Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa

Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa
Part 2 Menerima


__ADS_3

''Elia, setuju untuk dijodohkan!''


Elia melihat senyum bahagia kedua orang tuanya setelah mendengar ucapannya, dia tidak bisa membayangkan jika dia menolak maka yang akan dia lihat sekarang adalah kekecewaan kedua orang tuanya, jadi menerima adalah jalan terbaik demi kebahagiaan kedua orang tuanya.


''Dari awal ayah sudah yakin jika kamu tidak akan mengecewakan ayah! ayah akan segera menghubungi om Hendra! dia pasti senang mendengar kabar baik ini.'' Ucap Pak Dika semangat.


''Iya, ayah segera hubungi calon besan kita! katakan pada mereka jika kita harus segera bertemu untuk mengatur tanggal pernikahan!'' Ujar Bu Mira.


Deg.


''Mengatur tanggal pernikahan?''. Cicit Elia menggigit bibir bawahnya.


Elia menatap serius kedua orang tuanya. ''Ayah, Bunda...'' Panggil Elia dengan suara lirih. ''Elia menerima perjodohan ini, tapi Elia belum mau menikah, Elia pengen tunangan dulu. Lagian Elia belum mengenal anaknya om Hendra, jadi setelah pertunangan itu aku sama anaknya om Hendra bisa pendekatan dan saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu.''


''Elia, menurut ayah lebih baik kalian langsung menikah, pendekatan kalian bisa lebih leluasa dan kalian akan bisa lebih mudah untuk saling mengenal.'' ucap Pak Dika penuh harap pada putrinya.


''Elia.'' Melvin yang sejak tadi diam mendengar ayah dan adiknya kini ikut bersuara, saat melihat raut muka adiknya yang sudah tidak seceria tadi, sedangkan ayahnya sepertinya sudah kuat dengan keputusannya untuk segera menikahkan adik ini.


''Kakak tau kalau kamu ngga mau nikah mudah.'' ucap Melvin lagi, dia tau apa yang membuat Elia sulit untuk menerima permintaan ayahnya karena Elia pernah mengatakan padanya jika dia tidak akan mau menikah mudah. ''Tapi menurut kakak, kalau kamu mau menikah dengan anaknya om Hendra tidak masalah. Kakak mengenal anaknya om Hendra, dia baik, sopan dan selama ini kakak belum pernah mendengar skandal apapun tentang anak om Hendra, sepertinya dia cukup menjaga diri dari pergaulan bebas.'' Jelas Melvin pada Elia.


Melvin berusaha menyakinkan Elia untuk bisa menerima perjodohan karena jujur dia takut adiknya ini menolak, maka ayah mereka pasti akan sangat kecewa. Ini juga kali pertamanya ayahnya meminta sesuatu pada adiknya biasanya ayah mereka itu selalu menuruti permintaan Alia dia tidak pernah menolak apapun yang Elia inginkan.


Elia meremas kuat ujung bajunya. ''Kenapa tidak ada yang biasa mengerti Elia?'' mata Elia berkaca-kaca satu kedipan saja Elia yakin jika air matanya akan membasahi wajahnya.


Pak Dika menghela napasnya sebelum berbicara. ''Elia, selama ayah belum pernah meminta apapun sama kamu kan? ayah selalu menuruti keinginanmu.'' Pak Dika menjeda ucapannya saat tangan kanannya dipegang oleh istrinya. Pak Dika melihat putrinya yang sudah menangis. ''Ayah tidak pernah menutut kamu untuk menjadi seperti apa yang ayah inginkan, tapi untuk kali ini ayah mau kamu menuruti keinginan ayah! ayah yakin anaknya om Hendra bisa menjaga kamu, ayah akan tenang jika kamu menikah dengan anaknya om Hendra mereka keluarga yang baik, ayah sudah sangat lama mengenal mereka.'' Ucap Pak Dika lagi.


Elia diam, dia sudah tidak tau mau menjawab apa, yah dari awal dia sudah sadar kalau ayahnya tidak ingin dia menolak perjodohan ini.


***


Elia berbaring di atas kasur menatap langit-langit kamarnya memikirkan keputusan yang telah dia ambil tadi, dia memilih setuju untuk menikah mengikuti keinginan ayahnya, lagian dia tidak memiliki pilihan lain, dia terpaksa menyetujui demi kebahagian ayahnya dan ini keputusan akhirnya, dia akan mencoba menerima apapun yang terjadi di hidupnya nanti.

__ADS_1


Tok...tok...tok.


Lamunan Elia berakhir karena suara pintu kamarnya yang diketuk.


