Perjuangan Cinta Gadis Desa

Perjuangan Cinta Gadis Desa
ngapel


__ADS_3

main dimalam hari dirumah gadis disebutnya ngapel kalo didesa nina. malam ini jam baru menunjukkan pukul 18.30 dirumah edi, dijarak beberapa desa dari rumah nina. hardi sudah sibuk didepan kaca lemari dikamar edi, disisir lg rambut trus ngaca rupanya belum pas diacak lagi dengan tangannya terus ngaca masih juga blum pas diambilnya topi dan dipakai ngaca lagi 'sebenernya dah ganteng, tapi kok grogi sih' ngomel sendiri dia dihati. di buka lagi topinya,


"gimana ed? keren yang mana? pake topi apa gini aja?"


yang ditanya malah ketawa


"entah dibukain pintu ntah ngga kamu sibuk banget"


"jangan gitu dong, lagi semangat banget nih"


"ha ha ha ha"


sampai terdengar suara hardi memukul lengan edi


"aduh sakit lo"


"salahnya, orang lagi semangat gini malah di ketawain, lagi?" sudah dengan ancang ancang mengangkat tangan


" sakit sakit jangan..... buka aja kemejamu itu pake ini aja" menunjukkan kaos dan sweeter hangat, "pake kemeja dah kayak mau ngelamar kerja aja"


"iya tah? coba!" membuka bajunya dan mengganti dengan kaos dan sweeter yang diberikan edi, setelah dipakainya terus ngaca lagi dan tersenyum "boleh juga"


"tambah topi" usul edi


pakai topi terus ngaca lagi


"udah?" meminta pendapat


edi malah memandang sambil menilai nilai


, "boleh kenalan bang?" dan "ha ha ha" tak kuasa menahan tawanya melihat espresi hardi yang bersemu malu


"asem bener kamu ni"


"dah siap? ayok jalan?"


"bismillah"


"waw pake bismillah segala!" ga berhenti berenti edi menggoda


mereka pun mengendarai motor berboncengan menuju desa nina. lumayan jauh juga, melewati sekolah nina, melewati pasar, dan masih dua desa untuk sampai kerumah nina.


"mampir tempat ari dulu yuk" ajak edi


"ntar dia mau ikut juga?"


"ya ga pa pa lah, kalo dia mau ikut, ajak aja"


"apa ngga keramean?"


"kalo gitu nanti kamu berdua aja, aku mau ketempat fajar"


"sip"


tak lama sampailah dirumah ari


"wah wah siapa ini? bang boleh kenalan ga bang? ha ha ha ha" baru sampe langsung digoda


"maaf mba kita mah sukanya gadis tulen"sambil tertawa juga


"masak mau ketempatku aja sekeren ini sih, ini mah pasti beda tujuannya, mau kemana woi?"


"mau ngapelin adekmu" edi yang menjawab lebih dulu


"yang benerlah, adekku masih smp, lagian mana juga oleh olehnya? ga diterima ga bawa oleh oleh mah"


"tempat nina yok" to the poin


"bertiga motor satu?"


"iya ntar aku tempat fajar aja" edi


"kamu sendiri har?"


"temenin si, kan kamu yang temen sekolah nina, biar dibukain pintu"


"ha ha ya ya ya"


bertiga diatas satu motor menuju rumah fajar terlebih dulu, setelah edi turun langsung mereka menuju rumah nina.


masih dijalan depan rumah nina tidak langsung masuk halaman mengamati terlebih dulu


"kok sepi banget ri"


"ga tau aku juga ga pernah main, apa masih ngaji ya har?"


"memang dia biasa ngaji dimana? sekarang jam tujuh?"


"iya bener, kan belum isya belum pulang lah"


"terus kita gimana?"

__ADS_1


"liat dulu yok kemesjid"


"malulah, udah tadi siang aja disekolah malunya, masak mau lagi"


"ya ga perlu masuk jugalah kita liat dari jalan aja"


"memang kelihatan?"


"terus piye? mau tempat fajar juga?"


"tapi pengen ketemu nina"


"ya dah lewat mesjid aja kalo sepi berarti dah pulang, kalo masih dimesjid ya kita tunggu pulang lah"


"mau main ja ribet juga ya?"


"yang ribet tu kamunya sebenernya"


ahirnya nurut mengendarai motornya menuju mesjid, pelan saat sampai didepan masjid, ah rupanya bener masih rame. adzan pun baru berkumandang tapi dasar mereka bukannya ikut solat jamaah malah terus aja bermotortanpa tujuan, setelah cukup jauh hardi pun memutar motornya. kembali lg menuju rumah nina, lega, saat melewati mesjid dan sudah sepi. pembaca! jangan ditiru ya kelakuan hardi dan ari yang suka nunda solatnya.


kini sudah dihalaman rumah nina


lagi dan lagi hardi menarik napas panjan untuk menghilangkan groginya.


"TOK TOK asalamualaikum"


"walaikusalam" terdengar sahutan dari dalam, sepertinya suara ibunya nina.


pintu terbuka terlihat wanita paruh baya menggendong bayi. memberi tatapan tanya


"bu" tersenyum" nina ada?" bukan menjawab ibu nina menoleh kebelakang, terlihat nina sedang makan diruang tengah karna gorden pintu yang terbuka


ga punya pilihan


"masuk" setelah keduanya masuk"tunggu dulu ya nina lagi makan"


"ya bu"setelah cium tangan mereka pun duduk


sedangkan ibu berlalu keruang tengah.


"alhamdulillah" hardi


"mana nina tadi ya? ga tak liat perginya sekarang dah ga ada"


"nanti juga keluar"


sementara nina mempercepat makannya


"sapa itu ndok?"


