Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa

Perjodohan Terpaksa Dan Dipaksa
Part 5


__ADS_3

''Kak, tante kirim pesan, katanya setelah dari fitting baju kita ke restoran nanti tante Mira sherlock.'' Ucap Elia mencoba mengakrabkan diri dengan Delvin yang sedang menyetir mobil, yah sekarang mereka dalam perjalan menuju butik untuk fitting baju.


''Hunm.''


What? itu saja? gue bahkan udah sopan dengan manggil dia ''Kak'' , tapi dia sama sekali tidak sopan, menjawab sesingkat itu? batin Elia kesal.


Andai ayahnya tidak menjodohkannya pasti dia tidak akan mengalami situasi yang awkward seperti ini. Belum cukup sejam dia bersama Delvin, tapi rasanya sudah tidak sanggup lagi.


Delvin fokus menyetir, dia sangat enggan untuk menanggapi ucapan Elia, yang dia pikirkan sekarang hanya Aruna, bagaimana caranya menjelaskan semuanya padanya? apa harus jujur dan menjelaskan semuanya? hah, itu tidak mungkin Aruna akan lebih hancur jika mengetahui kebenarannya.


Elia dan Delvin sama-sama sibuk dengan pikiran mereka, hingga sampai di depan butik.


Elia dan Delvin keluar dari dalam mobil dan langsung disambut oleh pemiliki butik yang merupakan saudara Bu Mira.


''Kalian sudah datang? yah ampun Delvin tante pikir kalian tidak jadi datang, janjiannya jam 9, tapi kalian datangnya sudah jam 10 lewat.'' Oce pemilik butik yang masih keliatan mudah.


Elia tersenyum kaku dia merasa tidak enak, tapi ini bukan salahnya, Delvin yang datang terlambat menjemputnya. ''Maaf Mba jadi nunggu kita lama.'' Ucap Elia kemudian.


''Wah.'' Pemilik butik itu menepuk lengan Delvin. ''Ini calon istrimu Del? cantik, sungguh kau sangat beruntung Delvin!''


''CK.'' Delvin berdecak kesal mendengar perkataan tantenya, adik mamanya itu sangat berlebihan, menganggapnya beruntung, tidak tau saja, dia merasa tertekan dengan semua ini.


Elia tersenyum canggung mendengar pujian dari sang pemilik butik.


''Oh yah, kenalin saya Rani adiknya Mba Mira calon mertuamu.'' Rani menjulurkan tangannya untuk berjabatangan dengan Elia.


''Elia tante.'' Elia menyabut uluran tangan itu dengan senyum di wajahnya.


''Nama yang cantik, secantik orangnya.'' Puji Rani pada Elia lagi. ''Ayo kita masuk!'' ajak Rani.


Elia dan Delvin mengikuti Rani dari belakang.


''Ini adalah gaun-gaun terbaik yang ada di butikku.'' Rani menunjukkan sepulu pasang baju pengantin yang sangat bagus dan mewah.


Elia melihat gaun-gaun itu dengan teliti. Elia tertarik dengan satu gaun yang terlihat sangat menawan. ''Tante aku ingin coba gaun yang ini.'' Elia memegang gaun itu.



''Benarkah? yah sudah sana coba!'' tante Rani sangat antusias menyuruh Elia untuk mencoba gaun itu.


Elia segera masuk ke ruang ganti, dia mengganti bajunya dibantu tante Rani dan dua pegawai tante Rani.


Delvin juga masuk ke ruang ganti mencoba bajunya.


''Wah ini sangat pas Elia, kamu sangat cocok menggunakan ini!'' puji tante Rani lagi pada Elia.

__ADS_1


''Terima kasih tante, aku ingin gaun yang ini!'' Ucap Elia sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin besar di depaknya.


''Baiklah ayo ke luar Delvin perlu melihat ini!'' ajak tante Rani pada Elia.


''Tidak perlu, Tan! kak Delvin akan setuju dengan pilihanku, lebih baik aku coba baju untuk acara siang dan malam saja, Tan.'' Tolak Elia dia merasa tidak perlu memperlihatkan gaun yang dia pilih pada Delvin karena hasilnya akan sama saja. Delvin terlihat cuek dan tidak bersemangat.


Sedangkan Delvin dia sudah selesai mencoba tiga baju. Dia tidak terlalu memperhatikan, mau cocok atau tidak dia tidak perduli karena ini bukan pernikahan yang dia inginkan.


