Perjuangan Cinta Jia

Perjuangan Cinta Jia
episode 6


__ADS_3

Sore itu setelah bertemu di area pemakaman, kedua orang yang layaknya seperti menantu dan ibu mertua, mereka kembali bersama di kediaman Chen. Tuan Chen telah pergi lebih awal dari putrinya, Chen Ying.


Setelah kemudian Chen Ying pergi, nyonya Chen hidup seorang diri. Perusahaan keluarga Chen telah berkolaborasi dengan milik Pei Han. Kedua perusahaan besar itu, kini di tangani Pei Han.


"Ibu minumlah. "Setelah sampai di rumah, pria besar yang sudah seperti menantu itu membuatkan sup jahe panas untuk wanita tua itu.


Meminum suapan itu nyonya Chen berkata. "Pulanglah...bukankah istri barumu sedang menunggumu ?" Hati wanita itu masih belum rela, jika menantu kesayangannya sudah menikah dengan orang lain.


Mendengarkan nyonya Ying,sejenak Pei Han tertegun. Tetapi itu hanya sekilas saja. Bahkan Pei Han sendiri lupa, bahwa ada istri kecil yang berada di rumahnya saat ini.


"Biarkan aku menemanimu sebentar bu, kesehatanmu lebih penting. " Mencoba menghibur hati tua itu, Pei Han tahu betul semenjak Ying er pergi.Ibu Chen telah kebilangan arah hidupnya.


Ucapan Pei Han memang sedikit membuat hatinya lebih baik,tetapi nyonya Chen masih berpikir masuk akal. "Jangan pedulikan aku, mereka lebih memiliki hak untukmu di bandingkan denganku. " mengatakan itu,suasana hati keduanya kembali menjadi berat.


Mereka yang di sebutkan nyonya Chen, tak lain pastor Pei juga Shen Jia. Menginggat kembali putrinya tiada, bahkan tanpa restu pastor Pei. Membuat hati wanita itu kembali marah. Namun, amarah itu tidak bisa selamanya di arahkan kepada Pei Han.


"Bu.. Meskipun Ying er pergi, aku akan selalu bersamamu. aku tidak mungkin meningalkanmu, dalam hidupku kau sama seperti Ying er masih ada,.Tolong jangan khawatirkan apapun." Pei Han berjanji, bahkan janji itu sudah di katakan berulangkali padanya.


Pei Han memang tidak berniat memisahkan jarak dengan keluarga Chen, lebih lagi di saat kematian Chen Ying dia sudah berjanji menjaga ibunya sepanjang hidupnya apapun yang terjadi.


Pada akhirnya senyum lega terpancar dari wajah keriput itu. "Tidak salah Yingying mencintaimu saat itu, ibu percaya padamu nak.. "Nyonya Chen memeluk Pei Han.


Hubungan mereka kembali harmonis seperti sebelumnya, luka di hati masing masing hanya bisa berharap tidak begitu terasa sakit ketika mereka menghadapinya bersama.


Pada saat yang sama, Pei Ji'an masih dengan sabar menunggu saudara laki lakinya di ruang kerja Pei Han. Dua jam yang lalu,pria beralis tajam itu mengirim gadis konyolnya ke rumah saudaranya. Pei Ji'an memiliki banyak hal yang ingin di katakan pada adiknya, tetapi setelah menunggu dua jam belum ada tanda tanda kembali, ponsel Pei Han pun dimatikan sejak lama.

__ADS_1


Pei Ji'an menduga jika saudaranya, masih belum tahu kepulangannya. Dia bukan orang yang sabar dalam hal menunggu, tetapi jika itu menyangkut gadis konyol itu Pei Ji'an mampu bertahan hingga selama itu.


Dering ponsel memecah lamunan pria itu.


"Bos ada yang tidak beres di area X, " Suara di seberang sana, terdengar sedikit panik.


Pei Ji'an menyeritkan alisnya. "Terus awasi, aku tidak bisa kembali untuk saat ini. "Biarkan Big Xiong tetap di pangkalan. Sebagian ajak mereka berangkat di bawah komandomu."


Dengan aura tegasnya, Pei Ji'an mengintrusikan bawahannya. Sebagai Mayor Jendral Pei Han memiliki 2 bawahan yang bisa diandalkan juga tidak diragukan kesetiaannya. Ketika dia di luar pangkalan, kedua orang itulah yang mengambil alih tugasnya.


"Baik Cief. "Seru semangat orang di seberang sana.


