
Ares melajukan mobilnya ke sebuah restoran terdekat. Ares dan Gendis masuk dan duduk di sebuah kursi yang masih kosong. Kebetulan restoran saat siang sangat ramai. Banyak di antara mereka adalah pemuda pemudi pekerja kantoran.
Gendis memesan makanan yang biasa ia pesan. Lalu mendongak mempertanyakan makanan buat Ares. "Kak Ares mau pesen apa?" tanya Gendis.
"Disini tersedia apa saja?" Tanya Ares.
"Bebek goreng, Ayam bakar, plecing kangkung, tempe penyet, terong sambel pedas."
"Ayam bakar saja, es nya es jeruk."
"Oke. Tunggu sepuluh menit makanan akan disiapkan."
"Terima kasih."
Waiters pun pergi melayani pelanggan lain. Ares melihat sekitar restoran itu yang penuh. "Ternyata disini sangat di senangi orang." Gumam Ares.
"Disini selain harganya yang terjangkau juga rasanya tak kalah dengan restoran mewah. Makanya mereka sering berburu kuliner kemari. Termasuk mereka para pekerja kantoran." Gendis melirik ke arah sebelahnya.
"Hem, bener juga."
Tak berapa lama pesanan makanan mereka telah tersaji. Mereka makan dengan tenang. Ares membelalakkan mata karena terkejut. Memang benar dengan ucapan Gendis. Makanan disitu tak kalah jauh dengan masakan restoran. Gendis tersenyum di balik cadarnya. Dia juga menikmati makanan yang selalu ia pesan.
Setelah selesai makan, mereka segera pulang. Saat sampai di rumah sekitar jam 2 sorean. Ares langsung masuk ke dalam kamar, ia merasa sangat lelah jadi ingin istirahat sebentar. Sementara Gendis melihat Sinta sedang membuat kue di dapur. Ia langsung masuk ke sana dan membantu Sinta.
*
Belle baru saja kembali dari fashion show, melepas sepatunya seraya duduk di tepian ranjang.
"Apa kau lelah?" suara sendi membuat wanita itu tersenyum. Terlihat pria itu baru keluar dari dalam kamar mandi. Dia terlihat lebih segar.
"Ya." Balas Belle.
"Hem," Sendi melepas handuknya akan mengganti pakaiannya. Tetapi sebuah tangan ramping melingkar di pinggangnya. Sendi menoleh, melalui sudut matanya Belle sedang merangkulnya.
"Mungkin Ares sudah melakukan malam pertamanya dengan wanita itu." Ujar Belle.
"Apa kau cemburu?" tanya Sendi.
"Tidak juga, tapi ada sedikit tidak rela."
Sendi berbalik hingga mereka berdua saling berhadapan. Dagu Belle ia dongakkan dengan jemarinya. "Jika kau tak mau melepaskannya kenapa kau mengijinkannya bersanding dengan wanita lain." ujar Sendi lembut.
__ADS_1
"Entahlah." Belle memalingkan wajahnya. Berjalan ke arah meja dan menuangkan segelas anggur.
Sendi mengenakan boxernya kemudian berjalan menuju Belle yang sedang menikmati anggurnya. Ia juga menuangkan anggur lalu menyesapnya.
"Aku bisa menyenangkanmu, kenapa kau masih mengharapkannnya." Belle menengok ke arah Sendi dan tersenyum lembut.
"Kau memang yang paling tau." Belle meletakkan gelasnya di atas meja. Mendekat ke arah Sendi dan memulai aksinya. Begitu juga Sendi langsung memagut bibir Belle yang selalu membuat candu dirinya. Mereka saling menyalurkan birahi mereka satu sama lain.
...----------------...
Seusai melaksanakan makan malam, Ares dan Gendis menuju kamar. Gendis melakukan persiapan untuk pergi berbulan madu. Sementara Ares duduk bersila di atas ranjang seraya meninjau beberapa file yang baru saja dikirim Rian.
"Semuanya sudah siap dalam satu koper kak."
"hem." balas Ares dengan berdehem.
Selesai meletakkan koper di samping pintu, Gendis mendekat ke ranjang. "Kak, apakah menjadi CEO itu melelahkan?" tanya Gendis.
"Tidak juga. Kenapa?" jawab Ares tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya sapa tau jika kelelahan, aku akan siap memijat punggung kakak." Kelakar Gendis.
Ares tersenyum tipis. "Saya sudah selesai. Silahkan kamu tidur." Ujar Ares seraya beranjak dari atas kasur menuju sofa.
"Hem." sahut Ares.
"Apa kau tidak merasa sakit? tidur di sofa itu. Sofa itu terlalu kecil buat kakak tiduri." Ujar Gendis.
