdengar apa yang diucapkan lelaki itu.
“Enggak kok.. udah sana ganti baju dulu, ambil di lemari yah..”
“Iyaahhh..”
Setelah sembarang ambil baju di lemari, Kara segera masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan badannya dari wine dan whipped cream.
“Adjiiiiiiii…” teriak Kara.
“Jiiiiiiii…?!” Kara kembali berteriak karena tak ada jawaban.
“Adjiii?” Percobaan ketiga tak ada juga yang menyahut.
Karena penasaran, akhirnya Kara pun keluar hanya dengan mengenakan handuk, Kara memanggil Adji karena yang dibawanya masuk ke dalam kamar mandi ternyata sebuah t-shirt Adji yang lumayan ketat.
Ternyata Adji tak ada di dalam kamar. Kara langsung berlari ke arah lemari untuk mengambil baju yang sekiranya nyaman dia pakai, setidaknya sampai orang suruhan Adji membawakannya gaun baru.
“Uhm.. baju apa yah kira-kira? Kok baju-baju gue gak ada sih? Di sini cuma ada t-shirt sama kemeja Adji.. hmmm.. kemeja aja kali yah?” monolog Kara.
Akhirnya Kara pun memutuskan untuk mengambil salah satu kemeja yang tergantung. Berhasil menutup pintu lemari, tiba-tiba ia dikagetkan oleh sosok Adji yang sudah berdiri di balik pintu lemari yang tadi terbuka.
“Astaga.. Adjiiiii..” Kara memegang dadanya karena keterkejutannya.
“Hehe kaget yah?”
“Segala pake nanya, ya kaget lah!”
“Maaf, hehe.. tadi kenapa manggil? Gue lagi nelpon orang buat nyariin lu baju..”
“Gak kenapa-kenapa, problem solved. Gue pake baju ini dulu yah..”
“Iyah, pake itu aja, baju-baju lu gue loundry kemarin, kan lu udah lama gak ke sini, jadi kayaknya perlu dicuci dulu sebelum lu pake.."
"Nah kan, pantes aja gue nyari gak ada.."
"Ya udah gih sana pake baju dulu.. nanti masuk angin lagi.. pasti lama kalau nunggu gaunnya dateng, soalnya ini kan udah hampir tengah malem, susah nyari butik yang masih buka..” Kara mengangguk dan membawa kemeja tersebut ke dalam kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, Kara keluar kamar mandi dan mengedarkan pandangannya. Tak ada Adji di kamar, ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, terlihat Adji sedang duduk menonton TV.
“Lu gak ke atas lagi?”
“Enggak ah, paling di atas udah hampir chaos gara2 udah pada mabok.. watir juga nanti lo ikut keluar lagi pake baju begini haha..”
“Enak aja.. ya gue gak mungkin lah keluar beginian Jiii..”
“Iyah.. gue cuma lagi mau di sini aja sama lu.. eh, tadi lu belum sempet megang hadiah lo, tapi kenapa lo malah langsung kabur, kenapa dah?”
“Heee.. gue shock, sumpah gue gak nyangka sama sekali dapet barang-barang itu dari lu.. maaf yah..” Kara tersenyum canggung dengan gigi putih yang terekspos.
“Iyah gapapa, tapi sekarang udah mau kan?”
__ADS_1
“Iyah.. mana sini..”
“Nih..” Adji memberikan kotak perhiasan dan menaruh buket bunga dan uang tadi di samping tubuh Kara.
“Waaahh.. ini beneran Ji buat gue?” ucap Kara terkagum-kagum, ia memang sangat menyukai bunga mawar putih. Adji hanya mengangguk sambil tersenyum sangat manis.
“Eh ini uang beneran kan?”
“Haha.. ya iya lah, lu pikir ini monopoli? Masa gue kasih lu uang mainan..”
“Ya kali aja kan, lu kan kadang lebih jahil dari bang Rendy..”
“Enggak, itu asli kok, buat lu semuanya..”
“Ini berapa Ji totalnya? Banyak banget..”
“Lu itung aja sendiri, ntar tapi.. pake ini dulu..” Adji kembali mengambil kotak perhiasan yang digenggam Kara dan menyodorkan benda di dalamnya pada Kara. Ia menarik lalu memakaikan gelang tersebut di tangan kiri gadis itu.
“Waaahh.. cantik banget Jiii.. ini gue gak lagi mimpi kan?” Kara tersenyum dengan matanya yang hampir berkaca-kaca.
“Enggak, ini nyata.. lu kayak gak pernah gue kasih hadiah aja yah..”
“Ya abisnya ini banyak banget, berlebihan malah menurut gue.. keluarga gue aja gak segininya.. makasih ya Ji..” Kara memeluk dan hendak mencium pipi Adji, namun Adji malah menyodorkan bibirnya.
“Adjiiii..”interupsi Kara saat Adji mulai memainkan bibirnya yang menempel pada bibir Kara.
“Hehe.. sebentar aja Ra..” ucap Adji memohon.
Kara hanya tersenyum dan membiarkan Adji melakukan keinginannya. Heran? Tak perlu, itu sudah biasa. Mereka sering melakukannya sejak masih masa sekolah, tepatnya saat mereka duduk di kelas sebelas (kelas dua SMA).
