PERJALANAN XIAO'CHEN

PERJALANAN XIAO'CHEN
8.PAVILIUN PERPUSTAKAAN


__ADS_3

Setelah dari altar utama semua murid langsung membubarkan diri dan pergi ke kelas masing-masing.


A Ling yang mengetahui letak kelas Xiao Chen dengan senang hati mau mengantarnya.


"Kenapa kau mau mengantar ku, bukankah kau juga memiliki kelas ?"Tanya Xiao Chen dengan kedua kaki terus melangkah.


A Ling hanya tersenyum kecil,"Santai saja, kelas ku memiliki arah yang sama dengan kelas mu."


"..."Xiao Chen hanya diam, sambil melirik gadis imut disampingnya.


Setelah berjalan sekitar 5 menit, tibalah keduanya di area terdalam akademi.


Terlihat ada begitu banyak bangunan yang terbuat dari kayu pilihan, bangunan itu memiliki jarak 10 meter dari bangunan kelas lain. Juga terdapat banyak pohon hijau, bahkan ada kelas yang ditumbuhi pohon bambu disampingnya, membuat tempat lapang itu terlihat bagus dan enak dipandang.


Xiao Chen dan A Ling berhenti disebuah bangunan kelas.


"Ini adalah kelas mu, kelas ku ada di samping sana jika kau ingin menemui ku. Kalau begitu sampai jumpa,"


A Ling berjalan meninggalkan Xiao Chen menuju ke kelasnya. Sementara Xiao Chen hanya menatap A Ling, merasa ragu untuk masuk hingga dari dalam suara berat seseorang memanggilnya.


"Jika tidak ingin masuk kau boleh keluar, asalkan jangan berdiri di sana."


Karena masih ada keinginan untuk belajar, Xiao Chen segera melangkah memasuki kelas hingga dirinya menjadi bahan perhatian murid-murid didalamnya.


Terutama murid perempuan yang begitu histeris ketika Xiao Chen berjalan masuk. Karena menurut gadis-gadis itu, ketampanan yang dimiliki Xiao Chen akan membuat kelas mereka unggul dalam beberapa bidang.


"Perkenalkan nama mu kepada teman-teman yang lain nak."Kata seorang guru laki-laki berusia 45 tahunan itu dari mejanya.


"Xiao Chen, berasal dari desa ashura."Kata Xiao Chen dengan pandangan kosong lurus kedepan.


Namun bagi murid perempuan sikap Xiao Chen saat memperkenalkan dirinya sangatlah keren.


Membuat sebagian dari mereka berteriak tidak jelas dan mabuk kepayang.


"Aaaa ! Cool sekali !"


"Aduduh, hati ku rasanya meleleh,"


Sementara itu murid laki-laki.


"Apa-apaan mereka ? Kesurupan roh BAGAS ?"


"Tidak, mungkin malah lebih parah."


"Kenapa tingkah mereka seakan sedang melihat sesuatu yang begitu indah, seakan tidak ada manusia tampan selain orang itu. Padahalkan aku juga tampan, hanya belum laku saja."


"Baik murid Chen, namaku guru Luo. Kau bisa duduk di tempat kosong,"Kata guru Luo, mempersilakan Xiao Chen mencari tempatnya sendiri.


Setelah mencari-cari akhirnya Xiao Chen menemukan tempat kosong di samping jendela. Namun disamping kanan tempat Xiao Chen, ternyata adalah tempat milik Qian'Yu. Gadis itu cukup terkejut mengetahui Xiao Chen sekelas dengannya.


"Hai, Chen kecil."Qian Yu menyapa sambil tersenyum manis, namun Xiao Chen hanya bersikap datar dan segera duduk di tempatnya.


Tempat belajar mereka hanya sebuah meja persegi panjang, sebuah bantal sebagai alas duduk, serta tinta dan kuas sebagai alat menulis.


"Baiklah kalau begitu, guru akan memulai pelajaran kita. Kemarin kita membahas tentang mana, apa itu mana ?

__ADS_1


Mana adalah tenaga yang di butuhkan seorang pendekar untuk melakukan banyak hal, seperti membuat serangan bola api, bola air, listrik, sekaligus menyembuhkan luka.


Mana adalah energi yang berpusat pada dantian kalian, dantian sama halnya seperti tabung penyimpan yang berada 5 cm di bagian pusar.