''Sayang, bunda boleh masuk?'' suara bundanya meminta izin untuk masuk.


''Iya, bunda masuk saja pintunya tidak di kunci.'' Sahut Elia yang sudah berganti posisi menjadi duduk.


''Clek.''


Suara pintu terbuka dan Bu Elina masuk ke dalam


kamar putrinya.


''Sayang, apa bunda ganggu tidur siang mu?'' tanya Bu Elina pada Elia putrinya ketika sudah duduk di pinggir kasur Putrinya.


''Ngga Bun, bunda bawah apa?'' Elia bertanya saat melihat paper bag di tangan bundanya.


''Itu dress, yang baru bunda pesan buat kamu pakai di acara makan malam bersama keluarga om Hendra nanti malam.''


Elia melihat paper bag itu dengan perasaan campur aduk, yah dia hampir lupa kalau ayahnya tadi juga mengatakan kalau ada acara makan malam bersama keluarga om Hendra malam ini.


''Nanti malam bunda yang akan mendadani putri bunda ini biar keliatan makin cantik, putri bunda harus perfect nanti malam!'' Bu Elina merapikan rambut Elia yang menutupi wajah putrinya itu.


Bu Elina menatap Elia yang wajahnya sangat murung tidak seceria biasanya, hah putri cerewetnya tidak banyak bicara sekarang.


Bu Elina membawa Elia kedalam pelukannya. ''Sayang, maafin bunda sama ayah yah..... Dulu saat kamu lahir ayah sangat bahagia dia tersenyum sepanjang hari saat itu, dia berjanji akan menjadi ayah terbaik untuk anak-anaknya dan berjanji ketika kamu sudah cukup umur untuk menikah maka dia akan mencarikan laki-laki terbaik yang bisa menjaga putri tercintanya, yang tidak akan berani untuk menyakiti putrinya. Ayah sangat menyayangi Elia.'' Ucap Bu Elina bercerita bagaimana suaminya menyaingi putrinya berharap putrinya ini tidak membenci ayahnya karena memaksanya menerima perjodohan ini.


Elina menangis diperlukan bundanya, mendengar ucapan bundanya, dia tau ayahnya sangat menyayanginya, dia juga tidak membenci ayahnya karena memaksanya, ayahnya hanya ingin yang terbaik untuknya.


Bu Elina melepas pelukannya, dia menghapus air mata putrinya. ''bunda harap kamu akan selalu bahagia.''

__ADS_1


''Elia sayang bunda dan ayah, Elia tau ayah hanya menginginkan yang terbaik untuk Elia.'' ucap Elia memegang tangan bundanya.


Bu Elina tersenyum menatap putrinya. ''Sayang bunda mau temui ayahmu dulu, kamu tidur siang dulu biar nanti malam kamu keliat lebih fresh!'' Ujar Bu Elina sebelum keluar dari kamar Elia.


Setelah bundanya keluar Elia mengikuti saran bundanya agar tidur siang.


***


Di tempat lain seorang laki-laki duduk di kursi dengan laptop dan berkas berada di atas meja di depaknya.


Clek.


Suara pintu ruang kerja laki-laki itu terbuka dan masuk laki-laki dengan aura tegas dan dingin walaupun di umurnya yang sudah tidak muda lagi.


''Delvin Ayres Abraham.'' Sapa laki-laki itu dengan tegas.


''Papa?'' gumam Delvin melihat sang ayah yang melangkahkan kakinya mendekat kearahnya.


Delvin menghela napasnya, dia sudah tau apa tujuan ayahnya datang keruang kerjanya, apa lagi kalau bukan membahas perjodohan konyol yang sudah dia rencanakan.Delvin anak dari Pak Mahendra Abraham sahabat ayah Elia.


Pak Hendra duduk di kursi di depan anaknya. ''Delvin, kamu ingatkan sama acara nanti malam?''


''Hunm.'' Delvin menjawab dengan malas.


Pak Hendra tersenyum melihat respon anaknya. ''Kamu tau kan konsekuensi jika kamu sampai tidak datang nanti malam?'' tanya Pak Hendra pada Delvin putranya.


''Pa!'' suara Delvin membentak papanya. ''Papa, bisa tidak jangan membawa Runa dalam urusan kita? Runa tidak tau apa-apa, Pa!'' Geram Delvin pada papanya yang selalu mengancamnya.


''A-RU-NA.'' Ucap Pak Hendra menyebut nama kekasih Delvin. ''Perempuan yang hanya bisa menyusahkan kamu!'' Pak Hendra menatap tajam Delvin.


BRAK......

__ADS_1


😉


__ADS_2