
Malam sunyi dengan suasana berat terjadi di ruang kerja Pei Han saat ini. Kedua saudara itu saling duduk berhadapan, begitu terasa cangung. Setengah tahun kedua pria tampan itu tidak bertemu.
"Kapan kakak merokok? " putra kedua Pei mencoba memecah kesunyian itu.
"Aku selalu merokok. " Suara Pei Ji'an acuh tak acuh menjawab. Tentu saja mayor Jendral muda itu tidak mengatakan yang sebenarnya.
Pei Ji'an sudah lama tidak menyentuh rokok, hanya saja suasana hatinya sedang buruk saat ini. Membuatnya ingin sekali merokok.
Mendengar suara dingin saudaranya, Pei Han tahu bahwa kakaknya sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Dan itu masih berhubungan dengannya. "Berapa lama kakak kembali kali ini? "
"Jangan arahkan rencanamu padanya Han Shao..."Pei Ji'an tidak membuang waktu mengatakan tujuannya datang. "Jia Jia adalah garis bawah kakek dan aku, lepaskan dia secepat mungkin jika kau tidak bisa memperlakukannya dengan baik,, jangan mempermalukannya. " Wajah tegas,dingin Pei Ji'an terlihat lebih suram.
Mendengarnya Pei Han tersenyum kecut. "Saudaraku, aku tidak pernah ingin pernikahan ini...Aku tidak menyukainya kau tahu itu... "
Brakkk
Telapak tangan lebar Pei Ji'an mengebrak meja ruang belajar, tidak ingin mendengar hal buruk tentang Shen Jia yang akan di ucapkan adik laki lakinya. "Han Shao...dia adalah istrimu sekarang, jangan katakan hal buruk apa pun tentangnya di depanku. "Suara Pei Ji'an meninggi.
Urat biru di gengaman lengannya sudah terlihat, menandakan Pei Ji'an berusaha meredam amarahnya. Merasa kehilangan kesabaran,Pei Ji'an merendahkan suaranya" Apa yang kau inginkan Han Shao? aku sudah mengirimkan email padamu, untuk menungguku kembali. "
Bukan tidak tahu, lelaki tua itu begitu keras kepala menikahkan mereka. Dan akibatkan akan sangat serius jika penolakan Pei Han terus berlanjut. Bagaimana hati gadis kecil itu menerimanya? Memikirkannya membuat hati Pei Ji'an merasa tidak nyaman.
Pei Han juga merasa tidak berdaya dengan situasi saat ini. " Aku tidak akan memperlakukannya dengan buruk, dia tetap akan menjadi Nyonya Pei sampai kakek menyetujui perpisahan kami. "Putra kedua Pei itu merasa bahwa ini adalah pilihan yang terbaik.
"Jangan biarkan Jia bertemu dengan nyonya Chen. Apa kau bisa menjamin itu? " Inilah salah satu ketakutan Pei Ji'an, jika mereka bertemu,di pastikan lidah beracun nyonya Chen akan melukai hati gadis konyol itu.
__ADS_1
"Aku berjanji" Tegas Pei Han,meskipun dirinya tidak menginginkan pernikahan itu dirinya masih cukup waras untuk menjauhkan mereka.
Pesikologis ibu Yingying tidak terlalu baik, akan berisiko jika keduanya bertemu.Pei Han tidak ingin menambah masalah karenanya.
Dengan trampil dan berkesan arogan acuh tak acuh, Pei Ji'an menghembuskan asap rokok. Asap tebal putih menutupi wajahnya yang tampan. "Jaga dia dengan baik,, Jia adalah nyonya Pei saat ini. Beri dia kehormatan yang layak, lindungi dia... Jangan kehilangan kesabaran dengannya jaga jarak dengannya jika kau tidak berniat bersamanya.. Apa kau mendengarku? " Pei Ji'an merasa bahwa sebanyak apa pun ucapannya tidak akan oernah cukup jika itu berhubungan dengan gadis konyol itu.
