
Ijab Kabul
Sebelum acara ijab kabul di mulai. Ares masih menghapal ijab yang akan ia ucapkan. Ben yang berada di belakangnya berbisik pelan.
"Lo pasti bisa. Jangan gugup. Oke." Bisik Ben seraya tersenyum kecil. Begitu juga Dennis hanya tersenyum duduk di samping Ben.
Ares tidak menjawab selain menepuk bahu Ben dengan pelan. Apalagi dirinya benar benar gugup sekarang. takutnya ia salah mengucapkan kalimat dan akan mengulang yang kedua. Itu jangan sampai terjadi karena dia adalah seorang CEO pantang baginya, ucapan seperti ini akan mengulang.
"Bagaimana? Mempelai laki laki sudah siap?" tanya penghulu. Ares mengangguk pasti. Setelah menghapal beberapa menit akhirnya Ares sudah hapal dengan kalimat ijab yang akan ia ucapkan.
"Baiklah kita mulai sekarang." Ucap penghulu. Setelah itu penghulu memulai dengan pembuka kata barulah menjabat tangan Ares. Begitu juga Ares membalas jabatan penghulu.
"Saya nikah dan kawainkan engkau ananda Ares Permana bin Handoyo Permana dengan Gendis Arumi Binti Vano Firmansah dengan mas kawin uang tunai sebesar satu juta rupiah dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Gendis Arumi Binti Vano Firmansah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Balas Ares dengan lantang dan satu tarikan nafas.
"Sah."
"Sah."
Sofi menangis terharu mendengar kata sah yang terucap oleh para saksi. Begitu juga Sinta meneteskan air matanya, Mereka berdua saling berpelukan satu sama lain karena mereka berdua duduk berdampingan.
Sementara Gendis yang berada di dalam kamar mendengar kata sah yang begitu lirih membuatnya terharu. Ares mengucapkannya begitu khusuk dan penuh keyakinan. Sampai mata Gendispun berkaca kaca.
"Silahkan mempelai laki laki menjemput mempelai wanita." Ujar Penghulu.
Ares segera bangkit dan menjemput Gendis yang masih berada di dalam kamar. Langkahnya begitu mantap sesuai dengan karakternya sebagai pimpinan perusahaan.
Gendis pun terkesiap jika saja Ares yang sekarang sudah menjadi suaminya kini akan menjemputnya. Gendis pun meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Atik dan Wulan segera mengelus lengan Gendis agar tetap tenang.
"Tenang saja kak Gendis. Tarik nafas panjang lalu keluarkan." Ujar Wulan mengarahkan kepada Gendis agar tetap tenang. Dan Gendis pun mengikuti arahan Wulan. Setelah melakukannya Gendis pun sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Tok tok
__ADS_1
Terdengar suara ketukan di pintu. Membuat ketiga manusia yang berada di dalam kamar segera mendongak ke arah pintu. Atik segera menarik nafas dalam baru beranjak dari duduknya.
"Aku saja yang buka kak." Ujar Atik.
"Udah sana buruan." celetuk Wulan.
Gendis semakin gugup, Sementara Wulan segera menggenggam tangan Gendis untuk menghilangkan rasa gugupnya. Gendis membalasnya dengan tersenyum kecil.
Atik membuka pintu dan melihat mempelai lelaki yang sangat ganteng. Atik sempat terpana dengan ketampanan pria itu. Atik tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya sampai sampai ia lupa jika sekarang ini Ares harus segera membawanya keluar.
"Ehem. Bolehkan saya masuk?" Tanya Ares. Atik segera tersadar dari lamunannya dan mengalihkan atensinya sebentar kemudian tersenyum lebar.
"Tunggu sebentar kak. Sebagai jaminannya, kakak harus membayarku terlebih dahulu, baru kau boleh mengambil mempelai wanita untuk kau bawa." Ujar Atik sembari menengadahkan tangannya.
Ares mendesah pelan. Kemudian ia mengeluarkan dompet dari dalam saku jasnya. Membuka dompet dan menghitung uangnya. Atik menjulurkan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas isi dompetnya.
"Ini. Cukup?" Ares mengeluarkan uangnya dan memberinya kepada Atik.
Atik menggeleng. Ares menaikkan alisnya dan mengeluarkan uangnya lagi. "Segini? Cukup?" Ulang Ares.
"Silahkan tuan raja untuk menjemput Tuan ratu." Ujar Atik segera menyingkir memberi jalan kepada Ares. Wulan hanya menggeleng pelan melihat adik sepupunya itu.
Ares berjalan masuk membuat jantung Gendis semakin berdegup kencang. Saat berada di hadapan Gendis, tangan Ares terulur kedepan. Wulan swgera mengambil tangan Gendis dan menyatukannya ke tangan Ares.
"Terima kasih." Ucap Ares tersenyum tipis.
"Kak gendis ayo keluar." Celetuk Wulan.
