
Kejadian yang sejak awal dikenal buruk berjalan dengan buruk. Apa yang dijanjikan Amanda benar-benar dilaksanakan malam itu juga. Amanda bertindak, menyuruh orang lain untuk menyelidiki Pram sampai akarnya. Bukannya ini tindakan yang buru-buru. Tapi Pram sudah membuatnya meenjadi lebih gila ketimbang sebelumnya, apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa Pram bukan lawan yang mudah seperti harapannya.
Informasi Pram sudah terkirim melalui email-nya. Bergegas Amanda membacanya, lalu sempat terpikir apakan sesulit itu untuk mengalahkan, Pram? Terlepas dari dendam pribadi, Amanda semakin bingung harus bagaimana ketika tau Pram merupakan investor terbesar dalam perusahaan yang baru saja dia rintis.
Apakah ini pertanda yang berbahaya?
“Agh, kenapa semua merambah ke dunia bisnis? Pram benar-benar membuat diriku kelabakan!” Amanda berjerit marah dan menggebrak meja.
Pesta masih berlangsung di luar sana. Suasana yang meriah dan menghibur, tapi Amanda tidak bisa menikmati malam ini dengan baik. Lalu, Amanda tertidur di meja yang sama.
Pagi ini Amanda tidak memiliki perasaan yang baik-baik saja, hal ini berimbas pada kenaikan jam kerja dengan jaminan kenaikan gaji dua kali lipat. Apa yang dipikirkan Amanda? Tentu saja perusahaannya harus naik menjadi perusahaan pertama. Abaikan investor, Pram, itu. Untuk saat ini, Amanda membutuhkan waktu.
Akan tetapi, sepertinya hari ini Amanda tidak bisa berbuat terlalu jauh. Ketika sebuah kabar buruk menimpanya. Munculnya sebuah pemberitaan yang tidak diketahui asal-usulnya. Nama perusahaannya dipertaruhkan. Rumor itu melesat begitu cepat. Bagaimana mungkin kualitas produknya buruk hingga menimbulkan hujatan di media sosial? Jelas ini adalah akun bayaran!
Amanda segera berpikir cepat, dia segera melakukan pers kepada awak media. Mengundang wartaman untuk masuk ke perusahaannya secepat mungkin. Ini adalah jalan satu-satunya, sebelum para inverstor yang lain pergi. Berharap ini yang terbaik. Sam, sahabat sekaligus orang kepercayaannya diminta untuk mengurus masalah ini. Dan setelah waktunya tiba, Amanda akan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
“Amanda, apa kau tau siapa yang melakukan semua ini?” tanya Sam.
“Siapa yang melakukannya? Apa ada yang lebih buruk ketimbang diriku?” ucap Amanda, Sam tidak mengerti maksud ucapannya.
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Siapa lagi jika itu bukan musuhku, Pram. Lelaki mesum itu pasti dalangnya.” Amanda tersenyum kecut. “Tapi, bagaimana juga ini menarik, jika tidak bagaimana permainan bissa dikatakan permainan?”
“Kau menikmatinya?” Sam tak habis pikir dengan otak Amanda. Bagaimana gadis itu bisa bertindak seberani itu sedangkan Sam sudah kewalahan. Padahal ini baru permulaan. Sam hanya berharap semoga mereka berdua bisa mendapatkan hidayah.
“Apa aku tampak tidak menikmatinya? Apa aku ada pilihan lain? Apa ini waktuku untuk berkabung? Ah, ayolah Sam, musuhku kali ini sepadan,” ujar Amanda.
“Apa kau merasa Pram sepadan?”
Amanda terdiam sejenak. Semua orang tau bahwa sebenarnya Pram jauh lebih unggul dalam hal apa pun. Apalagi Amanda masih bisa dikatakan permain baru dalam bisnis. Meski begitu, Amanda harus berusaha untuk menjadi kuda hitam satu-satunya yang akan mengalahkan Pram. “Apa aku harus memperjelas posisiku, Sam? Aku hanya melakukan apa yang aku mau dan aku mampu. Selebihnya jangan mengurus yang lain, Sam.”
Sam tau apa yang dipikirkan Amanda. Sedari awal, tepat setelah dia mendapatkan foto itu, Sam sudah memperingatkannya. Tapi apalah daya, Amanda terlalu keras kepala. Ini salahnya, seandainya Sam tidak memberikan tantangan itu, pasti kejadiannya tidak seperti ini.
