Pernikahan Yang Sekarat

Pernikahan Yang Sekarat
Kebencian: 2


__ADS_3

Tidak semudah itu. Pram tidak mau apa yang diingankannya ini lepas begitu saja. “Bagaimana jika aku menolaknya?” tanya Pram.


Sam menoleh ke arah Amanda yang sudah tidak bisa memikirkan apa pun. Lalu Sam berkata, “Kami tidak ada apa pun yang bisa diajak bertukar, hanya saja aku adalah teman Amanda sejak kecil.. Aku harap Tuan Muda ini bisa melupakannya. Biarkan dia memulai hidupnya kembali.”


Setidaknya Sam masih bisa berpikir dengan jernih apa yang akan dilakukan Pram setelah ini, meski itu samar-samar. Tapi Sam meyakini kalau yang terjadi hari ini memiliki dampak yang buruk untuk Amanda sendiri.


“Apa aku tampak seperti itu? Yang bisa melepaskan keras kepalaku?” tanya Pram.


Mata jernih Sam meneduh. “Tidak, tentu saja tidak. Tapi bagaimana juga, Amanda saat itu adalah anak ingusan yang hanya senang berhura-hura. Sedangkan kau adalah pria dewasa yang pasti didambakan oleh setiap wanita. Kau akan memiliki ribuan wanita yang jauh lebih baik ketimbang dirinya!”


“Dan kau juga sama, ‘kan?” ucap Pram membuat Sam terdiam.


Sam telah terjebak ucapannya sendiri. Secara tidak langsung Tuan Muda itu sedang mengingatkan kalau dirinya tidak lebih seorang anak lelaki ingusan. Tapi itu tidak membuat Sam jatuh harga diri. “Aku tau, sangat tau itu. Hanya saja, aku yang saat ini bisa memahami Amanda.”


Pram mengitari tubuh Sam, lalu berdecih. “Sudahlah, berbicara denganmu tidak akan menghasilkan apa pun,” ucap Pram, “ayo pergi, jangan lupa bawa kekasih kecilku ini. Eh, kekasih gelapku.” Pram menyeringai.


Bagai ribuan batu terlempar di otaknya. Amanda tidak bisa melakukan apa pun. Semua yang terjadi kali ini terlalu mendadak dan bertubi-tubi. Inikah hasil dari keras kepalanya beberapa waktu lalu? Inikah yang membuat Sam mengingatkannya untuk berpikir terlebih dahulu? Sayangnya waktu tidak bisa dirubah kembali.


Usahanya sia-sia. Perusahaannya sudah tidak ada harapan. Niatnya untuk merubah hidup tampaknya jauh lebih buruk. Sedangkan bagi Sam, ini adalah kesalahannya. Pertemuan Amanda dan Pram terjadi karena tantangan yang diberikannya. Jika bisa, Sam memilih untuk melakukan itu. Tapi, lagi-lagi ‘jika bisa’.


“Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Pram?” Amanda berceletuk setelah sekian lama diam bak patung.


“Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, wanita ranjangku.”


Amanda tertawa terbahak-bahak. Air matanya menetes, hatinya berteriak tak terima. “Aku sejak kecil selalu bermimpi menjadi wanita yang terhormat. Aku adalah wanita kesayangan keluarga hingga satu per satu dari mereka tiada. Aku akan menurutimu, tapi jika permintaanku dikabulkan.”


Pram tampak menimang beberapa saat, lalu berkata, “Katakan.”

__ADS_1


“Tiga hal, kau tidak keberatan?” tanya Amanda.


Pram terkekeh, jarinya menggaruk pipinya yang tak gatal. “Selama itu tidak merugikanku, tidak masalah, Amanda.”


“Pertama, perusahaanku saat ini mendapatkan dana penyokong darimu. Aku minta jangan melepas atau menginginkan apa pun yang berada di dalam perusahaan itu.”


“Maksudnya---” ucapan Pram terpotong.


“Maksudnya adalah kita bekerja profesional. Aku tidak ingin ada isu atau masalah yang disebabkan olehmu. Jika statusmu sudah menjadi pemegang saham terbesar, maka cukup sampai di situ saja. Meski kau sudah menyebarkan berita kalau kita sudah menikah, aku ingin urusan perusahaan mutlak milikku,” jelas Amanda.


“Oke, deal. Lalu?”


