
''Perjodohan?'' Elia mengerjapkan matanya, menatap kedua orang tuanya yang duduk di sofa di depannya.
''Iya, dengan anak sahabat ayah om Hendra, kamu masih ingatkan sama om Hendra kan?. perjodohan ini sudah kami rencanakan sejak masih SMA.'' Pak Dika menatap putrinya dengan senyum di wajahnya. ''Ayah harap kamu mau menerima perjodohan ini dan menikah dengan anak om Hendra.''
Elia menghela napasnya melihat senyum tulus ayahnya membuatnya tidak bisa mengatakan 'tidak', jadi dia harus bisa mencari alasan agar ayahnya bisa mempertimbangkan perjodohan sudah dia rencanakan.
''Hunm, Elia masih ingat kok sama om Hendra, om Hendra kan sering datang ketemu sama ayah di rumah. Ayah, tapi Elia masih kuliah dan umur Elia baru 20 tahun.'' Elia menatap sendu ayahnya berharap ayahnya bisa luluh.
''Sayang, kamu masih bisa kuliah setelah menikah dan soal umurmu yang baru 20 tahun bunda pikir tidak masalah, menurut bunda itu sudah cukup siap untuk menjalankan komitmen dalam pernikahan.'' Jelas Bu Elina untuk menghilangkan keraguan putrinya.
''Ehm.'' Elia berdehem.
astaga, kenapa bunda tidak mengerti kalau putrinya yang sangat cantik ini tidak ingin dijodohkan? keluh Elia dalam hati.
''Elia, ayah mengerti kalau kamu belum bisa memutuskan sekarang, jadi kamu bisa memikirkannya dulu.'' Ucap Pak Dika.
''Iya ayah, Elia akan kasih jawabannya nanti!'' Ucap Elia setuju. Elia tersenyum lega dia bisa menggunakan waktu yang diberikan ayahnya untuk memikirkan cara menolak perjodohan ini. Dia memang mengenal om Hendra dan istrinya tante Mira, tapi untuk anak mereka dia tidak mengenalnya sama sekali.
''Elia, ayah harap kamu tidak mengecewakan ayah!'' Harap Pak Dika pada Elia putri satu-satunya .
DEG.
Elia mengigit bibir bawahnya. Mendengar perkataan ayahnya Elia yakin kalau ayahnya tidak ingin dia menolak perjodohan ini. Hah Elia bukan tidak ingin menuruti permintaan ayahnya, tapi jujur dia tidak ingin menikah mudah. Menurutnya menikah butuh iman dan mental yang kuat, dan yang paling penting hati dan logika sudah benar-benar yakin kalau bisa komitmen sampai akhir.
***
''Elia Deanika Putri!''
Elia tersentak kaget saat suara yang cukup keras terdengar di telinganya. ''Ana, suara lo sangat mengganggu pendengar gue!'' Elia melotot melihat sahabatnya yang asik makan kentang goreng di depannya.
''Ck.'' Ana berdecak kesal, kemudian meminum jus jeruk pesannya dengan anggun setelah itu dia menatap Elia. '' Elia pertama gue rela keluarin suara indah gue dengan nada yang agak tinggi itu demi lo ngga kesurupan. Lo kenapa? ngelamun mulu, gue ngomong panjang lebar dari tadi lo ngga dengerin.''
Elia menghela napasnya, menatap sekeliling kantin kampus yang tidak terlalu rame, setelah pembicaraan tentang perjodohan kemarin dia jadi kepikiran terus apa lagi ayahnya sangat berharap agar dia mau menerima perjodohan itu.
''El, lo ada masalah yah?'' Tanya Ana lagi karena melihat raut muka sahabatnya yang tidak baik-baik saja.
''Hunm, Na gue dijodohin!''
__ADS_1
''Ngehalu lo? dijodohin sama siapa? Bright di Thailand atau Cha Eun Woo di korea?'' Ucap Ana bercanda. Ana sangat tidak percaya kalau sahabatnya ini mau dijodohin, astaga ini sudah 2023 mana ada perjodohan di jaman moderen ini. Pikir Ana menggeleng- gelengkan kepalanya.
Elia memutar bola matanya jengah. apa Ana tidak bisa melihat raut muka seriusnya? pikir Elia.
''Gue serius Ana! ayah jodohin gue sama anak sahabatnya!''
Ana menatap Elia dengan tatapan tidak percaya. ''Benarkan lo dijodohin?''
''Iya sama anaknya om Hendra sahabat ayah.'' Elia meminum jus alpukat-nya, setelah itu menghela napasnya. ''Na, ayah berharap bangat gue nerima perjodohan ini dan bunda kayanya juga sama, jadi gue bingung kalau gue nolak, ayah sama bunda pasti sedih dan kecewa sama gue, tapi kalau gue terima itu artinya gue akan nikah mudah.'' Elia menatap sendu Ana yang sedang menatapnya prihatin padanya.
''Na, lo tau kan gue ngga mau nikah mudah? ucap Elia lagi dengan sendu.
