
Membutuhkan waktu lama bagi Pei Ji'an membujuk gadis kecil itu. Mereka baru bertemu setelah enam bulan, tidak tahu berapa lama waktu yang di butuhkan untuk misi kali ini.
Bayangan rapuh Jia, dengan air mata mengalir di wajah mungilnya membuatnya sangat tertekan. Menyenderkan tubuh tingginya di kursi kemudi, sambil memejamkan kedua matanya. Mayor Jendral muda itu memiliki tekanan dingin di seluruh tubuhnya.
Tidak bisa terlalu lama menunda, Pei Ji'an mengemudikan mobilnya pergi dari kawasan kediaman mewah saudaranya.
Begitu mobil itu menghilang, kepala berbulu Shen Jia terlihat dari jendela kamarnya.Entah apa yang di gumamkan bibir mungilnya, wajah cantiknya cemberut begitu tidak sedap di pandang.
"Turun makan.. " Suara merdu suami tampannya berhasil mengalihkan perhatian gadis muda itu.
Seolah tidak percaya,Jia tercengang begitu mendengar suara milik suaminya. "Untuk apa melihatku, turunlah baik...? atau kau akan makan makanan dingin. " Kesabaran Pei Han mulai di uji kembali.
Memangil istri kecilnya di kamar mereka, adalah tantangan tersendiri baginya. Kalau bisa Pei Han tidak ingin terlalu sering memasuki kamar itu. Namun Pei Han memahami jika suasana hatinya sedang tidak benar.
Sering tinggal di kediaman Pei, Shen Jia maupun kakek akan berada dalam suasana hati buruk jika saudara laki lakinya kembali menjalankan misi. Berjanji untuk lebih menjaga bayi kecil kakaknya, Pei Han mesara penting memangilnya makan malam. Dan benar saja, lihat istri kecil itu kembali menjadi gadis yang konyol.
"Apa aku masih tidur, lalu bermimpi ?" gumamnya. "Aduh... sakit. "Merasa seperti mimpi, Jia mencubit lengan putihnya sendiri untuk memastikan.
Begitu merasakan sakit, akhirnya nyonya kecil itu percaya bahwa ini adalah kakaknya Han yang memangilnya. "Ahh oke, tunggu sebentar.. "Seolah teringat sesuatu Shen Jia berlari tanpa alas kaki menuju kamar mandi.
Brakkk
Suara keras pintu kamar mandi membuat Pei Han mengelengkan kepala. "Apa yang bisa di harapkan dari gadis konyol itu, "Keluh Pei Han berjalan keluar kamar.
Kemudian di balik pintu kamar mandi,kedua tangan gadis muda itu menutupi hatinya. Detak jantungnya berdetak sangat cepat, seolah bisa melompat keluar.
Dengan pipi memerah malu, Jia berlari ceroboh menghadap cermin. "Apakah aku bodoh..lihat wajahku yang berantakan ini, kedua mata bengkak,,rambut berantakan, Ahh..Bagaimana citraku bisa rusak di depan kakak Han? apakah kakak Han akan tidak menyukaiku. "Celoteh mulut kecil itu frustasi.
__ADS_1
Selama ini Jia berusaha menjaga wajah cantiknya, serta citra anggun nya di hadapan suaminya. Tetapi malam ini, penampilannya begitu berantakan. Membuatnya begitu panik.
Tapi Jia tidak tahu bahwa tidak sedikitpun suami tampannya memikirkan penampilannya, seperti yang di takutnya."Oke jangan panik jia, cepatlah bersiap lalu makan malam romantis dengan suamimu..Malam ini adalah milikmu." beberapa detik kemudian gadis itu mendapatkan kembali rasa percaya dirinya.
Di meja makan Pei Han merasa tidak lagi cukup memiliki kesabaran yang tersisa, tepat saat ingin memangil Tuan Zhang untuk naik ke atas. Langkah kaki riang terdengar dari arah tangga.
Wajah tampan nya mendongak, sosok mungil, energik, cantik istri kecilnya mendekatinya. "Apa aku membuat kakak Han menunggu lama? " Suara riang itu sedikit terdengar malu.
"Tidak. "Keluhan dan ketidaksabaran Pei Han, entah mengapa berkurang banyak begitu melihat istri kecilnya.