Suatu saat mana yang kalian miliki bisa saja habis. Butuh waktu lama untuk mengisinya kembali, tergantung seberapa hebat kalian dalam membudidayakan energi alam. Semakin kalian hebat dalam melakukannya, maka semakin singkat waktu yang diperlukan untuk mengisi ulang mana.


Guru Luo berdiri dan menuju ke papan tulis. Iapun menggambar sketsa tubuh manusia, lengkap dengan banyak cabang urat meridian dan pusaran dantian dibagian perut yang sengaja di cat menggunakan warna biru.


"Coba kalian perhatikan papan tulis..


Urat Meridian semuanya berhubungan dengan dantian, karena dari dantianlah semua energi yang kalian gunakan berasal.


Penting untuk setiap pendekar mengingat untuk melindungi area perut / dantian mereka. Karena jika dantian sudah rusak atau hancur, maka tidak ada harapan untuk kalian berkultivasi.


Lain halnya dengan urat Meridian, urat-urat ini bertugas mengalirkan mana ke seluruh bagian tubuh agar kalian dapat menggunakannya.


Berbeda dengan dantian yang tidak bisa diperbaiki jika rusak. Urat Meridian bisa kembali meregenerasi walaupun terputus, namun dengan ganjaran kalian akan cacat semasa urat Meridian kalian putus.


"Manusia normal memiliki cabang urat Meridian sebanyak 300 sampai 500 buah. Jika kalian bisa membebaskan 1 urat merdian, maka kalian mampu mengeluarkan mana dalam jumlah besar tanpa efek samping. Jika kalian bisa membebaskan 500 urat merdian.. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kuatnya orang seperti itu. Namun, pendekar jenius saja hanya mampu membebaskan 100 urat merdian, itupun keburu mati dimakan umur."


Xiao Chen mengangkat sebelah tangan."Apakah ada syarat tertentu untuk membebaskan urat merdian ?"


Guru Luo tersenyum,"Pertanyaan yang bagus. Untuk dapat membebaskan urat merdian, kalian harus berada ditingkat True elemen tahap menengah serta tulang tingkat naga awal. Jika kalian belum memenuhi kedua syarat itu, maka jangan coba-coba membebaskan urat merdian karena dapat membahayakan kalian."


"Baik, kembali ke topik pembahasan...


Sore hari kemudian...


Terlihat ratusan murid berjalan keluar dari kelas masing-masing. Begitu juga dengan Xiao Chen dan Qian Yu, keduanya nampak berjalan beriringan.


"Maaf nona Yu. Aku akan langsung pulang ke asrama, karena ingin segera berlatih."Kata Xiao Chen, tetap fokus dengan jalan didepan meski di sampingnya ada seorang gadis imut.


Qian Yu mengembungkan pipi."Padahal aku ingin mentraktir mu semangkuk ramen iciraku, ramen disana terkenal sangat lezat."


Xiao Chen kemudian tidak sengaja melihat A Ling sedang berjalan sendirian tidak jauh di depan mereka. Iapun melirik Qian Yu di samping.


"Apakah aku boleh mengajak seorang teman ?"


Mata Qian Yu melebar, karena sepertinya Xiao Chen sudah berubah pikiran.


"Tentu saja, kau boleh membawa teman."


******


Sesampainya ditempat penjual ramen iciraku. Qian Yu hanya dapat terdiam dengan wajah datar, karena teman yang Xiao Chen maksud adalah seorang gadis lugu sebaya dengannya.


"A-apakah aku tidak apa-apa berada disini ? Takutnya kehadiran ku akan menganggu kalian."Ucap A Ling merasa tidak enak dengan Qian Yu.


Xiao Chen duduk menengahi kedua gadis itu untuk berjaga-jaga dari hal buruk yang tidak terduga.


"Tenang saja, nona Yu memiliki banyak uang."Ucap Xiao Chen santai, sambil memilih jenis ramen semaunya.


Sementara itu seorang pria paruh baya berpakaian putih khas penjual ramen bernama iciraku, hanya terus tersenyum menatap ke tiga pemuda pemudi di hadapannya.


"Pemuda tampan, kau beruntung sekali bisa menggandeng 2 gadis cantik sekaligus. Apalagi nona Yu adalah anak patriack Tong, kau pasti hidup tenang."

