Perjalan Sang Permaisuri Dari Masa Depan

Perjalan Sang Permaisuri Dari Masa Depan
Chp 9


__ADS_3

Langkah kaki Xiana berhenti dan seketika dia membalikan badan dan menatap tajam ke asal suara.


"Kenapa dari tadi kalian selalu berkata sopan apa dengan bersikap sopan bisa membuat aku dipandang baik. Cihh sungguh sangat naif kalian semua." ucap Xiana dengan sorot mata yang tidak bersahabat seperti tadi.


Mendengarkan apa yang di ucapkan Xiana semua orang disana terlihat sangat marah, dan sebagian dari mereka berangapan bahwa putri Xiana gila karena terlalu lama diasingkan.


"Jaga kata-kata mu putri Xiana. Ingat ini adalah acara ayahanda mu. Tidak sepantasnya kamu merusak suasana." ucap pangeran putra mahkota Guan Wan tegas.


Namun di saat semua orang merendahkan Xiana bahkan ada yang terang-terangan mencibirdan mengatakan Xiana gila. Disaat itu pula sebuah tawa pecah memenuhi seluruh aula karna suara itu mengandung Mana.


"Haha. Kamu bilang ayah!! Asal kau tau putra mahkota Guan Wan ayah ku sudah mati di saat dia tidak menganggap aku sebagai anaknya lagi. Kau camkan itu putra mahkota Guan!!." ucap Xiana dengan nada yang tidak terbantahkan namun dengan sorot mata yang sangat merindu.


kaisar Aming yang mendengar itu hanya diam namun di lubuk hatinya terasa sakit anak yang pernah dia sayangi bersama permaisuri tercintanya kini mengatakan dia telah mati di depan matanya.

__ADS_1


"Kau sudah sangat keterlaluan putri Xiana". ucap putra mahkota Guan dengan nada geram bahkan sampai tangan nya mengepal.


Permaisuri Ami chen yang melihat kaisar diam kini tersenyum sinis karna dia yakin setelah ini kaisar akan mengusir Xiana dari istana kekaisaran karna telah membuat dia malu di hadapan semua kaisar yang hadir pada hari ini. Dia pun berusaha membuat suasana semangkin keruh.


"Putri Xiana apa maksud perkataan mu. Tindakan mu sudah sangat mempermalukan yang mulia kaisar."ucap permaisuri Ami.


"Apa yang dikatan Permaisuri Ami benar nak harusnya kamu menghormati kaisar Aming sebagai Ayah mu. Bukan malah kamu seperti ini nak" ucap permaisuri Lan Annchi dari kekaisaran Xionglue. Permaisuri dari kaisar Han Shilin


"Orang tua mana yang pantas dihormati hanya karna suatu kesalahan yang anak itu sendiri tidak bisa berbuat apa-apa di saat kejadian."


"Jawab aku kaisar Aming!!. Anda adalah seorang kaisar yang terkenal karna keadilan dan bijaksanaannya. Tapi apakah itu hanyalah gelar semata!!. Bahkan kau pun tak bisa memberiku keadilan dan kebijaksanaanmu sebagai kaisar. Jawab aku!!."


Dengan penuh penekanan dan rasa marah Xiana meluapkan segala rasa yang menyesakan. Rasa yang bertahun-tahun dia pendam. kini akhirnya bisa terucapkan. walau pun Xiana yang asli tidak bisa.

__ADS_1


"Putri Xiana!!! kau memang pantas mendapatkannya. Karna kalau bukan dirimu ibu permaisuri Cheng Huan tidak akan meninggal beliau masih ada bersama kita saat ini." ucap pangeran Zhang Junda Kim, pangeran ketiga dari selir Nuan Ru yang saat ini selir Nuan sedang berada di kediaman orang tuanya yang sedang sakit bersama dengan pangeran kedua Fen Xiumin Kim.


"Asal kau tau pangeran Zhang aku tidak pernah berharap ibuku akan mati. Dan jika aku bisa meminta maka aku akan meminta aku yang mati dari pada ibuku meninggalkan aku sendirian bersama manusia menjijikan seperti kalian tapi hanya demi janjiku pada ibuku aku bertahan hingga saat ini bersama kalian!!."


Lalu Xiana menatap Kaisar Aming dengan tatapan yang sangat dingin.


"Dan kau tau apa yang di minta ibuku untuk yang terakhir kalinya yang mulia!!.


Ibuku memintaku untuk selalu memastikan bahwa kau baik-baik saja. Tapi apa yang kau lakukan yang mulia. Kau malah mengasingkanku dan tak pernah lagi menganggap aku anak!!"


"Disaat usiaku yang baru menginjak lima tahun aku harus mengalami hal yang paling menyakitkan bahkan aku yang tak tau apa-apa semua orang menyalahkan ku sampai sekarang karna mereka mengangap aku lah pennyebab Ibuku meninggal."


"Dan Apakah kalian pernah berfikir siapa yang paling kehilangan dia!?. Aku. Aku lah yang paling kehilangan sosok Ibuku.!!"

__ADS_1


"Jawab aku kaisar yang Terhormat di mana keadilan dan kebijaksanaan yang kau bangga-banggakan itu untukku. bahkan kau malah menutup mata saat semua orang menghinaku dan menyalahkanku.!!" suara tanggis Xiana yang terdengar memilukan bagi siapapun ysng mendengarnya tak akan ada yang mampu uuntuk menahan air mata.


☆☆☆ÇŇ


__ADS_2