
Pergi Ke Toko
Setelah selesai mencuci piring. Gendis bergegas ikut berkumpul di ruang keluarga. Terlihat papa dan mamanya sedang berada di sana. Samar samar terdengar jika sang papa memaksanya untuk berbulan madu.
"Assalamualaikum. Papa mama lagi bahas apa?" tanya Gendis dan ikut nimbrung di acara obrolan mereka.
"Waalaikumsalam. Kalian kan pengantin baru seharusnya pergi bulan madu." ujar Vano dengan gagasannya.
"Oh, soal itu. Memang sih belum terencana." Gendis melirik sekilas ke arah Ares. Sepertinya papa Vano mendesak Ares untuk segera berbulan madu. Tetapi Ares juga belum memikirkannya.
Gendis tersenyum, lalu mengambil tangan kiri Ares untuk ia gengam. "Tapi kami akan segera pergi." ujar Gendis.
"Hem, baguslah." Ujar Papa Vano merasa puas dengan jawaban Gendis.
"Pa, ma. Gendis akan ke toko melihat rekapan terakhir sebelum Gendis pergi berbulan madu." Ujar Gendis sekaligus meminta izin.
"Bawa Nak Ares, kesana juga. Kasihan jika berada di rumah sendirian." Ucap Mama Sinta.
"Iya, ma. Papa- mama assalamualaikum." Ucap Gendis berpamitan.
"Waalaikumsalam." Balas Vano dan Sinta bersamaan.
Gendis mengajak Ares mengunjungi tokonya yang berjarak 5 km dari rumahnya. Hanya membutuhkan 15 menit saja untuk sampai di toko. Ares memarkirkan mobil hitamnya di area parkiran yang sangat luas. Ares terkagum dengan keadaan toko yang dimiliki Gendis.
Toko itu berada di pinggir jalan raya, tempatnya juga strategis. Selain dekat dengan pasar, juga dekat dengan tongkrongan anak muda. Baju yang terjual juga baju keluaran terbaru. Tidak terlalu mahal bagi kaum anak muda kelas menengah ke bawah.
Juga memenuhi standar anak muda yang kelas atas sampai menengah. Semuanya ada dan cocok sesuai dengan isi dompet mereka. Selain itu Gendis juga menyediakan pembelian secara online. Akan sangat mudah bagi pelanggan yang rumahnya jauh, bahkan mampu melayani luar kota sampai luar daerah.
Ares terkagum dengan sisi Gendis yang tersembunyi. Selain muslimah yang baik, dia juga pebisnis yang handal. Bahkan mampu menjaga harga dirinya begitu baik.
"Ayo kak, kita masuk." Suara Gendis mengalihkan atensinya yang mengagumi sosok Gendis. Ia kemudian melepas sepatunya seperti yang dilakukan Gendis yang melepas sendalnya. Kemudian masuk ke dalam.
"Assalamualaikum." sapa Gendis kepada seluruh karyawannya yang sedang bekerja di sana.
"Waalaikumsalam." balas serempak karyawan di sana. Jumlahnya ada lima orang.
"Eh, kak Gendis. Baru juga pengantin baru kemaren udah datang aja." Sumi pegawai lama berceletuk dengan riang.
"Iya Sumi, bagaiamana keadaan toko?" tanya Gendis kepada Sumi.
__ADS_1
"Seperti biasa kak Gendis. Tetap ramai. Padahal kemarin kan tutup. Tapi mereka tetap menunggu sampai toko buka." sahut Sumi.
"Alhamdulillah." balas Gendis. Ares menengok ke sana kemari karena di sana ada banyak tumpukan pakaian bahkan tempatnya hampir tak ada celah. Sementara di bawah merupakan toko pakaian yang tersedia jika ada remaja lewat bisa mampir. Sementara di lantai dua adalah rekapan bagi pelanggan yang memesan secara online. Dan di lantai tiga adalah kantor khusus Gendis.
"Kak Gendis kesini bawa lakinya ya?" Tanya sumi saat menengok ke arah belakang Gendis.
"Oiya, Sumi kenalkan. Suamiku namanya Kak Ares." Ujar Gendis lalu tangannya segera merangkul lengan Ares dan menariknya hingga mendekat di sampingnya.
"Assalamualaikum kak Ares. Namaku Sumi." ujar Sumi.
"Waalaikumsalam." balas Ares seraya mengulurkan tangannya tetapi ternyata Sumi tak membalasnya karena mereka bukan muhrim, Sumi hanya menyatukan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum.
Ares sempat tertegun dengan tindakan Sumi. Tetapi Ares juga melakukan hal yang sama. Benar benar ajaran yang baik yang diajarkan oleh Gendis. Semua karyawan Gendis juga mengenakan hijab tapi tak mengenakan cadar seperti yang Gendis lakukan.
