Perjuangan Cinta Gadis Desa

Perjuangan Cinta Gadis Desa
masalah masing masing


__ADS_3

menuju kamar mandi, mencuci muka dan kaki lalu kekamar, setelah berada dikamar nina lantas mengambil buku diary, berbaring menelungkup diatas tempat tidur, dan mulai menulis


diaryku seharusnya kamu sudah tau kan, akan seperti ini? kapanlah aku bisa seperti temen temenku yang lain? kami hanya ngobrol ajakan, apa salah? bahkan mamak juga ada, bisa mengawasi kami, kenapa sih? kenapa? bahkan eni aja yang baru kelas dua sudah dibolehin pacaran sama orang tuanya, boleh main kesana kemari dibawa cowoknya, ga ada masalah, sedeng aku, udah kelas tiga, jangankan mau main kesana kemari, nerima mereka main kerumah aja kayak gini mamak marah sama aku, apalagi kalo aku sampe dibawa kemana mana, ya tuhan berilah hamba kesabaran, jangan biarkan hamba menjadi anak durhaka, hamba tau mereka seperti ini karna sayangnya kepadaku, bapak, mamak maafin nina ya, dibelakang kalian nina nekad menjalin hubungan dengan seseorang walaupun itu tanpa perasaan cinta, dan sekarang nina malah merasa menyukai seseorang juga. maafkan nina, sungguh nina ngga mau jadi anak durhaka,nina sungguh sayang kalian, tapi perasaan suka, apa itu salah? mamak, bapak, nina berjanji sekalipun nina sudah membangkang, nina pacaran dibelakang kalian, tapi nina akan menjaga norma norma dan kehormatan keluarga kita, nina janji ngga akan berbuat yang macem macem, mamak, bapak, kalo nanti nina udah ngga sekolah lagi apa kalian akan mengizinkan nina pacaran? semoga nanti bila masanya udah tepat kalian merestui ya..... aamiin, dairyku udah dulu ya aku ngantuk ni.


menutup buku dan bangun untuk menyimpannya, kembali ketempat tidur dan membaringkan tubuhnya lagi, tersenyum senyum mengingat wajah hardi yang malu malu menunduk, mengingat juga ari yang beberapa hari kemaren menitipkan salam dan dikira dari sianak madrasah nina pun bergumam, "ari ari kalo aku tau hardi itu dia dari pertama kamu ngirim salam pasti udah seseneng ini rasanya" dan hati nina pun mengingatkan nina kalo sudah waktunya tidur 'nina udah lagi mikirin hardi itu, sekarang udah waktunya tidur, atau kamu dimarahin mamak lagi nanti' tersenyum lagi bibirnya dan menjawab hatinya sendiri " iya iya ini tidur" berdoa lantas memejamkan mata.


sementara diluar bapak baru saja pulang, melihat suasana rumah seperti habis ada tamu, bapak pun bertanta pada mamak, "abis ada tamu tah mak?"


"iya pak"


"siapa?"


"temen temennya nina katanya, tapi ga tau bener apa ngga soalnya keliatannya yang satu tadi itu orang pribumi, kalo yang satu mah iya anak desa sebelah, mamak kenal sama ibunya anak itu"


"la laki apa perempuan?"


"yo laki to pak, masa' anak perempuan mau dibiarin maen malem malem, anaknya siapa"


"la terus kamu biarin nina nemuinya?"


"ya iya orang kepergok tadi, anak anak itu ngetok pintu mamak buka pas nina lagi makan duduk disini, gorden kebuka juga, ya mau gimana" terang mamak sambil nunjuk kursi tempat nina duduk makan tadi.


"ya udahlah baru pertama, nanti kalo berlanjut baru anaknya nanti dibilangin, manalah anaknya sekarang?"


"dah tidur, tadi langsung tak marahin, terus langsung masuk kamar anaknya"


"dimarahin pas ada temennya?"


