Pernikahan Yang Sekarat

Pernikahan Yang Sekarat
Tantangan: 3


__ADS_3

Amanda berangkat menuju kantor cabang miliknya, lebih tepatnya kantor yang dipasrahkan kepadanya. Kakak Amanda memang kurang ajar karena berani membiarkan adiknya kesusahan. Tidak ada yang lain apa? Amanda sebenarnya ingin menuntut, seharusnya dia berleha-leha dan menikmati masa mudanya dengan maksimal. Bukankah umurnya masih cukup dikatakan anak remaja? Jika tidak, ya sudah, Amanda masih menganggapnya begitu.



Lagi pula, baginya tidak ada peraturan kapan orang dikatakan dewasa dan remaja, ‘kan?



Mobil baru pemberian Sam tempo hari memang cukup menarik perhatian. Cukup untuk mengatakan kalau Amanda bukan wanita biasa. Cukup untuk meyakinkan para pekerja lain kalau dia adalah seorang atasan yang penuh wibawaa dan … berkelas.



Pertemuan pertama, langkah pertama untuk bekerja setelah sekian lama lulus kuliah dan menjadi seorang sarjana. Ya, kakaknya menelpon di pagi-pagi buta untuk membantunya mengurusi perusahaan cabang tersebut.



“Selamat menyusahkan diri Amanda,” katanya sendiri selepas keluar dari mobil.



Banyak pasang mata yang menyambutnya, dan tidak membutuhkan waktu lama desas-desus akan tersebar. Lagi pula, siapa yang akan mengatakan semua akan baik-baik saja setelah ini? Wajah-wajah mereka begitu Antagonis dan pandai menjilat satu sama lain. Demi Tuhan! Seharusnya Amanda protes kepada kakaknya karena telah diberi perusahaan cabang yang tidak bermoral seperti ini.



“Apa perusahaan ada aturan menerima seorang \*\*\*\*\*\*\*?” tanya Amanda ketika melihat beberapa wanita memakai pakaian minim. Suara keras Amanda membuat semua orang tidak bisa memahami karakternya. Apakah Amanda seorang wanita tegas atau pemarah?



Suasana hening tercipta. Bisik-bisik sebelumnya seketika sirna.



“Ini perusahaan, bukan Bar. Kalau kalian memang \*\*\*\*\*\*\*, aku juga gak peduli asal tau diri. Dasar murahan!” omel Amanda.



Seorang wanita dari kerumunan tersebut berjingat. “Hei, kau!” Hal ini membuat seluruh pasang mata menoleh ke sumber suara, termasuk Amanda.



Amanda melangkah dengan santai. “Apa? Aku di tugaskan ke sini karena tingkah laku kalian seperti ini. Ya Tuhan, kenapa kedatanganku di sambut seperti ini, heh?”



Diam, tidak ada yang mau menjawab.



Mata Amanda menelisik sekitar, lalu menghela napas berat. “Dengar! Selama aku ada di sini, aku tidak mau ada yang berpakaian seperti \*\*\*\*\*\*\*, masalah riasan aku tidak peduli karena aku yakin kalian orang pinter. Dan, aku peringatkan untuk jangan pernah ada yang melawan atau membangkang dengan alasan apa pun. Jika ingin tau kenapa, kalian bisa mencobanya. Aku tidak melarang.”



Seseorang menyambutnya. “Nona, mohon maafkan kesalahan kami. Sebaiknya Nona segera masuk ke ruangan, mari saya antar.”

__ADS_1



Amanda melihat dari ujung kaki sampai kepala wanita yang ada di hadapannya. “Siapa kau?”



“Nindi, Nona,” jawabnya sembari menunduk.



“Kau karyawan biasa?” tanya Amanda dan diangguki oleh Nindi, “sekarang kau aku angkat jadi sekretaris pribadiku.”



Semua orang terkejut, pun Nindi.



“Nona,”



“Kenapa? Kau keberatan? Atau ada orang lain yang keberatan?” Mata Amanda menelisik tajam.



“Tidak, tidak,” jawab yang lain.




Amanda memegangi setiap benda yang ada di sana. “Aku suka mencari kenyamanan terlebih dahulu.”



Nindi mengangguk, kemudian pergi dan menutup pintu.



Setelah memastikan Nindi benar-benar keluar, Amanda merebahkan dirinya di sofa. “Aaagh, aku tidak bisa nongkrong lagi,” keluh Amanda.



