
Calon mempelai
Saat kerjaan Ares telah selesai, ia baru sadar ternyata hari sudah gelap. Ia menoleh pada jam yang tergantung di dinding ruang kerjanya. Saat ini sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ares segera merapikan meja kerjanya dan bergegas keluar.
Ares melajukan mobil Maybach hitam menuju ke sebuah butik ternama di jalan merpati. Untung saja toko tersebut masih buka. Ia segera masuk ke dalam dan di sambut baik oleh pelayan.
"Maaf mas mau cari gaun untuk pernikahan?" Tanya sang pelayan kepada Ares yang celingukan mencari seseorang.
"Tidak mbak, tadi ada seorang wanita bernama gendis atau sofi gak? Kesini?" Tanya Ares.
"Oh, nyonya Sofi sudah pulang mas, sekitar dua jam yang lalu." Jawab pelayan itu.
"Bagaimana dengan jas-nya apakah sudah dipilihkan. Kalau belum aku akan memilih sendiri."
"Soal itu ,sudah dipilihkan sendiri sama mbaknya."
"Baiklah mbak, terima kasih." ujar Ares.
Si pelayan pun berlalu. Ares segera keluar dari butik maledi dan pulang menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Ares tak menemukan kedua orang tuanya selain Serli dan Dennis yang berada di ruang televisi.
"Bang Ares." Celetuk Serli saat menemukan Ares berjalan masuk dengan wajah lelahnya.
"Mama sama papa kemana?" Tanya Ares seraya ikut duduk bersandar di sofa, tangan kanannya menarik dasi yang sejak tadi mencekiknya.
"Pergi mancing." Balas Serli.
"Bang, tadi ada perempuan nyariin abang, katanya nyari abang ke kantor gak ketemu." Ucap Denis.
"Siapa?" Tanya Ares mengerutkan keningnya.
"Gak tau, tapi jika dilihat porsi tubuhnya sepertinya artis." Jawab Denis.
Ares langsung menangkap sosok yang di maksud Denis. Ia pun naik ke atas menuju kamarnya.
"Memangnya siapa bang?" Tanya Serli.
"Gak tau." sahut Denis menaikkan bahunya acuh.
__ADS_1
Ares segera mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia pergi menuju teras balkon dan menghubungi Belle.
"Belle." Ujar Ares saat sambungan telepon telah tersambung.
"Ares, ada apa?" Tanya Belle.
"Tadi kau kesini mencariku." Tanya Ares.
"Hem, iya tadi aku mencarimu." sahut Belle.
"Ada apa mencariku. Apakah kau sudah merubah keputusanmu?" Tanya Ares.
"Tidak, hanya ingin mengajakmu makan malam saja." Sahut Belle.
Ares merasa kecewa dengan jawaban Belle. Tetapi ia tetap tenang dan bersikap seolah tidak terjadi apa apa.
"Aku baru saja pulang." Ucap Ares memberitaukan.
"Ya,"
"Belle, aku ingin tanya sekali lagi? Dengarkan aku baik baik. Ini yang terakhir kalinya aku mengingatkanmu. Sekali janji pernikahan ini di sebut. Hidup kita akan berubah. Belle. Kau yakin aku menikah dengan Gadis itu." Ujar Ares.
"Dua hari lagi aku akan menikah." Ujar Ares mengingatkan hari pernikahannya.
"Ya," sahut Belle tanpa beban.
Ares segera menutup telepon dengan gundah gulana. Ia benar benar akan menjalani pernikahannya. Tetapi Belle tetap kekeh dengan pendiriannya.
...----------------...
Pada akhirnya hari itu tiba. Sekali lagi ia menelepon Belle. Tetapi Belle sulit untuk dihubungi.
"Kenapa bro?" Ben menepuk bahu Ares. Karena sahabatnya itu terlihat gelisah. Ares sedang berada di taman belakang rumahnya. Sebelum pernikahan itu di laksanakan, ia ingin meyakinkan Belle bila saja keputusannya bisa di ubah. Tapi ternyata Belle malah menonaktifkan ponselnya.
"Ben, kapan kau datang?" Tanya Ares segera berbalik melihat Ben yang sudah lengkap dengan kemeja batiknya.
"Baru saja sampai, Lo kenapa sih Res. Pernikahan sudah di depan mata. Kenapa lo sangat gelisah banget?" tanya Ben menatap manik mata Ares yang tampak tak bahagia sama sekali.
