
Alexei melihat dengan jelas bagaimana gadis di hadapannya mengerjapkan mata, terlihat kebingungan.
"Paman bertanya karena sungguh tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak tahu?"
Dalam ingatan karakter yang sedang Alexei masuki, Putra Mahkota Lancelles bukanlah sosok yang lemah atau meragukan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai penerus Kaisar.
Tidak hanya menguasai seluruh pelajaran yang diberikan dan menjadi seorang master pedang di usia empat belas tahun, Putra Mahkota Lancelles juga sangat ahli dalam strategi militer.
Tidak ada satu hal pun yang membuat citra sang Putra Mahkota lebih rendah dari adik perempuannya, dia terlalu sempurna untuk dibandingkan dengan Putri Medeia yang biasa-biasa saja.
Tokoh bernama Zhester yang sudah menjadi Ksatria sejak lama pun tidak memiliki pikiran buruk terhadap Putra Mahkota Lancelles. Jadi, Alexei sungguh tidak mengerti.
"Maafkan kekurangan saya, Tuan Putri, tapi saya sungguh tidak tahu dan tidak mengerti." Alexei memilih menjawab sembari membungkuk, tangan kanannya kembali diletakkan di dada kiri.
Medeia menunduk, helaan napasnya terdengar jelas oleh Alexei.
"Paman lihat warna rambut dan mataku, kan? Coba bandingkan dengan milik Ayah dan Kak Lancelles, juga cerita kuno tentang kekaisaran yang diberkahi oleh Dewa."
Alexei mengernyitkan dahi. Dia benci harus mencari tahu tentang dongeng yang beredar di dalam dongeng. Dewa apanya! Sungguh lucu!
Tring!
[Dewa Bayangan berkata bahwa Anda terlalu meremehkan keberadaan Dewa. Hati-hati dengan cara berpikir Anda, Pahlawan Xhei.]
Alexei hampir berdecih melihat peringatan sistem di hadapannya.
"Maaf, tapi saya sungguh tidak tahu tentang dongeng yang terkenal di kekaisaran. Apakah Tuan Putri mengizinkan jika saya mencari tahu lebih dulu sebelum memberikan jawaban?" tanya Alexei setelah beberapa saat berpikir, mencoba mengingat cerita yang Medeia singgung.
Bahkan dalam ingatan Zhester, tidak ada dongeng tentang para Dewa.
"Bagaimana mungkin ada yang tidak tahu tentang kisah yang tertulis dalam kitab suci?! Paman Zhester tidak pernah pergi ke kuil dan mendengarkan sejarah kekaisaran saat memasuki usia dewasa?"
Wajah Medeia memucat, jelas tidak pernah berpikir bahwa pengawal pribadinya adalah sosok yang tidak tahu atau bahkan melupakan cerita yang dianggap suci oleh seluruh kekaisaran.
__ADS_1
Alexei berdeham kikuk, sedikit terkejut dengan fakta bahwa cerita yang dianggapnya hanya dongeng pengantar tidur ternyata memiliki pengaruh sebesar itu.
"Saya berada di medan perang sejak usia saya lima belas tahun dan baru kembali ketika Anda dilahirkan, Tuan Putri. Saat itu usia saya sudah dua puluh satu tahun. Jadi, saya tidak punya kesempatan untuk belajar tentang kekaisaran dengan benar." Alexei menghela napas lega dengan ingatan yang dimilikinya.
"Ah, maafkan aku. Aku lupa," ucap Medeia pelan. Gadis itu ingat dengan salah satu cerita yang dibisikkan padanya setiap hari, bahwa peperangan yang sudah terjadi selama puluhan tahun diakhiri dengan kemenangan sejak Permaisuri dinyatakan sedang mengandung Medeia, membuat rumor tentang anak yang diberkahi Dewa beredar luas di seluruh kekaisaran.
"Tidak apa-apa, Tuan Putri, peperangan itu tidak terjadi karena Anda. Kalau begitu ... apakah Anda bersedia membagikan cerita yang Anda sebutkan sebelumnya?" tanya Alexei.
Tring!
[Seseorang mendekat ke sini, Tuan. Sebaiknya hentikan pembicaraannya!]
"Sepertinya kita kedatangan tamu, Tuan Putri. Biar saya memeriksanya," ucap Alexei tepat sebelum Medeia membuka suara.
Pemuda itu langsung berjalan menuju pintu, langkah kakinya tidak terdengar sama sekali. Salah satu kemampuan yang Alexei miliki sejak terbiasa menghindar dari perhatian seluruh penghuni mansion Callister.
