Permataku

Permataku
Part 2


__ADS_3

Pertemuan


Saat mendongak, ternyata sudah jam tiga sore. Karena terlalu sibuk Ares hampir lupa waktu. Ia juga belum makan siang. Saat berkemas ponsel Ares berkedip menandakan sebuah pesan masuk.


Ia segera membukanya. Ternyata itu adalah pesan dari Handoyo yang mengirimkan sebuah foto kepada Ares juga mengingatkan tentang pertemuannya dengan gadis pilihannya.


Ares mendesah pelan, meletakkan ponselnya ke atas meja melanjutkan berkemas. Saat Rian masuk, ia mengedipkan mata.


"Boss, mau kemana?" Tanya Rian saat masuk mengantarkan dokumen lagi kepada Ares.


"Pulang!" Sahut Ares singkat.


Rian mengerutkan keningnya, ini tak biasanya boss pulang jam segini. "Bukankah boss ada pertemuan di kafe. Kenapa pulang." Rian secara spontan mengingatkan.


Ares sudah selesai merapikan mejanya. Ia menatap Rian dengan melotot. "Aih Boss." Rian tak berani membalas tatapan Ares.


"Aku tau." jawab Ares. Ia segera meraih jas yang ia sampirkan di sandaran kursi dan memakainya. Ia melirik dokumen yang dipegang Rian.


"Apa itu?" Tanya Ares.


Rian menundukkan wajahnya melihat dokumen yang di pegang. "ini masih ada dokumen yang harus anda tanda tangani. Tapi karena anda mau pulang. Tidak apa. Besok saja." jawab Rian.


"Baiklah. Kau atasi kerjaan dengan baik. Aku pulang dulu." Ares menepuk pundak Rian saat melewatinya.


"Aih, boss kenapa tiba tiba." Rian mendesah pelan. Ia kembali keluar membawa dokumen itu dan melemparnya ke atas meja.


Sampai di kafe milik Ben. Ares mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kafe. Kebetulan kafe juga tidak terlalu ramai ataupun terlalu sepi.


Tepat di ujung kafe, nampak seorang gadis tengah duduk dengan kepala menunduk. Tangannya membalikkan sebuah buku yang sedang ia baca.


Ares segera pergi ke sana. "Gendhis?" ucapan itu bersamaan dengan sebuah pertanyaan.


Gadis dengan berkerudung berwarna navy itu segera mendongak. Ia sempat terpana pada wajah pria itu yang terlihat tampan dan mempesona.


"Anda, kak Ares?" Ucap gadis itu dengan sopan.


Pria itu langsung mendudukkan bokongnya di hadapan Gendhis. Ares tampak melihat Gendhis dari ujung kepala hingga bagian perut karena kakinya terhalang meja.


Gadis yang di tatap Ares pun mengikuti alur pandang Ares. Sehingga gadis itu menunduk lalu menutup buku yang ia baca dan meletakkannya di atas meja.


Seorang pelayan meletakkan pesanan Gendhis juga pria yang baru saja ia kenal. "maaf kak, tadi aku memesankan kopi untukmu."

__ADS_1


Ares masih terdiam cukup lama seraya menatap gendhis dengan mengerutkan dahinya.


"Di lihat dari namanya saja sudah jelek, apalagi wajahnya pasti juga jelek." batin Ares melanglang buana tidak mendengarkan perkataan yang di lontarkan Gendhis.


"Kak!" Gendhis terpaksa melambaikan tangannya di depan wajah Ares, karena sejak tadi pria itu terus menatapnya dengan terus terdiam.


"Ehem." Ares segera tersadar. Ia mengalihkan pandangannya.


"Tadi, aku pesankan kopi untuk kakak. Maaf tidak meminta ijinmu dulu." ungkap gendhis mengulangi perkataannya.


"Baiklah tak apa." Jawab Ares mengalihkan pandangannya.


Sementara Gendhis tersenyum di balik cadarnya. Ares memandang tak suka dari gendhis, apalagi ia tak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu. Membuat ia mendesah pelan karena kesal.


Mungkin wajahnya juga jelek. Batin Ares.


"Kak, aku harus kembali. Masih ada kerjaan yang harus aku lakukan." lagi lagi gendhis membuyarkan lamunan pria dihadapannya itu.


Ares menyeruput kopi yang tersaji. "Kenapa terburu buru. Bukankah kita kesini untuk bertemu." ucap Ares dengan santai seraya meletakkan gelas di atas meja.


Gendis merasa malu karena selalu ditatap oleh Ares. "Maaf kak. Bukan begitu maksudku. Tadi aku meninggalkan banyak kerjaan dan hari ini harus segera mengirim barang." ujar gendis menjelaskan.


"Tidak kak, aku hanya menjalankan bisnis dengan berdagang online." sahut Gendis. "tapi jika setelah menikah kakak tidak mengijinkan aku bekerja seperti ini. Tak apa jika harus berada dirumah sebagai istri yang baik." lanjut Gendis menudukkan wajahnya.


