Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa

Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa
Part 8


__ADS_3

''SAH.''


''SAH.'' Seru parah saksi secara bersama.


Elia memejamkan matanya, kisah baru hidupnya telah dimulai, entah akan bahagia atau sebaliknya yang terpenting dia akan mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya.


Delvin menghela napasnya kekhawatirannya tidak terjadi dia sangat lancar saat mengucapkan ijab kabul. Matanya melirik Elia wanita itu memejamkan matanya Delvin tak pernah membayangkan ini semua sebelumnya, menikah dengan wanita lain selain Aruna adalah mimpi buruk yang tidak pernah dia bayangkan akan benar-benar terjadi dalam hidupnya.


''Delvin.'' Desis Bu Mira dari belakang punggung Delvin. Bu Mira tersenyum canggung pada penghulu yang ucapannya tidak direspon oleh Delvin yang sibuk melamun.


Delvin berdehem dan tersenyum canggung pada pak penghulu saat sadar dia telah melamun. Delvin kembali memfokuskan dirinya.


''Saya maklum, Nak Delvin pasti sudah membayangkan banyak hal untuk dilakukan dengan istrinya, hingga gagal fokus seperti sekarang ini.'' Pak Penghulu berucap dengan menggunakan mic hingga tamu yang diundang dalam proses ijab kabul bisa mendengar hingga terdengar suara tawa dari para tamu.


Namun berbeda dengan Aruna yang duduk di kursi paling belakang, dia menunduk sedari tadi menjatuhkan air matanya. Menurutnya ini sungguh tidak adil untuknya dan ini semua kerena Pak Mahendra yang menjodohkan Delvin. Sungguh dia tidak akan pernah menyerah dia akan terus mempertahankan Delvin apa pun yang terjadi, walaupun yang akan dia hadapi nanti adalah papanya Delvin, Pak Mahendra dia tidak akan takut, karena ada Delvin yang ada di sampingnya yang akan selalu mencintainya.


''Pak Mahendra, aku akan membuatmu menyesal telah menikahkan Delvin dengan wanita lain!'' gumam Aruna bertekad dan menghapus air matanya.


Aruna melihat ke depan melihat Delvin yang sedang mencium kening wanita yang sudah menjadi istrinya.


Sedang Elia tidak bisa mengontrol detak jantung saat bibir Delvin menyentuh keningnya, dia memejamkan matanya. ''Yah Allah, bantu aku untuk tetap kuat menjalani rumah tangga dengan laki-laki yang telah menjadi suamiku.'' Ucap Elia berdoa dalam hati.


Elia dan Delvin mengikuti semua kegiatan dalam proses pernikahan mereka yang berlangsung hingga pukul 12 siang.


Sekarang Elia dan Delvin berada dalam kamar hotel mereka diberi waktu istirahat selama 2 jam karena tepat pukul 4 sore acara resepsi mereka akan dimulai.


Elia berbaring di atas ranjang menatap langit-langit kamar, dia sudah berganti baju dan menghapus riasan wajahnya, sedangkan Delvin, suaminya itu masih berada dalam kamar mandi sudah sejak 20 menit yang lalu dan belum keluar sampai sekarang sebenarnya dia agak heran Delvin sangat lama berada dalam kamar mandi sedangkan dia sendiri yang notabennya perempuan tidak selama itu. ''Apa dia bersemedi di dalam kamar mandi?'' gumam Elia memeluk guling yang dia letakkan di atas tubuhnya.


Clek.


Elia menegang saat pintu kamar mandi terbuka. Namun ketegangan itu tak berlangsung lama karena Delvin melewati ranjang tempat tidur tanpa mengatakan apapun.


Elia menatap sedih Delvin yang duduk di sofa sambil memainkan handphon-nya. ''Hah, laki-laki itu tidak berubah sedikitpun.'' Gerutu Elia kemudian menghela napasnya dan memejamkan matanya dia butuh istirahat untuk menyiapkan diri. Acara resepsi nanti pasti akan sangat melelahkan.

__ADS_1


Delvin yang duduk di sofa gelisah dengan terus menatap layar ponselnya. ''Ck, apa tadi Aruna datang?'' gumam Delvin merasa khawatir jika Aruna datang maka akan membuat hati Aruna semakin sakit dan kekhawatirannya bertambah ketika pesan yang dia kirimkan tidak di balas oleh Aruna.


Delvin melihat Elia yang sudah tidur tanpa beban.


Delvin mengepal kuat tangannya, bukankan perjodohan ini terjadi karena persetujuan wanita itu, dia sudah berusaha bersikap tidak peduli, tapi Elia tidak terpengaruh sama sekali tidak ada perkataan perempuan itu untuk membatalkan perjodohan konyol yang orang tuannya buat. Pikir Delvin menatap tajam Elia.


Andai Elia tidak menyetujui perjodohan ini maka dia tidak perlu mengorbankan hubungannya dengan Aruna. Dia akan membuktikan pada papa dan mamanya jika hanya Aruna perempuan yang pantas menjadi istri.


****


"Tok...tok...tok.''


''Elia, Delvin. Buka pintunya!''


