Perfect Faith

Perfect Faith
2 1 More


__ADS_3

Bintang yang semula bertebaran tiba-tiba saja menghilang ditutup awan yang bahkan tak terlihat, wujudnya tak kasat mata karena berpadu dengan langit yang memang gelap. Rintik hujan pun mulai turun, setitik, dua titik, hingga banyak menyerbu bumi.


Insan-insan yang sedang merayakan kelulusannya itu pun berlarian ke sana ke mari, menepi, meneduh, menghindari air yang turun dari langit. Di gelapnya malam, dan waktu yang memang sudah lewat tengah malam, akhirnya dengan sangat terpaksa mereka harus menyudahi pesta mereka.


Beberapa orang memang sudah meninggalkan tempat tersebut, muda mudi itu sedikit demi sedikit pergi, beberapa dalam keadaan sadar, namun banyaknya dalam keadaan mabuk. Termasuk dua sejoli yang saat ini berjalan sempoyongan ke arah salah satu kamar di hotel tempat pesta itu berlangsung.


Di sebuah ruang berkelas president suite bernuansa abu-abu, hanya terdengar suara lebguhan hingga suara hujan pun tak terdengar di sana. Sepasang manusia sedang memadu kasih di sebuah kamar yang saat ini panas walau hawa dingin dari hujan mulai menyergap tempat tersebut.


Setelah beberapa lama, pria itu berhasil meraih puncaknya, karena hal tersebut, dengan segera ia mengeluarkan miliknya sebelum terlambat. Pasalnya mereka bermain tanpa pengaman sama sekali.


“Hmm? Kok dikeluarin?”


Tanya polos seorang Kara pada Adji yang saat ini sedang mengatur nafas, masih dalam keadaan menahan badannya yang berada di atas tubuh Kara.


“Kok dilepas sih?" tanyanya lagi, karena Adji belum juga menjawabnya, pria itu masih kesusahan mengatur tempo nafasnya.


"Kenapa? Lagi enak yah?” tanya jahil Adji dengan nafas yang tercekat-cekat.


“Ish.. apa sih?”


Wajah Kara berubah datar, namun jelas terlihat ada semburat malu di sana. Adji tersenyum gemas melihat tingkah lawan mainnya itu.


“Haha.. ya kan emang harus dikeluarin di luar sayang.. biar aman..”


“Hmmm.. iya sih.. tapiii.... ya udah lah..”


Dengan gemas Adji mengecupi area wajah Kara yang sedang cemberut, hingga gadis itu merasa geli dan memukul pelan dada Adji yang cukup keras karena sering berolahraga itu.


Adji pun menghentikan kejahilannya menggelitiki Kara dengan bibirnya, tapi menggantikan kejahilan itu dengan kejahilan yang lain, yaitu pertanyaan.


“Tapi apa? Masih mau yah?”


"Uhmmm..”


Kara memajukan bibirnya, memasang ekspresi seperti sedang berpikir, matanya menerawang jauh menatap kosong langit-langit ruangan. Adji asyik memandangi gadis yang berbaring di bawahnya. Apa pun yang menjadi keputusan Kara, lanjut atau tidak, ia berniat akan tetap menerimanya.


Tak lama kemudian, gadis yang sedang dikungkung itu menatap Adji dan menganggukkan kepalanya beberapa kali, lalu tersenyum dengan manisnya. Lagi dan lagi, untuk ke sekian kalinya gadis itu berhasil membuat kebahagiaan seorang Adji membuncah hari itu.


"Beneran nih? Yakin masih sanggup?”


“Iyah, yakin.. Tapi Adji capek yah?”


“Enggak lah.. mau berapa ronde juga hayuuk..”


Adji yang antusias mulai kembali memposisikan tubuhnya untuk segera menyatu dengan Kara. Namun sebelum hal itu terjadi, Kara menghentikan pergerakan Adji dengan tangannya yang memukul dada Adji.


Gadis itu terlihat terkejut ketika mendengar suara pintu depan terbuka. Kepalanya memiring ke arah sumber suara lalu secepat kilat pula kepalanya kembali ke semula dan menatap Adji dengan mata melotot heran.


“Ji, emang ada yang bisa masuk ke sini selain kita?”


“Uhm.. paling si Chandra, kayaknya dia bawa cewek deh..”


Memang terdengar suara dua orang di luar sana, satu suara laki-laki dan satunya lagi bersuara perempuan. Mereka seperti sedang mengobrol namun dengan racauan yang kurang begitu jelas. Sepertinya mereka dalam keadaan mabuk.

__ADS_1


"Eh tunggu, kok kayak familiar banget yah suara ceweknya..”


Lagi-lagi orang di luar sana membuat keributan, mereka yang berkemungkinan berjumlah dua orang itu seperti sedang bertengkar, tapi tak lama kemudian keheningan pun datang.


"Udah biarin aja, mereka juga mau seneng-seneng Ra..”


“Tapiii.. Ah! Adjiiiiii..”


Kara yang sedang tak fokus, karena pikirannya yang sedang tertuju pada suara gadis itu, yang sungguh sangat familiar, jadi ia tak menyadari sedikit pun akan hal yang dilakukan Adji beberapa saat lalu. Dengan gesit dan tanpa aba-aba, milik Adji sudah masuk saja ke dalam milik Kara.


“Heheee.. kan katanya tadi mau lagi..”


“Ya gak gini jugaaa, kaget tauuu…”


"Heee.. sowwiiiii.. aku mulai yah?"


