
DUAGH! BRUKK!
Alexei mengernyit ketika bahunya telak menghantam lantai, darah mengalir dengan cepat, membasahi marmer putih di bawahnya. Pemuda itu meringis perih. Tidak hanya wajahnya yang babak belur, setidaknya beberapa tulang rusuknya patah. Rasa sakit yang dirasakan pada bahu kanan membuat Alexei yakin persendiannya juga bergeser.
Netra kelam pemuda itu menatap tanpa emosi pada orang-orang yang sudah membuatnya bersimbah darah. Tatapan penuh hina dilayangkan untuk Alexei yang masih bisa mendongak dan membalas tatap, diiringi decakan kesal dari lelaki yang duduk sambil menyilangkan kaki.
"Dia terus menatapku dengan mata menjijikan itu. Haruskah kucongkel saja matanya?"
Aura dingin yang menguar dari pria yang baru saja bicara membuat suasana ruangan besar itu menjadi sangat hening, hanya terdengar helaan napas Alexei yang putus-putus.
"Kau tidak bisa melakukan itu, Leandro." Seorang wanita menimpali, caranya menatap Alexei tidak jauh berbeda dari pria bernama Leandro. "Ayah akan membunuh kita semua kalau anak itu tiba-tiba cacat," ucapnya.
"Jadi, maksudmu aku harus membiarkan darah kotor itu menatapku dengan rendah?"
Alexei yang mendengar kata-kata Leandro terkekeh kecil. Padahal dia tidak pernah menatap siapa pun dengan pandangan merendahkan. Justru dia yang selalu menerimanya sejak dulu.
DUAGH! PRANG!
"LEANDRO!"
Sebuah vas kaca melayang, telak mengenai dahi Alexei sebelum menghantam lantai. Pandangan Alexei menggelap saat darah menutupi matanya, rasa sakit dan pusing yang mendera membuat kesadaran pemuda itu semakin menipis.
'Sepertinya ini batasku. Haah ... menyedihkan!' Alexei membatin jengkel, tidak percaya akan kehilangan kesadaran hanya dari beberapa luka.
Pemuda itu menarik napas panjang, berusaha mempertahankan kesadarannya. Alexei tidak pernah benar-benar pingsan setiap kali menerima pukulan dari saudara-saudaranya. Dia tidak tahu apa yang akan Leandro dan Allea lakukan padanya jika pingsan sekarang.
"Ba-bagaimana ini?! Sepertinya dia sekarat! Kak, apa yang harus kita lakukan?!"
Wanita bersurai coklat pendek yang sebelumnya meneriaki Leandro--Allea--menggigit bibir mendengar suara panik saudara kembarnya.
"Aku sudah memperingatimu, Leandro!" Allea memijit pelipis sebelum menghela napas panjang. Wanita itu menatap pada Alexei yang masih mempertahankan kesadarannya. "Bawa dia ke gudang penyimpanan di Distrik 13 dan tinggalkan di sana," ucapnya memberi perintah.
Alexei yang mendengar ke mana dia akan dikirim berusaha untuk bangun. Satu-satunya tempat di Distrik 13 yang ada dipikiran Alexei adalah pabrik pembuatan sosis yang baru beberapa hari lalu diakuisisi oleh Hagan Grup, perusahaan raksasa milik keluarganya.
Tempat yang semula beroperasi sebagai pabrik pembuatan sosis siap makan terbesar di dunia itu berhenti berproduksi sejak keluarga Callister mengambil alih. Dengan alasan liburan untuk para pegawai sebelum memulai hari baru sebagai bagian dari Hagan Grup, seluruh aktivitas karyawan dihentikan.
Artinya tidak ada siapa pun yang akan menemukan keberadaan Alexei kalau dia berakhir di gudang penyimpanan di tempat yang sedang tidak beroperasi. Paling lambat pabrik itu kembali berjalan adalah satu minggu dari sekarang, setidaknya akan ada orang yang datang memeriksa setiap sudut pabrik dua hari sebelum mulai beraktifitas kembali.
