
Pertemuan itu mendadak tertutup begitu saja. Amanda tidak habis pikir, kenapa di dunia ini ada lelaki seangkuh Pram. Masih beruntung dia mau memanggilnya Tuan Muda tadi. Ya, walau harus berakhir dengan memanggil nama Pram langsung tanpa ada embel-embel terhormat. Menjijikkan!
Pram tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, Amanda tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Di tatapnya lekat-lekat foto yang baru saja dia dapatkan. Rasa senang seketika muncul ketika dia merasakan kemenangan. Hadiah mobil mewah itu telah jelas menjadi miliknya. Bergegas Amanda menelpon sahabatnya, Sam.
“Hei, Beb. Kenapa?” tanya Sam terdengar dari telepon.
“Aku meminta hadiahku, Sam. Aku menang pertaruhan itu lagi.” Amanda berkata kegirangan.
“Shit! Omong kosong. Apa kamu bisa jamin poto itu asli, heh?”
“Tentu saja, Sam,” jelas Amanda congkak.
Amanda menutup teleponnya dan bergegas pergi dari tempat tersebut. Mengendarai mobil dan melesat segera. Hidupnya selalu seperti ini, di penuhi pertaruhan yang mengerikan. Bagi Amanda, tantangan adalah sebuah perlombaan yang harus dia menangkan. Aish, bukankah sedari kecil Amanda selalu mendapatkan apa yang dia mau?
Tidak! Tidak semuanya.
Amanda masih ingat bagaimana kematian ayahnya. Setiap detik Amanda mengingatnya, bagaimana mobil itu terbalik setelah nyaris menabrak seorang pejalan kaki. Sialnya, kenapa dia tidak ikut sang ayah? Sebagai anak bungsu, Amanda terbiasa dengan sikap manja. Sekarang, tidak ada yang bersisa. Hanya kakak lelakinya, itupun tidak bisa meluangkan waktu yang cukup untuk melepaskan rindu. Sejam, waktu yang paling lama mereka bertemu.
Dan … walah, Amanda tidak jauh berbeda dengan gadis urakan sekarang.
Amanda duduk di bangku pojok sembari meminum kopi. Tempat di mana biasanya Amanda nongkrong bersama teman-temannya. Kadang sedikit mabuk, tapi cukup untuk sadar diri. Beberapa menit kemudian Sam datang bersama dua temannya. Tentu saja mereka ikut terlibat dalam tantangan kali ini.
Sodoran foto langsung di dapatkan Sam saat baru saja duduk dan mau bertanya. Amanda memang selalu bertindak cepat melebihi yang dia tau. “Aku menang!” jelas Amanda lantas menyeruput kopi.
Sam mendengus sebal dan langsung melemparkan kunci mobil, “Kapan kau tidak bertindak gila, Amanda? Sekali-kali berikan kekalahan. Kau ini….”
“Apa?”
Sam mencebik, “Tidak ada.”
__ADS_1
“Aku juga mendapatkan tantangan baru, Sam. Kali ini aku yakin akan lebih seru,” ucap Amanda antusias.
“Apa?” tanya Sam sedikit tidak bergairah. Lelaki itu memang sudah biasa menganggap hal ini terjadi, apalagi sekelas Amanda.
“Tantangan spesial dari seorang Pram.” Amanda tersenyum miring.
Mata Sam melotot. “Pram ini?” tanya Sam sembari menunjukkan foto tadi, Amanda mengangguk, “kau gila! Kau tau siapa dia, ‘kan?”
“Ya, aku tau benar siapa lawanku, Sam. Kau tenang saja.”
“Tidak! Kau hanya tau dari pemberitaan, ‘kan?” Sam mengacak-acak rambutnya, “Pram itu bukan orang yang mudah kau dekati apalagi kau kalahkan.”
“Justru itu yang seru, Sam. Aku akan lihat apakah dia layak bertarung denganku.”
Oh, man! Kali ini Sam yang kewalahan menghadapi sikap Amanda. “Dengar, Amanda, aku tidak akan mau bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepadamu,” ucap Sam memperingatkan.
“Hei, memangnya aku hamil anak orang sehingga butuh tanggung jawab, heh? Kau gila!” Amanda menatap Sam.
“Pandai! Kau tidak memiliki hak itu, Sam.”
“Terserah!” Sam melenggang pergi, sedangkan Amanda mencium kunci mobil barunya.
