
Rumah besar kediaman Pei dengan bangunan klasik,tembok kokoh yang biasanya sepi sunyi kini di penuhi tawa ceria berkat kedua gadis kesayangan keluarga Pei.
Lelaki tua Pei Si'an hanya memiliki 1 putra Pei Qingli. Pei Qingli beserta istrinya meninggal karena kecelakaan yang terjadi 5 tahun lalu, pasangan itu meninggalkan dua putra tak lain Pei Ji'an putra pertama dan Pei Han putra kedua.
Setelah perginya putra dan menantu,lelaki tua Pei memilih tinggal di kediaman besar Pei alih alih tinggal di distrik militer atau mengikuti Pei Han. Alasanya rumah itu memiliki banyak kenangan untuknya, jarang jarang keluarga itu berkumpul seperti ini. Meskipun Shen Jia menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya, wali Shen Jia tetaplah Shen Yin.
"A Xia, bagaimana kamu bisa bertambah berat badan sebanyak ini, lihat kakak Jia sudah tidak sanggup mengendongmu seperti dulu. "Goda Shen Jia mencubit kedua pipi gembul Pei Xia.
Putri yang di adopsi Pei Ji'an di beri nama Pei Xia. Gadis kecil itu kini sudah berusia 5 tahun,dan tumbuh menjadi gadis yang sangat imut.Siapapun yang melihatnya,akan langsung jatuh cinta pada bocah itu.
Bocah kecil dengan dua kepang di rambutnya itu tidak menyukai begitu di katakan gemuk.Setiap gadis ingin di puji cantik, tak terkecuali Pei Xia"Salahkan ayah, siapa yang meminta masakan ayah begitu lezat. Sehingga membuatku makan semangkuk nasi. "Keluh Pei Xia yang sudah duduk di pangkuan Jia.
Sungguh malangnya Pei Ji'an begitu turun dari tangga mendengar keluhan putri kecilnya. Tatapan Pei Ji'an yang semula acuh tak acuh menjadi sedikit melunak mendengar mulut kecil Pei Xia.
"Benarkah ayahmu yang bersalah? baik.. mulai hari ini A Xia ku hanya akan makan setengah mangkuk nasi,, dengar semua gadis harus menjadi cantik kau tahu? " Sebelum Shen Jia menggelitik boneka kecil itu,sepasang mata nakalnya menangkap sesosok yang familiar.
"Sanye... "Teriak gadis muda itu semangat.
Sudah hampir setengah tahun mereka tidak bertemu, pekerjaan Pei Ji'an membuatnya tidak memiliki waktu untuk kembali. Bahkan pernikahan saudara laki laki dengan Jia pun Mayor Jendral muda itu terpaksa melewatkannya.
Selain kulitnya sedikit lebih gelap, Pei Ji'an terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Sosok badan yang kekar, heroik juga sanggat tinggi. Pei Ji'an sedikit lebih tinggi dari Pei Han. Sejak muda, Shen Jia menganggap Pei Ji'an sebagai penatuannya.Alasan itu yang membuat Jia, terbiasa memanggilnya dengan nama sanye.
Pei Ji'an lebih sabar menghadapi kenakalan dan kekonyolan Shen Jia. Berbeda dengan Pei Han yang selalu sakit kepala jika bersama Jia.
Sebelum Pei Ji'an menanggapi,gadis konyol itu sudah berlari ke arahnya seperti bola meriam. Pasrah di dalam hatinya, pria itu berhenti membuka tangan panjangnya menyambut pelukan itu. Ketika bersama Shen Jia, Pei Ji'an lebih seperti membesarkan seorang putri. Hampir sama dengan Pei Xia.
__ADS_1
Merasakan pelukan hangat yang familiar dan aman, mulut kecil Shen Jia mulai mengeluh seperti biasa. "Jahat sekali, bahkan di hari pernikahanku sanye melupakannya. " Meskipun Jia mengetahui alasan tidak bisa kembali gadis itu masih mengutarakan keluhannya.
Tersenyum tidak berdaya,Pei Ji'an mengelus lembut punggung mungil gadis konyol ini.
"Bagaimana kabarmu? " Berbicara dengan Jia,pria itu mengunakan nada selembut mungkin.
Melepas pelukan hangat, kedua mata yang semula berbinar berubah menjadi berkaca kaca. Bersama dengan Sanye, gadis muda itu bisa melepas penyamaran dirinya.