“Jangan sampai kakakku mendengar berita ini, karena hanya dia satu-satunya yang aku miliki. Jika ada di depannya aku ingin kita terihat seperti pada umumnya. Aku tidak ingin membuat kecurigaan yang akan membuatnya menyalahkan dirinya sendiri.”


“Ini aku akan terima,” ujar Pram.


“Tidak masalah, sekarang ikut aku.” Pram menarik tangan Amanda, sedangkan Amanda melihat Sam yang hanya bisa menatapnya pergi.


Ketika berada di dalam mobil, Amanda melihat rumahnya sejak kecil. Rumah yang indah, taman yang asri dan kenangan-kenangannya yang muncul secara tiba-tiba. Tak terasa meneteskan air mata, “Apa aku bisa ke rumah ini walau hanya beberapa jam kelak?”


Pram menghela napas, “Tentu saja, asal kau mendapatkan izinku.”


“Terima kasih,” gumam Amanda.


Pram menoleh, “Kau mengatakan apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan baik.”


Amanda menatap mata Pram. “Terima kasih,” ucapnya lebih jelas.

__ADS_1


Pram tersenyum, lantas mengelus pucuk kepala Amanda. “Bagus. Jadilah seperti ini untuk selamanya. Patuh dan tau diri.”


Dalam hati, Amanda tidak terima diperlakukan seperti ini. Dia memiliki minat untuk membalas segala sesuatunya nanti. Hanya saja, saat ini Amanda tidak ada pilihan lain. Dia tidak mau bertaruh. Dia tidak ingin hal yang lebih buruk akan terjadi lagi sehingga melibatkan kakak lelakinya yang sudah lama tak dia jumpai.


Dia masih terlalu lemah untuk melawan Pram, seseorang yang dikabarkan pengusaha pertambangan dan paling berpengaruh. Namun, entah kenapa ada sesuatu yang tidak diketahui publik. Sesuatu yang hanya menjadi sebuah rahasia dalam. Sesuatu yang hanya melibatkan orang-orang kepercayaannya dan dirinya sendiri.


Hanya saja, Amanda tidak tau apa itu.


Sekarang Amanda hanya bisa menertawai dirinya sendiri. Barang-barangnya sudah keluar dari mobil. Tidakkan hal ini seperti wanita simpanan? Oh, ayolah, bukannya tadi Pram sudah mengatakan kalau dirinya tak lebih dari kekasih gelap?


Bukankah ini pertanda kalau sebenarnya Pram sudah memiliki kekasih lain? Kenapa sekarang Amanda tampak peduli itu?


“Aku rasa mansion ini bukan milikmu pribadi. Kau tidak sering ke sini, kan?” ucap Amanda.


Mansion itu sangat indah dan bersih. Dominan warnanya yang berwana putih biru mengkilap. Desain bergaya eropa, sangat kental. Baik goretan di dinding dan aksesoris kecil sebagai penghias di dalamnya. Cantik, sangat cantik. Hanya saja, apa ini sepadan?


Tentu saja tidak! Harganya adalah harga diri Amanda yang setiap detik akan tercabik.


“Tidak,” ucap Pram.


Amanda tertawa terbahak-bahak, “Lucu. Lucu sekali. Baiklah, Pram. Ups, Tuan Muda, apa yang harus kita berdua lakukan? Mari kita menghabiskan malam di ranjang. Bukankah aku ini hanya wanita rendahan? Mana? Bagian mana yang harus aku sentuh dan cium? Mana?”


Amanda melepas dasi Pram: cepat tapi kasar, tidak lembut melainkan penuh kedengkian tak berujung. Pram menampik tangan Amanda. Lelaki itu tidak terlalu suka dengan tingkahnya. Namun, bukan Pram namanya jika hanya berhenti seperti ini.


Benar saja, Amanda digendong dan terlempar di atas ranjang. Gerakan yang diberikan terlalu cepat dan kuat. Tubuh yang selama ini tidak pernah disentuh oleh siapa pun kini telah terjamah oleh tangan kotor itu. Rajutan benang itu masih berada ditubuhnya, tapi menjadi lebih berantakan dan tidak sesuai tempatnya.


Sepasang tangan Amanda yang kecil itu telah terkunci di atas kepalanya, tertahan oleh satu tangan yang kokoh sedangkan tangannya yang lain sedang beraksi untuk memalukannya. Ini bisa dikatakan jauh lebih buruk. Tapi Amanda hanya diam.

__ADS_1


__ADS_2