Permataku

Permataku
Part 3


__ADS_3

Fitting Baju


Sesampainya Gendis di rumah, Gendis sudah di sambut oleh papa-nya. "Gendis bagaimana tadi?" Tanya Vano.


"Gimana ya....?"Ucap Gendis menggoda Vano yang penasaran akan pertemuannya dengan lelaki pilihan Vano. Gendis tersenyum di balik cadarnya.


Vano masih menatap gendis dengan tatapan serius menanti jawaban dari putrinya itu.


"Ganteng pa. Seperti artis korea." sahut Gendis membuat Vano merasa kesal dengan jawaban gendis.


"Eh,Kamu itu,,,, ditanya malah jawabnya menyamakan Ares sama artis korea. Yang benar gendis." Ujar Vano menggeleng pelan


"Hehe. Iya deh pa." Akhirnya gendis menganggukan kepalanya tanda setuju. Membuat Vano merasa senang sekaligus lega karena jawaban putrinya sangat memuaskan bagi Vano.


Vano kembali menggelengkan kepala dengan tingkah putrinya yang senang bermain menggoda dirinya. Ia kemudian meraih koran dan membacanya. Kemudian Sinta keluar membawa camilan berupa gorengan.


"Ada apa ini kalian berdua sedang bertengkar." terdengar Sinta menegur kedua manusia yang sedang duduk di sofa ruang televisi.


"Eh mama, gak ada kok. Gendis baru saja pulang. Kayaknya aku bau banget deh. Ma--Pa. Gendis ke kamar dulu ya. Assalamualaikum." Ucap gendis seraya mencium bau badannya sendiri di barengi pamitan kepada kedua orang tuanya menuju kamarnya.


"Waalaikumsalam." jawab Vano dan Sinta bersamaan.


Vano segera melipat korannya sementara Sinta langsung menyajikan camilan ke atas meja dan duduk di samping Vano.


"Ternyata Gendis sudah besar ya ma." Celetuk Vano seraya mengambil gorengan di atas piring dan menggigitnya.


"Iya, pa, ternyata kita sudah hidup selama 25 tahun. Dulu masih bayi kita gendong gendong. Sekarang rasanya waktu berlalu begitu cepat." sahut Sinta.


"Iya." sahut Vano mengangguk seraya menikmati kelezatan gorengan yang di masak oleh istrinya itu.


**


Hari hari berikutnya baik Ares ataupun Gendhis melakukan aktifitasnya seperti biasa. Saat ini Ares sedang menundukkan wajahnya meneliti dokumen yang sedang ia tinjau.


"Bos. Pak Handoyo memberitau saya harus mengingatkan bos buat fiting baju." Ujar Rian seraya masuk ke dalam ruangan Ares.


"Harus sekarang ya. Aku masih sibuk." Ujar Ares masih menunduk membaca dokumen dengan teliti.


"Iya bos. Jika saya tidak bilang. Saya akan dipecat bos." Ujar Rian meringis.


"Sebenarnya siapa bos kamu. Papa atau aku." Ujar Ares kesal seraya menatap Rian.


"Ya bos lah. Tapi jika pak Handoyo mengancam, saya juga takut bos. Kan sekarang sangat sulit cari kerjaan." Ujar Rian.

__ADS_1


"Haist." Ares mendesah pelan.


Tak lama setelahnya terdengar deringan telepon, sehingga Ares harus mengalihkan atensinya ke arah ponsel di sampingnya.


"Keluarlah." Ares melambaikan tangan ke arah Rian. Rian pun keluar seraya menutup pintu.


Ares segera mengangkat ponselnya dan meletakkannya di kuping kirinya, sementara matanya kembali meninjau dokumen yang belum selesai ia teliti.


"Halo ma." Sahut Ares.


"Eh, Res. Kau di mana? Kamu sudah diberitau sama Rian kan kalau hari ini harus fiting baju." Ucap Sofi mama Ares.


"Hem. Masih dikantor ma. Sekarang aku belum bisa ma. Nanggung, masih ada kerjaan yang belum selesai." Ujar Ares tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ehh, kamu ini gimana sih. Penting mana kerjaan sama pernikahanmu? Besok pernikahanmu sudah mau digelar loh. Lagian ini sudah ada gendis dan mamanya disini nungguin kamu. Buruan datang." Ujar Sofi.


"Tunggu satu jam lagi ma. Ini bener bener penting buat kelangsungan perusahaan juga." jawab Ares.


"Anak ini, ya sudah. Kalau udah kelar buruan kesini." Ucap Sofi kemudian menutup telepon.


Ares kembali meletakkan ponsel di sampingnya dan melanjutkan kerjaannya. Sementara Gendis, Sinta dan Sofi masih menunggu kedatangan Ares di butik Maledi.


"Maaf ya jeng Sinta. Sepertinya Ares akan sedikit terlambat. Bagaimana jika kita pilih pilih gaun dulu." Ujar Sofi seraya meminta maaf kepada calon besannya karena sudah menunggu terlalu lama.