Jia berusaha mengendalikan dirinya, dengan hati hati mengambil posisi di kursi sebrang tempat suaminya duduk. Kedua mata rusa itu menyapu seluruh meja makan, sesaat kemudian mata rusa itu berbinar.
Tanpa bisa menahan diri lagi, Jia memulai menyajikan makan makan di atas piringnya sendiri. Seolah teringat sesuatu,gadis kecil itu melihat dengan hati hati piring milik suaminya.
"Biarkan aku mengambilkannya untukmu,, apa yang ingin kakak Han makan ?" tidak selaras dengan sikap konyolnya, suara itu begitu lembut dan manis.
"Tidak, tingalkan aku sendiri.Makan dengan baik. "Tolak tegas Pei Han.
Benar saja, menghadapi gadis kecil itu membuatnya sakit kepala.
Meskipun kecewa namun Jia adalah gadis yang masuk akal dan patuh. "Baik. "Jia mengambil banyak hidangan favorit nya yang di siapkan Tuan Zhang untuknya.
Gadis itu sangat polos, dan apa adanya. Di hadapkan dengan semua hidangan favoritnya kekecewan karena suaminya sebagian menghilang.
Tepat saat ingin bicara sesuatu, ponsel suaminya mengeluarkan suara dering.
"Ibu.. "Jawab lembut Pei Han.
__ADS_1
"Bagaimana bisa,,bu bisakah kau tunggu sebentar, aku akan segera datang. Bu tunggu aku oke.. bu jaga dirimu. "Suara Pei Han begitu panik, membuat gadis kecil itu menyerit.
"Kakak.. "Pangilan istri kecilnya di abaikan Pei Han, kaki panjangnya bergegas melangkah keluar bahkan tanpa mengunakan mantelnya. Bisa di lihat betapa gugupnya dia.
"Ibu..? " Di tinggalkan seorang diri, Jia mengaruk kepala kecilnya dengan linglung.
Saat itu Yingying, hari ini Ibu.Besok siapa lg? gumam Jia tidak berdaya. Suaminya pergi, lalu gadis itu sudah kehilangan nafsu makannya. Namun melihat bagaimana Tuan Zhang begitu sulit memasak semua ini, gadis layu itu tetap memaksakan mengirimkan isi piringnya ke dalam mulut kecilnya.
Malam semakin larut, di rumah besar mewah milik Pei Han sepi sunyi, seakan tidak berpenghuni.Gadis cantik, berbalut dengan piyama bunga itu seolah tidak pernah lelah memandangi jam di ponsel mahalnya.
Wajah mungil itu, tampak kesepian Jia adalah gadis yang riang.Rumah yang di tempatinya saat ini seperti tidak cocok untuknya.
"Apakah dia tidak akan kembali ?.." sudah kesekian kalinya, bibir kecil itu mengumamkan pertanyaan serupa kepada dirinya sendiri.
"Sanye.. " Di saat kesepian seperti ini, Shen Jia terbiasa mengumamkan nama itu di bibirnya. Tiba tiba hatinya merasa sangat sesak, gadis kecil itu mulai berpikir bahwa memilih pernikahan ini adalah tidak benar.
Seolah ragu " Bukankah aku mencintai kakak Han...mengapa menjadi seperti ini? " Membenamkan wajah kecilnya di kedua lututnya, air mata menetes kebawah tanpa di sadari.
Tuan Zhang diam diam menatap nyonya kecilnya entah sejak kapan, pelayan tua itu merasa sangat bersalah untuk nyonya kecilnya. Gadis yang begitu muda, mengapa harus terjebak pernikahan rumit seperti ini?
Seolah mengambil keputusan Tuan Zhang, menarik napas dalam dalam berjalan perlahan dengan wajah tua yang misterius.
"Bu... " Pria tinggi lurus Pei Han, berlari tergesa memasuki kamar wanita yang di pangil ibu olehnya.
Melihat Pei Han, ibu Ying seolah telah melihat penyelamatnya. "Han.." dengan tubuh tuanya, wanita tua itu memeluk erat Pei Han.
"Kau tahu Han, aku bertemu Ying Ying.Dia menangis padaku... Dia memohon padaku ingin bertemu denganmu, Ying Ying ingin bertemu denganmu Han. " Dengan terisak histeris, ibu Ying menceritakan mimpi itu kepada pria di pelukanya.
__ADS_1