Pernikahan Yang Sekarat

Pernikahan Yang Sekarat
Kebencian: 3


__ADS_3

Amanda merasa gerakan Pram semakin tak karuan. Ketika tangan kanannya mencoba meruntuhkan pertahanan, mencari semua sisi tubuh, dan mengoyaknya. Bibir Pram menerobos begitu saja, membuat Amanda menitikkan air mata. Ciuman yang sangat panas dari bibir Pram yang lembut. Tubuh Amanda digerakkan, berusaha mengeluarkan diri dari cengkraman Pram. Namun, pergerakan itu semakin membuat Pram bergairah.


“Pram, kendalikan dirimu!” ucap Amanda ketika kancing bajunya dilepas satu persatu.


“Aku ingin sekarang,” jelas Pram sembari meninggalkan bekas merah di seluruh tubuh Amanda.


Air mata semakin deras, tubuh Amanda tampak jelas. Jelas Amanda merasa jijik dengan dirinya ketika melihat bayangan sendiri di dalam mata laki-laki yang kini tengah kehilangan akal. Semakin Amanda menatap Pram, rasanya ingin berteriak dan menabrakkan tubuh kedinding. Hanya saja, sebagai seorang wanita berusia dua puluh satu tahun pasti kalah dengan tenaga lelaki seusia Pram.


Tidak ada desahan. Pun Amanda tidak merasakan gairah meski Pram telah memberikan sentuhan di berbagai area. Sentuhan yang kasar. Dia hanya melihat langit-langit kamar yang putih. Ah, alangkah lebih beruntungnya langit-langit kamar itu ketimbang dirinya. Amanda merasa semakin tidak berguna.


Sedangkan di bawah sana, Pram mulai menggerakkan lidahnya, mencari kenikmatan tersendiri melalui sebuah sensasi. Dan entah bagaimana Amanda bisa merasakannya. Yang jelas, dia hanya berteriak sekejap ketika sesuatu telah mendobrak dan merobek tubuhnya. Hanya detik-detik itu, setelahnya dia tidak lebih dari sebuah boneka. Diam dan patuh.


“Kau puas?” tanya Amanda sembari meremas selimutnya.


“Cukup puas.” Pram berkata sembari bangkit dari ranjang hendak menuju kamar mandi. Lantas kemudian menggendong Amanda membuat empunya kaget dan terhenyak sesaat. “Aku hanya ingin memandikanmu.”


Amanda diam.


Kamar mandi itu dingin dan lembab, Amanda bisa merasakan dari kulitnya yang tipis. Pram meletakkannya pelan-pelan di dalam bathub sembari mengisikan air hangat. Amanda merasakan volume airnya semakin naik dan air yang mengalir itu sedikit menenangkannya.


“Apa itu sakit?” tanya Pram.


Amanda menoleh, sedikit memiringkan kepalanya lantas tersenyum miring. “Apa kau benar-benar peduli jika aku sakit atau tidak?”


“Apa kau pikir aku benar-benar seorang ********?”


“Apa sejak awal kau pernah bertindak di hadapanku sebagai seorang pahlawan?" tanya Amanda lagi, membuat Pram terdiam.


Amanda menggosok tubuhnya dengan kasar, berharap bekas itu hilang. Pram menghalanginya. “Apa kau ingin kulitmu rusak? Bekas kecupan itu tidak akan hilang dengan mudah.”


Tawa Amanda meledak, dadanya semakin bergemuruh tak karuan. “Kau ingin aku merawat tubuhku dengan baik? Tuan Pram, bagian mana yang bisa aku rawat sedangkan aku merasa diriku sudah cacat. Sam benar, tidak seharusnya aku melawanmu. Sam benar, bagaimana juga aku adalah anak kecil yang nakal dan tak tau batasan. Dan Sam juga benar, kalau aku akan menyesalinya.”

__ADS_1


“Kau. Apa kau pikirkan?”


“Alangkah lebih baik jika aku mati. Aku rindu ayah dan ibuku.” Amanda beringsut, memasukkan diri ke dalam bathub yang berisi air tanpa mengambil napas terlebih dulu. Dalam bayangan Amanda, kedua orang tuanya telah mengulurkan tangan. Ruangan yang gelap dan hanya memiliki jalan satu arah. Kematian.


Mata Pram membola, terkejut ketika Amanda langsung bertindak demikian. Dia marah, dan mengangkat Amanda. “Atas dasar apa kau bertindak demikian, heh? Aku belum mensetujuimu untuk mati.”


Amanda membuka matanya sejenak. “Amanda sudah mati sejak kau membawanya pergi. Dia tidak akan hidup lagi.”


“Dasar keras kepala.”


