
Delvin menatap tangan dan wajah Elia secara bergantian.
Salah, harusnya gue ngga ngelakuin ini! batin Elia merutuki dirinya sendiri. Ingin menarik kembali uluran tangannya, tapi sudah terlanjur, semua orang yang ada di sana melihat kearah mereka berdua.
Tidak, gue harus bisa! Elia lo bisa! jangan mempermalukan diri sendiri diawal pertemuan. Ucap Elia lagi dalam hati.
''hekm, jangan terus melihat wajahku tuan muda Delvin.'' Ucap Elia dengan tersenyum cerah dengan memasang sedikit raut malu-malu kucing pada wajahnya. ''Anda sampai lupa membalas uluran tangan saya.'' lanjut Elia sambil mengambil tangan Delvin yang ada di atas meja untuk berjabatangan.
''Elia.'' Ucap Elia memperkenalkan diri.
Delvin tercengang melihat perempuan yang akan dijodohkan dengannya, sungguh tidak bisa ditebak, dia pikir perempuan itu tidak akan melakukan hal semacam ini, tapi apa ini?
Delvin menatap kesal pada Elia. ''Del...''
''Delvin kan? saya sudah menyebutnya tadi, nama anda sudah tersimpan di memory otak saya.'' Ucap Elina memotong perkataan Delvin yang terlihat sangat kesal, bahkan tatapan kebencian dari mata Delvin sangat terlihat jelas dan Elina tersenyum senang melihat itu semua.
Elina mengakhiri jabatangan itu, dia menatap para orang tua yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi, Elia tersenyum.
''Nah, gini kan enak kalian sudah saling mengenal, sekarang kita makan malam dulu setelah itu baru lanjut ngobrol lagi.'' Ujar Bu Mira dengan senyum bahagia. Sejak awal dia sudah sangat setuju dengan rencana perjodohan ini, entah mengapa dia sangat ingin Elia menjadi menantunya.
Pelayan restoran itu datang membawa berbagai macam makan, yang Elia lihat ada makan kesukaannya, Takoyaki makan khas jepang, sejak pertama kali memakannya dia sudah jatuh cinta pada makan ini.
''Takoyaki isi udang makan kesukaan calon menantuku.'' Bu Mira menyerahkan Takoyaki pada Elia.
''Wah, tante tau?'' Elia mengambil Takoyaki itu dengan semangat.
Delvin menghela napasnya melihat kelakukan mamanya. Apa tadi? calon menantu? mama bahkan tidak pernah mau berusaha dekat atau mengenal Runa. Batin Delvin menatap benci pada Elina dia yakin penyebab mama dan papanya tidak menerima Runa karena perjodohan dengan Elina.
Elina menaikan satu alisnya melihat Delvin menatap seakan-akan dia telah berbuat salah dan kenapa tatapan kebencian itu membuat Elia merasa tidak enak hati.
__ADS_1
''Iya lah tante tau, kamu kan calon menantu tante.'' Jawab Bu Mira.
Elia tersenyum mendengar jawaban Bu Mira.
Mereka semua fokus makan tidak ada obrolan selama mereka makan.
Setelah kurang dari 15 menit mereka sudah menyelesaikan acara makan malam itu dan dilanjutkan dengan obrolan serius mengenai perjodohan.
''Gimana, kita langsung tentuin tanggal pernikahannya?'' Ucap Pak Hendra memulai obrolan.
''Iya langsung saja, bukankah lebih cepat lebih baik?'' ucap Pak Dika menimpali.
Elia dan Delvin diam mendengar penuturan orang tua mereka percuma ikut berbicara mereka berdua sama tidak mempunyai pilihan.
''Bagaimana kalau tanggal 23 bulan ini? itu tanggal cantik 23, 2, 23 iya kan?'' ujar Bu Mira.
keempat orang tua itu bahagia dengan keputusan mereka, tapi berbeda dengan Elia dan Delvin raut kaget dan cemas terlihat di wajah mereka.
''23? bukanya itu terlalu cepat? dan kita belum menyiapkan apa-apa.'' Ucap Elia cemas, dia tidak mau menikah cepat dengan orang yang sudah menatapnya benci di hari pertama bertemu, sungguh dia belum siap.
