
BRAK.
Delvin memukul meja dengan kencang. ''Runa, tidak pernah menyusahkan aku, Pa? Delvin yang memaksa Runa buat terima pemberian Delvin, Runa perempuan baik, Pa!'' ucap Delvin penuh emosi.
Pak Hendra menatap anaknya dengan satu alis naik dan tersenyum mengejek anaknya. ''Papa tau di matamu perempuan itu sangat - sangat sempurna, tapi di mata papa, dia sangat buruk dan sangat tidak baik untuk kamu jadikan istri dan ibu dari anak-anakmu.'' Ucap Pak Hendra dengan tenang.
Entah mengapa sejak pertama kali melihat kekasih yang selalu dibanggakan anaknya ini Pak Hendra sudah tidak menyukai perempuan itu, menurutnya kekasih anaknya itu terlalu pintar memanipulasi dan membuat orang kasihan padanya dengan air mata yang selalu dia keluarkan.
Delvin diam tidak menangapi perkataan papanya yang sejak awal dia memperkenalkan Aruna dua tahun lalu papanya sudah tidak menyukai Aruna kekasihnya.
''Delvin, sudah sejak lama papa minta sama kamu, tinggalkan perempuan itu!'' Pak Hendra menjeda perkataan dengan menatap tajam anaknya yang sangat keras kepala. ''Dan ini untuk terakhir kalinya papa minta sama kamu, jangan pernah berhubungan lagi dengan perempuan itu. Ingat, kali ini Papa tidak main-main dengan perkataan papa!''
Delvin mengepal kuat kedua tangannya yang ada di atas meja. Andai yang berbicara sekarang bukanlah papanya sudah dari awal dia akan membuatnya babak-belur.
''Perempuan yang akan jodohkan denganmu adalah perempuan baik-baik, jika nanti malam kamu datang itu artinya kamu menerima perjodohan itu dan mau menikah dengan anaknya om Dika, tapi jika kamu tidak datang itu artinya kamu memilih kalau ayah kekasihmu itu papa masuk kedalam penjara karena kasus korupsi.'' Ucap tegas Pak Hendra pada putranya, sebelum keluar dari ruang kerja Delvin.
''Brengsek!''
BRAK.
Delvin memukul meja dengan sangat keras hingga tangan sebelah kanannya terluka.
Delvin menyandarkan badannya di kursi kerjanya dan matanya dia pejamkan.
''Sial, kenapa papa bisa tau tentang kasus korupsi papanya Runa?'' kesal Delvin pada dirinya sendiri.
Pak Hanif, papanya Aruna adalah manajer keuangan di perusahaan Abra grup, perusahan milik keluarga Delvin. Tepatnya dua bulan lalu Pak Hanif melakukan korupsi dengan jumlah yang sangat besar, tapi Delvin menutup rapat kasus korupsi itu dan menyingkirkan semua bukti yang ada, tapi kenapa papanya bisa tau kasus korupsi papanya Aruna?
__ADS_1
Delvin, jika dia tidak mengikuti keinginan papanya maka kelurga Aruna tidak akan baik-baik saja, Pak Hanif akan masuk penjara, dan keluarga Aruna akan menanggung malu, ibunya Aruna yang sedang dirawat di rumah sakit karena sakit jantung yang dideritanya pasti akan makin drop, sedangkan Arunanya pasti akan dikucilkan oleh orang-orang. Aruna pasti tidak akan kuat untuk menghadapi itu semua.
Delvin menghela napasnya, mau tidak mau dia harus menerima perjodohan konyol ini demi Aruna, tidak masalah dia hanya akan menganggap pernikahannya hanya di atas kertas, dia tidak akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Pernikahannya nanti tidak akan bertahan lama, dia akan melakukan segala macam cara agar perempuan pilihan papanya itu memilih bercerai dari pada mempertahankan rumah tangga mereka. Pikiran licik Delvin bermunculan di kepalanya, dia tersenyum licik setelah memikirkan semua rencananya.
****
''Ayah? Melvin pikir kalian sudah pergi.'' Melvin yang sudah rapi dengan jas yang ditenteng di tangan kirinya menghampiri ayahnya yang duduk di sofa ruang tamu.