Butuh waktu lama bagi Amanda untuk menyesuaikan diri. Hari demi hari telah berlalu. Seorang Amanda yang dulu sering nongkrong di café dan berhura-hura kini kian sibuk dengan pekerjaan kantornya. Bahkan sampai lupa bahwa saat ini ada taruhan yang sudah di lancarkan oleh pihak lawan.



Benar. Pram telah berhasil membuat perusahaan itu ada dalam kendalinya, meski tidak sepenuhnya. Ini bisa terjadi ketika Pram mendengar bahwa perusahaan cabang yang diserahkan oleh Amanda itu memisahkan diri. Kakak Amanda menyerah aset perusahaan tersebut dan memintanya untuk mengembangkannya sesuai kemauan Amanda. Bisa dibilang, sang kakak ingin Amanda menjadi wanita karir yang sukses.



Harus diakui bahwa dalam waktu singkat Amanda berhasil membuat kemajuan melebihi ekspetasi sang kakak, bahkan Pram juga cukup terkejut dengan wanita itu. Karir perusahaan yang terus naik dan reputasi semakin bagus membuat Pram berminat untuk investasi besar. Ini adalah kebodohan Amanda karena telah membiarkannya masuk dengan mudah. Entah disengaja atau tidak. Entah diketahui oleh Amanda atau tidak, Pram tidak peduli. Baginya, ini adalah langkah pertama menuju kemenangan.

__ADS_1



Hingga pada akhirnya sebuah pertemuan besar dilaksanakan. Para investor diundang dan beberapa kolega bisnis, teman dekat, dan pemimpin perusahaan lain. Amanda yang dulu dikenal dengan anak urakan sekarang menunjukkan taringnya dan menjadi pesaing yang susah dikalahkan. Rumor mengatakana Amanda menjadi musuh berbahaya dan yang utama untuk beberapa orang.



Begitulah bisnis, ‘kan? Nyaris sama seperti politik. Menjelma baik untuk melumpuhkan, dan itu sudah menjadi rahasia umum sebagai salah satu trik yang manjur.



Ruangan yang besar dan megah telah disiapkan: dekorasi yang baik serta pelayanan yang mumpuni menjadi kunci utama untuk menunjukkan wajah perusahaan. Amanda berusah payah untuk meminta karyawan mencari yang terbaik. Dari sini, Pram mengakui selera Amanda memang layak diapresiasi.



Pram datang dengan gayanya yang santai, tapi mencekam. Salah satu tangannya tersimpan di saku celana, sedang yang lainnya menggenggam gelas. Sembari mengobrol dengan teman-teman yang pernah dia jumpai, Pram tidak henti-hentinya tersenyum mengerikan sebelum akhirnya acara benar-benar dimulai.



Amanda datang dengan dua pengawal, menggunakan gaun birunya yang berenda di dada, panjang sampai lutut dan memperlihatkan betis yang mulus. Oh, shit! Sekarang Pram semakin tergila-gila untuk membuat Amanda berada di ranjangnya. Ini penampakan terbaik Amanda, jauh berbeda ketimbang gayanya yang sebelumnya, padahal Pram yakin bahwa jarak dengan pertemuan pertamanya hanya sebelas bulan.



“Lihat, Der, wanita itu membuatku hilang kendali,” bisik Pram.



“Jaga image-mu, Pram, kau harus sadar diri di mana kita saat ini.” Der mengingatkan.



“Justru itu, jika aku tidak ingat reputasiku, percayalah aku akan naik ke panggung dan mencium bibirnya,” ucap Pram.



“Jangan keras-keras, atau orang lain akan mendengarnya dan menjadi gosip hasil racikan mulut orang lain,” jelas Der.



“Iya.” Pram meneguk minumannya, tetapi tegukan itu berarti lain ketika jakunnya terlihat naik turun ditambah pandangan mata yang berbeda. Pram benar-benar membayangkan apa yang segera ingin dia capai.



Der menepuk pundak Pram. “Kendalikan hasratmu itu, tenanglah, wanita itu hanya akan menjadi milikmu.”



“Tentu saja, apa yang tidak bisa menjadi milikku?”



“Ya, ya, bahkan sedari kecil kau selalu merebut mainanku,” keluh Der.


__ADS_1


Pram terkikik mengingatnya. Sedari kecil Pram memang sudah tumbuh menjadi anak yang tidak mau kalah. Sekali bilang tidak suka, tetap selamanya pandangan itu tidak berubah. Sekali bilang menginginkannya, maka segala jalan dia lakukan agar bisa mendapatkannya. Kali ini, Pram menganggap hanya keberuntungan Amanda sendirilah yang bisa mengalahkannya. Namun, itu tidak akan dibiarkan terjadi oleh Pram sendiri.


__ADS_2