Delvin menunggu di kursi depan ruang ganti Elia.


Ting.


Suara notifikasi pesan Handphon Delvin. Delvin dengan cepat membuka pesan itu. Delvin tersenyum ternyata yang mengirimnya Aruna kekasihnya.


Aruna.


''Sayang.''


''Iya, kenapa yangk?'' jawab Delvin sambil tersenyum.


Aruna langsung mengetik balasan pesan Delvin.


''Siang ini kita makan siang berdua yah?''


Delvin menghela napasnya setelah membaca pesan dari Aruna, dia masih mengingat perkataan Elia di dalam mobil tadi, mamanya ingin bertemu setelah ini. ''CK.'' Delvin berdecak kesal. Rasanya tidak mungkin untuk bertemu dengan Aruna sekarang.


Aruna.


Delvin melihat lagi pesan dari kekasihnya, hah dia dengan berarti hati mengetik pesan penolakan untuk Aruna.


Delvin.


''Maaf yangk siang ini aku tidak bisa. Nanti lain waktu aku janji, aku pasti bisa!''


Pesan yang Delvin kirim centang dua berwarna biru, namun belum ada tanda Aruna mengetik pesan untuk membalasnya. Delvin menggenggam kuat ponselnya ini pertama kalinya dia menolak permintaan Aruna, dia cemas jika Aruna kecewa.


''Kak, aku sudah selesai, kita ke restoran sekarang! tante Mira sudah sherlock, tante sama bunda sudah menunggu di sana.'' Ucap Elia yang baru keluar dari ruang ganti.


Delvin menghela napasnya, menatap Elia tajam. Ingin sekali dia marah pada wanita ini, berteriak padanya kalau dia tidak menginginkan pernikahan ini, dia ingin menyuruh wanita ini untuk membatalkan semua kekonyolan yang telah orang tuanya mereka buat.


''Ka- kak?'' panggil Elia takut, tatapan tajam Delvin, ada emosi yang ditahan di sana.


Delvin memalingkan wajahnya saat Elia memanggilnya.


Deg.

__ADS_1


Apa Delvin sebinci itu pada dirinya. Sehingga menganggapnya gangguan dan tidak nyaman berada didekatnya.


Tanpa sekata-kata pun Delvin bangkit dari duduknya dan keluar dari butik itu. Elia menghela napasnya, astaga bagaimana kehidupannya setelah menikah dengan Delvin nantinya.


Elia ikut keluar dan menyusul Delvin yang sudah masuk ke dalam mobil.


Delvin melajukan mobilnya. meninggalkan parkiran butik.


Ting.


Bunyi notifikasi di ponsel Delvin berbunyi kembali.


Delvin dengan cepat mengambil ponselnya dari saku jas-nya, dengan satu tangan masih fokus menyetir.


Deg.


Delvin langsung mengerem mobil secara mendadak, Elia yang tidak memakai sabuk pengamannya terjungkal ke depan dan kepalanya terbentur di dasboard mobil.


''Aaah.'' Elia memegang dahinya yang terasa sakit.


Dia duduk bersandar pada kursi, melirik Delvin.


''Kak, bisa bawah mobil tidak? sit, kepala ku pusing kak.'' Ucap Elia lirih, memejamkan matanya.


Delvin tidak perduli dengan keluhan Elia dia membaca ulang pesan yang dikirimkan oleh Aruna.


Aruna.


Kenapa? kata papa kamu cuti dua minggu, jadi tidak mungkin kamu lagi sibukkan? dan kenapa ngga ngasih tau aku kalau kamu cuti? kamu ngga lagi menyembunyikan apapun kan?


''Turun!'' Ucap datar Delvin tanpa melihat Elia.


Elia membuka matanya, melihat Delvin dengan bingung.


''Turun!'' ulang Delvin.


Elia menunjuk dirinya sendiri. ''Aku?''


Elia menghela napasnya karena Delvin tidak merespon. ''Turun di sini? kak jangan gila yah!'' Elia melihat ke sekeliling di sana agak sepi tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat.


''Lagian kita harus ke restoran tante sama bunda aku udah nunggu buat makan siang.'' Ucap Elia panik, sungguh dia tidak mau jika diturunkan di sini kepalanya pusing dan sakit di bagian yang terbentur tadi.


''TURUN!'' suara bentakan Delvin menggema dalam mobil.


Elia tercetak, mengerjakan matanya beberapa kali.

__ADS_1


''Ta-tapi ak.....''


BRAK.


__ADS_2