
Cahaya terang dari lampu rumah megah bernuansa cina, menambah semarak suasana malam ini. Pernikahan mewah baru saja di gelar di kediaman besar keluarga Pei.
Hari ini putra kedua Pei telah mengakhiri masa lajangnya, dia adalah Pei Han. Dalam usia yang telah beranjak 27 tahun,Pei Han di paksa menikah dengan putri pertama keluarga Shen.Shen Jia.
"Apakah dia di ruang kerja? " gumam seorang gadis muda,yang sangat cantik.
Tak lain, adalah mempelahi wanita pengantin hari ini. Hidup Shen Jia di keluarga Shen tidaklah mudah. Namun gadis muda itu mampu mengatasi setiap kesulitan yang ada.
Meskipun pernikahan ini paksaan dari pihak keluarga, Shen Jia sendiri diam-diam telah menaruh hati kepada Pei Han sejak lama. Pei Han adalah tipe pria yang di idamkan gadis muda itu,kegembiraan terpancar saat kedua keluarga memutuskan untuk menikahkan mereka.
Gadis muda itu penuh harap menantikan datangnya hari ini, meskipun banyak ketidakadilan yg terjadi padanya sebelumnya. Paling tidak pernikahan ini, adalah sesuatu yg di inginkan Shen Jia.
Melihat Nyonya baru mereka keluar dari kamar pengantin, Kepala pelayan keluarga Pei bergegas menyapa. " Nyonya butuh sesuatu? " Suara lembut kepala pelayan membuat kaget Shen Jia yang tengah bergumam.
Dengan senyum cangung Shen Jia menjawab." Dimana kakak Han? " suara lembut, menyenangkan gadis muda itu terdengar malu.
Shen Jia bukanlah gadis muda yang pemalu, dia gadis periang, begitu hidup, ceroboh. Namun karena malam ini adalah malam pernikahannya dengan pria yang di cintainya gadis muda itu menjadi gugup. Ini adalah kali pertama baginya tinggal satu atap dengan kekasih hatinya.
"Tuan berada di ruang kerja, " Kepala pelayan merasa kasihan untuk nyonya barunya. Di malam pernikahan harus di tinggalkan Tuannya di ruang kerja. " Maafkan Tuan muda nyonya, Tuan adalah seorang pria dengan gila keja. Tolong jangan pedulikan dia."
Gelar nyonya membuat pipi gadis muda itu merona. "Aku akan melihat kakak Han, " Jia mempercepat langkahnya. Di sertai dengan detak jantungnya yang berdebar.
Semakin dekat langkah kakinya, membuatnya lebih gugup. Telapak tangan kecilnya, sudah basah oleh keringat. Bayangan kedua mata indah, senyum mempesona dari kekasih hatinya terlintas di kedua binar matanya.
Mulai malam ini akan menjadi malam yang sangat indah, betapa tidak ? menikah dengan pria idaman hatinya kini telah tercapai. Genggaman kecil tangannya hampir mencapai pintu tinggi ruang kerja.
Pintu itu tidak sepenuhnya tertutup, saat Shen jia hampir mengetuknya. Terdengar suara familiar dari dalam sana.
"Maafkan aku Yingying, pernikahan ini harus aku lakukan.Maaf membuatmu bersedih.. maafkan aku sayang. " suara serak Pei Han terdengar sangat menyedihkan sampai ke telingga Jia.
__ADS_1
Gadis muda yang mulanya sumringgah itu menjadi layu,bagaikan di tuangkan air dingin dari atas kepalanya. Seolah tidak percaya, Shen Jia menempelkan telingga kecilnya.Memastikan bahwa semua itu terdengar nyata.
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan, hanya kamu...hanya kamu Yingying. Hanya kamu. "
"Setelah kakek baik baik saja, kami akan bercerai."Raut wajah tampan Pei Han berkerut, menutup matanya sambari mendekap foto kekasih hatinya.
Chen Yingying, dia adalah wanita cantik,anggun dan cerdas. Kekasih Pei Han sejak masa kuliah. Chen Yingying merupakan cinta pertama Pei Han,wanita yang terpenting di hati putra kedua Pei.
Di paksa menikah dengan gadis ceroboh itu membuat Pei Han marah,Namun demi sang kakek Pei Han masih bersedia melakukannya. Pei Han sudah mengenal Shen Jia cukup lama, karakter Shen Jia membuat pria tampan itu tidak begitu senang.