"Gak apa lah jeng Sofi. Lagi pula, nak Ares kan CEO perusahaan. Wajar saja jika terlambat." Ujar Sinta memakhlumi kerjaan Ares.


Mereka bertiga pun memilih gaun yang pas buat Gendis. Sembari memilih juga mencari gaun termahal di toko itu.


Kini pandangan gendhis terpaku pada salah satu gaun yang tersimpan di dalam kaca. Tidak terlalu mewah. Sangat cocok buat gendhis. Apalagi Gaun itu terlihat sederhana tetapi elegan jika dikenakan.


"Yang ini saja mbak." Ucap Gendis memberitaukan kepada pelayan toko Maledi.


"Baik mbak." Ujar Pelayan itu kemudian membuka pintu kaca dan dibantu dengan kedua temannya, pelayan itu mengambil gaun yang di minta Gendis.


Gendis masuk ke sebuah ruangan ganti diikuti tiga pelayan tadi yang akan membantu mengenakannya. Setelah beberapa lama menunggu. Akhirnya gendis keluar dengan gaun yang ia coba.


Sofi maupun Sinta sangat terpana dengan gaun yang dikenakan gendis, dan membuat kecantikan Gendis bertambah kali lipat meski tertutup oleh cadar. Benar benar sangat bagus dan cocok di tubuh gendis.


"Bagus sekali. Sangat cocok di kamu sayang." puji Sofi tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.


"Iya, bagus sekali." Sahut Sinta ikut memuji putrinya.


Gendis merasa senang karena keduanya sudah merasa cocok dengan pilihannya. "Langsung bungkus saja." celetuk Sofi.

__ADS_1


"Baik bu." Ujar si pelayan.


Gendis dan ketiga pelayan itu kembali masuk ke dalam ruang ganti. Sementara Sofi dan Sinta menunggu gendis mengganti pakaiannya. Tak berapa lama gendis keluar bersama ketiga pelayan. Sembari menunggu Sofi kembali lagi menelepon Ares.


"Sebentar jeng, saya harus menelepon Ares. Biar kita cepet selesai fitting bajunya." Ujar Sofi.


"Silahkan jeng." Jawab Sinta.


Sofi pun agak menyingkir dari tempat Sinta dan gendis duduk. Setelah di rasa cukup jauh, sofi mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ares.


"Ares!" ucap Sofi tatkala sambungan telepon telah tersambung.


"Mama. Ada apa?" Tanya Ares dari sebrang telepon.


"Kamu ini gimana sih, kok belum nyampai juga." Tegur sofi pada putranya itu.


"Ini ma, masih ada kerjaan penting. Lagi pula bentar lagi ada mau ketemu klien."


"Halah alasan aja kamu ini, mama gak enak ini sama jeng Sinta solanya nungguin kamu, ini sudah sejam loh. Buruan kesini." Ujar Sofi.


"Sepertinya gak bisa ma, mama pilihin aja. Apapun pilihan mama. Ares pasti suka kok." Jawab Ares.


"Kamu..."


"Sudah ya, ini kliennya sudah datang." Sela Ares.


Sofi pun merasa kesal karena Ares tak jadi datang. Sofi hanya menghela nafas dan kembali ke tempat Sinta dan Gendis menunggu.


"Sepertinya Ares gak bisa datang deh jeng." Ujar Sofi sendu.


"Ya udah jeng gak apa apa. Lagian nak Ares lagi kerja." Ujar Sinta tersenyum seraya menggenggam tangan Sofi agar tak sedih lagi.


"Sekali lagi maaf ya jeng." Ucap Sofi mengulangi perkataannya.


"Iya."


Akhirnya. Gendis yang memilihkan jas lengkap dengan set celana dan kemeja berwarna putih. Tak lupa juga dasi yang berbentuk kupu kupu, akan sangat cocok jika dipadukan dengan gamis syar'i yang nanti akan dikenakan gendis.


Selesai fitting baju, Sofi berpisah dengan Sinta maupun gendis. Sesampainya di rumah, sofi merasa kesal karena merasa di permalukan oleh Ares.


"Kenapa ma, kok wajahnya ditekuk begitu?" Tanya Handoyo saat melihat wajah istrinya tak sebaik tadi saat berangkat.


"Ares pa. Ares gak datang ke butik Maledi dan itu membuat mama malu sama Jeng Sinta. Mereka bahkan rela nunggu hampir dua jam." Ujar Sofi seraya mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Anak itu. Ya sudah lah ma, sekarang kan sudah dapet gaunnya Lebih baik mama pergi mandi, dan kita pergi mancing." Ujar Handoyo menghibur istrinya.


"Sebenarnya Mama lagi gak mood pa, tapi demi papa. Baiklah." Sahut Sofi membuat Handoyo tersenyum. Sofi pun pergi mandi, tak lama setelahnya kedua pasangan yang tak lagi muda itu pergi ke pemancingan.


__ADS_2