"ya nggalah pak, maksudku pas temennya dah pulang"


dan bapak kekamar nina seperti biasanya duduk sebentar disisi tempat tidur memasangkan selimut "kebiasaan kamu ini nak nak, tidur ngga pake selimut, kelambu juga ngga dipasang" dan keluar tanpa meninggalkan suara setelah memasangkan kelambu dan menyelimuti nina....

__ADS_1


"dah lah mak, kita tidur juga yuk bapak capek rasanya"


dan mereka juga menuju kamar mereka sendiri tapi mamak belum juga selesai


"besok harus kok bilangin nina pak, ga usah mau deket deket, bertemen temen sama anak pribumi, mamak ngga suka pokoknya" dan panjang lebar yang dibahas bahas sama mamak tentang hardi yang sejatinya memang anak pribumi dari wilayah yang mereka kini tempati, berbeda dengan mereka yang dulunya transmigrasi ke wilayah itu, meski mereka tidak pernah terlibat konflik tapi entah mengapa mereka membatasi diri untuk tidak berhubungan terlalu dekat dengan pribumi.


sementara hardi kini masih dirumah fajar, mereka ngobrol ga habis habis, menurut fajar hardi sudah mecahin rekor karna berani bartamu kerumah nina dan berhasil masuk menemui nina dalam artian ngapel kata mereka, karna selama ini menurut fajar ga pernah ada yang ngapelin nina walaupun banyak cowok yang suka sama nina karna memang semua orang tau nina ngga dibolehin pacaran, sebagai orang yang satu desa tentu saja fajar juga tau, bertambah saja senangnya hardi mengetahui hal itu, dia merasa peluangnya besar untuk bisa pacaran sama nina tanpa sembunyi sembunyi dibelakang orang tua nina, karna apa? nyatanya dia dibolehin masuk dan menemui nina, bagi hardi itu sudah menjali alasan untuknya.


"ngomong ngomong malam nih, pulang yuk" ajak edi


"ayuk" jawab hardi


dan mereka berpamitan pada fajar, setelah mengantar ari mereka langsung pulang. sampai dirumah edi jam menunjukkan pukul 21,45


"edi aku langsung pulang juga ya,"


"bajumu, mau kamu tinggalin tah?"


"oiya, ambil dulu, males aku turun dari motor"


"balik ya... makasih ya"


"ok ok ok" sambil mengangkat tangan memperlihatkan tanda okay.


sampai dirumah sudah sepi, menandakan penghuni rumah sudah tidur, hardi turyn dari motor dan mulai mengetuk pintu


"TOK TOK mak..... mak pintu"


tidak ada sahutan tapi teedengar suara langkah kaki dari dalam, tidak lama terdengar suara derik pintu dan terbuka


"dari mana manalah, jam berapa ini?" tanpa menunggu jawaban sudah melangkah berbalik arah menuju kamar lagi

__ADS_1


"masih sore mak, baru jam sepuluh lewat" memasukkan motor dan kembali mengunci pintu,


"hem kok laper lagi ya?" membawa langkah kakinya menuju dapur, membuka tudung saji, dan makan, barulah setelahnya menuju kamar, membaringkan badannya, dan bergumam "semoga aku bisa memilikimu seutuhnya, semoga tidak ada yang menghalangi hubungan kita, semoga kita berjodoh" dan menambahkan satu nama dalam hatinya 'nina' memejamkan matanya dengan bibir yang masih tersenyum.