__ADS_1
'Apa mayatku baru akan ditemukan lima hari lagi?' Alexei meringis, tidak sedikit pun tubuhnya bergerak meski sudah mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa.
Pemuda itu menggigit bibir demi menahan teriakannya saat seseorang membopong tubuh penuh darahnya. Alexei bahkan tidak bisa memberontak saat pria suruhan Allea memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Gelap. Alexei tidak melihat sedikit pun cahaya sejak bagasi ditutup. Sakit yang mendera seluruh tubuhnya membuat pemuda itu menarik napas panjang, masih berusaha untuk tetap sadar. Meski tidak bisa kabur sekarang, Alexei pasti akan menemukan cara untuk melarikan diri seperti biasa.
"Ya, seperti biasa. Aku hanya perlu bertahan sebentar," ucapnya teramat pelan.
Alexei tidak ingat jelas sejak kapan hidupnya yang sempurna dan penuh kebahagiaan berubah menjadi pecundang yang diperlakukan lebih rendah dari sampah.
Seorang anak yang lahir tidak sah. Alasan Nyonya Callister menjadi gila dan membunuh dirinya sendiri. Kutukan keluarga Callister. Keturunan wanita rendahan. Sampah. Pecundang. Aib terbesar Callister. Dan sebagainya ... dan sebagainya.
Alexei sudah mendengar dan menerima hinaan demi hinaan, kata-kata kotor, ejekan, pukulan bertubi serta kebencian saudara-saudaranya sejak kecil. Tidak ada siapa pun yang membela atau berpihak padanya di mansion besar Callister.
Sebagai anak yang lahir dari rahim seorang wanita malam, tentu saja Alexei mengerti kehidupannya tidak akan mudah. Tapi, ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya tidak pernah menunjukkan hal-hal buruk pada Alexei. Dia hidup, tumbuh sehat dan menjadi anak yang penuh tawa. Seharusnya cukup sampai di sana saja.
Alexei tidak butuh ayah atau pun saudara. Dia hanya ingin terus hidup sederhana dan bahagia bersama ibunya, tapi wanita yang teramat dicintainya itu malah mengirimnya ke neraka. Alexei ditinggalkan di depan gerbang mansion megah Callister bersama sepucuk surat yang menyatakan bahwa dia adalah putra kandung kepala keluarga Callister.
"Sepertinya aku ... benar-benar akan mati." Alexei terkekeh pelan saat kenangan demi kenangan tentang ibunya mulai membanjir. Dia sangat membenci wanita yang telah meninggalkannya begitu saja. Wanita yang tidak pantas dipanggil ibu karena telah menghancurkan kebahagiaan sempurna seorang anak.
Tidak perlu repot menebak, Alexei tahu mereka sudah sampai di Distrik 13 sejak pria itu membuka bagasi. Meski seluruh tubuhnya terasa hancur, Alexei tetap tidak mengeluarkan suara berarti ketika pria itu kembali membopongnya.
BRUKK!
Tubuh Alexei dihempaskan begitu saja, membuat tulang-tulang yang patah dan retak di sekujur tubuhnya mengeluarkan bunyi gemeletuk yang mengerikan.
"Argh!" Alexei menggigit bibir, berusaha menahan teriakannya. Napasnya lemah dan putus-putus. Pemuda itu tidak bisa berbuat apa pun saat dua pria yang membawanya langsung keluar begitu saja.
Alexei tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun. Hawa dingin yang perlahan menyengat membuat pemuda itu menajamkan pandangan. Allea benar-benar tidak hanya meninggalkannya di gudang penyimpanan. Alexei yang sempat berharap ditinggalkan begitu saja seperti sebelum-sebelumnya tertawa pelan. Hidupnya terlalu lucu untuk ditangisi.
"Aku ... haah ... aku ...!" Alexei berusaha menekuk kaki, berharap rasa dingin yang menyerangnya bisa berkurang sedikit. Tentu saja sia-sia saat tubuhnya sudah tidak bisa mendengarkan perintah lagi.