"Tidak. Saya sudah terbiasa. Besok kita berangkat sebaiknya kita cepat tidur." Ujar Ares.
Gendis mengangguk. Lalu segera mematikan lampu. Saat di pagi harinya. Ares dan Gendis sudah bersiap pergi menuju bali. Sebelumnya mereka sudah berpamitan kepada Handoyo dan Sofi. Dan hari ini mereka pergi ke bandara.
Perjalanan menuju Bali memerlukan waktu satu jam lima puluh menit. Saat tiba di sana sudah jam 12 siang. Ares dan Gendis menuju ke sebuah restoran terlebih dahulu untuk melakukan makan siang.
Setelah itu melanjutkan kembali ke hotel di daerah kuta. Hotel itu menghadap langsung ke pantai persis dengan apa yang di citakan Gendis saat dulu. Gendis langsung membuka tirai jendelanya dan keluar menuju teras balkon.
Menikmati sepoi angin yang menerpa wajahnya. Bahkan kerudungnya ikut melambai saat angin itu berhembus terlalu kencang. Ares setelah meletakkan kopernya ia mengikuti gendis yang berdiri di teras balkon.
"Bagus sekali." Gumam Gendis tersenyum di balik cadarnya.
"Apa kau suka?" Tanya Ares.
__ADS_1
"Ya, setelah ini. Aku ingin berjalan jalan di sekitar pantai. Pasti banyak turis di sana dan aku ingin berfoto dengan salah satu bule di sana sebagai kenang kenangan." Ujar Gendis dengan antusias.
Ares mendengarnya seakan sangat kampungan. Ia mengerutkan wajahnya dan terus menatap keluar.
"Ini pertaman kalinya, aku bisa pergi ke Bali." Lanjut Gendis.
…
Saat sore. Ares menemani Gendis pergi jalan jalan di sekitar pantai kuta, selain banyak turis yang sedang bermain ski air juga ada banyak sekali turis yang masih berjemur di bawah sinar matahari.
Gendis tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia terus tersenyum melihat para bule bule itu berada di sekitar pantai. Ia juga terus berjalam di atas pasir tanpa alas kaki. Melainkan sendal yang ia pakai tadi sudah ia tenteng.
Ares hanya menemaninya dan terus berjalan. Gendis seolah tak memiliki rasa lelah sama sekali terus berjalan jalan di sekitar pantai. Saat ada pedagang keliling Gendis menghentikannya. Ia melihat lihat dagangan yang di jual oleh pedagang keliling itu. Yaitu gantungan kunci yang menarik perhatian Gendis. Ia membeli lima gantungan kunci buat oleh oleh anak buahnya.
Selesai membayar ia memasukkannya ke dalam saku gamisnya dan kembali berjalan.
"Ka Ares." Gendis menengok ke belakang.
Ares yang berjalan di belakangnya mendongak ke arah Gendis. "Hem."
"Kita sekalian melihat sunset disini. Pasti bagus. Aku sudah lama tidak pernah melihat." ujar Gendis.
"Ya." Sahut Ares sembari mengangguk
Gendis berjalan ke arah pantai, Ares hanya menyaksikan gendis yang suka bermain air dari kejauhan. Gendis terus mengejar ombak saat ombak pergi menjauh dan berlari menghindar saat ombak mulai menerpa kakinya.
Ares yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Ia duduk di atas pasir tanpa menggunakan alas. Ditangannya Masih memainkan ponselnya seraya melihat kelakukan gendis sesekali.
Saat sudah jam lima lebih. Gendis sudah merasa lelah. Ia menengok ke samping. "Kak Ares!" Panggil Gendis.
Ares hanya mendongak sebentar dan kembali melihat layar ponselnya. Gendis merasa kesal dan mencebikkan bibirnya. Ia berlari ke arah Ares dan mengambil lengannya.
"Gendis!"
"Sebentar saja." Ujar Gendis lalu membawanya hingga ke tepi pantai.
Gendis menuliskan sesuatu di atas pasir, tapi sering kali tulisan itu terhapus oleh ombak. Ares memperhatikan tingkah Gendis yang selalu saja kesal. Lalu ia bergerak dan membawanya agak sedikit menjauh.
"Disini saja. Tak akan kena ombak." desis Ares.
Gendis segera menulis kata lagi. Kemudian mencari orang yang lewat untuk memotret dirinya bersama Ares. Gendis segera menggamit lengan Area dan berpose. Orang yang di mintai tolong pun mengambil beberapa jepretan lalu mengembalikan ponsel kepada Gendis.
__ADS_1
Gendis tersenyum tatkala melihat hasil jepretan orang itu. Lalu mengirimnya ke medsos.