Alexei langsung membuka pintu saat telinganya juga tidak menangkap suara apa pun.
Oh!
Tring!
Alexei yang sedikit terkejut dengan seorang pemuda yang sudah berdiri di hadapannya sejak dia membuka pintu, langsung berlutut sesuai dengan instruksi yang diberikan, lutut kirinya menyentuh lantai sedang kaki kanan ditekuk. Alexei menunduk dengan tangan di atas kaki kanan.
"Salam kepada matahari kecil kekaisaran, Yang Mulia Putra Mahkota Lancelles."
Keterkejutan Alexei untungnya tidak membawa pemuda itu pada kesulitan berpikir. Satu-satunya orang yang harus menerima salam dengan berlutut selain Kaisar hanyalah Putra Mahkota.
'Tapi, kenapa Putra Mahkota datang sendiri tanpa pengawal? Tidak hanya itu, dia juga datang tanpa memberikan pemberitahuan terlebih dulu?'
Alexei tidak tahu bagaimana norma dan sopan santun yang berlaku di kekaisaran ini, tapi setahunya ... menemui anggota keluarga kerajaan tanpa pemberitahuan dianggap tidak sopan dan mereka yang dikunjungi tanpa persiapan boleh menolak untuk bertemu.
'Mana mungkin Putra Mahkota yang jenius tidak tahu tata krama dasar. Kecuali dia menganggap Putri Medeia lebih rendah darinya dan tidak pantas mendapat kesopanan seperti itu, maka ...."
__ADS_1
Alexei segera mengenyahkan pikiran konyolnya. Hidup di tengah keluarga busuk seperti Callister membuat pemuda itu selalu dipenuni pikiran negatif. Padahal penyebab kekacauan di masa depan adalah karena kasih sayang Putra Mahkota Lancelles yang sangat besar pada Medeia dan bentuk penyesalannya atas kematian sang adik, jadi mustahil Putra Mahkota merendahkan Medeia.
"Aku tidak tahu kalau Duke Zhester ada di sini. Maaf, apakah aku mengganggu pembicaraanmu dan Medeia?"
Suara lembut dan penuh perhatian menyapa gendang telinga Alexei, terdengar sangat tulus dan hangat. Sepertinya pikiran buruk tadi memang hanya kebiasaan Alexei saja.
"Kakak?" Medeia yang melihat pengawalnya langsung berlutut setelah membuka pintu kamar langsung menghampiri, sedikit terkejut dengan kehadiran pemuda yang beberapa saat lalu menjadi topik pembicaraan.
"Salam kepada matahari kecil kekaisaran, Yang Mulia Putra Mahkota Lancelles." Medeia segera membungkuk, kedua tangannya memegangi setiap sisi gaun sebelum mengangkatnya sedikit.
"Jangan menyambutku seperti itu, Medeia. Aku ke sini bukan sebagai Putra Mahkota, melainkan sebagai kakakmu. Aku hanya ingin memeriksa kondisi adikku hingga tidak sempat mengirimkan surat pemberitahuan dulu. Apakah aku boleh berbicara denganmu? Oh, lalu ... Duke Zhester, Anda sudah boleh bangun."
Alexei langsung berdiri dan memberi jalan bagi Putra Mahkota.
"Kalau begitu, saya akan menunggu di luar pintu, panggil saya kapan pun jika terjadi sesuatu. Lalu, saya juga akan memberitahu pelayan untuk menyediakan teh."
Alexei mendongak, sempat bertatapan dengan netra semerah darah milik pemuda berstatus Putra Mahkota. Tapi, bukan warna rambut sekelam malam dan netra semerah darah itu yang membuat Alexei tertegun, melainkan informasi yang tertulis tentang Putra Mahkota.
[Informasi Karakter!
Nama : Lancelles Eiden Appocalyps
Usia : 20 Tahun
Hobi : Mencium Bau Darah
Perasaan : Benci
Pikiran : Kapan ****** ini mati?!
Catatan Informasi : Sangat membenci Putri Medeia.]
"Terima kasih, Paman. Ayo, Kak, kita bicara di dalam. Kenapa tiba-tiba ingin melihatku? Aku penasaran kenapa kakakku yang selalu mengikuti aturan ini langsung berlari ke sini untuk menemuiku," ucap Medeia sembari tersenyum lebar, tangannya terulur dan langsung menggandeng pemuda yang memasuki kamarnya.
__ADS_1
Alexei membungkuk sekali lagi sebelum menutup pintu.
"Wah, gila! Omong kosong apa yang baru saja kuketahui?!"