sementara disuatu tempat yang berbeda lagi dirantau orang, seorang pemuda terbaring gelisah, matanya terasa ngantuk tapi enggan untuk terpejam, dia sedang memikirkan gadis pujaan hatinya tanpa bersuara dia berkata. 'nin aku kangen sama kamu, apa kamu kangen aku juga? pasti engga kan, sebelum berangkat kesini dulu aju berharap, setelah pulang kau bisa menerimaku dengan perasaanmu nin, apakah sudah tumbuh rasa sukamu untukku? apa kau tidak akan menyukai cowok lain hanya jarna status kita? gimana kalau ada cowok yang ganteng dan gidain kamu, gimana kalau kamu tergoda? ahhhhhh. ya Allah apa yang harus aku lakukan, bertahan disini mengejar cita cita dan modal, atau kembali pulang mengejar cintaku? ya Allah tunjukkanlah jalanmu, bolehkah aku memaksakan orang lain untuk disisiku? sementara aku tau dia tidak mencintaiku, apa aku tanya aja ya sama ibu, ah kenapa ngga kepikiran dari tadi sih' bangun dan mengambil hapenya, mencari cari kontak dengan nama ibu 'nah ini dia' kemudian membuat panggilan. terdengar suara dari seberang telpon selulernya. "tut tut tut kenapa ngga diangkat angkat si bu" sampai panggilannya yang ketiga tidak berhasil dia menghubungi ibunya. "ahhhhhhh" sambil menjambak rambutnya sendiri. "kalau kayak gini terus terusan, gimana aku bertahan, aaaahhhhhhhhh"


sampai larut malam dia tidak dapat tidur


"nina nina, kayak gini cintanya aku sama kamu nin, ngga tau berapa kali aku manggil namamu disetiap malam nin, adakah sekali aja kamu sebut namaku nin?" ntah sampai jam berapa surya terus tenggelam dalam kegelisahannya, dirantau dan dikamar sendiri membuat hatinya semakin gelisah hingga ia tertidur dengan sendirinya. ntah sudah sejak kapan surya merasakan gelisah seperti ini, mungkin dari sebelum dia memutuskan untuk pergi merantau, tapi apalah yang bisa dia perbuat, kepergiannya pun membawa cita cita yang mulia dan impiannya, ya sebagai sulung dan sudah tidak lagi menuntut ilmu, surya bercita cita, bisa membahagiakan orang tua. dan mempunyai modal sendiri untuknya menikah nanti. tidur dengan gelisah, kini larut dalam mimpi, dalam mimpinya surya bertemu dengan nina, entah dimana itu, seolah olah mereka berjalan berdua menyusuri jalanan setapak, mereka ngobrol tanpa canggung, semua terasa dekat seolah olah mereka mempunyai hubungan yang indah. nina terus menerus memujinya, dengan pujian pujian yang bisa membuat siapa saja yang mendengar akan terbang melayang, begitupun dengan surya, tak henti henti dia tersenyum mendengar pujian yang disanjungkan oleh nina. hingga mereka sampai diujung jalan yang bercabang dua "sayang sekali kita harus berpisah ya mas, kita ngga sejalan lagi, tolong relain aku ya.... dan doain aku juga biar bahagia" tak menunggu apa apa lagi nina berlalu menuju jalan yang lain. surya hanya berdiri diam, pasrah, melihat kepergian nina.


"dreeeet dreeet dreeet" hape nya bergetar diatas meja membangunkan tidurnya.


surya mengerjap ngerjapkan netranya berusaha untuk bangun "siapa sih, telpon jam segini" bergumam sendiri sambil mengadarkan matanya mengarah dimana jam dinding tergantung. "masaaloh dah jam enem. kok bisa kesiangan gini si" terkejut saat menyadari dia kesiangan bergegas menyambar hape yang masih bergetar langsung diusap tombol hijau


"dari mana si dari tadi ngga di angkat angkat, dah yang ketiga lo ini"


"hemmmmfyuh" menjawab dengan hembusan napas yang panjang


"baru bangun tah? apa sakit kok kesiangan"


"iya bu. semaleman gelisah susah tidur saya, tapi ngga sakit kok, sehat. ada apa ibu tlpon pagi pagi"


"kamu yang ada apa semalem telpon dah larut gitu"


"ngga pa pa belum bisa tidur aja jadi pengen ngobrol"


"oh gitu, ngga kerja tah?"


"maulah ini mau bersiap takut telat"


"ya udah kalo ngga ada apa apa, ayo bersiap lagi, hati hati kerjanya jangan lupa sarapan, ibu tutup ya"

__ADS_1


"da.... bu" meletakkan hapenya lagi bergegas mandi, terburu takut telat,


bersambung.....


__ADS_2