Segala sesuatu yang dialami Jia, tidak mungkin dia berpura pura tidak mengerti atau menjadi bodoh. hanya saja Jia selalu menggunakan itu untuk menjaga dirinya sendiri. Tumbuh di lingkungan keluarga Shen yang penuh dengan kepalsuan membuat gadis ceroboh Jia membutuhkan pertahanan diri.
Jika bukan perlindungan keluarga Pei, mungkin Shen Jia sudah lama di tendang oleh ayahnya sendiri dari keluarga Shen. Shen Yin masih sangat menghormati Pei Si'an.Kemarahan lelaki tua Pei masih membuat Shen Yin ketakutan.
Kebungkaman Jia membuat Pei Ji'an menyerit."Ada apa? "
Masih belum ingin bicara, Jia kembali memeluk tubuh kekar sanyenya. Mencari keamanan dan kehangatan di sana.
Namun, begitu terjadi suaminya berulangkali menolak dengan terang terangan. Bohong jika Jia tidak merasakan sakit, hanya saja Jia terlalu pandai memakai penyamaran diri.Tetapi penyamaran itu tidak berguna begitu di depan sanye.
Bahkan kepada kakek Pei pun, Jia tidak bisa melepaskan penyamaran dirinya. Takut kesehatan lelaki tua itu akan terganggu.
"Aku sangat lapar, bisakah makan siang lebih awal? " Mata polos Jia membuat wajah dingin Mayor Jendral itu tidak berdaya. Tidak ingin membahas masalah persoalan suaminya, Jia berusaha mengalihkan topik.
"Panggil kakek," Pertanyaan Pei Ji'an di kalahkan dengan kedua bola mata murni gadis itu.
Mayor Jendral muda itu begitu kejam seperti harimau kelaparan saat di medan perang, tetapi begitu di depan kedua gadis kecil itu Pei Ji'an menjadi sangat lembut.
__ADS_1
Mendapatkan persetujuan sanye, Jia Jia berlari seperti kelinci ketakutan.
Makan siang di kediaman besar Pei sangat meriah, di sertai canda tawa renyah kedua gadis.Di sisi lain Pei Han, sedang dalam suasana hati yang buruk.
Sejak keluar dari rumah yang di tinggali dengan istri kecilnya, Pei Han pergi mengunjungi makam belahan jiwanya. Rasa bersalah Pei Han, membuatnya bersimpuh di batu nisan bertuliskan Chen Yingying.
"Berhentilah marah padaku Ying er, hukum aku.. jangan membenciku. "Suara serak pria itu sangat rendah.
Seolah meminta ampunan setelah melakukan kesalahan besar, Pei Han kebingungan saat belahan jiwanya berhenti memasuki mimpinya. Tadi malam Yingying tidak muncul di mimpinya,itu terjadi pada malam pernikahan.
Pei Han beranggapan jika Ying er marah padanya, karena pernikahan itu. Alasan ini menjadi penyebab suasana hati Pei Han sangat buruk. Hingga menolak sarapan bersama Shen Jia.
"Yingying aku berjanji akan memutuskan pernikahan ini, beri aku waktu sebentar oke ?"
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan Han? " Suara ketus wanita dari belakang membuat Pei Han terkejut.
"Ibu... " Sapa Pei Han sopan.
Ya,wanita paruh baya itu tak lain ibu dari Chen Yingying. Hubungan keduanya baik baik saja,sudah seperti layaknya menantu dan ibu mertua bahkan tidak pernah berubah meskipun Chen Yingying telah tiada.
Kepergian Chen Yingying membuat mereka berdua terluka begitu dalam, tragedi itu masih sangat membekas di hati dan mata keduanya. Itu sebabnya mustahil membuat bayang bayang Chen Yingying menghilang.
Melihat Pei Han bungkam, nyonya Chen meneteskan air mata emosional "Yingying sangat mencintaimu, bahkan saat terakhir pun dia tidak pernah melepaskanmu. Mengapa mudah bagimu untuk menikahi wanita lain Han.. Kau mengecewakan ibumu ini,? "
"Ibu.. "Melihat nyonya Chen menangis, Pei Han memeluk wanita itu.
__ADS_1
Wanita ini adalah ibu dari Ying er bagaimana bisa di biarkan menangis seperti ini? dan mirisnya penyebabnya tak lain dirinya sendiri. Kedua orang itu saling memeluk di depan makam orang yang mereka cintai.
TBC