Pernikahan Yang Sekarat

Pernikahan Yang Sekarat
Kebencian: 1


__ADS_3

Perusahaan?



Pram tidak membutuhkan semua itu. Pram tertawa terbahak-bahak, perutnya begitu geli melihat kelakuan Amanda yang begitu konyol. Bagaimana bisa dia mempertanyakan hal seperti itu. Bagi Pram, perusahaan Amanda tidak mempengaruhi pemasukan terhadap asetnya. “Kau pikir begitu?” tanya Pram.



Amanda memutar bola matanya. “Kau begitu gigih menggangguku. Apalagi?”



Suara Amanda semakin kasar dan melengking. Beruntung musik di bar bisa membuat telinga orang tulli, jadi tidak ada yang memperhatikan tingkah Amanda secara rinci. Lama-lama Amanda semakin tak sadarkan diri dan ucapannya menjadi ngelantur. “Kau sudah merusak malamku!”



Alis Pram naik sebentar, lalu berkata, “Kau tidak suka?”



“Apa yang harus aku sukai darimu?” Amanda tertawa meremehkan. “Lelaki tidak tau diri dan suka bersembunyi, menggunakan otaknya yang licik. Apa itu pantas untuk dibanggakan?”



“Hey, Nona, aku memiliki banyak musuh dari berbagai kalangan. Jika aku tidak berbuat licik bagaimana aku bissa bertahan hidup? lagian musuhku ada yang lebih membahayakan ketimbang dirimu. Kau hanya sebutir debu di mataku,” jalas Pram.



Amanda semakin tertawa. “Apa aku tidak salah dengar? Kau memang laya di sebut-sebut sebagai manusia tidak berhati. Otakmu itu hanya berisi wanita dan harta.”



Pram mengangkat sedikit dagu Amanda, membuat mata mereka bertatapan. Ini memang bukan pertama kalinya bagi mereka berada di jarak yang krusial. Tapi layak diakui kalau kali ini lebih menguntungkan. “Aku suka dengan pujian itu,” jawab Pram.



Telepon berdering begitu sering, kondisi perusahaan yang demikain membuat Sam khawatir. Ketika Pram melihatnya, Amanda sudah benar-benar tidak peduli. Wanita itu lupa segalanya hari ini. Lalu Pram mematikan ponsel Amanda tanpa bertanya atau banyak bicara. Tidak ada waktu baginya untuk meladeni Amanda terus-terusan. Cepat atau lamabat Pram mengetahui hasilnya. Dan dia harus segera menunjukkannya.



Sebelumnya Pram ingin bermain-main dengan Amanda, tapi dirinya tidak bisa menahan lebih lama. Bukankah ini adalah hal yang disebabkan oleh Amanda sendiri? Siapa yang menyuruh wanita untuk berani melawannya?



“Hey, hey, kau mau membawaku kemana?” tanya Amanda ketika dirinya merasa melayang karena berada digendongan Pram. “Dadamu hangat,” ucap Amanda lirih, membuat Pram tersenyum.



“Kau suka?”



“Tidak, kenapa aku harus menyukainya?” ucap Amanda.



Pram meliriknya sekilas. “Apa segitu bencinya kau kepadaku?”



“Awalnya tidak, tapi kau gila dan sembrono. Jadi aku membencimu. Sangat membencimu.”


__ADS_1


“Kalau begitu kita sama.”



Amanda mendongak, terlihat rahang Pram yang tegas. “Ya sudah, turunkan aku. Kenapa kau menggendongku?”



“Tentu saja untuk melakukan sesuatu… yang menyenangkan.” Di saat Pram mengatakannya, Amanda sudah terlelap. Napasnya yang teratur dan wajahnya yang damai, siapa yang mengira dibalaik itu semua Amanda memiliki emosi yang meledak-ledak.



Pram sudah melihat banyak orang, terutama wanita. Awalnya, dia sendiri tidak mengira hubungan mereka akan seperti ini. Dia bukan dewa, maka Pram tidak bisa menahannya lagi. Tanpa sadar Pram bergumam, “Andai pertemuan kita lebih baik, pasti kau akan benar-benar menjadi wanita yang aku pilih.”



Sedangkan Amanda samar-samar mendengar ucapan tersebut. Dan… melupakannya.



Kaki Amanda menjadi sangat dingin ketika masuk ke dalam sebuah ruangan yang terang dan rapi. Dia di dudukkan di atas sofa yang empuk. Ruangan yang berbau mawar itu begitu memabukkan. Karena hal itu perlahan-lahan Amanda membuka matanya. Begitu terbuka dia dihadapkan pada sebuah kertas dan sebuah bolpoin.