Netra kelam yang tidak pernah putus asa, terluka atau pun bahagia itu menatap nanar pada pintu besi yang tertutup rapat. Air matanya menggenang sebelum setetes cairan bening itu jatuh. Pada akhirnya Alexei menangis.
Seluruh kenangan selama hidupnya berputar semakin jelas. Alexei yang tidak pernah membalas satu pun perbuatan saudara tirinya. Alexei yang diam menerima seluruh hinaan dan kata-kata kasar. Alexei yang tidak lagi memiliki emosi. Alexei yang tatapannya selalu kosong.
Tidak ada satu pun kenangannya yang bagus. Alexei tidak memiliki apa pun yang memberatkannya untuk mati. Harusnya semua terasa mudah, tapi wajah cantik dan senyum lembut ibunya terus saja terbayang.
__ADS_1
Ada satu kenangan yang membuat pemuda itu merasakan sakit lebih dari yang dirasakan tubuhnya sekarang. Tentang seorang anak yang setiap malam berlutut di samping jendela sambil menyatukan kedua tangan, berdoa pada Dewa yang tidak tahu di mana keberadaannya, berharap ibunya kembali dan membawanya pergi.
'Kenapa Ibu membuangku?' Alexei tidak pernah mendapat jawaban dari satu-satunya pertanyaan yang dia miliki.
"Aku ... tidak mau mati," ucap Alexei lirih, suaranya nyaris tidak keluar. Dia tidak mau mati sekarang, saat belum sempat bertemu ibunya dan bertanya langsung alasannya membuang Alexei.
Tring!
Sebuah suara yang terdengar seperti notifikasi ponsel diiringi cahaya biru terang tiba-tiba muncul di hadapan Alexei, membuat pemuda itu langsung menutup mata.
'Cahaya apa itu?' Alexei berusaha membuka mata, menatap cahaya biru menyilaukan yang tampak berputar di sekitarnya.
[Selamat, Tuan! Dewa Bayangan tersentuh dengan kegigihan Anda dalam bertahan hidup dan memberi Anda kesempatan untuk membuktikan diri~!]
Alexei mengernyit saat sebuah suara berdengung di telinganya. Sepertinya dia sedang menghadapi ilusi sebelum mati. Betapa lucu! Pemuda itu sedikit tertawa mendengar nama 'Dewa' yang disebutkan. Omong kosong!
[Apakah Anda ingin hidup?]
Pertanyaan yang diajukan dengan suara seperti robot itu membuat Alexei merenung.
"Ya, aku ingin hidup," bisiknya tanpa suara.
[Anda telah mengerti bahwa nyawa itu tidak bisa dibeli, kan? Apakah Anda bersedia menjadi seorang pahlawan dan menyelamatkan nyawa orang lain, seperti Dewa Bayangan yang mengasihani nyawa Anda?]
Pahlawan? Kalau saja kondisinya tidak sedang sekarat, Alexei pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Dia tidak mengerti kenapa memiliki ilusi aneh seperti ini di ujung hidupnya. Tapi, kalau ditanya apakah ingin hidup, tentu saja jawabannya adalah ya.
"Ya, aku ... ingin hidup."
[Anda akan menerima kontrak sebagai Pahlawan?]
Alexei menghela napas. "Ya, apa pun, entah pahlawan atau iblis, aku akan melakukan apa pun."
[Dewa Bayangan berkata Anda sangat lucu, Tuan. Baiklah, kami akan mengatur ulang seluruh informasi tentang Tuan di Arunika. Apakah Anda ingin memiliki nama julukan?]
Alexei tidak lagi bisa membuka mata, apalagi merespon suara mekanik yang mendengung di kepalanya.
[Sepertinya Anda membutuhkan istirahat. Baiklah, selamat beristirahat! Kita akan berbincang lagi saat kondisi Anda sudah lebih baik. Dengan ini kami mengucapkan selamat datang di Arunika, Pahlawan Alexei!]
__ADS_1