Pernikahan Yang Sekarat

Pernikahan Yang Sekarat
Tantangan: 4


__ADS_3

Dari kejauhan Amanda melihat lamat-lamat sosok yang tidak asing untuknya. Lantas teringat seketika. Dia tidak asing dengan postur tubuh dan bentuk rahangnya yang tegas. Yang diyakini Amanda mata tajam itu sedang menatapnya. Tapi untuk apa?



Amanda mencari jawabannya sendiri.



Butuh waktu yang cukup lama bagi Amanda untuk sadar. Bukankah dia---beberapa waktu yang lalu---telah mendapatkan tantangan dan bergairah untuk memenangkannya? Yang disesali Amanda adalah kenapa dia bisa lupa hal sepenting itu. Tidak mungkin! Kini dia hanya berharap semoga lelaki itu belum melalukan langkah yang terlalu jauh.



Oke, oke, itu bukan masalah. Sekarang Amanda bisa melakukannya dan memulai sebuah rencana yang baru. Amanda melangkah begitu anggun menghampiri Pram dengan gayanya yang begitu memikat. Tidak butuh waktu lama, mata Pram berada dalam kunciannya. Untuk pertama kalinya, aura yang diberikan oleh Amanda tidak seperti biasanya---yang merupakan seorang bos.



Kejadian itu tidak luput dari pandangan Pram. Tentu saja dia tersenyum kegirangan. Apa lagi yang lebih baik dari ini?



“Der, kucing itu datang sendiri,” ucapnya tanpa melepaskan pandangan ke Amanda.



“Mungkin dia baru saja mengingat sesuatu, Pram.”



“Heh, tentu saja aku tau,” ujar Pram.



“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Der.



“Sesuatu yang menarik.”



Tanpa di duga oleh Amanda, Pram datang menghampirinya dan tetiba memegang punggung, merambah ke bahu, dan dengan tidak sopan telah berani memegang pinggang Amanda yang ramping. Tidak ada yang berani selancang ini sebelumnya! Demi Tuhan Amanda tidak terima ini.



“Kau!” geram Amanda, suara menyala-nyala seperti kobaran api yang berada di matanya hitam itu. Hal demikian membuat Pram semakin kesenangan tak wajar, tapi dia dengan pandai menyembunyikannya.



“Kenapa? bukannya kau datang untuk menemuiku?” Pertanyaan itu membuat Amanda membuang muka! Entah dia malu karena sudah ketahuan atau hal yang lebih dari itu. Tidak ada yang mengetahuinya.



Namun, itu sudah menjadi jawaban tersendiri bagi Pram.



Der yang melihat dari kejauhan sudah memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemungkinan terbesar mereka akan menghabiskan malam dalam ranjang---jika Pram benar-benar ingin segera menuntaskannya---atau memilih untuk berbincang yang ‘tampak’ sia-sia.



“Apa kau bisa serendah itu? begitu pede dan kurang ajar!” Amanda mengalihkan pembicaraan, dan sedikit melegakan amarahnya.


__ADS_1


Mata Pram menyipit, melirik Der sekilas yang sedang memperhatikannya untuk menanti kelanjutannya. Tidak lama, segera Pram kembali menatap Amanda. “Aku tidak yakin reputasimu akan hancur sia-sia.”



Ucapan itu membuat Amanda kebingungan. “Hah?”



Pram tersenyum licik, membuat tanda bahaya di dalam otak Amanda.



“Ucapanmu tidak sesederhana itu!”



“Kau benar!” setujunya Pram membuat Amanda semakin kelabakan.



Sadar bahwa di sini dirinya yang di tentang, jiwa penantang yang penuh kemenangan itu muncul kembali. “Kau pikir aku bisa kau perdaya, heh?”



“Haha, kau salah. Apa aku berkata aku akan memperdayamu?”



Amanda tertawa sinis. “Kau pikir aku percaya? Setidaknya kau akan menekanku, bukan?”



“Kau mau berdansa denganku?” Bagi Amanda itu bukan pertanyaan, tetapi tuntutan yang tidak ada jalan keluarnya. Sayangnya, sebelum Amanda berhasil memikirkan semua itu dia sudah terlambat. Entah bagaimana ceritanya lampu ruangan itu menjadi gelap dan hanya menyisakan sorot-sorot lampu buram.




“Kau!” seru Amanda.