"ga kenal mamak"


"memang nyariin sapa mak?"


"nyariin kamu, ayo makan itu, dah itu bikin teh, boleh ngobrol jangan lewat jam sembilan"


nina mengangguk dan berbicara dalam hati 'alhamdulillah'


keluar dengan membawa dua cangkir teh meletakkan teh di meja, menjabst tangan keduanya, "sama ari, pantesan tau rumahnya"


"heem"


"ayok diminum teh nya, ari! kalem amat?"


"orang akukan cuma nemenin aja, ya udah kalian aja ngobrol, lanjutkan, he he"


"emmm itu tadi mamahnya? yang bukain pintu?"


"iya itu tadi mamakku, mamak aku biasa panggilnya, sama adekku yang bungsu"


"memang berapa adeknya?"


"ada tiga orang, abangnya ada dua, kalau kakak?


"cihui kakak.... manisnya" ari selalu menggoda setiap ada kesempatan


"trus gimana dong kalo bukan kakak"


"lanjut lanjut aku becanda aja kok" ari


"mmmm bapak kemana?" hardi malah nanya lagi bukan jawab


"bapak.... lagi kumpulan dirumah pak kadus, kalo kakak ga tau pada kemana"


"har! nina tadi nanyain kamu juga lo, ga dijawab malah kamu nanya lagi" Ari


'ah ari memang selalu mewakili' nina membenarkan dalam hati


"eh iya, nanya apa tadi?"


"sodaramu berapa" ari

__ADS_1


"oh iya, kami tiga bersaudara, aku yang paling tua, adek adekku juga masih sekolah, satu SMA satu SMP"


"kk sendiri umur berapa?"


"dua puluh"


"memang dah berapa lama lulus sekolah?"


"tiga tahun".


"lo kok? umur berapa berarti SDNya?"


"empat tahun"


"oh"


"percaya ngga nin?" lagi lagi ari selalu mewakili


"vivty vivty haha, bis dua puluh tahun masih kayak anak SMA, terus masak empat tahun masuk SD sih?"


"dia mah memang cute nin, mukanya kayak beby aja, ha ha" sambil menutup mulut karna tertawa


"ehm"nina


"ehm"hardi bersamaan


"cieeeh kompaknya" ari seneng bener espresinya


"kak har aja duluan, mau ngomong apa"


"kamu aja"


"kakak main kesini, emang pacarnya nanti ngga marah tah?"


"ngga akan ada yang marah, orang belum punya pacar, ini lagi nyari, he he"


"waduh" nina


"ngopo nin kok waduh?" tanya ari


"nina udah punya pacar ya?" selidik hardi sambil dia berkata dalam hati 'kalo kamu bohong aku ga akan ngarepin kamu, tapi kalo kamu jujur aku akan berusaha keras ntuk bisa memilikimu apapun caranya'


"udah" tersenyum, membuat hardi semakin terkesima


"wah sangat disayangkan" obat nyamuk berbicara


"apanya ri, yang disayangkan?" nina


"padahal hardi pengen kamu jadi pacarnya"


"pok" suara bahu ari yang di tabok hardi


"la kan bener kan?"


nina dan hardi langsung menundukkan kepala mereka,


"ya elah malah lomba nunduk lagi" ari menyindir keduanya sambil nepok jidat.


"ayo diminum teh nya" sengaja nina mengalihkan topik, takut! takut perasaanya ketahuan, dan takut juga dibilang ga setia, sementara hardi dan ari menikmati tehnya.


"srrrrrrtp" dasar ari ga sah kalo ga banyak tingkahnya, minum teh aja sampe ngeluarin suara.


"ha ha ha ha" ketiganya tertawa mendengar suara ari minum teh.


"kapan kami boleh main lg?" tanya hardi yang langsung menunduk setelah berbicara


"hmmm kapan ya....," bingung! dalam hati seneng kalo hardi bisa main lagi. tapi takut juga, bapak sama mamak dah dengan jelas melarang keras nina pacaran, dan kalo tau hardi bukan temen sekolah dan sering main, pasti akan jadi bencana buat nina, baiklah tersenyum saja pikir nina cari aman,


"ngga boleh ya sering sering main?" tanya hardi lagi karna melihat espresi wajah nina


'aduh jawab apa aku, baiklah tersenyum saja' dan hanya tersenyum nina menjawab pertanyaan hardi,


sedangkan hardi memilih menundukkan kepala' kenapa nolaknya tersenyum nin? tau ga, aku pengen ngeliat senyum itu terus dengan nyaman begini'


"juara ya kalian dua kalo suruh diem dieman? kayaknya cocok banget kalian ini memang, baru ketemu ngobrolnya dah pake bahasa hati, tapi kan ngga asik dong, aku ngga denger woi!"


"ha ha" berdua


"apa sih ri? ganggu aja kamu ini"


"salahnya ngajak aku, coba kalo tadi sendiri aja, lak yo lomba kalian ga beres beres, mending kalo lomba apa gitu.... lomba nunduk, lomba diem, hem payah payah"


"he he he" nina ga tau mau jawab apa ahirnya cuma narik bibir aja lebar lebar.


"ehem ehem" terdengar suara mamak dari dalem


nina langsung tersadar, inget pesen mamak sebelum dia keluar menemui kedua tamunya 'boleh ngobrol jangan lewat jam sembilan' membuat nina menoleh kedinding belakangnya dimana jam dinding tergantung.


' hah cepet amat dah jam sembilan aja tau tau'


"kenapa? kami dah harus pulang ya?" selidik ari yang curiga

__ADS_1


lagi lagi nina hanya tersenyum karna ga tau harus jawab


bersambung....


__ADS_2