Permataku

Permataku
Part 6


__ADS_3

Ternyata Kamu Cantik


"Si...Siapa kamu?" Tanya Ares terbata. Pasalnya dia adalah wanita yang sangat cantik bagai barbie. Rambutnya panjang dan tampak lurus. Kulit wajahnya tampak bersih dan mulus.


Gendis membalikkan badannya, punggungnya bersandar pada kaca rias. Tangan kanannya menggenggam sisir yang tadi ia gunakan. Gendis menoleh pada pintu yang masih terbuka.


"Tutup pintunya!" Lirih Gendis. Karena Ares masih terpana dengan kecantikan Gendis ia tak mendengarkan perintah Gendis. Gendis merasa sebal dan segera menuju pintu. Ares membelalakkan mata karena Gendis mendekatinya.


"Jangan mendekat, siapa kamu?" Ujar Ares panik. Gendis menghembuskan nafas panjang dan menutup pintu. Ares menganga karena ternyata gadis itu hanyalah menutup pintu.


"Aku istrimu kak. Kau tak mengenali aku." Ujar Gendis santai dan segera mengenakan kerudungnya.


Ares sangat malu tapi ia alihkan dengan menggaruk belakang kepalanya meski tidak gatal. "Saya tak tau." Ujar Ares.


Gendis sudah selesai mengenakan cadarnya. "Aku akan menyiapkan air hangat buat kakak." pamit Gendis.


Saat Gendis sudah berlalu ke kamar mandi. Ares menekan dadanya yang berdegup kencang. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman. "ternyata lebih cantik dari yang aku bayangkan." batin Ares berkelana.


Gendis sudah selesai menyiapkan air untuk Ares mandi. Melihat pintu kamar mandi bergerak. Ares mengalihkan pandangannya dan wajahnya kembali datar.


"Sudah disiapkan air hangatnya. Kakak bisa mandi sekarang."


"Ya." Sahut Ares datar. Ia beranjak dari atas sofa dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar suara air yang mengalir. Gendis sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Ares karena sebelumnya mama sofi sudah memberitaunya. Setelah itu Gendis pergi keluar kamar membantu menyiapkan makan malam sekeluarga.


Saat keluar kamar, Ares tak menemukan Gendis di sana. Jadi ia berganti pakaian yang sudah tertata rapi di atas kasur. Terdengar deringan keras dari ponsel milik Ares. Ares segera mendongak ke arah meja nakas. Terlihat nama Belle yang terpampang di layar telepon. Ares bergegas mengambilnya dan segera mengangkatnya.


"Halo Belle." Ujar Ares seraya berjalan keluar menuju teras balkon.


"Halo sayang. Bagaimana pernikahanmu? Lancar kan?" Ujar Belle dari sebrang telepon. "Ngomong-ngomong selamat atas pernikahanmu. Maaf aku tak bisa datang ke acara pernikahanmu. Saat ini aku berada di Los Angelles." Ujar Belle segera meminta maaf.


"Hem, semua lancar dan terima kasih ucapannya. Tapi kau tak bilang jika kau pergi keluar negeri." Ujar Ares.


"Soal itu." Belle mengangguk kepala pelan. "Aku lupa, karena keberangkatanku sangat mendesak. Jadi aku pikir lebih baik memberimu kabar setelah sampai. Lagi pula kau sedang mempersiapkan pernikahan aku takut mengganggumu." Ujar Belle.


"Apakah kau tak menyesal, aku menikah dengan gadis lain." Ujar Ares.


Belle melirik Sandi yang sedang duduk menyesap kopinya lalu tersenyum. "Ares. Cinta di dalam perjodohan belum tentu bisa bertahan. Sudah bisa di tebak jika kau tak mencintainya. Jika berpacaran saja masih putus. Maka pernikahan pun bisa bercerai."

__ADS_1


Saat ini, persiapan makan malam telah selesai di sajikan. Gendis segera menaiki tangga dan memanggil Ares untuk segera bergabung. Dia sudah mengetuk pintu terlebih dahulu tetapi tak ada jawaban apapun dari dalam kamar, ia pun masuk dan mencari Ares. Tapi sepertinya pria itu tak berada di dalam kamar. ia menoleh ke arah pintu kamar mandi, tapi sepertinya lampu kamar mandi sudah padam. Ia mencari ke teras balkon. Dan ternyata benar. Pria itu sedang berada di sana. Tetapi sepertinya sedang menelpon seseorang. Demi tidak mengganggu Ares, jadi Gendis menunggu di samping pintu.


"Kau benar." Sahut Ares tersenyum pahit.


"Sebentar lagi, aku ada pemotretan. Aku tutup dulu. Love you." Ujar Linda.