Suara yang menyambutnya hanya, “Tanda tanganilah.”



Lalu entah bagaimana caranya, Amanda menurut begitu saja.



Saat Amanda terbangun di esok harinya, Amanda sudah berada di kamarnya sendiri. Semalam seperti sebuah mimpi yang samar. Mabuknya begitu hebat sehingga pagi ini Amanda masih merasa kurang baik dan pusing. Kakinya menuntunnya ke kulkas untuk meminum air dingin. Melihat-lihat apa yang akan dia masak pagi ini. Sebuah roti telah menjadi pilihannya. Amanda terlampau malas untuk memasak. Entah kenapa dia merasa hari ini tidak akan baik.




Akan tetapi, paginya terbukti kacau. Sam masuk ke rumahnya, nyelonong begitu saja dan memekik, “Kau masih begitu santai ketika aku merasa khawatir, huh? Setelah semalam kau mematikan ponselmu, sekarang kau makan roti dengan lahap. Kau! Bagaimana bisa kau seperti ini?”



Kening Amanda terajut. “Apa? Memangnya kenapa?”



“Kau tidak melihat berita sudah tersebar kalau Pram akan memperkenalkan istrinya?”



“Terus, apa hubungannya denganku? Sam, ini bukan masalahku.” Amanda terlihat kesal dan membanting rotinya.



“Ini memang bukan masalahmu, tapi akan menjadi masalah terbesarmu ketika kau sendiri yang akan diperkenalkan,” jelas Sam tergesa-gesa.



“Hah?” mata Amanda melotot. “Kenapa bisa?”



“Aduh, aku gak ngerti kenapa bisa begini. Yang jelas saat ini kau harus pergi sejauh mungkin. Entah bagaimana foto buku nikah itu sudah tersebar,” gumam Sam yang masih bisa didengar oleh Amanda.

__ADS_1



“Kau bilang apa? Buku nikah? Tidak, tidak, kau tau sendiri kalau aku belum menikah, kan? lalu bagaimana aku bisa menjadi istri Pram yang gila itu?” Amanda mulai mondar-mandir tidak tenang.



“Tidak ada waktu untuk berpikir!” Sam menarik Amanda masuk ke dalam kamarnya. Memintanya untuk membawa barang-barang seperlunya.



Sam tidak memikirkan apa pun lagi. “Dengar! Perusahaan kau bissa mempercayakannya kepadaku. Sejak kecil kau selalu mengabaikan saranku, sekarang kau harus mematuhinya.”



Di saat mereka berdua masih kebingungan dan bersiap diri, Pram sudah datang terlebih dahulu. Membawa beberapa pengawal. “Aku sudah menduga kalau semua ini akan terjadi,” ucap Pram membuat Amanda nyaris terjungkal.



“Mau kabur ke mana?” ucap Pram kembali.



Amanda mendekati Pram. “Apa kau memalsukan buku nikah itu?”



“Tidak, semuanya asli. Kau bisa mengeceknya sendiri.”



“Tidak! Kau bohong, aku tidak pernah menikah denganmu!” Amanda marah.



“Siapa yang mengatakan kalau kita pernah menikah?” Pram menaikkan salah satu alisnya.



“Lalu buku itu apa?” Amanda kebingungan.



“Apa kau benar-benar melupakannya?” Pertanyaan Pram membuat Amanda berpikir.



Wanita itu memikirkannya baik-baik. Dia harus mengingat semuanya dengan jelas. “Aku tau! Semalam ada seseorang yang meminta tanda tanganku. Itu kau, bukan?”



“Tepat sekali.” Pram tersenyum.



“Dengan kekuasaan yang kau miliki, pasti tidak sulit untuk menyogok seseorang dari dalam. Jadi pasti surat yang kau berikan itu asli.”



“Seratus untukmu, Amanda.”



Cukup! Kali ini Amanda benar-benar jengkel. Apa dirinya seorang boneka? Budak? Dia adalah wanita yang memiliki hati. Manusia yang memiliki hak untuk memilih. Lalu atas dasar apa, lelaki yang di hadapannya ini bertindak sejauh ini?

__ADS_1



Amanda memanda Sam. Dari pandangan itu Sam memahami bahwa Amanda tidak akan mengira seperti ini. Penyesalan itu ada dan Sam melihatnya dengan jelas. “Tuan Pram, aku tau kalau kau dan Amanda pernah saling menantang. Sekarang pemenangnya sudah jelas, kan? Lebih baik kau cukup untuk mengganggunya,” pinta Sam.


__ADS_2