''Jangan khawatir kita akan mengatur semuanya secara bersama-sama, yang paling penting kalian berdua harus bisa fokus dalam menyiapkan acaranya. Jadi Elia bisa cuti kuliah selama dua minggu dan Delvin juga akan mengambil cuti di kantor selama dua minggu juga.'' Ucap Pak Hendra memberi solusi.
''Urusan cuti Elia nanti ayah yang urus malam ini.''
Mendengar perkataan ayahnya Elia mengigit bibir bawahnya menatap Delvin berharap laki-laki itu mengatakan sesuatu agar pernikahan ditunda sampai satu atau dua tahun lagi.
Elia tidak mendapatkan respon apa-apa dari Delvin dia tetap santai seakan-akan dia setuju dengan keputusan orang tua mereka, tapi Elia tidak tau saja Delvin sedang mencemaskan sang kekasih dia belum menjelaskan apa-apa pada Aruna kalau Aruna tau dia akan menikah diwaktu dekat ini makan dia tidak akan bisa membayangkan bagaimana kecewa dan sakitnya Aruna.
Sial, kenapa harus berada di situasi yang membuatnya harus menyakiti Aruna? ucap Delvin dalam hati.
__ADS_1
****
''Elia, Delvin jemput kamu kan?'' Bu Mira bertanya pada anaknya yang sedang memakan sarapan paginya.
''hunm, iya kayanya, tadi malam kan janjiannya gitu.'' Jawab ragu Elia, pasalnya dia tidak yakin seorang Delvin yang selalu menatap benci padanya mau menjemputnya. Elia melihat jam tangannya, sesuai kesepakatan tadi malam hari ini dia dan Delvin akan fitting baju tepatnya jam delapan pagi ini.
Elia menyelesaikan sarapan paginya. ''Bun, Elia pengen tanya sesuatu setelah ini, boleh?''
Bu Elina mengangkat kedua alisnya. ''Kenapa tidak boleh? ayo keruang keluarga sekarang!'' ujar Bu Elina berdiri dari duduknya.
''Bunda, udah selesai makanya?'' tanya Elia pada bundanya.
''Sudah, bunda sudah kenyang, ayo keruang keluarga sekarang keburu Delvin-nya datang lagi.''
Elia dan bundanya keruang keluarga dan duduk di sana.
''Bun, hunm....Bunda kenal sama Delfina kan?'' tanya Elia hati-hati.
Bu Elina menatap bingung anaknya lalu menganggukkan kepalanya.
''Bunda.... tau dia orangnya kaya gimana?'' tanya Elia lagi, bukan tanpa alasan Elia menanyakan ini tapi karena tatapan kebencian Delvin tadi malam membuatnya berpikir yang negatif tentang Delvin.
Bu Elina mengangguk-nganggukkan kepalanya. ''Delvin itu mapan, baik, sopan, terus dia juga sayang bangat sama kedua orang tuanya.'' Bu Elina menatap dan memegang tangan putrinya yang terlihat ragu-ragu. ''Makanya bunda sama ayah percaya kalau Delvin bisa jaga kamu, dia laki-laki bertanggung jawab.'' Ucap Bu Elia meyakinkan Elia.
Elia menatap mata bundanya, bundanya sangat yakin kalau Delvin bisa menjaganya, tapi kenapa seakan-akan dia tidak yakin jika laki-laki yang menjadi pilihan kedua orang tuanya itu bisa menjaganya, Delvin membencinya tatapan Delvin tadi malam selalu terbayangkan di ingatannya dan kenapa Delvin membencinya? itu adalah pertanyaan yang selalu ada ketika dia memikirkan Delvin.
Perjodohan yang memaksa mereka harus bersatu dalam ikatan pernikahan nantinya. Elia tidak tau kenapa Delvin bisa menerima perjodohan ini? apa dia terpaksa sama dengannya atau dia? hah sudah lah, kepalanya Elia jadi tiba-tiba pusing memikirkan itu semua.
Tekat Elia sudah bulat dia akan menjalankan pernikahannya nanti dengan ikhlas walaupun dia menerima perjodohan ini karena terpaksa setidaknya dia tidak akan mengecewakan harapan kedua orang tuanya.
__ADS_1