
Duh, menyebalkan!
"Mana mungkin saya berani menghina Anda, Tuan Putri. Maafkan tindakan saya yang membuat Anda berpikir seperti itu," ucap Alexei tanpa mengangkat kepala.
Pemuda itu selalu sabar dan tidak melawan ketika saudara-saudaranya mengganggu karena tidak mau mengotori tangan untuk orang-orang tidak penting seperti mereka. Tapi di dunia ini, tempat asing di mana Alexei tidak mengenali siapa pun, mau tidak mau dia mengkhawatirkan emosinya.
Pasti repot kalau hari pertamanya sebagai Pahlawan, tangannya malah dilumuri darah sang Putri yang harusnya dia selamatkan.
"Aku mau kembali ke kamar, antarkan aku!" Medeia menghentakkan kaki sebelum berbalik dan mulai berjalan angkuh.
Alexei mengekor di belakang, tidak terlalu jauh, tapi juga tidak dekat. Jarak yang pas untuk seorang pengawal. Haah ... pemuda itu menghela napas dengan kenyataan kalau waktu yang diberikan padanya hanya dua hari untuk mencegah kematian Medeia.
'Apa aku tidak bisa diberitahu penyebab kematian tokoh di depanku?' tanya Alexei pada sistem pendampingnya.
Tring!
[Singkatnya, Putri Medeia akan mati bunuh diri dengan cara meminum racun. Di masa depan, Putra Mahkota yang sudah menjadi Kaisar mengetahui alasan adik kesayangannya bunuh diri.
Seluruh benua akan dipenuhi dengan darah dan teriakan. Kaisar melakukan pembantaian pada sebuah kerajaan, menghancurkannya hingga berkeping dan memberikan siksaan paling menyakitkan untuk Raja dan Ratu yang ditangkapnya.
Ratu yang tidak tahan setelah menyaksikan kematian rakyatnya satu per satu, berdoa. Dia memohon kepada Dewa atau siapa pun untuk menyelamatkan rakyat dan kerajaannya. Permohonan yang diucapnya dengan putus asa didengar oleh para Dewa di Candramawa.
Maka, inilah tugas Anda sekarang, Tuan. Menyelamatkan penyebab utama dari kekacauan di masa depan.]
Alexei mengernyit bingung. Tuan Putri di hadapannya tidak terlihat sedang depresi atau sebagainya, kenapa dia bisa berakhir bunuh diri? Lagi pula ... bukankah ada yang aneh?
'Tring!' panggil Alexei lagi. 'Apa maksudmu bunuh diri? Jelas sekali misiku adalah menyelamatkan Putri Medeia dari hukuman mati!'
Tring!
[Ternyata Anda tidak sepintar kelihatannya, Tuan. Saya kecewa.]
__ADS_1
Apa-apaan itu?! Alexei melotot tanpa sadar, hampir meneriaki sistem pendampingnya kalau tidak sadar sedang berada di mana.
Setelah mengantarkan sang Putri ke kamarnya dan menerima tatapan galak dari para pelayan, Alexei akhirnya berdiri di depan pintu sembari menarik napas panjang beberapa kali.
Cerita yang sedang dimasuki Alexei adalah sebuah dongeng pengantar tidur yang memiliki akhir bahagia. Harusnya tidak ada masalah dengan hubungan antara Cinderella dan Pangeran. Jadi, Alexei menyimpulkan bahwa Medeia hanyalah karakter sampingan yang bahkan namanya tidak disebutkan dalam cerita.
Kenapa tokoh yang namanya bahkan tidak ditulis malah menjadi penyebab kehancuran dunia?
Tunggu!
Leher pemuda itu meremang saat sebuah pertanyaan berputar di kepalanya. Saat Kaisar sedang mengamuk dan membantai semua orang, di mana Cinderella? Apa yang terjadi pada kalimat 'bahagia selamanya' saat dunia ini hancur?
'Tring!' panggil Alexei cepat. 'Hobi yang tertulis di informasi karakter Medeia adalah menatap Pangeran Cedric. Apakah Pangeran Cedric yang disukai Medeia adalah Pangeran yang sama dengan tokoh utama pria cerita ini?!' tanyanya panik.
Tring!
[Mereka saling mengenal sejak kecil. Putri Medeia sangat menyukai Pangeran Cedric, tapi statusnya sebagai satu-satunya Putri di kekaisaran tidak memungkinkannya untuk menikahi Pangeran dari kerajaan kecil.]
