
petang ini jam menunjukkan jam 19.00 dikamar kost kecil dikota tempat surya merantau, entah mengapa hatinya terus gelisah sudah beberapa malam dia tidak tidur dengan nyenyak, siang dan malam tidak nafsu makan, bekerja pun lesu tak bersemangat hingga membuat dia jatuh sakit, 'betapa sedihnya begini, hidup dirantau orang, sakit sendirian juga ngga ada yang rawat, punya pacar deket blum tentu peduli apalagi jauh begini, ah...! sama siapa aku mau berkeluh kesah?' menjerit sendiri dalam hati, surya kemudian membaringkan tubuhnya memejamkan mata, setelah cukup lama berdiam diri kemudian dia memaksakan tubuhnya untuk duduk, meraih hp yang tergeletak disamping kasur, mencari kontak milik ibunya tapi setelah kontak ditemukan surya tidak langsung membuat panggilan, dia malah kepikiran nina lagi 'coba kalo kamu punya hp nin, tiap hari aku akan selahin waktu untuk telpon kamu .... huh' menarik napas panjang dan membuat panggilan dengan ibu, setelah beberapa saat panggilan pun terhubung "asalamualaikum bu! ibu sehat?"
"walaikumsalam, alhamdulillah sehat, kamu gimana? kerjanya gimana?"
"kerja lancar bu, cuma badanku yang agak kurang fit, ntah ni kalo malam ga bisa nyenyak tidurnya, makan juga ngga enak bu"
"lo kok gitu, apa yang dirasa? kamu sakit?"
"mmhm ngga sakit bu, cuma kurang fit aja, ibu udah makan?"
"udah, tadi abis solat magrib terus kami makan, kamu dah makan belum?"
"he he belum bu, ntah pegi kemana nafsu makanku, dah berapa hari ini makan dikit banget itu juga dapet maksa jadi lemes badannya, hari ini surya ga kerja bu, cuma istirahat aja seharian"
"apa kamu ga betah?"
" hem kok nanya ga betah?"
"ya namanya kamu merantau, kalo ga betah ya ga usah dipaksainlah, pulang aja nak, ga papa kok"
"nanti ya bu, nyampein gajihan dulu, sayang kan bentar lagi"
"tapi sehatin dulu badan mu, gimana mau pulang kalo masih sakit?"
"iya bu ini juga dah isirahat"
"tutuplah telponnya, keluar sana nyari makanan terus minum obat kalo udah baru istirahat"
"oke bos"
"ha ha ha ha" bersama sama
"ya udah ya bu, asalamualaikum"
"walaikumsalam"
setelah memutuskan panggilan ada senyum samar dibibirnya 'ibu... trimakasih, kau selalu menenangkan' dan berjalan menuju sudut kamar ada lemari kecil disana. membukanya mengambil dompetnya 'cari makan dulu', dan dia membawa langkah kakinya,menuju warteg langganannya.
sementara itu jauh didesa,
__ADS_1
nina baru saja pulang ngaji, setelah memberi salam pada bapak dan mamak nina masuk kamarnya mengganti baju muslimnya dengan pakaian rumahan, memang nina tidak mengenakan hijab bila dia tidak ke masjid, bapak dan mamak juga membiarkan hal itu, bapak dan mamak memberikan nina kebebasan berpakaian selama masih sopan dan tidak terlalu pendek. kini nina sudah memakai celana jeans panjang dan kaos oblong putih, dengan rambut terikat tinggi seperti ekor kuda, "bapak sama mamak udah makan? makan yuk"
"makanlah nak bapak sama mamak udah makan"
nina pun kedapur mencuci tangan mengambil piring dan mulai mengisi nasi dan lauk seadanya,
"kak makan disitu aja kata bapak" dan langsung berbalik menutup pintu tanpa menunggu persetujuan nina.
'apa sih mamak, orang biasanya makan sambil nonton tv boleh ini kok ngga boleh' menggerutu sendiri dalam hati, tapi tidak mengurungkan atau mengurangi niatannya untuk makan. baru memulai makan beberapa suapan nina mendengar suara motor yang berhenti didepan rumah, nina pun mulai memasang telinga dan hati kecilnya juga mulai berceloteh 'pasti itu kak har, pasti itu nin sebabnya kamu disuruh makan disini aja' sambil terus menyuapkan makanan terdengar ketukan pintu di pintu depan
"TOK TOK asalamualaikum"
'walaikum salam, ah benar ternyata suara kak har, apa boleh ya aku ngobrol lagi' berdebar debar hati nina sambil bergumam dan masih terus menyuapkan makanan sambil menunggu dan menebak nebak keadaan,
"walaikum salam" baru dijawab sama bapak setelah salam yang kedua sepertinya mereka sengaja membesarkan volume tv, dan berpura pura tidak dengar
'huh dasar mamak sama bapak' gerutu nina lagi setelah berprasangka buruk kepada bapak dan mamak.
mendengarkan lagi percakapan orang orang di depan,
"ninanya ada pak?" suara dari kak har
"oh nyari nina? nina mau ketempat mbahnya, mau nginep disana, masuk mas!" suara dari bapak
"oh ninanya mau pergi?"
"iya mas, sini masuk dulu"
"iya pak makasih, lain kali aja deh main lagi, ninanya mau pergi soalnya, ya udah ya pak saya langsung aja, permisi pak, asalamualaikum"
"oh ngga mau masuk dulu, mau langsung aja?.... walaikumsalam" setelah terdengar suara motor yang berjalan menjauh terdengar bapak menutup pintu dan dari langkah kakinya sepertinya bapak menuju kedapur, nina masih belum selesai makan, memang nina sangat lamban untuk urusan makan, biasanya bila makan bersama sama dia selalu menjadi yang terakhir selesainya, dan bapak membuka pintu tengah "belum selesai nak kamu makannya?"
