Perjuangan Cinta Jia

Perjuangan Cinta Jia
episode 2


__ADS_3

Kamar pengantin telah dihiasi dengan sangat cantik, kelopak bunga mawar bertata rapi di lantai juga ranjang berukuran king. Kelambu gantung berwarna putih, lilin beraroma.Semua sangat sempurna.


Shen Jia kembali ke kamar pengantin mereka, menutup pintu dengan pelan. Melihat suasana di dalam kamar pengantin membuatnya tersenyum masam.


Bibir tipis gadis muda itu tersenyum pahit, begitu banyak harapan saat Jia keluar dari kamar itu. Saat kembali,hanya tamparan wajah yang di dapat. Suami idamannya bahkan enggan tidur bersama dengannya.


Melemparkan kartu hitam yang sejak tadi di pegangnya, di meja rias. Gadis itu melihat pantulan dirinya sendiri di depan kaca. "Cantik. " gumamnya,tangan kecilnya menepuk kedua pipi.


Kemudian menghela nafas panjang.Jia berjalan menuju ranjang, membereskan hiasan hiasan indah itu. "Indah sekali, sangat mahalkan..? sayang sekali harus di buang sebelum di gunakan. " celoteh mulut kecil itu.


Gadis muda itu tengah berusaha menghibur dirinya sendiri, alih alih menangis karena di tolak suaminya saat malam pernikahan tiba.


Butuh satu jam baginya untuk membereskan, dalam waktu itu Jia beberapa kali menoleh arah pintu. Berharap sang suami berubah pikiran,menghabiskan malam indah bersamanya.


"Siapa Yingying? mengapa begitu familiar..? " Gadis itu bingung mengetuk kepala kecilnya.Merasa kelelahan, Jia memejamkan mata tertidur.Tidak lama, pintu pun terbuka menampilkan sosok tinggi tampan berjalan masuk.


Pei Han menatap ranjang luas, menampilkan selimut mengembung yang berisi istri kecil di dalamnya. Kaki yang panjang perlahan mendekat, pandangan kedua mata mengunci wajah putih kecil seukuran telapak tangan yang tertidur pulas.


Wajah itu terlihat sangat cantik, pipinya kemerahan. Nafas teratur lembut terdengar di telingga. " Sungguh cantik, dan patuh saat tertidur. "Pei Han menggelengkan kepala, pria besar itu berbalik mengeluarkan selimut di lemari.Pei Han berniat tidur di sofa malam ini.


Ketika semua keluarga berpikir pasangan pengantin baru itu, menghabiskan malam yang indah. Jia dan Pei Han justru tertidur di tempatnya masing masing tanpa bermimpi.


Malam sunyi telah berlalu, di gantikan mentari pagi menyinari jendela kaca kamar megah keluarga Pei. Gadis muda Shen Jia baru saja membuka kedua matanya, masih dengan bau bantal Jia linglung. Kemudian teringat jika dirinya telah menikah dengan pria idaman kemarin. Meskipun pernikahan itu telah jauh dari yang di harapkan, dengan rambut sedikit acak acakan gadis muda itu menguap pelan. Perlahan turun dari ranjang, melihat sekeliling kamar seolah mencari tanda tanda suaminya.


Setengah jam cukup bagi Shen Jia untuk bersiap, berjalan menuruni tangga.Gadis muda itu kini telah kembali ceria seperti sebelumnya.


Mengenakan gaun kuning tanpa lengan bermotif kupu, sungguh terlihat cerah di padukan dengan kulitnya yang seputih salju.Gadis itu berperilaku baik dan patuh.


"Selamat pagi nyonya..sarapan sudah siap"Kepala pelayan dengan hormat membungkuk menyapa nyonya mudanya.

__ADS_1


"Pagi Tuan Zhang, " Gadis muda itu tersenyum lembut,membalas sopan kepala pelayan itu. "Apakah kakak Han belum kembali? " kedua mata indah itu mencari cari keberadaan suaminya.Jia sudah lama mengenal Pei han, lari pagi menjadi rutinitas utama sang suami.


"Tuan masih belum kembali nyonya ,Tuan berpesan tidak perlu menunggunya kembali. " Tuan Zhang agak sedikit geram dengan kelakuan Tuan mudanya.


Ada istri kecil yang begitu cantik, namun kelakuan Tuannya sangat tidak manusiawi. Nyonya mudanya di biarkan menunggu sejak semalam.Kepala pelayan itu agak tidak setuju dengan sikap Pei Han.


"Mungkinkah Tuan masih belum melupakan nona Ying.? "


Tuan Zhang sudah lama ikut dengan Pei Han,hingga pelayan tua itu tahu seluk beluk antara Tuannya dan Chen Yingying. Kepala pelayan berambut putih itu menghela nafas menyesal.