Sialnya seruan dan injakan kaki Amanda tidak berhasil membuat Pram meringis atau berjerit. Justru musik semakin mengalun, tangan Pram dengan lihai menuntun tubuh Amanda untuk berkelok indah, berputar, dan nyaris membuat sorotan dari mata pengunjung.



Apakah mereka sedang berdansa berdua saja? Amanda bertanya-tanya demikian. Jika iya, bagiamana selanjutnya?



Bibir Amanda hendak protes, tapi entah kenapa dia kembali bungkam dan memilih untuk melanjutkan dansanya: menikmati musik dan tatapan Pram yang---sepertinya---mulai menggila.



Jangan dibayangkan bagaimana tatapan itu. Yang jelas itu cukup bagi Amanda untuk menjadikannya sebuah alasan untuk mengurungkan protesnya. Apa mungkin Amanda sudah lupa dengan tantangan dan membiarkan dirinya kalah?



Itu pilihannya. Hanya saja dia tidak mengerti kalau Pram benar-benar ingin membuatnya tak lebih dari seorang \*\*\*\*\*\*\* pribadi. Jika Amanda tau niat terselebung ini, bukankah dia akan membunuh Pram di hari itu juga?



“Kenapa?” Pram bertanya seiring dansanya masih berjalan. “Kau mulai terpikat denganku …, Nyonya Amanda?”

__ADS_1



Amanda berdecih. “Kau gila! Apa aku akan serendah itu?”



Pram tertawa kecil, kali ini kegilaan Pram benar-benar tampak. Pram berani memberikan sentuhan di bokong Amanda yang membuatnya merinding, untuk itu Pram terkekeh. “Apa itu enak?” tanya Pram kurang ajar.



“Kau buaya darat yang mengerikan, Pram.”



“Iya, aku tau. Apa kau mau memberikannya untuk buaya darat ini?” ucap Pram.



Amanda bersungut-sungut, menatap nyalang Pram. Wajahnya yang putih seperti giok itu menjadi merah padam. Lantas suara keras membuat semuanya berhenti, baik musik atau pun bisik-bisik---yang Amanda yakini---bahwa dirinya dan Pram menjadi topik utamanya.



Pram nyaris meledak-ledak ketika tamparan itu jatuh di pipinya. Namun, Amanda terlebih dulu berkata, “Kau adalah lelaki terburuk yang pernah aku temui, Pram. Jangan kau pikir aku \*\*\*\*\*\* rendahan. Faktanya kau lebih buruk dari \*\*\*\*\*\* itu sendiri! Sangat bejat dan tidak berkarakter.”



Kepergian Amanda yang seperti itu membuat hening suasan selama beberapa waktu. Tidak ada yang berani bertanya. Orang-orang di sekeliling mereka membuat kesimpulan yang sama, bahwa kedua orang yang tampak seperti kekasih beberapa waktu lalu memiliki hubungan yang buruk dan semakin buruk.



Itu cukup!



Der yang sebelumnya ikut melihat, menjadi terkejut dan buru-buru menghampiri Pram. “Kau baik-baik saja?”



“Tidak!” tegas Pram. “Harga diriku dijatuhkan sejatuh-jatuhnya, Der. Apa kau pikirkan?”



“Sudah kubilang kalau semuanya---” ucapan Der terpotong.



“---aku tidak terima dengan penghinaan ini. Memang benar kami berdua saling terlibat tantangan, tapi sekarang akan aku pastikan kalau bagiku ini bukan tantangan yang harus aku menangkan lagi. Tapi sebuah pembalasan dendam.”



Der mengingatkan, “Aku rasa kau menjadi terobesesi dengannya, Pram.”



“Apa itu penting? Yang jelas harga diriku telah dilukai, maka hukumannya akan jauh lebih buruk dari sebelumnya. Memangnya dia berpikir aku ini siapa?” sungut Pram.



Pandangan Pram di Amanda telah menjadi lebih hina ketimbang sampah di tongnya. Bukankah lelaki itu menjijikkan? Amanda tidak habis pikir apa yang ada dipikiran Pram karena telah bertindak sembrono dan … harga dirinya telah dihina!



Apa Pram mengira Amanda akan diam saja? Bodoh jika Pram benar-benar berpikir seperti itu. Jika Amanda tidak bisa membuat Pram bangkrut, maka namanya bukan Amanda. Baik Pram maupun Amanda sungguh keras kepala! Dan sayangnya, jalan mereka lebih keras ketimbang seharusnya.

__ADS_1


__ADS_2