__ADS_1


"Anda salah paham tuan, mereka bedua hanya teman-temanku."Ucap Xiao Chen sambil menyantap makanannya.


"Apa salahnya ? Teman bisa jadi pacar, pacar bisa jadi istri."


Wajah Qian Yu segera memerah."Ti-tidak sesimpel itu tuan, bisakah anda tidak membuat keadaan menjadi tambah aneh ? Aku sedang berusaha makan disini."


"Baik-baik, paman akan diam."


******


Setelah dari kedai ramen iciraku, A Ling dan Qian Yu Kembali ke asrama mereka sedangkan Xiao Chen pergi ke paviliun perpustakaan.


Sesampainya di paviliun perpustakaan. Xiao Chen langsung melangkah masuk dan menemukan banyak rak buku berjejer di lantai dasar, belum lagi lantai selanjutnya karena paviliun ini memiliki 5 lantai sekaligus.


"Tuan, ingat untuk mencari kitab beladiri yang sesuai dengan kemampuan kita agar ada keseimbangan antara kemampuan dan kekuatan kita."


"Hemm"Ujat Xiao Chen berdehem.


Segera Xiao Chen berjalan mengelilingi lantai dasar untuk mencari kitab yang bagus dan sesuai dengan minatnya. Namun meski sudah di cari satu-persatu selama satu jam, tidak ada satupun kitab yang menarik minat Xiao Chen.


"Aku ingat dengan perkataan patriack Tong. Semakin tinggi tingkat lantai yang kunaiki di paviliun perpustakaan, maka akan semakin bagus kitab yang ku dapatkan. Namun untuk naik ke atas aku memerlukan ijin, tapi bagaimana caranya ?"Batin Xiao Chen.


Saat sedang berpikir, Xiao Chen tidak sengaja melihat seorang pria paruh baya terlelap dengan kepala bersender diatas meja resepsionis.


"Bukankah dia penjaga paviliun ini.."


Karena orang itu sedang tidur, segera Xiao Chen gunakan kesempatan itu untuk naik langsung ke lantai lima.


Sesampainya di atas lantai 5, Xiao Chen menemukan banyak lemari kuno yang berisi kitab berumur ribuan tahun. Segera dia memeriksa satu persatu kitab dan tidak lupa meletakkan nya kembali ke tempat semula, agar tidak membuat curiga penjaga.


Pohenix yang mengerti dengan peraturan akademi mencoba menahan Xiao Chen.


"Tuan, berhenti. Tidak seharusnya kau naik lantai tanpa ijin dari penjaga, kau bisa terkena masalah besar jika sampai ketahuan."


"Shutt, diam ayam bodoh. Jika kau tidak mau membantuku mencari kitab, lebih baik diam saja. Lagian ini semua demi mu juga, apa kau tidak malu berada di dalam bentuk ayam itu ?"


"Aku malu, hanya saja.."


"Sudahlah, penjaga itu sedang tidur. Kita tidak akan terkena masalah jika tidak ketahuan, makanya bantu aku."


Pohenix yang merasa dilema mau tidak mau membantu Xiao Chen, semakin cepat mereka mendapatkan kitab yang cocok maka akan semakin cepat mereka keluar. Segera Pohenix keluar dari dalam tubuh Xiao Chen dalam bentuk ayam jago berapi-api. Iapun merasakan hawa kitab-kitab yang ada untuk membedakan mereka, hingga akhirnya pohenix menemukan kitab yang cocok untuk mereka berdua.


"Tuan, aku menemukannya. Ikuti aku,"


Segera Xiao Chen mengikuti pohenix, mereka berhenti disebuah lemari lapuk akibat dimakan rayap.


"Disana, diatas sana tuan."


Segera Xiao Chen dapat melihat sebuah buku kitab di atas lemari dihadapannya. Iapun mau tidak mau memanjat lemari lapuk itu, hingga tiba-tiba terdengar suara deritan kayu hingga akhirnya lemari itu roboh.


*Bruuuuk !!


Karena berpikir suara keras itu telah membangunkan penjaga, Xiao Chen yang berhasil mendapatkan kitab incarannya bersembunyi bersama pohenix di balik sebuah rak buku.


Benar saja, dari arah tangga terlihat pria paruh baya datang dengan membawa pentungan.

__ADS_1


__ADS_2