Pernikahan Yang Sekarat

Pernikahan Yang Sekarat
Tatangan: 1


__ADS_3

Amanda, gadis muda yang digadang-gadang memiliki banyak keberanian ini telah menemukan kesulitan yang tidak biasa. Oh! Demi tuhan, sekarang dia harus tidur bersama seorang lelaki tampan? Mimpi apa Amanda semalam?


Wanita manis itu menepuk-nepuk pipinya. Sekali, dua kali, dan baiklah … ini nyata. Atas taruhan yang telah dibuat oleh teman-temannya dan atas hadiah sebuah mobil mewah, ini bukanlah hal sulit walau lelaki yang ditargetkan adalah seorang om-om muda nan kaya. Pram, seorang lelaki yang dirumorkan telah berusia dua puluh sembilan tahun. Dengan daya pikat yang luar biasa, mampu merobohkan jantung hati perempuan.


Tidak masalah, semua akan berakhir baik-baik saja.


Setelah semuanya beres, Amanda yakin tidak akan terlewat sedikit pun. Pertama, minuman yang telah diberi obat tidur itu akan bekerja dalam waktu sepuluh menit. Dan setelahnya … uh, itu akan terjadi hal yang manis.


Amanda cepat-cepat menggeleng. Tidak, tidak, hanya membutuhkan sebuah foto. Sebuah foto yang bisa membuat Amanda memiliki mobil mewah itu. Baik Amanda, pastikan detak jantungmu tidak berantakan. Dia bersembunyi di tempat yang sekiranya aman. Walking closet. Tentu saja itu satu-satunya cara yang bisa dia pilih kali ini.


Tidak membutuhkan waktu lama, targetnya sudah datang. Berharap segera meminum sebuah air di meja samping ranjang. Bukan hal yang mudah untuk menembus keamanan kamar seorang Pram. Beruntung, badannya yang kecil dan ramping itu mampu menyelip di berbagai sudut. Dengan kepintaran yang maksimal, Amanda bisa berakhir di kamar itu dengan aman. Sangat aman.


Bisa dikatakan ini sebuah anugrah dari dewa. Amanda menjadi saksi---entah wanita yang keberapa---melihat tubuh Pram yang begitu menggoda: atletis, seksi, dan … menggairahkan. Oh ayolah Amanda, fokus pada tujuanmu!


Pram baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk, memamerkan lekukan tubuh. Itulah yang membuat Amanda gagal fokus. Baru kali ini Amanda melihat lelaki sesempurna itu. Teman-teman Amanda tidak pernah memiliki tubuh yang seperti itu. Mungkin ada, tetapi Amanda tidak mengetahuinya dengan pasti.


“Cepat minum dan biar aku menyelesaikan tantanganku,” ucap Amanda dengan lirih.


Selama ini, seorang Amanda tidak pernah melewatkan tantangannya. Sebagai gadis yang tangguh dan pemberani, putri seorang pengusaha di bidang kuliner yang memiliki banyak cabang. Lalu, siapa Pram? Anak tunggal sekaligus kesayangan pemiliki perusahaan di bidang pertambangan. Sudah bukan main lagi kekayaannya.


Dan ya, haruskah Amanda berterima kasih kepada teman-temannya karena sudah memberikan  tantangan seperti ini?


Baik, biar nanti Amanda pikirkan baik-baik.

__ADS_1


“Bagus!” Amanda nyaris berteriak ketika Pram minum. Sebentar lagi, mobil mewah itu akan sampai di pelukan Amanda.


Amanda masih meringkuk di pojokan. Beruntung Pram tidak menyalakan lampu jika tidak, maka semuanya akan berantakan. Sabar Amanda, semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Segera ambil foto dan kabur.


Ketika Amanda merasa Pram telah tertidur, barulah dia mengendap-endap untuk mendekat. Semakin dekat, Amanda merasa hatinya berdegub kencang. Ini bukan cinta! Tetapi ketakutan. Amanda tidak mau mendapatkan resiko jika rencananya ini gagal.


“Tuan Muda Pram, maafkan aku karena mengambil foto denganmu diam-diam. Jika nanti kau meminta pertanggungjawaban, aku akan bertanggung jawab,” ucap Amanda lirih ketika mendekati Pram yang sedang terbaring di kasur. “Tenang Amanda, ini demi taruhan dan mobil.”