Gendis segera beranjak dari duduknya, Ares membawa Gendis keluar dari kamar. Sementara Wulan berjalan mengikuti di belakang seraya menaikkan rok belakangnya yang panjang.
Sampai di depan penghulu, mereka duduk berdampingan dan menandatangani surat nikah. Barulah penghulu mengakhiri dengan doa. Ares dan Gendis saling bertukar cincin dan mencium tangannya dengan kidmat sementara Ares membalasnya dengan mencium keningnya.
Kini dua manusia tak sejenis itu telah sah menjadi pasangan suami istri. setelah acara ijab kabul selesai, saatnya untuk melaksanakan ritual resepsinan.
__ADS_1
Banyak para tamu menyambangi kedua pasangan pengantin baru dan mengucapkan kata selamat. Setelah berdiri hampir dua jam. Akhirnya Ares dan Gendis bisa bernafas lega. Pasalnya semua para undangan satu persatu telah kembali pulang. Tinggal sanak saudara yang tinggal beberapa orang masih berada di sana.
Sedikitpun Ares tak melirik ke arah Gendis, meskipun gadis itu telah sah menjadi istrinya. Ares belum bisa menempatkan gadis itu dihatinya. Tetapi Ares tetap memperlakukan Gendis dengan baik.
"Pergilah ke kamarmu. Nanti saya akan menyusul." Ares melirik ke arah Gendis yang sedikit membungkuk seraya memukul kakinya karena capek.
Sepertinya Gendis merasa lelah apalagi berdiri sudah hampir dua jam. Terlihat tangan Gendis memukul kakinya sendiri beberapa kali. Dan itu tertangkap oleh penglihatan Ares. Jadi Ares memerintahkan untuk segera masuk saja ke kamarnya. Biarlah dia yang akan menemani tamu tamu yang lain. Karena di sana hanya tinggal sahabat karibnya juga saudara jauh. Tak enak jika meninggalkannya begitu saja.
Gendis mendongakkan wajahnya sedikit lalu berdiri tegak. Gendis awalnya menolak. Ia menggelengkan kepala tanda ia baik baik saja. "Sepertinya sudah mendingan." Jawab Gendis menolak. Ares tak banyak bicara tetapi ia hanya mengerutkan keningnya dan mengalihkan atensinya pada sebagian tamu yang masih tinggal.
"Hanya tinggal beberapa tamu saja. Biar saya saja yang pergi menemuinya. Kau bisa istirahat." Ucap Ares menatap ke arah sebagian tamu yang masih tinggal.
Ben tersenyum tatkala sahabatnya itu sedang melihatnya. Begitu juga Denis ikut menoleh ke arah Ares. Gendis memandang ke arah pandangan yang dituju Ares. Akhirnya Gendis pun pasrah dan memilih pergi ke kamarnya.
"Baiklah."
Gendis menuruni pelaminan dan masuk ke dalam rumah. Ia pergi dari sana di dampingi Wulan untuk membantu mengangkat roknya. Sementara Ares menemui Ben dan Denis.
"Hei bro." Ujar Ben saat Ares sudah dekat. Denis segera menoleh.
"Bang." Sapa Denis. Ares segera menepuk bahu Denis sekali kemudian ikut bergabung dengan mereka berdua.
Seorang pelayan kebetulan mendekat membawa minuman. Ares menghentikannya dan mengambil segelas jus orange.
"Ngomong-ngomong, selamat ya bro. Lo yang lebih dulu menikah." Ujar Ben. Ares melirik sedikit dan meminum jusnya.
"Hem, thanks." balas Ares dingin.
Kemudian tak membahas apa apa lagi selain membicarakan bisnis. Sementara Gendis sudah berada di kamarnya. Tubuhnya sudah terasa lengket karena keringat yang membanjiri tubuhnya sejak siang tadi. Jadi ia memutuskan untuk mandi dan melepas gaun pengantin yang masih melekat ditubuhnya. Ia memerintahkan Wulan untuk membukakan retsleting roknya yang bersembunyi di belakang punggungnya.
Selesai menghapus make-up nya Gendis menghabiskan waktu 20 menit di kamar mandi, kini ia keluar dengan wajah yang lebih besar. Ia mengenakan gamis dan belum sempat mengenakan kerudung. Ia masih duduk di depan kaca rias seraya menyisir rambutnya.
Ares telah selesai menemui tamu tamu terakhir. Ia sudah sangat lelah. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar pengantin. Berniat mandi dan segera istirahat. Jadi tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu karena ia tadi sudah datang kesana jadi ia tak perlu mencari kamar Gendis.
__ADS_1
Detik detik Ares mendorong pintu kamar Gendis. Gendis terkesiap karena kaget akan kedatangan Ares yang tak mengetuk pintu. Ares membelalakkan mata, juga sama terkejutnya. Kedua manusia itu saling menatap melalui cermin kaca.