Alexei menelan ludah gugup. "Mungkinkah dua hari lagi adalah waktu di mana Pangeran Cedric menemukan Cinderella dan membawanya ke istana? Tapi, apa hubungannya berita itu dengan hukuman mati yang diterima Medeia?" gumamnya tanpa sadar.
Alexei sedikit terkejut dengan kehadiran pelayan yang tiba-tiba membuka pintu kamar.
"Bukan hal penting. Bagaimana kondisi Tuan Putri? Suasana hatinya tidak baik sejak tadi," ucap Alexei mengalihkan pembicaraan. Syukurlah sepertinya pelayan itu tidak mendengar apa yang Alexei katakan.
"Tuan Putri meminta Anda untuk masuk," ucap pelayan bersurai hijau zamrud seraya membuka pintu lebih lebar.
Alexei memasuki kamar Medeia dengan langkah tegas. Kalau saja dia orang biasa, Alexei pasti sudah terkagum dengan dekorasi dan kemewahan kamar sang Putri. Tapi, kamar kakak tirinya di mansion Callister juga tidak kalah mewah dari ini.
"Anda memanggil saya, Tuan Putri?" tanya Alexei setelah berdiri di dekat Medeia.
"Paman," panggil Medeia pelan.
__ADS_1
Alexei menaikkan sebelah alis mendengar nada lesu gadis di hadapannya. Padahal baru beberapa jam lalu dia bertingkah seperti bocah, kenapa sekarang sikapnya sudah seperti orang dewasa yang lelah dengan keadaan dunia?
"Apa yang bisa saya bantu, Tuan Putri?"
"Apakah mati itu ... menyakitkan?"
Deg! Alexei merasa jantungnya jatuh ke mata kaki mendengar pertanyaan yang diajukan Medeia. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu? Apakah berita tentang Pangeran Cedric yang menemukan cinta sejatinya sudah mencapai telinga gadis itu?
"Saya tidak tahu karena belum pernah mati, Tuan Putri. Tapi, sekarat dan hampir meregang nyawa itu sungguh sangat tidak menyenangkan. Anda tidak bisa membandingkan rasa sakitnya dengan seluruh rasa sakit yang pernah Anda rasakan selama hidup," ucap Alexei terus terang.
Dia tahu rasanya hampir mati berkali-kali akibat ulah saudara tirinya. Alexei yang paling paham betapa menakutkannya saat kematian mendekat.
"Tapi, kalau aku tidak mati, Kak Lancelless akan sulit naik tahta. Aku harus bagaimana?"
Alexei mengerutkan kening. Apa maksudnya dengan tidak bisa naik tahta kalau Medeia tidak mati?
"Siapa yang mengatakan hal itu pada Anda, Tuan Putri? Beliau sudah menerima gelar Putra Mahkota, jadi sudah pasti beliau yang akan menjadi Kaisar selanjutnya."
Alexei baru menyadari bahwa seluruh pelayan di kamar sudah pergi, entah sejak kapan. Itu berarti pembicaraan ini bersifat rahasia. Apakah di cerita asli Medeia juga mengatakan hal ini pada kepala pengawalnya?
"Semua orang bilang begitu," ucap Medeia pelan. Gadis yang sejak tadi hanya menatap ke luar jendela menoleh, menatap pada lelaki yang sudah menjadi pengawalnya sejak sangat lama.
"Tidak hanya para bangsawan, bahkan seluruh pelayan pun mengatakan demikian. Semua orang ingin aku yang naik tahta dan menggantikan Kaisar. Satu-satunya yang tidak bergosip tentang itu hanyalah Paman Zhester."
Alexei menaikkan sebelah alis, sedikit terkejut dengan kepercayaan yang Medeia berikan pada Zhester. Lalu, kenapa semua orang bisa bergosip terang-terangan kalau yang lebih pantas menjadi Kaisar adalah Medeia?
"Aku sudah melakukan banyak hal untuk membuat orang-orang membenciku, juga menjadi Putri paling kasar dan buruk sepanjang sejarah demi menghapus minat mereka padaku. Tapi, tidak ada yang berubah. Tidak peduli sebanyak apa aku berulah, orang-orang hanya akan mengabaikan dan tetap menjilat kakiku."
Jadi, apakah tingkah lakunya yang kurang ajar dan sangat buruk itu adalah bagian dari caranya membuat orang-orang tidak menyukainya?
"Maaf, Tuan Putri, tapi apa saya boleh bertanya satu hal?"
__ADS_1
Medeia mendongak sebelum mengangguk.
"Kenapa orang-orang menganggap Anda lebih pantas menjadi Kaisar dibandingkan Putra Mahkota?"