Amanda benar-benar melakukannya sekali. Dia tidak ingin mendapat resiko. “Terima kasih, Tuan Muda,” bisik Amanda di telinganya.


Sayangnya, tidak semudah itu. Mata Amanda melotot ketika ada sesuatu yang menghalanginya. “Mau ke mana?”


Suara itu jelas dan Amanda menduga siapa pemiliknya. Semakin keraslah debaran jantungnya. Amanda memejamkan mata. “Tuan Muda, dengar … aku tidak melakukan apa pun. Aku juga tidak menggodamu, jadi mohon maafkan aku.”


Pram sedikit menurunkan tubuhnya; mensejajarkan diri dengan Amanda yang masih terpejam. Nafas Amanda menjadi tak karuan. Yang dipikiran Amanda sekarang adalah penjara dan polisi. Dia akan berakhir di dalam penjara. Aah, tidak! Amanda masih muda, dia tidak ingin menjadi narapidana.


“Kau berani masuk ke kandang singa. Aku pikir kau juga sudah tau siapa aku, ya, itu sudah jelas. Kalau tidak kau tidak hadiah taruhannya tidak sebesar itu,” ucap Pram, kali ini dia yang berbisik di telinga Amanda.


Pram sudah curiga, hidungnya tidak pernah bisa dibohongi perihal obat-obatan. Pram pernah belajar tentang obat-obatan ketika neneknya sakit dulu. Saat itu, Sang Nenek sudah mengidap penyakit dan dokter angkat tangan. Sejak saat itu, Pram mempelajari obat-obatan sendiri berharap dia bisa menemukan obat yang tepat untuk sang nenek. Sayangnya, terlambat. Sisa-sisa dari pembelajaran itu masih ada.


“Biarkan aku pergi, Tuan Muda,” pinta Amanda.


“Tidak, Sayang. Kau harus menemaniku malam ini,” ujar Pram membuat Amanda membuka matanya.

__ADS_1


Amanda terkejut. “Apa? Tidak! Kau pikir aku wanita murahan? Bahkan sampai sekarang belum ada lelaki yang berani menyentuhku.”


Amanda bangkit dari kasur, tetapi lagi-lagi Pram bergerak cepat dan membanting Amanda lagi. “Kalau begitu biarkan aku menyentuhmu terlebih dahulu. Anggap ini bayaran yang kau berikan untukku.”


“Tidak!” Amanda berkilat marah. “Seorang Amanda tidak pernah membiarkan kehilangan harga diri. Ingat, Pram! Amanda ini tidak pernah membiarkan orang lain bertindak terhadap diri sendiri sesuka hati atau tanpa persetujuan. Termasuk kau!”


Jari telunjuk Amanda melayangkan sorotan tajam pada Pram, membuat Pram mengangkat salah satu alisnya. Baik, kali ini Pram merasa telah menemukan lawan yang sepadan. Bukankah lebih baik wanita yang dihadapannya ini tidak terlepas begitu saja?


Tidak, tidak! Tidak untuk saat ini, tetapi waktu itu akan datang sendiri nanti saat Pram juga benar-benar menginginkan Amanda agar berada di dalam kendalinya.


Pram bangun dari ranjang dan mendekati Amanda dengan perlahan-lahan. Amanda tidak bergerak, dia masih di


tempat. “Apa yang ingin kau lakukan, huh?” tanya Amanda.


Pram merangkul pinggang Amanda dan mengeratkannya. “Ingat! Kau akan berakhir di dalam pelukanku. Aku selalu mendapatkan apa yang diinginkan, termasuk wanita. Itu juga berlaku untuk kau, Sayang.” Pram hendak mencium Amanda, tetapi Amanda berhasil menghindar.


“Maka dengarkan aku, Pram. Aku juga tidak pernah gagal membuat lelaki putus asa ketika mengejarku. Aku selalu


dengan mudah membuat mereka mundur,” jelas Amanda.


Pram tertawa sinis, lantas berbisik, “Bukan aku, tapi kau yang akan mengejarku, Sayang. Pram tidak pernah mengejar seorang wanita, tetapi wanita yang selalu mengejarku terlebih dahulu.”


Amanda tertawa, lalu memandang mata Pram dengan dalam. “Baik! Mari kita bertaruh dan membuktikan ucapan siapa yang benar. Aku tidak pernah kalah dalam setiap pertaruhan.”

__ADS_1


__ADS_2