Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa

Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa
PART 6 Jalan Kaki


__ADS_3

''Dasar laki-laki brengsek, tidak punya hati!'' umpat Elia pada Delvin yang sudah pergi meninggalkannya di jalan, dia tidak akan memaafkan tindakan Delvin yang satu ini, dia pikir dia siapa bisa seenaknya ninggalin dia di pinggir jalan seperti ini.


Elia melihat setiap kendaraan yang lewat. ''Kenapa tidak ada taksi atau angkot yang lewat?'' gerutu Elia.


Elia menepuk jidatnya menyadari kebodohannya sejak tadi. ''oh astaga Elia, apa gunanya handphonemu? kenapa tidak memesan taksi online saja?'' gumam Elia, namun saat akan mengambilnya dia tersedak tasnya tidak ada.


Elia membulatkan matanya. ''LAKI-LAKI BRENGSEK!'' geram Elia saat mengingat tasnya ketinggalan dalam mobil Delvin, dia ingat tadi saat Delvin memukul stir mobil dengan kencang membuatnya kaget dan kerena rasa takutnya dia sampai lupa mengambil tasnya.


Elia kembali melihat ke sekitar tetapi tidak ada tanda-tanda kendaraan umum yang akan lewat, hingga mau tidak mau dia berjalan kaki.


Elia merasakan sakit pada kakinya ketika sudah 25 menit berjalan Elia mendudukkan dirinya di pinggir jalan dan membuka heels yang dia pakai, sial memang hari ini dia memakai heels andai dia tau dari awal jika akan diturunkan dipinggir jalan seperti ini tidak akan dia menggunakan heels ini.


''astaga bagaimana ini? tidak mungkin berjalan kaki tanpa alas kaki dengan keadaan aspal yang panas.'' Elia menghela napasnya, mash jam 12 lewat jadi panas matahari masih sangat terik.


''Haus.'' Gumamnya kemudian menelan ludahnya matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis, dia menyesal telah setuju untuk datang bersama Delvin di butik jika ujung-ujung dia di tinggal seperti ini.


Elia mau tidak mau dia memakai heelsnya kembali berjalan secara perlahan, dia berharap akan ada seseorang yang mau mengasihaninya memberikan tumpangan.


***


Ditempat lain, Delvin sudah berada di sebuah restoran memakan makan siangnya bersama sang kekasih Aruna.


''Tadi aku pikir kamu emang benar-benar lagi sibuk, sampai ngga mau makan siang bareng.'' Ucap Aruna sambil memakan makan siangnya.


''Ngga kok yangk, mana bisa aku nolak permintaan pacar aku yang paling cantik ini.'' Ujar Delvin sambil mencubit gemas hidung Aruna.


''Ck, gombal.'' ucap Aruna malu-malu.


Delvin terkekeh mendengar perkataan Aruna, Delvin melanjut makan dengan senyum yang terpancar sejak tadi, dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali setelah meninggalkan Elia di pinggir jalan, yang dia pikirkan adalah wanita itu bisa memesan taksi online dan pulang dengan selamat sampai kerumahnya, sedangkan masalah makan siang bersama mereka dia yakin Elia pasti bisa mengurusnya sendiri.

__ADS_1


Namun pikiran Delvin tidak sama dengan kenyataan kedua orang tua tepatnya Bu Mira dan Bu Elina sedang uring-uringan menunggu kedatangan mereka.


''Aduh jeng, kok mereka belum sampai yah?''. cemas Bu Mira menatap pintu masuk restoran.


''Iya, seharusnya mereka sudah tiba sejak tadi. Jeng saya coba telpon Elia lagi siapa tau sekarang diangkat.'' Sahut Bu Elina sambil mencoba menelpon Elia, namun hasilnya tetap sama Elia tidak menjawab telponnya.


Sedangkan Bu Mira dia juga coba menelpon Delvin, tapi nomor anaknya itu tidak aktif sejak tadi.


''Ini mereka kemana seh? apa-apa terjadi sesuatu di jalan?'' ucap Bu Mira tamba panik dan tidak beda jauh dengan Bu Elina dia juga khawatir.