''Lo, bisa bicara baik-baik sama ayah lo, kalau lo ngga mau dijodohin atau lo bisa ngomong sama ayah lo buat tunangan dulu gitu, ngga langsung nikah. lo kan ngga mau nikah mudah, jadi itu solusi terbaiknya kan?'' Ucap Ana memberi nasehat sekaligus solusi.
''Ana, tumben lo pintar! makasih lo emang sahabat terbaik gue, Na!'' Elia beranjak dari kuris tempat duduknya untuk memeluk Ana. ''Makasih, Na.''
''Sama-sama, Elia. El, tapi gue emang pintar dari dulu, lo aja yang baru sadar kalau punya sahabat yang sangat-sangat pintar kaya gue!'' Ana membalas pelukan Elia.
Elia mengakhiri acara pelukannya. ''Na, gue pulang sekarang! pengen cepat-cepat ngasih tau ayah sama bunda gue soal ide lo tadi.'' Elia mengambil tasnya. ''Na, lo bayarin pesanan gue yah?'' Ucap Elia kemudian berjalan cepat meninggalkan Ana tanpa menunggu persetujuan Ana atas permintaannya.
Teriak Ana pada Elia, namun saat melihat banyak pasang mata yang menatapnya aneh, suara kerasnya menjadi sangat pelan. Ana tersenyum canggung menatap penghuni kantin kampus yang sedang menatapnya.
''Elia, awas lo akan babak belur di tangan gue nanti!'' gumam Ana yang sudah sangat merasa malu dia ingin cepat pergi dari kantin kampus.
***
Elia mengendarai mobilnya pulang ke rumah sepanjang perjalanan senyum di wajah Elia tidak pernah pudar.
Dia bahagia akhirnya bisa terhindar dari nikah mudah, kalau cuman tunangan itu sama saja dengan pacaran kan? jadi tidak masalah dia pasti bisa.
Setelah 15 meniti berkendara Elia sampai di rumahnya, memarkirkan mobilnya di depan rumah.
''Pak Rahmat, tolong masukin di garasi yah!'' Ucap Elia setelah keluar dari mobi dan melihat Pak Rahmat yang bekerja sebagai supir keluarganya datang mendekat padanya. Elia menyerahkan kunci mobilnya pada Pak Rahmat.
''Siap non.'' ucap Pak Rahmat menerima kunci mobil Elia.
Elia masuk dalam rumah. ''Bunda, ayah aku pulang!'' Elia memanggil kedua orang tuanya dengan semangat.
__ADS_1
''Masuk rumah bukanya salam, malah teriak!'' Suara teguran kakak laki-laki Elia yang menuruni anak tangga.
mendapat tegur itu Elia hanya tersenyum menatap kakaknya. ''Assalamualaikum, kakakku yang paling tampan.''
''waalaikumsalam.''
''Sudah pulang?'' Suara Bu Elina terdengar. Elia langsung menoleh melihat Bundanya yang habis dari dapur membawa gelas yang berisi kopi untuk ayahnya.
''Iya bunda, kalau belum pulang Elia ngga mungkin ada di depan bunda sekarang.'' Jawab Elia dengan
sedikit gurauan.
''Tumben? biasanya jam segini kamu masih di kampus atau jalan-jalan sama Ana.'' Ucap Bu Elina pada Elia karena jam masih pukul sepuluh pagi biasanya anaknya itu akan pulang setelah jam makan siang atau tiba di rumah sudah pas jam makan siang, tapi hari ini dia pulang lebih awal, jadi pasti ada sebabnya.
Elia mengikuti Bundanya menuju ruang keluarga di sana sudah ada ayah dan kakaknya sedang ngobrol.
''Elia, lagi pengen pulang jam segini bun.''
Bundanya meletakkan gelas kopi itu di atas meja.
Sekakaknya. Bu Elina duduk di samping suaminya sedangkan Elia duduk berhadapan dengan kakaknya.
Sofa ruang keluarga ditata dengan leter U karena di ruang keluarga di gunakan untuk nonton bersama.
'' Elia pengen ngasih jawaban tentang perjodohan itu.'' Ucap Elina tanpa basa-basi setelah duduk nyaman di sofa.
ayah, bunda dan kakaknya menatap penasaran pada Elia.
''Jadi? Tanya Pak Dika penasaran.
''Elia.'' Elia menatap mereka satu persatu. ''Ayah, bunda, kak Malvin jangan tatap Elia kaya gitu! Elia jadi grogi ini.''
''Dek, ngomong cepetan!'' Desak Malvin. Dia penasaran dengan keputusan adiknya apa dia menerima atau menolak perjodohan itu. Sebenarnya agak kasian pada adiknya yang harus dijodohkan, saat mendengar cerita dari ayahnya perjodohan ini sudah direncanakan sejak ayahnya SMA, jadi membayangkan jika saja anaknya om Hendra perempuan pasti dia yang akan menjadi korban perjodohan untungnya anaknya hanya satu laki-laki, jadi dia aman dari perjodohan.
''Elia.......
😉 Semangat yakinlah hari esok akan lebih 😉
__ADS_1