"Masuk. "Mematikan pangilan itu, sudut mata tajam Pei Ji'an melihat sekilas kepala berbulu di depan pintu. Entah kepala itu ragu ragu untuk masuk atau memang sengaja mengintip, hanya gadis konyol itu yang bisa melakukannnya.


"Ckkk. "Sudah ketahuan, maka mulut kecil itu berdecak.


"Sudah larut, dan kau belum tidur? " Seolah tahu semua pikiran yang ada di kepala kecilnya, Pei Ji'an mulai mengkritik gadis itu.


Kedua mata indah itu membulat dengan tidak percaya."Sanye aku sudah menikah sekarang, bagaimana bisa kamu masih memperlakukanku seperti sebelumnya. "Jia mendengus tidak puas.


"Jadi? " Balas Pei Ji'an acuh tak acuh, namun ada senyum di sudut matanya.


"Jadi ?...Jadi apa maksudmu? "Aku sudah menikah, itu berarti aku sudah dewasa bukan? jangan selalu menganggapku seperti A Xia oke.. " Kucing kecil itu sudah siap kembali mengulurkan cakarnya.


Berhenti mengodanya Pei Ji'an menghela nafas. "Bagiku kau akan selalu menjadi seorang gadis kecil," Pei Ji'an melanjutkan dengan nada serius. "Kamu akan selalu berada di bawah perlindunganku, tetaplah jadi gadis yang selalu ceria, polos juga bahagia..Jangan khawatikan sisanya. Seluruh keluarga Pei ada di belakangmu. " Pei Ji'an menjelaskan dengan suara rendah.

__ADS_1


Bahkan tanpa keluarga Pei, dia masih bisa menangungnya. Tentu saja, dengan pangkat yang di dapatnya saat ini tidak sulit bagi Pei Ji'an membawa Jia menjadi orang yang dilindungginya.Pei Ji'an masuk militer tahun itu, tanpa status keluarga Pei. Pria itu mendapatkannya dengan darah dan kerja kerasnya sendiri.


Hati dan pikirannya masih terasa sangat berat, membayangkan suatu saat bahwa saudara laki lakinya sendiri akan menjadi penyebab sakitnya gadis ini. Pei Ji'an merasa sangat menyesal, telah membiarkan gadis ini menikah dengan Pei Han.


"Sanye.. " Kata kata yang di ucapkan sanye membuat hati yang di kuatkannya selama ini seolah hancur.


Hanya sedikit orang di sekitarnya, yang bersedia menjaga dirinya sampai seperti ini. Setelah kematian ibunya, Jia merasa dunianya sangat gelap. Kegelapan itu sedikit terisi cahaya saat menyadari bahwa,ketika ibunya pergi ayahnya masih bersamanya.


Tetapi harapan itu kembali hancur saat sang ayah membawa wanita lain,dengan seorang anak perempuan yang usianya lebih tua dua tahun darinya. Sejak itu, hidupnya tidak lagi bisa kembali.


Kedatangan kakek Pei dan sanye membuatnya kembali membuatnya menjadi hidup, perlahan dirinya mencoba sembuh dari kepahitan kepahitan itu. Kemudian cinta kembali datang dari hatinya,hanya dua orang ini yang bisa di percaya Jia selama hidupnya.


Merengkuh tubuh mungil yang gemetar itu, Pei Ji'an merasa jika bisa dia bersedia memberikan apapun hanya demi membuat gadis mungil ini bahagia.


Menangis begitu lama, kedua mata gadis itu merah bengkak."Jangan begitu baik padaku.. atau aku akan menjadi serakah nanti. " Suara itu tidak jelas karena di sertai segukan tagisnya.


"Gadis bodoh. "Pei Ji'an tersenyum menghapus lembut air matanya,kembali memeluknya erat.


Entah berapa lama gadis itu menangis di pelukan Pei Ji'an, pada akhirnya tertidur kelelahan. Saat hendak mengendongnya membawa ke kamar, Pei Ji'an melihat saudaranya berdiri lurus di depan pintu.


Melihat Pei Han, wajah Pei Ji'an berubah menjadi sangat dingin. Mengabaikan saudara laki lakinya, Pei Ji'an berjalan melewatinya.


"Saudaraku.. " Pei Han terkejut dengan sikap saudaranya.


Sudah sekitar enam bulan saat terakhir mereka bertemu.

__ADS_1


Mengabaikannya, Pei Ji'an berkata. " Kita harus bicara. " dengan suara dingin, Pei Ji'an terus berjalan membawa Jia di pelukannya.


TBC


__ADS_2