"Itu Siti dan itu Wati." Gendis menunjuk ke arah karyawannya yang sedang duduk membungkus pakaian yang akan dikirimkan sore nanti.
"Assalamualaikum kak." sapa Wati dan Siti bersamaan."
Ares menganggukkan kepala seraya menyatukan kedua tangannya di depan dada. Layaknya orang muslim bersalaman tanpa bersentuhan.
"Sumi, Wati, Siti. Kakak akan naik ke atas. Kalian lanjutkan saja." ujar Gendis sebelum menaiki tangga menuju lantai tiga.
Gendis membalas salam mereka lalu mengajak Ares menuju lantai tiga. Di lantai tiga tersebut ada tiga ruangan yakni ruangan khusus kantor dan sebelahnya adalah ruangan istirahat.
"Tempatmu lumayan juga." Ares mengoreksi ruangan kantor yang biasa ditempati Gendis. Gendis sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya. Dia sedang mengecek beberapa laporan mengenai untung dan rugi hasil bulan ini.
"Hem iya kak. Terima kasih." Sahut Gendis seraya pandangannya meneliti sebuah lembaran.
"Kamu memulainya tahun berapa?" tanya Ares.
"Sejak SMA." Sahut Gendis.
"SMA?" lirih Ares hampir tak percaya. Karena biasanya di usia segitu seringnya menikmati masa masa putih abu abunya.
"Ya, Sejak kelas satu SMA tepatnya. Awal mula hanya berjualan On line saja yang di perkenalkan oleh Mbak Mega. Dia yang mengarahkanku, memberiku motifasi dan mengajariku cara berdagang di dunia maya.
Sejak saat itu, Aku sangat termotifasi apalagi mendapatkan uang gajiku yang pertama membuatku semakin bersemangat. Dari saat itu aku mengembangkannya hingga seperti ini." Sahut Gendis tampak bersemangat menceritakan awal mulanya berdagang atau lebih tepatnya menjalankan bisnis.
"Hem, bagus juga." Ujar Ares. "Dulu kau pasti sangat bersusah payah." lanjut Ares.
__ADS_1
"Tidak sepenuhnya. Karena dengan papa dan mama, semuanya akan menjadi lancar." sahut Gendis tersenyum. Ia tanpa sadar sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Oiya kak Ares. Rencana bulan madu. Kita akan kemana? Aku akan mengalihkan kerjaan kepada Sumi untuk bertanggung jawab selama seminggu ini." Ujar Gendis. Kemudian berjalan menuju ke dispenser yang tersedia di dalam ruangannya dan menyeduhkan secangkir teh.
"Soal itu, saya belum tau. Tapi jangan terlalu jauh." Sahut Ares.
"Bagaimana jika Bali?" Tanya Gendis selesai menyeduh teh dan meletakkannya dihadapan Ares.
"Menurut saya bagus juga." Sahut Ares, tangannya terulur mengambil gelas dan menyesap teh yang di sediakan oleh Gendis. "Ngomong-ngomong kau memiliki banyak rahasia."Ujar Ares tersenyum lebar. Gendis tersenyum malu malu.
"Kakak bisa aja." Sahut Gendis. Mereka berdua sedang menikmati teh di ruangan kantor Gendis hingga tanpa sadar sudah saatnya jam makan siang.
***
"Sudah siang!" Ujar Gendis seraya menatap jam yang tergantung di dinding.
"Ya, memang. Ternyata kita sudah terlalu lama duduk disini." Sahut Ares.
"Maaf kak, kakak jadi menungguku." Gendis menundukkan wajahnya.
"Tidak apa, lagi pula disini sangat bagus." Ujar Ares.
"Kalau gitu kita keluar mencari makan. Disekitar sini ada restoran kok. Biasanya anak anak juga memesan di sana." Ajak Gendis.
"Oke."
Ares dan Gendis menuruni tangga menuju lantai dua. Di sana Siti dan Wati sudah duduk bersandar memegang ponsel mereka.
"Siti, Wati." Mereka berdua segera mendongak ke arah sumber suara.
"Loh, kak Gendis masih disini?" Tanya Siti.
"Iya, Sumi mana?" Tanya Gendis.
"Sedang keluar pesen makanan."
"Oh, ya udah. Kita juga mau pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab mereka berdua serempak.
__ADS_1
Setelah itu. Gendis dan Ares menuju lantai satu. Kebetulan di toko lumayan ada dua pengunjung. Gendis tersenyum dan menganggukkan kepala kepada dua pegawai yang berjaga. Kemudian keluar dan menuju ke mobil yang terparkir tak jauh dari toko.