Permataku

Permataku
Part 7


__ADS_3

Kita Tidak saling cinta


Saat berada di dalam kamar Ares segera melepaskan genggaman tangannya. Gendis sempat terkejut karena sikap Ares yang tiba tiba tak semesra tadi.


"Kita tidak saling mencintai. Ada perasaan yang harus saya jaga." Ujar Ares.


Gendis hanya menundukkan kepalanya. Terdengar suara adzan menandakan shalat isya. "Sudah waktunya shalat isyak. Kak Ares bisakah kakak menjadi imamku melaksanakan shalat isya." tanya Gendis. Meskipun ia kecewa dengan perkataan Ares. Ia harus tetap melaksanakan shalat sebagai umat muslim.


Gendis segera masuk ke dalam kamar mandi dan melewati Ares yang bergeming dari tempatnya. Gendis mengambil air wudlu meski air matanya hampir tumpah. Tetapi ia harus bertahan dan tetap kuat menghadapi kenyataannya.


"Kak Ares. Silahkan mengambil air wudlu. Aku akan menyiapkan alat sholatnya." Ujar Gendis dengan tersenyum.


Ares terpaksa harus melaksanakan shalat. Pria itu sudah lama tak melaksanakan apa yang di perintahkan Tuhannya. Membuat hatinya Tiba tiba merasa jauh. Tetapi sejak Gendis mengajaknya melaksanakan shalat tiba tiba Kekosongan di dalam hatinya perlahan terisi. Ares masuk ke dalam kamar mandi dan segera berwudlu.


Saat keluar dari dalam kamar mandi, Gendis sudah menyiapkan sajadah untuknya.


"Maaf saya tidak membawa sarung." Ujar Ares.


"Tidak apa apa, Kakak memakai celana panjang sudah cukup baik." Sahut Gendis. Ares mengangguk.


Mereka berdua langsung memulai shalat. Meskipun Ares tidak cukup terampil dalam membacakan ayat ayat sholat. Tapi sudah cukup baik bagi Gendis untuk memujinya.


Di akhir salam, Gendis segera menengadahkan tangannya meminta untuk menyalimi tangan Ares. Awalnya Ares merasa enggan, tetapi Gendis tetap menunggu. Akhirnya Ares mengulurkan tangannya dan bersalaman layaknya muslim. Gendis tersenyum dan mencium punggung tangan Ares dengan takzim.


"Kak Ares. aku besok masih bisa pergi bekerja kan?" Tanya Gendis.


"Hem, terserah kau. Dan sudah kukatakan sebelumnya. Dirimu adalah milikmu sendiri. Apapun yang kamu lakukan adalah milikmu sendiri."


"Terima kasih." Ujar Gendis. Ares menghembuskan nafas panjang dan beranjak dari atas sajadahnya. Gendis segera melipat mukenahnya dan merapikan sajadah. Kemudian menyimpannya.


Ares tidak langsung menuju ranjang melainkan menuju sofa yang berada di dalam kamar. Sementara Gendis langsung berselonjor di atas kasurnya sendiri.


"Malam ini, Saya tidak bisa melakukan hal layaknya malam pengantin baru. Jadi saya akan tidur disini."


Gendis langsung mendongakkan wajahnya, meskipun hatinya merasa kecewa. Tapi apa boleh buat, dia juga harus menghormati keputusan suaminya itu. Sebagai istri yang baik ia harus menerimanya sampai suatu saat nanti ia berubah pikiran.


"Baik, Aku mengerti." Gendis menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mematikan lampunya dan bersiap tidur.


Sementara Ares memandang Gendis dari atas sofa. Setelah merasa sangat mengantuk, ia pun terlelap dengan sendirinya.


Saat jam sepertiga malam, Gendis akan terbangun dan melaksanakan shalat malam seperti biasanya. Ia melihat Ares yang tertidur dengan lelap di atas sofa. Kakinya menekuk karena ukuran panjang sofa tidak sesuai dengan ukuran tubuh Ares yang terlampui tinggi.


Gendis merasa kasihan dengan posisi Ares yang seperti itu. Tetapi ia tidak bisa melakukan apa apa selain memberikannya selimut agar pria itu tidak kedinginan. Setelahnya ia masuk ke dalam kamar mandi dan berwudlu.

__ADS_1


Sebelum melaksanakan shalat tahajud, Gendis melirik pria yang tertidur di atas sofa sekilas. Dalam hati ia berdoa. 'Semoga suatu saat nanti hatinya akan terbuka dan menerimanya sebagai istri sepenuhnya.' Setelah itu, ia melaksanakan shalat tahajud dan mengaji.


Terdengar adzan subuh menderu melalui pengeras suara di masjid. Ares bergerak tak nyaman. Apalagi kakinya tertekuk. Terdengar samar samar suara orang sedang mengaji. Ares mengerjapkan matanya.


Di dalam hatinya, ia tak bisa tak memujinya. Selain muslimah yang taat. Dia juga perempuan solehah. Gendis segera mengakhiri mengajinya dan hendak melaksanakan shalat subuh. Saat mendongak ke arah sofa ternyata Ares sudah terbangun.


Gendis segera menutup Al Qur'an dan menyimpannya. "Maaf kak, jika suaraku membuat kakak terbangun." Ujar Gendis.


"Tidak. Sudah adzan subuh."


"Iya. Oiya, biasanya papa akan pergi ke masjid di dekat sini. Kak Ares mau shalat di masjid atau di rumah saja?" Tanya Gendis.


"Saya tidak terbiasa. Saya shalat di rumah saja."


"Baiklah."


