
di kantin sekolah sekarang adalah jam istirahat seperti biasa nina dan kawan kawan sedang menikmati es nya. yang tidak biasa adalah nina hari ini terlihat lebih diam, dari mulai bertemu dengan anti, disepanjang perjalanan kesekolah, didalam kelas, dan sekarang dikantin, nina hanya bersuara bila ditanya selebihnya dia hanya diam.
"nin aku traktir coklat deh tp udah dong diemnya, sepi tau kalo kamu murung aja gitu" susi berusaha membujuk, biasanya dengan coklat nina akan meleleh dan kembali ceria.
"makasih ya sus" menyambut coklat yang diberikan susi
"kenapa sih?"
"gimana ga sedih coba, kan mereka yang ngajari jangan pilih pilih temen, dari suku apa aja, dari kalangan apa aja, kata mereka kan! ceritanya semalem hardi sama ari maen kerumah, trus tau ngga, apa setelah mereka pulang?"
susi dan yang lain hanya menggelengkan kepala
"kami cuma ngobrol aja lo. mamak ada juga, nah bisa diawasin kan itu harusnya. tapi ngga sus kalo dirumahku mah! gitu mereka pamit pulang, langsung mamak.
apa katanya sus?" tapi tidak nunggu jawaban dari mereka nina langsung melanjutkan kalimatnya lagi.
"apa dek kamu? dah ngga mau sekolah lagi tah? mau dinikahin sekarang aja tah? maka kamu dah ngundang ngundang bujang maen kerumah? tambah lagi orang pribumi yang kamu undang dateng. mamak sama bapak ngga suka, pokoknya ngga suka! apa kamu ini? dan masih panjang sus, sedih ngga sih? lagian mamak tau dari mana coba? asal asal tebak orang pribumi. orang jelas hardi dan ari ngomong pake bahasa yang sama kayak kita. sedih tau ngga sih. kalian ngga
kayak aku kan?" mata nina sudah mulai terasa panas mengingat kalimat kalimat yang diucapkan ibunya semalam.
susi dan anti yang duduk disamping kanan dan kiri langsung memeluk nina mengusap usap punggung nina. tapi mendapat pelukan dari temen temenya, membuat dada nina semakin sesak semakin ingin dia menumpahkan kekesalannya. dalam pelukan susi nina melanjutkan keluh kesahnya tapi dengan suara berbisik "eni aja yang adek kelas kita dah bebas pacaran, maen kesana sini sama anak cowok, ga ada masalah kan mamak sama bapak ya?"
"iya iya memang, tapi mau apa? ngga mungkin kan kamu mau bantah orang tuamu? sabar aja lah, percaya mereka begini begini untuk kebaikan kamu, jadi udah ya. ini disekolah, ga enak nanti kalo ada yang perhatiin, mendingan makan coklatmu itu biar perasaanmu enakan, udah ah mana nina temen kami yang ceria?"
"enaklah kalian mah ngga kayak aku"
"masih mau lanjut tah sedih sedihnya?" ancam anti sambil beranjak
"ngga ngga udah kok, jangan tinggalin" pinta nina. lalu dia meraih gelasnya dan meminum es nya hingga terdengar nyaring suara hisapan air melalui sedotan.
meletakkan kembali gelasnya kemeja dan mulai membuka coklatnya, setelah satu gigitan nina mulai memasang senyum di bibirnya membuat susi, anti, dan juga eni merasa lega. terlihat edi, fajar, ari dan beberapa orang lagi baru sampai dikantin, melihat nina dan kawan kawan langsung ari mendekat tanpa permisi dia mematahkan coklat nina dan langsung memakannya "mmmhhhmmmm, manis he he"
"dari mana si padaan?"
"biasa" meletakan dua jari didepan bibir, mengisaratkan jawaban bahwa mereka habis ngerokok
"dasar" kata nina lagi sambil geleng geleng kepala
"asik tau" sambil mematahkan lagi coklat milik nina
"eh eh dasar, abis coklatku, ini aja dapet dibeliin sus, ah ari mah ga asik, awas awas jangan deket deket" sambil memukul mukul pundak ari. mengusirnya
__ADS_1
"aduh sakit ih jangan dipukul dong. iya iya ga minta lagi"
"iyalah orang udah abis, dasar"
"nina kalo ngambek tambah cantik deh. kalo gitu minta juga dong es nya biar ngambeknya berlanjut. he he"
POK POK suara pukulan dibahu ari lagi
"ampun ampun, penganiayaan ini mah namanya" berdiri dan mengusap usap bahunya yang sakit, kini duduk disamping fajar dengan posisi meja berhadapan dengan meja nina dan kawan kawan.
"jar kalo kamu disuruh milih antara mereka berempat kamu milih siapa?
"milih buat apa?"
"misalnya buat dijadiin pacar deh"
"ngga da yang tak pilih" menjawab dengan cepat dan singkat
"kok bisa? kenapa?" memandang penuh tanya
"ya iya ngga ada yang tak pilih, wong udah ketauan mereka ngga akan mau tak jadiin pacar"
"ha ha ha ha"
"jujur banget si jar kamu" kata anti
sementara edi pindah duduk mendekati susi, entah apa yang dibicarakan, tidak ada yang tau, tapi jawaban susi membuat yang lain berpendapat. bagaimana tidak dengan suara yang jelas susi menjawab
"sabar, tunggu aku bener bener putus dulu ya" meski tidak terlalu keras tapi nina dan yang lain bisa mendengar dengan jelas.