"Aku sedang santai,, jadi aku akan menunggu kakak Han. "Tekat Jia tersenyum.


"Tidak perlu menungguku, aku akan bersiap untuk rapat. "Sesosok panjang terlihat masuk dari pintu.


Lain dari biasanya, Pria dingin itu mengenakan baju olahraga yang terlihat lebih tampan dari setelan jas mahal yang biasa di pakainya. Ada butiran keringat mengalir di pelipis dan jakun, membuatnya terlihat lebih maskulin juga macho.


Melihat tatapan membara istri kecilnya, membuat pria besar itu tidak nyaman. "Ehemm. " Dengan cangung Pei Han batuk ringan.Apakah ini masih keluarga seorang gadis? menatap seorang pria begitu terang terangan seperti ini.


Pria tampan itu telah lupa, jika dirinya tidak lain adalah suami keluarga seorang gadis itu sendiri. "Tidak bisakah gadis kecil sedikit menahan diri? " Protes Pei Han. Betapa tidak, tatapan istri kecilnya terlihat mengerikan. Seolah bisa menelannya hidup hidup.


Tuan Zhang yang berada di antara pasangan itu, tersenyum malu. Wajah tuanya sudah memerah malu.


"Pasangan muda ini, membuat jantung lamaku tidak sehat"


"Ya Tuhan suamiku sangat tampan. "


"Apa... " gumamam kecil itu di sela Pei Han.


Gadis muda itu menggelengkan kepala kecilnya. "Tidak... karena kakak sudah di sini, ayo sarapan bersama?" Ajak Jia tanpa merasa malu. "Tuan Zhang tolong siapkan sarapan. " Pinta Jia sopan.

__ADS_1


Tuan Zhang tersenyum membungkuk tanda persetujuan.


Melihat Tuan Zhang berlari kecil, alis Pei Han berkerut ganas. "Bukankah kita sudah membicarakannya semalam ? Shen Jia jangan terlalu terbiasa denganku. " Tegur Pei Han tegas.


Senyum Jia tenggelam begitu mendengarnya. "Bukankah ini hanya sarapan? " Gadis muda itu memberi tatapan gigih.


Tinggi Pei Han mencapai 187 ,sedangkan Shen Jia hanya mencapai 168 .Yang terlihat mungil saat berdiri di depan Pei Han. Namun tubuh mungil pun tidak membuat Jia ketakutan karena intimidasi Pei Han.


Melihat tatapan gigih tanpa rasa takut istri kecilnya, membuat putra kedua Pei sakit kepala. "Shen Jia, jangan kekanak kanakan.Duduk dan sarapan. Jangan mengganguku."Pria besar itu sudah mulai kehilangan kesabaran.


"Kekanak kanakan? " gadis muda itu masih tidak mengerti mengapa kakak Han nya begitu menghindarinya. Apa yang terjadi semalam Jia tidak terlalu memikirkannya,dia berpikir kakak Han membutuhkan lebih banyak waktu.Tetapi hari ini? mengapa terlihat begitu marah hanya untuk sarapan bersama.


Bukankah suami istri seharusnya memang sarapan bersama?.Jia hendak mengatakan sesuatu, tetapi Pei Han sudah naik tangga menuju kamar.


Sarapan pagi yang seharusnya menjadi hal menyengangkan, justru malah sebaliknya. Gadis muda itu telah kembali layu karena penolakan Pei Han.


Shen jia tetaplah gadis muda yang konyol, begitu melihat kepala pelayan membawa nampan berisi sepiring daging pedas manis gadis yang semula layu itu kembali berbinar.


"Wow... apakah ini untuku? " Tatapan serakah Jia membuat kuwalahan Tuan Zhang.


"Nyonya sebenarnya hidangan ini tidak cocok untuk sarapan, jika Tuan muda melihatnya dia pasti akan memarahiku. " Goda Tuan Zhang.


Mengenal nyonya barunya yang imut dan lucu, membuatnya ingin terus mengoda. Sungguh imut, lihatlah wajah kecil berlemak bayi itu. Membuat hati tua ku meleleh.


Tuan Zhang tidak berniat membuat hidangan daging favorite nyonya mudanya, tetapi hati tuanya tidak tega melihat gadis muda itu bersedih hati di tinggalkan Pei Han begitu saja. Tuan Zhang tentu tidak bisa mengutuk pria tidak manusiawi itu, karenanya pelayan tua itu membuatkan hidangan favorite Jia.


Benar saja, sepiring daging ini membuat nyonya mudaku kembali ceria. Hati tuanya akhirnya bisa bernapas lega.


TBC

__ADS_1


__ADS_2