"belum pak"nina menjawab dengan cepat "buruan kita mau kerumah mbahmu"
"iya pak" 'eh berarti bapak ngga bohong ya, kirain tadi cuma nyari alasan aja biar orang bertamu tadi cepet pulang' segera membereskan bekas makannya dan mencuci tangan, dan segera menemui bapaknya, "udah pak" memberi laporan
"ambil jaketmu, kita mau kerumah mbah" mamak yang memberi perintah, dan nina nurut aja kekamar ngambil jaket dan langsung memakainya dan jeluar lagi menemui bapak sama mamaknya lagi
"kamu mbonceng adekmu ya kak" kata bapak sambil mengeluarkan sepeda nina, "mak abang pada kemama si?"
__ADS_1
"ngga tau, pamitnya mau main tempat temennya tadi, paling ya ngapel paling"
"andi.... bapak, mamak, sama adek adekmu mau main ketempat mbah, kamu jaga rumah" terdengar suara bapak memberi pesan pada kak andi abang nina
"mau nginep tah pak" tanya abang
"paling nina aja, bapak sama mamak nanti pulang agak malem malem" kak andi lantas masuk dan membuka pintu depan, ternyata dia pulang tidak sendirian tapi beramai ramai dengan temen temennya, memang biasanya mereka ngumpul dirumah kami seperti ini kalau tidak ngapel ketempat gadis.
bapak bersepeda membonceng mamak yang menggendong adik bayi dan eti duduk didepan menggunakan kursi yang dibuat khusus untuk sepeda, sedangkan nina membonceng ami adiknya yang smp kelas satu. meski bapak punya satu sepeda motor tapi kalo mau pergi beramai ramai begini tentu ngga muat sehingga mereka lebih memilih mengendarai sepeda. bersepeda dimalam hari hanya mengandalkan cahaya lampu yang dipasang didepan rumah oleh penduduk desa. bila saja ada orang yang tidak memasang lampu didepan rumah maka mereka bersepeda dalam gelap, rumah neneknya nina [mbah mereka menyebutnya] tidaklah terlalu jauh mereka masih satu desa, jarak yang ditempeh mungkin hanya sekitar satu kilo meter, jalan menuju rumah mbah juga harus melewati rumah surya ya begitu melewati rumah surya nina teringat dengan surya saat mereka selesai ngaji dan nunggu waktu isya waktu itu surya berpamitan mau pergi kekota "nin tunggu aku ya, percaya aja asal kamu mau nanti lama lama terbiasa, dan tumbuh sendiri kok perasaan suka dihati kamu, mungkin kalo aku ngga ada disini nanti kamu rindu sama aku" 'kini udah dua bulan mas, ngga ada yang berubah dihatiku, mungkin memang ngga ada jodoh mas, nyatanya pertama kali aku melihat kak hardi aku langsung suka langsung ada perasaan yang berbeda dihatiku' suara hati nina lagi lagi membandingkan dengan hardi setiap dia teringat surya kini dia berdoa dalam hati 'semoga dikota ada gadis yang menarik hatimu mas, aku ngga apa apa kalo kamu yang pergi mas aku ngga akan sakit hati, sebaliknya aku justru takut menyakiti hatimu bila harus jujur sampe sekarang aku ngga ada perasaan sama kamu'
panggilan ami menyadarkan nina dari lamunannya "mbak ! mbak! kok ngelamun sih"
"sembarangan siapa yang ngelamun?" 'padahal memang iya hehe'
"dari tadi mbak nina kuajak ngomong ngga jawab, apa jalo ngga ngelamun?"
"males aja, ngomong ngga jelas"
"ih ngga jelas gimana lo, aku mau nginep juga ya tempat mbah"
"nanya sama bapak sana nanya sama mba emangnya mbak tau boleh apa nggak"
"alah mbak, boleh si.... ya, ya mbak"
"nah dah sampe masuk dulu kita, tanyak sama bapak sana boleh apa ngga!"
bukan menjawab ami malah berlari mendului bapak dan dengan semangatnya
"TOK TOK asalamualaikum, mbah mbah"
"ceklek " suara mbah membuka kunci pintu "walaikumsalam, sopo iki...."berpura pura bertanya tapi langsung menggendong eti, adik nina yang kelas satu sd. senyum langsung terukir dibibir melihat kedatangan kami, "kok yo malem malem tau bawa bayi" langsung protes sekalipun tampak bahagia, memberi tau kekuatirannya
"yo ngga papalah dibungkus pake selimut anget kok" mamak menjawab dan langsung melanjutkan kalimatnya lagi menyampaikan alasan kedangan kami.
"mau nganterin nina mau tak suruh tidur disini, bujang pribumi dateng dateng terus kerumah, mau apa kali. anak masih sekolah juga"
"oalah udah ada yang ngapel? yo biarin ajalah kalo mau ya laju nikahin aja nanti kalo dah lulus sekolah, kan udah kelas tiga to? bentar lagi lulus. kok pusing, punya anak gadis ya diapelin bujang, punya anak bujang ya ngga nunggu rumah, ngapel juga" dengan santainya mbah menjawab tanpa melihat raut wajah mamak yang ngga suka
"alah masih sekolah kok dah mau ganjen ganjenan apaan, nanti lulus sekolah kerja kerja dulu biar lihat dunia, buru nikah mau apa masih kecil, belum punya pengalaman.
__ADS_1
"mamakmu dulu kelas tiga SD berhenti ngga lanjut sekolah nikah sama bapakmu" dan berlanjut obrolan kami sampai larut hingga mamak ahirnya ikut bermalam juga.
bersambung