
Elia melangkahkan kakinya memasuki rumah kedua orang tuanya, saat akan menaiki tangga menuju ke kamarnya Elia berhenti dan membalikkan padanya ketika mendengar suara ayahnya dan bundanya yang memanggilnya.
''Ayah, bunda? kalian belum tidur?'' tanya Elia pada kedua orang tuanya, yah tadi dia memilih menenangkan diri terlebih dahulu di rumah Ana, hingga dia baru sampai di rumahnya ketika pukul 9 malam.
''Belum, ayah sama bunda, sengaja nungguin kamu.'' jawab Bu Elina menatap datar anak perempuannya ini pertama kalinya Elia pulang malam membuatnya khawatir, apa lagi saat mendengar penjelasan Delvin yang datang mengantar tas Elia tadi.
Elia menatap kedua orang tuanya yang terlihat berbeda dari biasanya ada rasa khawatir yang terlihat dari raut muka kedua orang tuanya, tapi dari tatapan mereka Elia bisa tau jika orang tuanya sedang marah kepadanya. Elia menghela napasnya berdoa dalam hati semoga kemarahan kedua orang tuanya bukan tentang dia dan Delvin.
Elia melangkah mendekati kedua orang tuanya yang duduk di sofa ruang tamu. sebelum duduk di sana Elia melihat tasnya yang tertinggal di mobil Delvin tadi sekarang sudah berada di atas meja ruang tamu. Elia duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya.
''Papa kecewa sama kamu!'' ucap tegas Pak Dika menatap datar Elia.
''Mas, ingat! kita bicarakan semuanya baik-baik.'' pinta Bu Elina pada suaminya sambil mengelus tangan Pak Dika agar bisa lebih tenang.
Pak Dika menghela napasnya kemudian menatap Elia kembali. ''Seharian ini kamu kemana?'' tanya Pak Dika kemudian pada Elia.
''Ak-aku, di rumahnya Ana, ayah.'' Jawab Elia dengan menundukkan kepalanya.
''Kamu membuat semua orang khawatir. Bunda, tante Mira dan Delvin sangat khawatir sama kamu, tapi kamu malah ENAK-ENAKAN di rumah Ana.'' Geram Pak Dika dengan menekan kata ''enak-enakan'' untuk menyendiri Elia.
''Ayah, Elia juga ngga pengen ke.....''
''Apa dengan cara membohongi Delvin?'' potong Pak Dika ketika Elia masih ingin membelah diri. ''Itu yang kamu anggap benar Elia Deanika Putri!''
Deg.
Elia menatap ayahnya dengan mata berkaca, dia tidak mengerti dengan apa yang telah ayahnya katakan. Membohongi? dia sama sekali tidak melakukan itu, tapi kenapa ayahnya?
Elia menggigit bibir bawahnya. ''Maksud Ayah?'' tanya Elia menatap Ayahnya dengan air mata yang sudah keluar membasahi wajahnya.
__ADS_1
Pak Dika menggelengkan kepalanya. ''Kamu masih nanya? apa maksud ayah?''
BRAK.
Pak Dika memukul meja kaca ruang tamu dengan kuat.
Elia dan Bu Elina tersentak kaget. ''YAH!'' Bentak Bu Elina pada Pak Dika yang tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Ini pertama kalinya dia melihat suaminya marah apa lagi sampai tidak bisa mengontrol emosinya.
''Elia masuk kamar! kita akan bicarakan masalah ini besok pagi.'' Ucap Bu Elina kemudian, saat melihat Elia sudah ketakutan.
Elia mengambil tasnya yang ada di atas meja dan langsung berlari ke kamarnya, dia menaiki tangga dengan cepat dan sampai di kamar. Elia membuka pintu kamarnya dan langsung menutupnya lagi.
Elia bersandar pada pintu mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan. Setelah itu berjalan menuju kasur dan membaringkan tubuhnya yang lelah dan memejamkan matanya dengan air mata yang tidak berhenti keluar.
''Dasar laki-laki BRENGSEK!'' maki Elia pada Delvin, dia yakin Delvin sudah memutar balikkan fakta. Jelas-jelas Delvin sendiri yang menyuruhnya keluar dari mobil dan meninggalkannya sendiri di jalan, tapi sekarang Delvin mengerang cerita.
Elia membuka matanya dan menatap datar langit-langit kamarnya. ''Licik, aku berjanji akan membalas ini Delvin Ayres Abraham!''