''Jeng ini sudah jam satu lewat, bagaimana kalau kita pulang saja siapa tau mereka sudah pulang tidak sempat kesini lagi kerena kecapean.'' usul Bu Elina.


''Iya benar kita pulang saja.'' Ucap Bu Mira setuju.


kedua ibu-ibu itu keluar meninggalkan restoran dan berpisah menaiki mobil mereka masing-masing, sejak tadi supir pribadi mereka menunggu.


****


''Aow--aow, sakit kan? siapa suruh lo jalan kaki? pakai heels lagi.'' omel Ana dengan sengaja menekan luka Elia.


''Hah, SAKIT BEGO!'' jerit Elia menjauhkan kakinya dari Ana.


''Ngatain gue bego lagi, lo tuh yang bego! kenapa seh lo jalan kaki sampai kaki lo luka kaya gini?'' ucap kesal Ana, sambil kembali mengobati kaki Elia.


Bukannya menjawab pertanyaan Ana, Elia malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Elia menghela napasnya mengingat kejadian tadi dimana dia berjalan kaki selama sejam lebih menggunakan heels, untungnya ada tukang ojek tadi kalau tidak dia tidak akan bisa membayangkan bagaimana nasibnya dan dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya dengan kondisi mengenaskan seperti ini, makanya dia sekarang berada di rumah Ana sahabatnya yang untungnya Ana ada di rumah kalau tidak dia tidak bisa membayar tukang ojeknya, kan kasian tukang ojeknya yang sudah susah payah mengantarnya jauh-jauh.


''Ck, Elia Deanika Putri!'' geram Ana karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Elia. Ana dengan sengaja menekan luka Elia lagi.

__ADS_1


''Hah, Bambang lo ngga sabaran bangat seh!'' kesal Elia ketika Ana dengan sengaja lagi menekan lukanya.


''hunm, lo ingatkan kalau gue dijodohin?''


tanya Elia pada Ana dan Ana merespon dengan menganggukkan kepala.


''Jadi hari ini gue sama tuh cowok fitting baju penganti.......'' Elia menceritakan semua kejadian yang dia alami hingga berakhir menyedihkan seperti ini.


''What? jadi lo mau dijodohkan sama pilihan bokap lo?'' tanya Ana ketika Elia sudah selesai menceritakan kejadian yang dia alami.


Elia menganggukkan kepala dengan raut muka muram.


''Bokap lo salah milih cowok ini mah. Masa cowok ngga berperasaan dan berperikemanusiaan kaya gitu mau dijodohkan sama lo? hah pokonya lo harus ngadu sama ''Bonyok'' lo! belum nikah aja dia udah kaya gini apa lagi kalau udah nikah, lo bakalan jadi korban KDRT!'' geram Ana emosi.


Mendengar itu Elia tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum menatap Ana yang sudah mau peduli padanya.


''El, lo ngga akan pasrah sama keadaan kan?'' tanya Ana kemudian dengan hati-hati dan duduk di samping Elia.


''Hunm, ngga tau, gue bingung Ana.'' gumam Elia menunduk.


Ana memeluk Elia dari samping, turut perhatian dengan keadaan sahabatnya.


Elia membalas pelukan Ana, dia menangis, yah ini berat untuknya dimana dia akan memilih kebahagiaannya atau kekecewaan kedua orang tuanya.


''Elia, lo harus bicarakan ini sama kedua orang tua lo, jangan diam aja! gue yakin mereka ngga akan mau liat lo hidup tersiksa dengan laki-laki pilihan mereka!'' ucap Ana sambil mengelus punggung Elia.


''Hum, gue akan usahakan.'' Cicit Elia.


Elia memang akan melihat situasi terlebih dahulu, jika memungkinkan dia akan bicara sama ayah dan bundanya, dan memeng benar ayah dan bundanya tidak akan bisa melihatnya hidup tersiksa dengan laki-laki pilihan mereka, tapi apakah bisa dia mengatakan apa yang telah Delvin lakukan kepadanya karena jika sampai dia mengatakannya dia akan siap dengan kekecewaan ayahnya terhadap Om Hendra.

__ADS_1


Dia tidak bisa melakukan itu Om Hendra sudah banyak membantu ayahnya dan Om hendra selalu ada disaat suka dan duka ayahnya.


__ADS_2