Pagi hari saat matahari mulai menampakkan diri, telepon Amanda berdering. Matanya yang masih kabur karena sinar, sedikit enggan untuk bergerak. Nmun, telepon itu lagi-lagi berbunyi. Alhasil Amanda langsung menyambar dan mengangkat telepon. Sialnya, sebelum Amanda berkata, orang tersebut sudah lebih dulu mengomel.


“Apa ini Amanda? Kamu menikah tidak memberitau kakak, heh? Apa kau sudah kehilangan akal? Apa kau sudah benar-benar melupakan kakakmu ini? Aku tau, aku tau, kau membenciku karena tidak mengurusmu dengan baik. Tapi aku membiayaimu, kan?” Amanda menjauhkan ponsel dari telinganya. Kakaknya itu memang tak pernah berubah, selalu mengomel sesuka hati.


“Kak, maaf, ya. Tenanglah, pernikahan ini mendadak. Jadi aku tak sempat memberitaumu,” jelas Amanda.


“Kau. Aaa, kau benar-benar melupakanku. Kau tega membiarkan kakakmu ini tau dari media online. Itupun diberitahu anak buahku. Andai tidak ketahuan, kau pasti diam-diam berbuan madu lalu kau akan menelpon, menemui kakakmu ini saat sudah membunyai bayi, kan?” cerewetnya.


Nand berjerit. “Mana aku tau bagaimana Tuhan menciptakan aku. Sudah beruntung aku diberi hidup.”


Amanda menepuk keningnya. “Kak….”


“Aish, sudahlah. Mana suamimu itu? Aku ingin mendengar suaranya apakah segagah diriku? Aku tau dia orang yang sudah berumur. Eh, seumuran kakakmu ini. Tidak masalah, yang penting kau senang. Di mana dia? Apa kalian semalam habis menghabiskan malam bersama hingga kelelahan? Dari nadamu tadi, aku yakin kau baru bangun setelah mendengar panggilan dariku. Iya, ‘kan?”


Amanda terbungkam. Sepertinya kakaknya telah berharap pernikahan yang didengarnya ini membawa kebahagian untuk adiknya. Mata Amanda berkaca-kaca, suaranya semakin rendah. “Maaf,” katanya.


“Hei, hei, kenapa kau meminta maaf? Sudah-sudah, aku tidak akan mempermasalahkan ini. Kau menangis, heh? Dasar anak kecil, kau itu sudah dewasa dan bersuami. Tidak pantas bertindak seperti ini. Paham?”


“Apa kakak tidak akan memberiku hadiah?” tanya Amanda lantas bangkit dari ranjang membuat Pram ikut terbangun.


“Aih, aku akan memberimu hadiah, jika aku sudah mendengar adik iparku. Di mana dia?”

__ADS_1


“Dia … dia sudah pergi ke kantor,” ucap Amanda berbohong.


“Benarkah?” tanya Nand kembali.


Tiba-tiba Amanda terkejut saat Pram menarik ponselnya. “Aku di sini, Kakak. Bagaimana kabarmu? Maafkan kami karena tidak sopan dan sudah menyembunyikan semua ini.”


Amanda diam ketika tubuhnya di dekap dari belakang. Walau hanya menggunakan satu tangan, tapi itu sedikit membuatnya tenang. Pembicaraan antara sang kakak dan adik ipar yang seru itu semakin membuat Amanda tidak tenang. Sudah berapa banyak kebohongannya hari ini? Amanda hanya bisa meremas tangannya sendiri.


Pram memberikan ponselnya. “Kakakmu orang yang baik.”


“Aku tau itu.” Amanda bergegas mengambil ponselnya.


“Mau ke mana?” tanya Pram.


“Mandi,” jawab Amanda singkat.


“Kau baik-baik saja?” tanya Pram saat Amanda memilih enggan menoleh.


“Apa aku terlihat baik-baik saja? Sudahlah Tuan Pram, sebenarnya kita bukan sepasang kekasih ataupun benar-benar menikah. Semua hubungan ini palsu.”


Pram menarik pinggul Amanda, membuatnya berada dalam pelukan sekali lagi. Namun, Amanda semakin menjadi saat dirinya hendak melepaskan pakaian. “Apa yang kau lakukan?” ucap Pram.


“Siapa tau kau ingin mengulang kejadian semalam, Tuan Pram.”


“Berhenti memanggilku tuan. Aku lebih suka kau memanggil namaku langsung,” ujar Pram.


“Kenapa? Bukankah aku memang budak ranjangmu?


“Amanda!” ucap Pram meledak-ledak. “Baik, jika kau berkata seperti itu.”


Dan pagi itu, jiwa Amanda semakin jauh dari kehidupan yang menggairahkan. Pram kembali mengulangi hal yang sama, tapi kali ini sentuhannya semakin liar dan kasar.

__ADS_1


__ADS_2