Kara memancungkan bibirnya, wajah cemberutnya sedang tampil, tapi ia tetap menganggukkan kepalanya. Adji yang masih cengengesan dengan semangat melakukan kegiatan olah-jiwa-raganya.


"Just go slow.. pelan-pelan sayang.."


"Duuuh, bawel banget sih bini gue.."


Adji memelankan temponya, dengan gemas ia mencubit hidung Kara dengan tangan kanannya, tangan kiri masih tegap menopang tubuhnya. Kekehan mereka terdengar mengisi suasana yang tadi panas sedikit menjadi lebih segar.


"Ya kan masih sakit, ngilu-ngiluuu.."


Tangan Kara melingkar di tubuh Adji, tangan kiri merangkul bahu, dan tangan kanannya memeluk pinggang pria di atasnya. Dengan lembut Kara menggerakkan jari jemarinya, mengusap dan memainkan kulit Adji yang sudah mengeluarkan banyak keringat.


"Tapi kebanyakan enaknya kan? Makanya minta tambah?"


"Haha malu yah?"


Adji mendekatkan bibirnya ke arah telinga Kara, berhenti persis di daun telinga. Nafasnya yang panas terasa menggelitik tubuh Kara, membuat gadis itu bergidik, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan dari dalam tubuhnya.


"Nanti juga enggak sakit lagi kok, makanya harus dilatih terus, dimasukin terus biar gak sakit ngilu lagi.." ucap Adji dengan deep voicenya.


"Yeee.. Maunya kamu itu mah yaaahh!?" Kara melirik tajam ke arah Adji.


"Ya siapa juga yang gak mau coba?"


"Dasar mesum!"


"Gak apa-apa lah mesum juga cuma sama kamu kok.."


"Yakin? Beneran Adji cuma lakuin ini sama Kara? Yakin? Sebelumnya gak pernah sama yang lain?"


"Yakin lah, demi alek.. suer.. baru sama Kara aja.."


"Tapi kok kayak yang udah pro?"


"Insting.."


"Masa cuma karena insting? Lihai banget gini.."

__ADS_1


"Yaaa Kara tau lah gurunya siapa?"


"Oooohh pasti si Chandra nih yang bikin Adjinya gue gak polos lagi kek gini.. iya kan?"


"Haha.."


Adji terbahak namun masih dengan pertahanannya, bagian tengah ke bawah tubuhnya masih terus bergerak dengan tempo yang sedari tadi ia pertahankan untuk memenuhi keinginan gadisnya.


"Pasti dia yang ngajarin kamu kan?" Kara masih saja berbicara walau sebenarnya ia kesusahan karena mulutnya ingin sekali mengeluarkan *******.


"Lucu banget sih kamu, bikin aku makin gak fokus aja.."


"Wah, liat aja si Chandra nanti bakal gue mar-... hmmph.."


Adji membungkam mulut Kara dengan kecupan beberapa kali, hingga gadi itu benar-benar berhenti mengoceh. Bukan karena Adji tak suka mendengar omelannya, tapi ia benar-benar sedang diburu oleh hasratnya.


"Aku cepetin yah?"


"Hmm"


Kara berdehem dan langsung mengangguk, karena saat ia melihat Adji, pria itu memasang wajah serius. Sedikit takut karena tatapannya seperti sudah ingin menguasainya.


"Adjiii.." panggil Kara setelah sekian lama mereka melakukan aktivitasnya, tapi yang dipanggil hanya derdehem dengan masih terus bergerak.


"Kok kayak ada yang mau keluar yah? Aku mau pipis deh kayaknya.."


"Gak apa-apa keluarin aja.."


"Ih masa aku pipis di sini?"


"Gak apa-apa sayang, itu tandanya kamu emang mau keluar.."


"Hah? Maksudnya gimana sih?"


"Sssstt.. udah nikmatin aja, gak usah mikirin apa-apa.."


Adji mulai ******* bibir Kara dengan sedikit kasar dan menekan, hingga akhirnya Kara menggigit bibir Adji, nafasnya memburu dan mulutnya tak bisa lagi ia kontrol, suara indah menurut Adji terus keluar dari gadis itu, membuat Adji semakin bersemangat.


Kara memeluk tubuh Adji dengan sangat erat, tubuhnya menegang sekitar kurang lebih satu menit dengan jari jemari tangannya yang meremas tengkuk dan kulit punggung Adji. Pria itu menghentikan gerakannya, mengetahui lawan mainnya sudah mencapai puncaknya.


Bukannya Adji kesakitan, pria itu malah terkekeh kecil, tersenyum bangga seakan ia mendapat trofi penghargaan dari Kara. Nafas mereka sama-sama memburu, hawa panas terus keluar dari tubuh mereka masing-masing.


"Apa rasanya?"


Kara tak menjawab pertanyaan Adji, ia hanya menggeleng dan merenggangkan pelukannya, tubuhnya lunglai seperti kehabisan tenaga. Lagi-lagi Adji tersenyum.


"Tahan sebentar lagi yah, belum selesai.."


Adji kembali bergerak, membuat Kara langsung melotot namun tak mampu berontak, badannya benar-benar terasa lemas dan hanya bisa menerima perlakuan Adji yang benar-benar membuatnya tak karuan.


----


2 1 more

__ADS_1


Dua orang, sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, bersama dalam satu ruangan yang tertutup, pasti menginginkan yang lebih.. begitu kah?


__ADS_2