Tidak bisa selalu berada di sisinya, membuat pria tampan itu selalu tidak nyaman. Jika bisa Pei Ji'an ingin membawa gadis kecil itu bersamanya ke distrik militer. Namun dia tidak memiliki hak itu untuk melakukanya, Pei Ji'an mulai sedikit menyesal mengapa tidak membawa Jia di bawah sayapnya sebagai putrinya seperti Pei Xia?
"Saudaraku aku mengerti. "Pei Han tahu bahwa istri kecilnya memiliki dukungan kuat di sisinya. Kakek juga saudara laki lakinya, yang artinya kedudukannya lebih tinggi darinya di keluarga Pei.
Memikirkan sikap keras kepala istri kecilnya, juga tingkah konyolnya membuat Pei Han sakit kepala. Bahwa hari hari yang akan datang akan lebih menyebalkan dari biasanya.
"Jangan gerakan pikiran kejam mu padanya Han Shao, Jiaku adalah gadis baik.. Jangan biarkan dia mengeluh padaku tentangmu.. atau aku tidak keberatan melatihmu di atas ring."Ancam Pei Ji'an.
Di keluarga Pei, siapa yang berani melawan saudara laki lakinya? jika ada maka itu hanya meminta kematian.
Sepasang mata cerah gadis muda itu terbuka linglung, akibat menangis terlalu lama kedua mata indah itu terlihat bengkak. Shen Jia terus mengosoknya dengan tidak nyaman.
"Jangan di gosok, atau akan terluka. "Sesosok tinggi Pei Ji'an membuka pintu kamar dengan nampan di tangannya.
Mendongak ke arah suara,Jia berbicara dengan suara serak. "Sanye belum kembali? "
Suara kecil serak itu membuat hati Pei Ji'an tidak nyaman. "Gosok dengan es batu dulu. "
Pei Ji'an menyodorkan balutan kain berisi es batu. "Hemm.."gadis muda itu dengan patu melakukannya.
__ADS_1
Menarik nafas tak berdaya Pei Ji'an berkata. "Bukankah kau mengatakan bukan anak kecil lg, lalu lihat kedua matamu bengkak karena menangis? "goda Pei Ji'an lembut.
"Bukankah itu karenamu. "dengus Jia tidak puas.
Telapak tangan lebar Pei Ji'an menutupi kepala berburu gadis kecil itu."Jadilah baik..aku harus kembali nanti? " ucap Pei Ji'an rendah.
Jika bisa Pei Ji'an ingin berada di sisinya lebih lama lg, namun tugasnya adalah tangung jawabnya yang pertama. Membuatnya harus segera kembali secepat mungkin.
"Secepat itu? "Shen Jia tercengang. Bukankah sanye baru kembali? Kedua mata bengkak itu meredup. Seolah telah kehilangan tulang pungungnya.
"Misi.. "Jawab Pei Ji'an singkat.
"Apakah berbahaya? "
"Tidak. "Tegas Pei Ji'an,tidak ingin membuat bayi konyol itu khawatir. Tentu saja mana ada misi yang tidak berbahaya? semua misi telah menanti darah dan keringatnya itulah resiko pekerjaanya.
Sepasang tangan ramping lembut melilit pingang rampingnya. "Kembalilah dengan selamat, jangan membuat kakek khawatir... dan aku juga. "Kalimat terahir hampir tidak terdengar.
Shen Jia membenci setiap perpisahan,bukan tidak tahu. Kakeknya berkorban di medan perang. Bagaimana Jia percaya bahwa misi itu tidak berbahaya? Hanya saja gadis muda itu mencoba tetap tenang. Tidak ingin menambah bebam sanyenya bahwa dia memikirkannya.
Merasakan basah di kemeja kamuflasenya, hati Pei Ji'an terasa sangat sesak. "Aku tahu, jadilah baik.. jaga kakek untukku oke. "Kedua lengan panjangnya mendekap erat bayi konyol itu.
"Aku pergi. "Pei Ji'an melepaskan Jia dengan tegas, perpisahan ini terasa begitu berat. Namun sebelum sepenuhnya terlepas, kedua lengan lembut itu memeluknya lebih erat.
"Biarkan sebentar lg, aku mohon... "isak gadis itu. "
__ADS_1