Tentu saja semua itu sudah dipikirkan dengan baik, keuntungan yang di dapatkan dari tantangan kali ini memang belum pasti, tetapi Amanda yakin bahwa dia akan mendapatkan hadiah yang layak. Oh, ayolah! Pram bukan lelaki sembarangan. Dari sisi keturunan, sudah layak untuk melawannya dan … sedikit lebih baik darinya. Tapi, Amanda tidak yakin jika Pram mampu beradu otak dengannya.
Kelicikan kali ini tergantung pada kepandaian yang tidak terkira.
“Semangat Amanda,” ucapnya pada diri sendiri.
Di sisi lain, Pram memandang gelasnya dengan saksama. Baru kali ini yang akan menjadi lawannya seorang gadis kecil yang … lugu? Biasanya dia akan bertarung dengan lawan bisnisnya. Kali ini sedikit berbeda, tetapi Pram justru sangat bergairah.
__ADS_1
Pram tersenyum. “Kau tau, Der, kalau aku merasakan kemenangan kali ini.”
Der yang hanya seorang asisten kepercayaan Pram tersenyum tipis. “Apa yang akan kau menangkan kali ini, Pram?”
“Seorang wanita,” ucap Pram sedikit nafsu.
“Wanita?” Der bertanya memastikan. Apakah ada yang unik dari wanita itu, Der tidak tau. Tapi Der tidak yakin bahwa wanita itu tidak akan lepas kali ini, dengan kata lain, Pram benar-benar akan melakukan apa yang dia suka dengan wanita tersebut. Entah ini akan menjadi sebuah kesialan atau keberuntungan bagi wanita itu.
Dari apa yang Der lihat, Pram memiliki sisi tersembunyi yang tidak bisa dilihat oleh siapa pun, termasuk Der. Itu mengerikan dan berbahaya.
“Apa semua akan baik, Pram?” tanya Der kembali.
“Tentu saja tidak. Entah aku jatuh hati atau memang merasa wanita itu pantas, maka aku harus mendapatkannya. Aku suka matanya yang menatapku dengan pertentangan itu. Der, itu sangat membuatku ingin bercumbu dengannya.” Pram tertawa.
Siapa yang tidak mengenal Pram? Semua orang tau bahwa Pram memang gila akan hubungan intim. Meski begitu, tidak sembarang wanita yang bisa masuk ke dalam ranjangnya. Bahkan Der pernah mendengar kalau pernah ada seorang wanita dari keturunan baik-baik rela menjadi seorang pemuas ranjang di hadapan Pram.
Melihat hal ini, Der hanya bisa menggeleng. “Pram, aku pikir wanita kali ini akan sulit kau dapatkan.”
Pram mencebik. “Mungkin, tapi aku sungguh-sungguh ingin menang darinya. Aku akan membuat dia memberikan jiwa dan tubuhnya dengan sukarela.”
“Kau akan menjadikannya bawahanmu, eh?” Der duduk di samping Pram.
“Sstt, lebih tepatnya wanita ranjang pribadiku,” jelas Pram.
“Kau gila! Itu terlalu kejam.” Der memperingatkan bahwa tindakannya keterlaluan.
Pram mengendikkan bahu. Tidak ada yang bisa mengalahkannya sekarang. Baik saat ini atau pun nanti. “Itu sudah keputusanku.”
Perbincangan itu di tutup dengan suara gelas yang diletakkan di atas meja. Pram berlalu meninggalkan Der begitu saja. Di meja tersebut, Der melihat foto Amanda dengan jelas. Lamat-lamat Der melihatnya, lalu Der menyadari sesuatu bahwa wanita yang diinginkan Pram itu memang berbeda.
__ADS_1
“Matanya memang menarik,” ungkap Der, “Baik, sekarang aku akan menjadi penonton pertama yang akan melihat pertunjukkan ini. Aku akan melihat siapa yang kalah dan menang. Aish, tidak salahnya bersulang sebelum waktu-waktu yang menegangkan.”
Der tau apa dan bagaimana hari-hari kedua orang itu akan berjalan. Bukan, dia bukan seorang peramal yang baik, tetapi Der memang tau dengan pasti apa yang akan dilakukan Pram esok hari. Awal yang baik untuk merubah jalur. Ketenangan antar hidup mereka berdua akan sedikit berbeda… atau memang akan berbeda.