''Belum, kamu taukan kalau perempuan dandannya lama? jadi maklum saja kalau kami belum pergi. kamu sendiri?'' tanya Pak Dika pada putranya yang akan menggantikannya menghadiri acara makan malam bersama klien penting yang berasal dari Singapura.
''Ini Melvin udah mau pergi, udah ditunggu sama Ervin di depan.'' Jawab Melvin, dia sudah dijemput oleh asistennya.
''Yah udah cepat pergi sana! kasian Nak Ervin kalau nunggu lama.''
''Siap Ayah, Melvin pergi dulu.'' Melvin menyalami Ayahnya kemudian berlalu keluar dari rumah.
Pak Dika melihat jam tangannya yang tinggal 15 menit lagi jam delapan. ''Bunda, Elia agak cepat sedikit ini udah mau jam delapan loh!'' suara keras Pak Dika memanggil anak dan istrinya yang sudah sejak tadi dandan, tapi sampai sekarang belum selesai.
''Ayo berangkat!'' ujar Bu Elina ketika sudah dekat dengan suaminya.
''Wah, kedua bidadari ayah cantik banget, ayah sampai pangling.'' Ucap Pak Dika memuji kedua perempuan beda usia itu.
''Hasil dari kelihaian tangan bunda emang ngga akan pernah gagal.'' Ucap Elia bangga pada bundanya.
****
Keluarga Pak Dika sampai di restoran tujuan mereka, setelah kurang dari 15 menit dalam perjalanan.
__ADS_1
Setelah sampai di sana mereka langsung masuk menuju ruang VIP yang telah dipesan Pak Hendra khusus untuk makan malam mereka.
Elia menghela napasnya, dia memegang erat tangan bundanya karena gugup.
'' Hendra, maaf kami sedikit terlambat.'' Ujar Pak Dika agak tidak enak pada sahabatnya.
''Telat sedikit saja tidak masalah, kamu kaya sama siapa saja, Dik.'' Balas Pak Hendra berdiri menyambut sahabatnya.
''Jeng Elina, kita ketemu lagi.'' Bu Mira menyapa Bu Elina.
''Iya jeng baru kemarin kita ketemu di acara arisan, eh sekarang kita ketemu lagi buat membahas kelanjutan perjodohan anak-anak kita.'' Ujar Bu Elina rama.
''Ayo duduk dulu, kita ngobrolnya sambil duduk, sekalian sambil nunggu pesanan makan kita datang.'' Ujar Pak Hendra.
Pak Dika dan yang lainya duduk di kursi yang sudah di sediakan di sana. Elia dan Delvin duduk saling berhadapan mereka dari tadi hanya diam membiarkan orang tua mereka berbicara. Elia yang sedari tadi merasa gugup, apa lagi laki-laki yang ada di depannya selalu menatap dingin padanya, membuat Elia ingin sekali acara makan malam ini cepat berakhir. Sangat tampan, tapi tatapannya sangat menyeramkan, tatapan itu? apa dia membenciku? ucap Elia dalam hati, Elia kuliah di jurusan psikologi, jadi dia sangat tau apa arti tatapan laki-laki di depannya ini.
Sedangkan Delvin sedari tadi diam-diam memperhatikan perempuan yang akan dijodohkan dengannya itu, mencari hal yang istimewa dari gadis pilihan ayahnya ini, yang membuat ayahnya tidak bisa menerima Aruna menjadi calon istrinya.
''Oh, yah Delvin, kamu sudah kenal kenalkan sama om Dika dan tante Elina? begitu juga dengan Elina, juga sudah kenalkan om sama tante?''
Bu Mira bertanya pada kedua anak muda yang diam sejak tadi.
''Iya tante, ngga mungkin Elia ngga kenal om sama tante, Elia kan sering ketemu om sama tante.'' Jawab Elia rama, dengan senyum yang membuatnya makin keliatan cantik.
Sedangkan Delvin hanya menganggukkan kepalanya tersenyum kepada Pak Dika dan Bu Elina.
''Tapi Delvin sama Elia belum pernah ketemu dan saling mengenalkan, jadi sekarang kalian kenalan dulu!'' lanjut Bu Mira lagi.
__ADS_1
Mendengar perkataan Bu Mira, Elia berinisiatif menjulurkan tangannya pada Delvin.
Delvin menatap tangan dan wajah Elina secara bergantian.