"ehem ehem"
"cihui"
"mau juga dong ditembak"
"ha ha ha ha" jawab edi dengan wajah bersemu malu, beruntung bunyi bel membubarkan mereka hingga edi melupakan rasa malunya dan kembali kekelas masing masing.
kini didalam kelas nina sudah terlihat ceria lagi. mengikuti pelajaran lagi. tapi ketika jam pelajaran hampir habis wajah nina kembali murung.
"sekian pelajaran dari bapak. jangan lupa belajar dirumah ujian semester satu sudah semakin dekat. wabilahitofik wal hidayah wasalamualaikum warohmatullohwabarokatuh"
__ADS_1
"walaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh" keluar kelas dengan lesu.
"males rasanya mau pulang sus, tapi kalo ga pulang mau kemana? cepet banget si hari ini dah sore aja" nina mulai mencurahkan lagi perasaannya
sambil terus berjalan lesu susi menggandeng tangan nina untuk menguatkan. "udahlah ga usah sedih terus, kalian juga baru kenalkan [dengan hardi maksudnya] jadi apa ga rugi kalo kamu jadi mau ngelawan mamak sama bapak? kan belum tau, apa hardi yang terbaik apa bukan! jodoh kamu apa bukan! iya kan? menurutku mending kamu minta maaf ajalah sama mamak dan bapak. kalo kita awali dengan kata maaf pasti nanti marahnya mereka juga ilang kok, aku jamin"
"sebenernya mereka pagi tadi juga udah ngga marah sus, cuma akunya aja yang masih blum ngerti, kemarahan mereka tu ga masuk akal, dan ngga sesuai sama yang mereka ajarin ke aku sus"
tidak menjawab lagi hanya mengusap usap punggung tangan yang ia genggam sampai mereka sampai ditempat parkiran sepeda dan mengendarai sepeda menuju istana masing masing.
sementara hardi sore ini sedang duduk santai dengan emaknya. mereka sudah selesai dengan segala urusan mereka di tobong[tempat dimana mereka memproduksi gula merah] kini mereka duduk menghadap meja makan yang ada didapur,
"kamu mau ngopi?" tanya emak
"di bikinin? boleh" 'ada apa ini tumben tumben nawarin kopi?' bertanya dengan dirinya sendiri
setelah menyedu kopi emak lantas duduk dikursi depan hardi memandang dalam sebelum ia memulai percakapan.
hardi yang jarang jarang mendapat pandangan seperti itu dari emak merasa curiga 'cari aman ini mending kabur aja deh' dan baru dia mau beranjak emak sudah sadar kalo bujangnya mau kabur "sini dulu, mau kemana? emak mau ngomong"
"oh mmmm ngga mau duduk diteras depan aja mak"
"duduk"
kalah cepat ahirnya kembali duduk
"dengerin dulu baik baik emak mau ngomong, jangan buru buru dicela, yan kamu ini udah gede, emak ngga tau kamu udah punya pacar apa belum, tapi tiap malem kamu keluar emak kira kamu main ketempat gadis kan? pesennya emak kalo main tempat gadis jangan asal asal main gonta ganti sana sini, perhatiin dulu satu persatu mana yang kira kira cocok baru dateng kerumahnya, kalo bisa yang sesuku sama kita aja, ngga usah mau suka suka sama sukunya orang orang pendatang, mereka itu kebanyakan manja ga mau diajak susah tapi mulutnya berani. ntah sama suami, ntah sama kluarga dari suami, gitu kebanyakan makanya kalo bisa cari yang sesuku aja"
deg! 'apa ini? kuat amat firasatnya' "blum tau mak, belum ada sekarang mah, tapi kalo misalnya jodohku nanti ngga sesuku sama kita gimana? emak mau tolak? jodohkan udah digarisin mak, ngga ada yang tau"
"ya kan tadi emak udah bilang kalo bisa, kalo ternyata jodohnya ga sesuai kemauan kita ya doanya emak mudah mudahan orangnya baik, sayang sama kamu dan keluargamu, dan bisa terima kamu dengan seluruh kekuranganmu,"
"iya mak, emak doain aja"
"kenapa emak ngomong gini? biar kamu paham, sama satu lagi kalo nanti dah sampe waktunya, cari yang mau diajak tinggal disini, kamu kan tau kamu laki sendiri. adek adekmu perempuan, nanti kalo mereka udah kawin ya mereka dibawa suaminya. maka kalo kamu pergi juga ikut istrimu la nanti emak sama amak dah tua siapa yang urus, kalo ngga kamu"
"ya udah mak doain aja, doa emak kan diijabah"
"ya pasti di doain terus, cuma emakkan ngarep yang sesuai sama kemauannya emak"
"udah mak? kedepan ya?" tanpaenunggu jawaban hardi sudah beranjak dan kini duduk diteras depan rumahnya.
__ADS_1
"eh ini anak diajak ngobrol emaknya, malah kabur" sementara hardi sudah duduk didepan tanpa mendengar gerutu dari emak. duduk dan menyeruput kopi yang masih panas, hardi langsung teringat dengan nina, dalam hati dia bertanya 'apa artinya hubunganku gagal sebelum dijalin?, ya Allah jodoh atau tidak tapi aku menginginkan nina yang jadi jodohku,
bersambung.....