"Urusanmu adalah urusanmu sendiri. Terserah kau." Sahut Ares.


Gandis mendongakkan wajahnya dengan binar cerah di matanya. "terima kasih kak." jawab gendhis tersenyum di balik cadarnya.


Ares menaikkan lengannya dan melihat jam. Ternyata sudah jam lima sejak kepulangannya dari kantor. "Sepertinya kita sudah lama duduk disini. Kamu mau makan dulu atau langsung pulang?" Tanya Ares.


"Enggak kak, aku mau langsung pulang saja." Jawab Gendis.


"Baiklah. Kalau begitu aku juga mau pulang." Ucap Ares.


"Assalamualaikum." Gendis terlebih dahulu berpamitan dengan Ares.


"Waalaikumsalam." Jawab Ares.


Gendis keluar terlebih dahulu dari kafe milik ben itu. Ia melihat punggung ramping itu keluar dari kafe. Ares lagi lagi mendesah pelan.


Apakah dia yang dijodohkan denganku. Bajunya saja kebesaran seperti itu. Sepertinya dia gendut dan item. Makanya dia menutupinya seperti itu. Dan pasti dia juga tak cantik. Gumam Ares pelan.

__ADS_1


"Woi." lagi lagi Ares harus dikejutkan tapi bukan gendis yang membuyarkan lamunannya selain ben sahabatnya.


"Eh, Ben. Ngagetin aja." ujar Ares seraya menoleh ke arah Ben yang berdiri di samping.


"Lagian dari tadi gue perhatiin, lo ngelamun terus." Ujar Ben kemudian duduk di hadapan Ares yang tadi di duduki Gendis.


"Kau lihat kan gadis itu?" Ares mengalihkan topik ke arah gadis yang di kenalkan oleh papa-nya.


Ben menatap keluar restoran karena gadis itu sedang mengenakan helm dan menuntun motornya agar muda keluar dari area parkiran.


"Memangnya kenapa. Dia baik baik saja kan." Sahut Ben.


"Bukan begitu, kau tau seleraku kan. Kenapa papa malah menjodohkan aku sama wanita seperti itu. Pasti dia tak cantik seperti wajahnya." Lagi lagi Ares mendesah pelan.


"Sabar bro. Di balik itu semua pasti ada kelebihannya makanya bokap lo mlihin yang seperti itu." Balas Ben mencoba menenangkan hati sahabatnya.


Ares kembali menyeruput kopi yang dipesankan gendis hingga tandas. "Ya sudahlah, aku mau balik dulu." Balas Ares kemudian bangkit dari duduknya.


"Baiklah bro. Jangan terlalu stres memikirkan pernikahan lo sama cewek itu. Oke." ujar Ben dengan bergurau.


Ares hanya menepuk bahu Ben dan keluar restoran milik Ben. Di sepanjang perjalanan Ares kembali terdiam lalu memghubungi Bella.


"Hallo Ares. Aku baru saja mau meneleponmu." Ujar Bella di sebrang telepon.


"Hem, bagaimana lamaranku tadi pagi. Apakah kau benar benar tidak mau menerimaku." Ucap Ares pada intinya.


"Ares, sudah kukatakan berkali kali, aku akan fokus pada karierku dulu baru kita menikah." Ujar Belle kekeh dengan pendiriannya.


Ares mendesah pelan. "Pernikahanku tinggal dua minggu lagi. Kau yakin merelakan aku menikah dengan wanita lain." lagi lagi Ares meyakinkan Bella agar wanita itu goyah akan pendiriannya.


Terdengar helaan nafas panjang dari sebrang. "Ya, aku yakin. Karena kau hanyalah milikku seorang. Aku yakin kau pasti menungguku." ujar Belle dengan tenang dan penuh keyakinan.


"Lagipula, wanita itu adalah hasil perjodohan ayahmu. Dan kau tidak mencintainya. Hanya akulah cintamu selamanya." Lanjut Belle.


"Jika aku berubah pikiran bagaimana. Apakah kau akan seyakin ini." Ujar Ares.


"Ares. Kau jangan memancingku dengan cara seperti ini. Yakinlah bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Aku yakin kau akan setia padaku." Ujar Belle.


"Ares, sudah dulu ya. Aku sebentar lagi akan naik panggung." Ujar Belle kemudian menutup telepon.


Ares membuang ponselnya ke kursi samping. Lagi lagi Belle mengatakan hal yang sama dengan fokus pada kerjaannya. Sementara Ares berada di ujung tanduk tak bisa mundur atau maju hubungannya dengan Belle. Waktu tiga tahun itu sangat lama. Apalagi menunggu Belle sampai kariernya memuncak, sementara dirinya harus berada bersama wanita lain. Sepertinya Ares tidak bisa berjanji kelak akan terus setia bersama Belle.

__ADS_1


__ADS_2