"Love you too." Balas Ares.


Gendis mendengar kata cinta yang keluar dari bibir Ares. Membuat hatinya bergetar. Mungkinkah pria itu memiliki kekasih sebelum menikah dengannya. Gendis mengusap matanya yang sudah menggenang di pelupuk mata. Kemudian ia segera menemui Ares.


"Kak Ares." Panggil Gendis.


Ares membalikkan badan menatap Gendis yang berdiri di ambang pintu, tangan kanannya menyimpan ponsel ke dalam saku celana.


"Ya, ada apa?" Tanya Ares.


"Makan malamnya sudah siap. Ayo kita ke bawah makan malam bersama." Ujar Gendis.


"Ya." Gendis berbalik dan keluar kamar. Ares masuk ke dalam kamar dan tak lupa menutup pintu teras balkon.


Ares tak menjawab selain menggenggam tangan Gendis. Gendis terperanjak dengan sikap Ares yang tiba tiba berbuat intim. Meskipun begitu di balik cadarnya, Gendis tersipu malu.


Kedua orang tua Gendis juga kedua orang tua Ares sangat senang melihat kedua anaknya sudah menjalin hubungan yang begitu dekat. Apalagi mereka saling menggenggam tangan satu sama lain. Mereka terlihat begitu akrab sedang menuruni tangga.


"Maaf, pa--ma. Kami terlambat." Ucap Ares meminta maaf kepada seluruh keluarga yang sedang menunggunya.


"Tidak apa nak Ares. Kalian pasangan pengantin baru. Kami maklum kok." Celetuk Sinta. "Iya kan jeng sofi." kemudian menoleh dan meminta persetujuan kepada besan barunya itu.


"Hem, iya jeng. Nak Gendis jangan malu malu." Sahut Mama sofi menimpali.


Gendis hanya tersenyum menimpali jawaban mertua barunya itu. "Ayo kita mulai saja makan malamnya." Sela Pak Vano.


Semua anggota keluarga saling melempar piring dengan menu yang mereka inginkan. Juga sesuai dengan kesukaannya. Para istri istri terbiasa melayani suami suami mereka. Begitu juga Gendis mengikuti aturan sesuai keluarga mereka. Sementara Serli menatap ketiga pasangan istri itu merasa sangat iri.


"Aku jadi pengen nikah deh." semua tangan yang saling mengulur di atas meja serempak terhenti. Tatapan mereka langsung tertuju kepada Serli. Denis yang berada di sampingnya langsung menjitak dahinya.


"Pletak."

__ADS_1


"Aduh." Pekik Serli mengelus dahinya yang terasa sakit. Semua yang berada di sana menggelengkan kepalanya.


"Serli, kau itu masih kecil. Belajar yang pintar baru nikah." tegur Ares.


"Benar kata kakakmu, kau baru saja kelas dua Sma sudah mau nikah." timpal Handoyo.


"Kan aku iri pa, kalian sudah punya pasangan sendiri sendiri." Serli mencebikkan bibirnya.


"Kalau gitu, lo siapin makanan buat gue aja. Biar serasa lo udah berpasangan." Celetuk Denis.


"Ih. Gak mau." Tolak Serli.


Di dalam ruang makan itu langsung tertawa. "Dasar jomblo." Ujar Serli.


… …


Keluarga Handoyo segera berpamitan pulang setelah selesai melaksanakan makan malam. Begitu juga Serli dan Denis sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. Setelah mobil Handoyo sudah menghilang di belokan ujung jalan, keluarga Vano barulah masuk ke dalam.


"Pa- ma gendis masuk dulu ya. Assalamualaikum." pamit Gendis.


"Waalaikumsalam."


Kedua pasangan itu langsung berlalu masuk ke dalam rumah. Vano dan Sinta saling menggandeng tangan. "seperti waktu kita dulu saat masih muda ya ma." Celetuk Vano.


"Iya pa." sahut Sinta yang matanya mulai berkaca kaca.


"Ma, gimana kalau malam ini kita mulai seperti masa muda dulu." Vano menatap Sinta dengan menaik turunkan alisnya..


"Hah, apa maksud papa." Ujar Sinta tak mengerti.


"Itu..." Vano mengulur ucapannya.


"Ih papa." Akhirnya Sinta tau apa yang di maksud suaminya itu. Sinta tersenyum malu malu. "gak malu apa sama yang muda." Sahut Sinta.


Vano tertawa. "Baiklah. Ayo kita masuk. Lagi pula papa juga gak sekuat masa muda dulu. Papa juga sangat capek mempersiapkan pernikahan anak kita." ujar Vano.


Sinta tersenyum. Kedua pasangan yang tak muda lagi itu masuk ke dalam rumah dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2