Di bandingkan dengan Chen Yingying, mereka bagaikan langit dan bumi. Pei Han merasa bahwa, hidupnya benar benar akan sangat merepotkan.
Seluruh tubuh Jia seolah mati rasa, tidak percaya bahwa ini terdengar nyata. Pria yang di cintainya memiliki wanita lain. Pernikahan ini hanya seperti mimpi baginya, sebuah ilusi juga permainan saja.
"Yingying? "
"Kau sudah mendengarnya? "
Seolah ragu, Namun Jia dengan patuh mengikutinya.
Pria tampan itu melangkahkan kaki panjangnya, duduk di sofa.Kedua mata tajam itu tidak pernah lepas dari istri kecilnya. Bagi Pei Han, kini Shen Jia hanyalah gadis kecil yang belum dewasa. Berurusan dengannya, hanya akan membuatnya sakit kepala.
"Kau bisa mengunakan samaumu, anggap saja ini konpensasi untukmu. " Tanpa peringatan,telapak tangan lebar Pei Han menyodokkan kartu hitam miliknya.
Pei Han tidak pernah sabar berurusan dengan wanita lain, selain Chen Yingying. Menurut Pei Han normal baginya mengatakan itu pada istri kecilnya.
Gadis muda yang berbalut piyama bunga kecil itu masih tidak mengerti,mata polosnya menatap suami tampannya. Seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi." Konpensasi? " Bola mata polos dan murni itu menatap Pei Han.
Kata kata umpatan Pei Han tersangkut di tenggorokan, begitu melihat kedua mata jernih itu. "Kembalilah ke kamarmu, malam ini aku tidur di ruang kerja. " Pei Han sudah cukup pusing dengan situasi saat ini, tidak ingin mengatakan kata kata kejam pada gadis kecil itu.
__ADS_1
"Mengapa? bukankah ini malam pernikahan kita? "tanya Gadis muda itu berpura pura bodoh."Apa yang akan mereka katakan sesudahnya, bukankah pengantin baru ini bertengkar ? itu sebabnya mereka tidur terpisah? " Dengan polosnya Jia membantah pengaturan suaminya.
"Shen Jia.. "
"Ya... "
Pei Han mencubit alis tengahny,mencoba memberitahu gadis kecil itu kebenaran.Bahwa pernikahan ini tidak akan mungkin berhasil.
"Kau tidak menyukaiku sekarang, tidak masalah.. Aku akan membuatmu menyukaiku nanti. " Dengan percaya diri gadis itu berkata.
Wajah putih kecilnya sangat cantik, terlihat seperti bunga yang belum sepenuhnya mekar. Pria besar seperti Pei Han tidak tega mematahkan bunga yang belum mekar itu.
"Kakak Han, bisakah kau memberiku kesempatan itu? " Tatap Jia penuh harap.
Sebenarnya Shen Jia tidak cukup memiliki keberanian itu,banyak keraguan apakah akan berhasil. Namun tidak ada salahnya mencoba,dia bukan gadis yang mudah menyerah.
"Tidak. " Tolak tegas Pei Han.
Bagi pria besar itu, hanya Yingying lah wanita kesayangannya. Tidak akan ada Yingying yang lain,adapun pernikahan ini Pei Han akan memikirkan cara untuk mengakhirinya. Kemudian akan memberikan konpensasi yang layak untuk gadis kecil itu.
"Baik. " Jia tersenyum patuh dia tahu kapan harus mundur,gadis muda itu berpikir masih banyak waktu untuk membicarakannya.
Tangan mungilnya terulur, jari lentiknya meraih kartu hitam di atas meja. Kartu ini milik suaminya, di berikan suaminya untuknya. Tentu gadis muda itu mengambilnya, tidak akan membiarkan barang dari suaminya sia sia saja.
Meskipun di dalam hati kecil gadis itu enggan, pasalnya kartu hitam ini di berikan sebagai konpensasi untuknya.
"Ambil saja dulu soal konpensasi.. hemp jangan memikirkannya. "
Melihat punggung istri kecilnya membuat pria besar itu bernapas lega. Mengambil kartu itu sama saja dengan menyetujui pengaturannya.
__ADS_1
TBC