Hari berganti hari, hari dimana keluarga besar Pak Dika dan Pak Hendra tunggu-tunggu hari dimana akan menikahkan putra putri mereka tepat pukul 9 pagi.
Elia menatap datar pantulan dirinya di cermin, melihat penampilannya dengan make-up yang sudah menghiasi wajahnya, membuatnya terlihat berbeda dari biasanya. Balutan kebaya yang dia gunakan untuk proses ijab kobul.
''15 menit lagi.'' gumam Elia melihat layar headphone-nya. Iya 15 menit lagi jam sembilan itu artinya sebentar lagi dia akan merubah statusnya menjadi seorang istri.
Elia menghela napasnya, banyak hal yang telah dia lewati saat proses persiapan acara pernikahannya hari ini, apa lagi mengingat kejadian saat ayahnya marah dan saat tau alasan ayahnya dia bahkan tak percaya jika orang yang dijodohkan dengannya sangat egois. Delvin mengatakan pada ayah bahwa dia tidak ingin ke restoran tempat tante Mira dan bundanya menunggu, karena ada hal penting yang mengharuskannya ke kampus.
Yah ayah dan bundanya marah saat mendengar itu bagaimana tidak Elia yang sudah di izinkan selama dua minggu dan sudah dipastikan selama dua minggu itu tidak ada tugas atau hal yang lainnya yang mengharuskan Elia untuk hadir di kampus.
__ADS_1
''Elia.''
Elia yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri tersentak kaget saat namanya dipanggil sang bunda yang baru masuk ke dalam kamarnya hotel yang ditempati Elia.
''Kenapa? apa ada yang menggangu pikiranmu?'' tanya Bu Elina saat melihat raut muka tak bersahabat putrinya.
Elia tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya. ''Ngga Bun, Elia hanya ngga nyangka aja kalau sebentar lagi akan menjadi istri orang.''
''Hunm, sayang bunda ngga pengen nangis dihari bahagia ini.'' Bu Elina memegang pundak Elia dan menyamakan tinggi badannya dengan Elia yang sedang duduk di kursi. ''Ayo, semua orang sudah menunggu kita!'' ajak Bu Elina ketika melihat suaminya sudah datang menjemput mereka.
''Sudah siap?'' tanya Pak Dika.
Bu Elina menggandeng tangan kanan Elia, berdiri menghadap Pak Dika. ''Sudah, putri kita juga sudah sangat cantik.'' Ujar Bu Elina.
Pak Dika menatap haru Elia, putrinya satu-satunya ini akan menikah hari ini dan itu dengan laki-laki yang telah dia pilih dan semoga pilihannya tidak akan mengecewakannya dikemudian hari. Harap Pak Dika. Pak Dika berdiri di samping kiri Elia dan menggandeng tangan putrinya dengan erat.
Elia dan kedua orang tuanya keluar dari kamar hotel dan menuju ruangan yang sudah di dekorasi untuk akad nanti.
Saat sampai di ruangan yang mereka tujuh pertama kali terdengar adalah suara MC yang menyambut kedatangan mereka.
''Senyum sayang! semua mata sedang memandangimu sekarang.'' ucap Bu Elina saat melihat tidak ada senyum di bibir sang putri.
Elia menghela napasnya kemudian bibirnya melengkung membentuk senyum membuat Elia makin terlihat cantik.
Elia duduk di kursi berdampingan dangan Delvin.
DEG.
Jantung Elia berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia tidak berani melirik Delvin, Elia meremas kedua tangannya cemas memikirkan apa yang dipikirkan Delvin tentang pernikahan yang akan mereka jalani nanti. Delvin yang memang terang-terangan menunjukkan jika membenci Elia membuat Elia tidak terlalu berharap pernikahan mereka akan bertahan lama.
__ADS_1
Delvin menutup kedua matanya menguatkan dirinya untuk melakukan ijab kabul. Sungguh dia takut salah menyebut nama, hati dan pikirannya tertuju pada Aruna. Dia tidak bisa fokus apa lagi mengingat Aruna yang hancur saat mendengar kabar pernikahannya dengan wanita pilihan papanya, saat itu Aruna bahkan tidak ingin bertemu dengan dirinya lagi, namun syukurnya dia bisa menjelaskan pada Aruna jika pernikahan yang akan dia jalani nanti tidak akan bertahan lama, dia akan melakukan segala macam cara agar bisa bercerai secepatnya.
Dia juga berjanji tidak akan jatuh cinta pada Elia.