Langkah Amanda begitu tergesa-gesa, setelah awak media dikumpulkan. Namun, dia tidak kehilangan jati diri dan auranya. Dalam kondisi seperti ini, image juga harus terbangun. Langkah yang cukup untuk memperlihatkan kekuatan dalam gempuran pertama.
“Aku meminta semuanya berkumpul hanya untuk mengatakan sesuatu. Rumor yang sudah beredar itu memang tidak bisa ditarik. Jejak media sosial tidak bisa dihapus. Tetapi, pelanggan kami tidak pernah mengalami gangguan apa pun, apa lagi sakit perut atau keracunan. Tidak ada yang protes kemahalan. Semua sesuai dengan standar perusahaan. Tapi, jika benar ada, maka siang ini silahkan datang keperusahaan agar bisa di usut,” ucap Amanda tegas dan jelas.
Salah seorang wartawan bertanya, “Nona, apa Anda yakin dengan ucapan Anda?
“Kenapa? Apa kamu bagian dari rencana ini? Sebagai wartawan, apa hakmu bertanya tentang keyakinanku? Inikah etikamu?” Amanda membuat wartawan tersebut bungkam. “Sudahlah, cukup sampai di sini,” jelas Amanda, lalu pergi.
Kejadian itu membuat Amanda membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Sudah lama dia tidak pergi ke bar. Sejak hidupnya terobsesi dengan prestasi bisnis, Amanda selalu bekerja keras dari pagi hingga malam. Sampai-sampai lupa tentang masa lalunya.
__ADS_1
Musik di bar berdentum di telinganya. Panggilan dari Sam dan pekerjaan yang sudah ada dihadapannya terbaikan begitu saja. Para wanita yang menari dan lelaki buaya darat yang haus untuk memuaskan hasratnya. Sudahlah… Amanda tidak punya waktu mengurus hidup orang lain.
Sialnya, entah bagaimana bisa suara yang dia kenali muncul. “Apakah wanita tangguh itu sudah menyerah dengan serangan pertama?”
Amanda berdecih. “Apa menyenangkan?”
“Tentu saja, sangat menyenangkan.” Pram berbisik dan mencium telinga Amanda.
Ketika tubuh Amanda merasakan gelenjar aneh, dia berjerit, “Kau!” Nyaris saja tangan itu menampar Pram lagi.
“Tidak akan ada kejadian yang terulang kembali, Amanda,” ujar Pram.
Mata mereka saling memandang, menunjukkan dendam masing-masing. “Kau terlalu berani.”
“Sayangnya permainan akan berakhir begitu saja,” ucap Pram membuat Amanda melotot keheranan.
“Apa yang kau maksud, Pram?”
“Ckck, kenapa kau tidak duduk terlebih dulu dan menikmati malam ini. Anggap ini akan menjadi malam terakhirmu.”
“Apa kau akan membunuhku, eh?” Amanda meneguk bir di gelasnya.
“Aku ini Tuan Muda dari keturunan pebisnis, bukan bandit.” Pram terkekeh.
Amanda mengabaikan ucapan Pram. Anggap semua yang dia dengar hanya nyamuk. Dia hanya meneguk birnya sebanyak mungkin. Biarkan, biarkan saja semua lupa. Sejenak saja. Amanda benar-benar tidak peduli. Hingga Sam mengacaukan semuanya. Kabar melalui telepon itu malah membuat Amanda kelabakan.
Jelas Amanda mendengar dari suara Sam yang sedikit gemetar itu. Apa katanya tadi? Para investor mundur dan sekarang Pram lah yang mendominasi? Delapan puluh persen saham telah jatuh di tangannya. Bukankan ini sama dengan Pram yang memiliki perusahaan itu? Setidaknya Pram kali ini benar-benar mendominasi dan mengunggulinya.
Amanda tidak habis pikir jika Pram benar-benar melakukan ini. Kegilaannya itu….
Sekilas Amanda melihat Pram tertawa kemenangan. “Apa ini yang kau maksud, Pram? Kau tampak suka dengan kabar ini, ‘kan?”
“Apa kau tidak suka, Amanda?” Pram mendekatkan wajahnya, tapi Amanda menjauh segera.
Sisa kesadaran Amanda masih cukup untuk berdebat. “Apa yang kau mau, Pram? Sebelumnya aku tidak dihina seperti ini! Kau ingin perusahaanku, bukan? Tidak masalah, mulai saat ini aku akan menyerahkannya. Akan segera aku atur semua itu.”
__ADS_1