Elia mengerjapkan matanya saat mendengar ketukan pintu dan suara Bu Mira ibu mertuanya.


Elia melihat ke sekeliling kamar tidak melihat adanya Delvin di sana, namun saat mendengar suara air dari dalam kamar mandi, Elia menggelengkan kepalanya. ''Dia mandi lagi?''


''Elia, buka pintunya!''


''Iya bunda, sebentar.'' Sahut Elia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


Clek.


''Bunda, mama maaf Elia baru bangun.'' ujar Elia setelah membuka pintu.


''Delvin mana?'' tanya Bu Mira saat masuk ke dalam kamar dan tidak menemukan Delvin dalam kamar, agak sedikit takut siapa tau Delvin tiba-tiba kabur agar tidak menghadiri acara resepsi bukannya dia tidak percaya sama anaknya, tapi tadi dia melihat keberadaan kekasih anaknya yang hadiri di acara ijab kabul. Sungguh tadi dia sangat ingin mengusir perempuan tidak tau malu itu, berani-beraninya dia hadir di acara ijab kabul membuat mood-nya hancur saja.


Elia tersenyum canggung, bunda dan mama mertuanya ini sangat kompak dia belum mempersilahkan mereka masuk, tapi mereka sudah masuk duluan.


''Itu Mas Delvin lagi di kamar mandi, Ma.'' Jawab Elia yang sudah menutup pintu kamar hotel kembali.


''Oh, yah sudah kalau gitu berarti tinggal tunggu Delvin keluar setelah itu gantian kamu yang bersih-bersih.'' Ujar Bu Elina.

__ADS_1


''Iya Bun, mama sama bunda duduk aja dulu.'' Ucap Elia mempersilahkan mereka duduk.


Bu Mira dan Bu Elina duduk di sofa.


Clek.


Pintu kamar terbuka. Delvin keluar dengan baju lengan pendek dan celana di atas lutut.


Deg.


Elia menatap Delvin tanpa berkedip, jantungnya berdetak cepat. Delvin sangat tanpa dengan pakaian santai seperti itu. Dia bahkan sampai tidak percaya kalau dia telah menikahi laki-laki yang sangat tampan.


''Elia.''


''Elia.'' Bu Elina mengerutkan dahinya menatap bingung Elia. Putrinya tidak merespon saat dipanggil dan saat melihat arah mata Elia yang sedang terpana melihat suaminya membuatnya menoleh dan memberi kode pada besannya.


Bu Mira tersenyum saat paham maksud besannya. ''Hem.'' Bu Mira berdehem dan tersenyum jahil pada Elia.


Elia mengerjapkan matanya menatap mama mertuanya yang berdehem dan tersenyum aneh padanya.


''Sayang liatin suaminya nanti lagi, sekarang kamu harus mandi karena MUA sebentar lagi akan kesini.'' Lanjut Bu Mira sambil mengelus sayang rambut Elia yang duduk di sampingnya.


''Hah, i-iya ak-aku akan mandi sekarang.'' Jawab Elia gugup karena ketahuan menatap kagum pada Delvin, apa lagi pada saat melihat Delvin yang tetap berwajah dingin membuatnya bertambah gugup.


''Elia, kamar mandinya di sana sayang.'' Ucap Bu Elina ketika melihat putrinya malah pergi ke arah lemari.


''Hah.'' Elia memejamkan matanya merutuki kebodohannya. ''I-itu batrombe.'' Elia membulatkan matanya saat teringat dia melakukan kebodohan lagi. ''Mak-maksudnya batrombe-nya ada di kamar mandi. Aku akan mandi sekarang.'' Ucap Elia kemudian berjalan cepat masuk ke kamar mandi.


Bu Mira dan Bu Elina tertawa dengan kelakuan Elia. ''Astaga dia benar-benar lucu.'' Ujar Bu Mira.


''Yah begitulah dia, Nak Delvin harus sabar untuk menghadapi tingkah laku Elia yang kadang masih kekanakan dan cerewet.'' Ucap Bu Elina sambil menatap Delvin yang sudah duduk di sofa yang berhadap dengan sofa tempat duduknya.


''Dia anak yang ceria. Delvin jaga baik-baik putri kami jangan membuatnya kehilangan keceriaan dalam dirinya!'' sahut Bu Mira menasehati Delvin. Elia sudah dia angga sebagai putrinya, dia memang dari dulu ingin Elia menjadi menantunya, jadi saat semuanya benar-benar terjadi sekarang dia merasa sangat bersyukur dan bahagia.

__ADS_1


Delvin diam tidak menjawab, dia akan sangat bagia jika yang berada diposisi Elia sekarang adalah Aruna dan mamanya memberi nasihat itu padanya dia pasti akan menjadi orang yang paling semangat untuk menjawab jika dia akan terus membuat Aruna bahagia, tapi yang menjadi istrinya sekarang bukanlah Aruna, jadi dia tidak bisa mengatakan apa-apa.


Jujur Delvin merasa kecewa pada mamanya, kenapa mamanya tidak pernah mau mencoba untuk dekat dengan Aruna dan mencoba menyayangi Aruna seperti dia menyayangi Elia.


__ADS_2