Mereka tak berstatus pacaran, mengakunya hanya sahabatan. Tapi ya seperti itu lah hubungan mereka. Masing-masing mereka juga sempat berpacaran dengan orang lain, tapi ya semua berjalan begitu saja.
Jika bersahabat bisa terjalin selamanya, kenapa harus berpacaran yang kemungkinannya ada kata putus di dalam hubungan itu? Jadi status sahabat adalah yang terbaik. Mungkin itu pikir mereka,
“Uhmm.. Enggak, kan basah tadi kena wine, lengket, jadi dicuci aja..”
“Oh.. bagus lah..”
“Hah? Kok b-..”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mulut Kara langsung dibungkam kembali oleh Adji. Tangan Adji sudah semakin liar dan meraba kemana-mana. Akhirnya Kara melepaskan pagutan mereka, mendorong sedikit tubuh Adji, setelah aktivitas itu terjalin cukup lama.
“Udah, nanti kebablasan..”
“Hmmm..” Adji merengut.
“Udah dulu yah, biar adem dulu..”
“Raaaaa..”
“Sssssttt.."
Kara memberi isyarat dengan jari telunjuknya yang membuat Adji sedikit merajuk. Gadis itu mengambil tas dan memberikan sebuah kotak persegi panjang pada Adji.
"Nih, hadiah buat lo.. maaf yah gue cuma bisa kasih ini..”
“Apa nih?" Adji menggoyang-goyangkan kotak itu karena penasaran. "Waaahh.. Dasi yah?” lanjutnya setelah membuka kotak tersebut.
“Iyah, gue bingung mau beli apa, yang kepikiran cuma itu, itu juga karena ada di depan mata aja pas nyari idenya..”
“Bagus, bagus banget, suka kok gue.. pakein..” Adji menyodorkan dasi tersebut ke arah muka Kara, meminta dipakaikan saat itu juga.
“Dasar manja.. sinii..”
__ADS_1
Kara mulai mengancingkan bagian atas kemeja Adji yang sebelumnya terbuka 3 bagian kancingnya, kemudian dengan teliti Kara memasangkan dasi yang ia beli kemarin itu. Saat ia fokus menalikan dasi, Adji malah fokus melihat gadis manis di depannya itu.
“Ji, suatu saat bakal ada yang makein lu dasi kayak gini tiap hari, siapa yah kira-kira?”
“Elu..”
Kara hanya mendengus menahan tawa, kemudian tersenyum miring.
“Kenapa?”
“Becandanya gak lucu..”
“Kok becanda sih?”
Kara tak menjawab, ia tertawa kecil mendengar apa yang diucapakan oleh Adji. Kakinya melangkah ke arah sofa dan mendaratkan bokongnya di atas barang empuk itu.
“Kok malah ketawa? Gue beneran, Ra..” Adji mengikuti pergerakan Kara.
“Masa?” tukas Kara dengan wajah dan nada mengejek.
“Hmmm.. beneran.. gue gak mau yang la-..in...”
Tiba-tiba bell pun berbunyi, seolah merusak suasana yang sengaja Adji buat.
“Elah ganggu aja ni orang..”
Dengan berat hati Adji bangun dari duduknya dan segera membuka pintu kamar hotelnya itu. Tak lama ia kembali dengan sebuah paper bag di tangannya, tapi ia malah lempar paper bag itu ke sofa kecil sebelah sofa yang diduduki Kara.
Lelaki itu dengan tergesa duduk di samping Kara dan membawa tubuh mungil Kara ke pangkuannya. Adji memeluk Kara posesif.
“Ra.. suatu saat juga ada yang bakal meluk lu kayak gini tiap hari.. kalau itu gue, lu gak keberatan kan?”
“Apa sih Ji?”
“Jawab Ra..”
“Lu kenapa dah hari ini melow banget kayaknya..”
“Ah lu gak asik nih, gue nanya beneran juga..”
“Hehe abisnya aneh, gak kayak biasanya gitu..”
“Tau ah..” Adji memindahkan Kara ke sampingnya, melepaskan pelukannya dan berdiri.
“Dih ngambek..”
Kara langsung berdiri, menarik tangan dan dasi yang dikenakan Adji hingga pria itu tak jadi melangkahkan kakinya menjauhi Kara. Adji membalikkan badannya dan mendapat kecupan manis dari gadis cantik itu.
“Kara sayang Adji..” perkataan tulus dari Kara membuat pria itu seketika luluh dan membalas kecupan Kara.
“I love you, Karaisa Annora..”
“I love you too.. Arloji..” ucap Kara yang malah membuat Adji mendatarkan senyumannya yang sedari tadi mengembang.
“Kamu mah ngilangin suasana romantis terus ngapa dah..”
“Ya kan nama kamu emang Arlo Adji, disingkat jadi Arloji.. haha”
“Hmmm.. siap-siap kamu yah..”
“Siap-siap apaan? Emang kita mau ke mana? Ngapain?”
"Kamu aku hukum!"
__ADS_1