"Aku mempunyai pacar, tapi pacarku menolak menikah denganku. Sampai papa menjodohkan aku sama gadis yang waktu itu." cerita Ares secara singkat.
__ADS_1
"Oh begitu." Ben sudah mengerti sekarang kenapa sahabatnya itu begitu gelisah dihari pernikahannya itu. Ternyata pacarnya tak mau menikah dengannya.
"Res, sepertinya Om handoyo sedang mencarimu. Ayo masuk. Sebentar lagi kita berangkat." Ujar Ben mengajak Ares masuk ke dalam. Apalagi ia sempat melihat om Handoyo sedang mencari cari keberadaan Ares.
Dengan berat hati, akhirnya Ares masuk ke dalam bersama Ben. Semua hantaran sudah siap sejak tadi. Hanya tinggal menunggu si pengantin lelaki untuk bisa pergi ke rumah mempelai wanita.
"Kau dari mana saja Res. Ini sudah waktunya kita berangkat." Ujar Handoyo saat melihat putranya masuk ke dalam rumah.
"Cari angin bentar pa." Jawab Ares.
"Sebagai calon pengantin kan gugup om, jadi harus sedikit santai bentar biar gak gugup." celetuk ben membuat suasana hati Handoyo menjadi tak marah lagi. Handoyo tersenyum dan mengajak semuanya agar segera bersiap.
Semua pengiring lelaki segera masuk ke dalam mobil mereka masing masing termasuk sanak saudara yang ikut mengantar.
...----------------...
Di sebuah rumah sederhana, Terjadi kehebohan para bapak bapak dan ibu ibu yang menyambut mempelai lelaki datang. Mereka sudah mengenakan pakaian rapi juga berjajar di pinggiran dekorasi rumah pengantin.
Mereka secara antusias ingin melihat calon mempelai lelaki. Sementara dikamar calon mempelai wanita gendis merasa gugup. Apalagi ini baru pertama kalinya ia melaksanakan pernikahan.
Dengan berbalut gaun syar'i berwarna putih, juga riasan yang sangat natural membuat dirinya semakin cantik ditambah lagi dengan aksen mahkota kecil di atas kepalanya. Membuat dirinya terlihat sempurna.
Gendis di dampingi oleh kedua saudaranya. Tangannya terasa dingin meski berbalut kaos tangan. Atik saudara sepupunya sedang berjaga di depan jendela kamar Gendis. Melihat segala sesuatu dari atas. Saat melihat ada iring iringan mobil melaju, Atik berteriak kencang.
"Mempelai lelaki sudah datang." Pekik Atik dengan girang lalu berjalan menuju gendis yang masih duduk dengan tenang tetapi ia sebenarnya sangat gugup sekali.
"Kak gendis, calonmu sudah datang." lirih Atik dihadapan gendis membuat ia semakin gugup. Di balik cadarnya ia tersenyum lembut.
Iring iringan mempelai lelaki sudah datang, Ares di dampingi Sofi dan Handoyo di kanan kirinya, sementara yang lain berada di belakang mengantri untuk masuk. Terdengar pujian dari mulut para ibu ibu yang dapat melihat dengan jelas wajah mempelai lelaki. Mereka tersenyum girang dan mengatakan jika si mempelai seperti artis korea.
"Bu. Kayak artis korea ya. Ganteng."
"He-eh bu, aku juga mau, nanti anakku di nikahi lelaki seperti ini."
"Eh, bu. Mana mungkin dia mau kawin sama anakmu. Memangnya mau anakmu di madu." celetuk ibuk di sampingnya.
"Bukan begitu bu, maksudnya mencari lelaki yang gantengnya seperti artis korea." Jawab ibu itu
Ketiga wanita itu malah tertawa. Membuat suasana semakin riuh saja. Ares dan semua pengiring lelaki telah duduk mengisi semua tempat duduk, termasuk tetangga dan sanak saudara yang diundang oleh keluarga gendis.
__ADS_1
Acara ijab kabul pun akan segera di mulai. Penghulu juga sudah mulai datang. Ares di hadapkan dengan pak penghulu. Tiba tiba ia merasa sangat gugup. Meski pernikahan ini bukanlah keinginannya tetap saja ia merasa gugup.