Ares segera beranjak dari atas sofa menuju ke kamar mandi. Setelah berwudlu ia mengganti pakaiannya dengan kaos panjang berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam.


"Ayo kita mulai." Ujar Ares. Gendis mengangguk.


Mereka berdua melaksanalan shalat subuh secara bersama. Ares merasa dirinya sudah kembali ke jalan yang benar. Selesai melaksanakan shalat subuh. Gendis pergi keluar kamar membantu mama Sinta memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Saat sudah jam setengah tujuh, semua hidangan sudah tersaji di meja makan. Gendis berpamitan untuk melaksanakan mandi karena tubuhnya sudah berkeringat akibat berada di depan kompor sejak selesai subuh.


"Hem, sekalian ajak nak Ares buat turun sarapan bersama." Ujar Sinta.


"Ya." Balas Gendis, setelah mengucapkan salam, gendis segera berlalu menuju kamarnya.


Di dalam kamar, tampak Ares sedang sibuk membaca email yang dikirim sekertarisnya. Seharusnya pria itu masih mengambil cutinya selama seminggu tetapi merasa ada yang kurang jika hanya berdiam diri saja. Makanya dia menyuruh sekertarisnya itu mengirimkan beberapa file melalui pesan email.


Tok tok tok. Gendis mengetuk pintu sebelum masuk kekamar tak lupa memberi salam kepada siapapun yang berada di dalam kamar.


"Assalamualaikum." ucap salam Gendis. Di sertai dengan membuka pintu.


"Waalaikumsalam." Sahut Ares menyahut salam yang diucapkan Gendis.


Di balik cadarnya Gendis tersenyum. Sudah ada sedikit perubahan dari sikap Ares yang biasanya terlihat dingin dan datar.


Ares melirik sekilas kemudian berlanjut meneliti emailnya. Gendis segera masuk ke dalam kamar mandi karena dirinya sudah sangat lengket. Selesai mandi. Gendis sedikit berhias. Ares melihat Gendis yang duduk di hadapan kaca rias.


"Gendis." panggil Ares.


"Iya kak." sahut Gendis masih mengenakan gamis tapi belum mengenakan kerudung atau cadarnya seperti biasanya karena dia harus mengoleskan cream skincare terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaannya.

__ADS_1


"Apakah kau tidak gerah mengenakan pakaian seperti itu. Apalagi kau selalu menutupi wajahmu dengan ketat. Hanya tersisa mata saja." Tanya Ares dengan rasa penasarannya yang telah lama terpendam.


Gendis tersenyum sekilas lalu menggelengkan kepalanya. "Justru aku merasa tenang saat mengenakannya. Lagi pula dengan berpakaian seperti ini akan menjaga martabatku sebagai perempuan." Jawab Gendis sederhana tetapi membuat Ares merasa bangga.


Ares mengangguk. Setelah gendis menggunakan scinkare-nya ia langsung mengenakan kerudung tak lupa juga mengenakan cadarnya.


"Kak Ares. Mama dan papa menunggu kita sarapan. Ayo kita turun bareng." Ujar Gendis.


Ares segera menutup ponselnya dan beranjak dari duduknya. Keduanya segera keluar dan menuruni tangga. Kemudian mereka masuk ke ruang makan. Di sana sudah ada Sinta dan Vano yang menunggu di tempat makan.


"Selamat pagi pa-ma." Sapa Ares.


"Waalaikumsalam." Jawab Vano. Ares terhenyak sesaat kemudian ia mengulanginya dengan salam.


"Assalamualaikum." ucap Salam Ares.


Vano tersenyum. "Ayo nak Ares. Kita mulai sarapannya saja." Ajak Vano meskipun ada rasa ketidaksukaannya karena Ares menggunakan cara barat.


Gendis langsung mengambilkan nasi serta lauknya dan ia letakkan di hadapan Ares. Kemudian mengambil piring Ares dan mengisinya dengan nasi dan lauk untuk dirinya sendiri. Begitulah kehidupan keluarga Vano di setiap harinya.


"Nak Ares. Ini semua masakan Gendis loh."


Ares tersenyum lalu menoleh ke arah Gendis sekilas. Ia juga merasa bangga karena Gendis bisa memasak. "Iya ma." sahut Ares.


Mereka sekeluarga memulai sarapannya. Setelah selesai Gendis dan Sinta langsung merapikan piring kotor dan meletakkannya di wastafel. Sementara Ares dan Vano menuju ke ruangan tengah. Sinta segera menyeduhkan teh untuk menemani mereka berdua yang sedang ngobrol.


"Kamu masih ada cuti kan?" Tanya Vano memulai pembicaraan.


"Iya pa. Rencananya seminggu." Balas Ares. Vano mengangguk.


"Papa hanya ingin kalian menikmati masa cuti kalian dengan berbulan madu." Ujar Vano terus terang.


"Soal itu, saya belum memikirkannya."


Vano langsung terkesiap. "Kenapa tidak? Kalian adalah pasangan baru. Lebih bagus jika melaksanakan bulan madu. Dulu mamamu juga melakukan itu. Iya kan ma." Ujar Vano Lalu saat Sinta datang ia segera meminta persetujuan istrinya itu.


"Ih, papa apaan sih." sinta merasa malu jika masa mudanya diungkit.


"Sudahlah, mumpung kalian masih cuti. Gunakan waktu senggangmu dengan berbulan madu." Ujar Vano tegas.


"Pa, gak baik jika memaksakan kehendak orang. Maaf ya nak Ares." Ujar Sinta melihat Vano yang keras kepala dan memaksa.


"Ga apa ma. Memang sudah seharusnya." Jawab Ares tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2