
Theo berlarian di koridor rumah sakit, tujuannya kini adalah ruang dokter kandungan.
Tap!
Tap!
Tap!
Cklek!
Theo membuka pintu ruangan itu dengan cepat, netranya melihat Alana yang akan di periksa.
"Theo?" Ujar Kinara dengan bingung, pasalnya ia belum memberitahu putranya itu tentang kondisi menantunya.
"Bagaimana keadaannya mah?" Tanya Theo sambil mendekati Kinara.
Kinara menggeser tubuhnya agar Theo berada tepat di samping istrinya.
"Ini lagi mau di USG, kata Victor sih gak papa cuman tegang aja perutnya." Ujar Kirana.
"Maaf tuan, apa nona ini sering pendarahan atau mengalami keram perut?" Tanya sang dokter yang mengehentikan obrolan anak dan ibu itu.
Theo diam dengan cukup lama, kemudian dia mengangguk sebagai balasan. Beberapa kali Alana selalu masuk rumah sakit karena pendarahan, kehamilannya sangat lemah begitu juga dengan kondisinya.
"Kandungannya lemah, apalagi di umurnya yang masih sangat muda kehamilan ini sangat beresiko baginya. Bahkan kelelahan sedikit saja, itu akan berdampak buruk bagi bayinya," ujar sang dokter.
"Beruntung, kandungannya sampai menginjak bulan ke tujuh. Dugaan saya, jika bayi di dalam kandungannya akan lahir prematur." Lanjut keterangan sang dokter.
Theo memandang Alana yang masih belum sadarkan diri, ada rasa bersalah di dalam dirinya. Namun, apalah daya. Nasi, sudah menjadi bubur.
"Mari kita lakukan USG agar kita tahu bagaimana kondisi bayi anda saat ini, karena dari laporan yang Dokter Victor berikan dapat saya simpulkan seperti tadi." Ujar sang dokter sambil menyiapkan alat yang akan dia gunakan untuk pemeriksaan.
Dokter itu menyingkap baju Alana, dia mengoleskan jell pada perut Alana dan menempelkan alat yang tadi dia siapkan.
Tangan dokter itu menggerakkan alat tersebut, Theo dan Kinara pun dengan fokus menatap monitor.
"Bisa di lihat yah, keadaan bayi masih aktif. Hanya saja beratnya masih belum cukup," ujar sang dokter yang masih menggerakkan alat tersebut.
Tanpa sadar, The menggenggam tangan Alana. Dia mengelusnya dengan ibu jari, dan netranya tetap fokus menatap monitor.
"Lihat Theo, hidungnya mancung sekali!" Seru Kirana dengan air mata bahagianya
"Iya mah, sangat mirip denganku," ujar Theo menimpali perkataan sang mamah.
Selesai pemeriksaan, dokter itu pun kembali ke kursinya untuk menuliskan sesuatu. Theo pun ikut duduk di hadapan dokter tersebut bersama Kinara.
"Baik tuan, bulan depan adik anda harus melakukan USG kembali agar kita bisa persiapan kapan dia melahirkan." Titah sang dokter.
Mendengar sang dokter menyebutkan kata adik, Theo pun menjadi heran.
"Adik?" Tanya Theo.
__ADS_1
Dokter yang tadinya tengah fokus menulis pun akhirnya mengalihkan pandangannya.
"Iya, itu ... Adik anda kan?" Ucap sang dokter yang ikutan bingung.
"Bukan, itu istri saya." Terang Theo.
Seketika raut wajah dokter itu berubah menjadi terkejut, dia menarik sudut bibirnya dan tersenyum canggung.
"O-ohh, istrinya yah ... Saya kira adiknya. Habis, kalian masih muda banget." ujar dokter tersebut sambil menggaruk pelipisnya.
Theo menatap tak suka, apakah wajahnya tua hingga di sangka bahwa dia adalah kakak dari Alana?
"ku kira adiknya, ternyata suaminya. Sayang sekali." Batin dokter itu.
Singkat waktu, Alana telah sadar. Bahkan wanita itu duduk bersandar dengan Theo yang menopang tubuhnya.
"Haus." Lirih Alana.
Kinara yang peka pun langsung memberikan botol yang sudah di berikan sedotan pada menantunya itu.
Alana langsung meminumnya dengan pelan, setelah puas ia mendorong botol itu ke arah Kinara.
"Sudah?" Tanya Theo.
Dengan pelan Alana mengangguk, Theo pun menggendong Alana dan menaruhnya di kursi roda.
"Terima kasih dok, kami akan pulang," ujar Kinara berpamitan.
Kinara dan Theo pun keluar dengan Alana yang berada di kursi roda. Raut wajah wanita itu sangatlah pucat, bahkan Alana saat ia menjadi aubrey belum pernah mengalami hal seperti ini.
"Ini tega banget dah, gue di tempatin di raga orang melendung. Bahkan buatnya pun gue gak tahu, kesiksanya yang gue dapet." Batin Alana.
Saat asik mendumel di dalam hati, netra Alana melihat sesuatu. Dia menyipitkan matanya guna memastikan apa yang dirinya lihat.
"Bara." Gumam Alana.
Alana melihat adiknya, bahkan mereka hampir berpapasan. Alana ingin memanggil Bara, tetapi dirinya sadar jika saat ini ada Theo dan mertuanya.
Saat mereka berpapasan, Alana dengan sengaja menyentuh tangan Bara. Dia bahkan menatap Bara dengan wajah sendunya.
Sedangkan pria yang bernama Bara itu merasa terkejut dan sontak mengehentikan langkahnya.
"Siapa dia?" Gumam Bara.
Bara pun mengangkat bahunya acuh, ia kembali melanjutkan perjalanannya.
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Tanya Theo ketika menyadari sang istri yang terus menengok ke belakang.
Alana menggeleng, dia kembali melihat ke depan dengan hati yang resah. Dia telah menemukan Bara, itu artinya dia berada di kota yang sama dengan Bara.
"Iya, Bara ada disini. Berarti papi dan mami juga ada disini." Batin Alana.
__ADS_1
"Aku tidak tahu dimana kota ini, tampak tidak asing ... Namun, nara ada disini. Apa mereka sudah pindah? Ataukah hanya berkunjung ke kota ini? Hiks ... Aku berharap aku bertemu kembali dengan Bara." Batin Alana.
Sedari tadi Alana sibuk dengan pemikirannya hingga tak sadar jika dirinya sudah berada di dalam mobil.
Keterdiaman Alana membuat Theo bertanya-tanya, tak biasanya Alana hanya diam sambil terbengong seperti itu.
Kinara pulang dengan mobil lain, sementara Theo memakai mobil miliknya.
"Hei." Panggil Theo dengan lembut sambil menggenggam tangan Alana.
Alana pun menoleh, dia melihat Theo yang menatapnya dengan lembut. Dahinya pun mengerut, terheran dengan ekspresi Theo.
"Kau kesambet?" Tanya Alana dengan wajah polosnya.
"Maksudnya?" Bingung Theo.
ALana melepaskan genggaman Theo, dia menatap Theo dengan raut wajah polosnya.
"Iya, kamu kesambet? Biasanya kan ngomongnya ketus, natepnya kayak pengen nerkam aku," Ujar Alana.
***
Revan tengah menunggu Kedatangan kedua mobil, ia duduk di teras sambil memainkan lidi.
Tak lama, terdengar suara deru mobil. Revan pun langsung berdiri dan menunggu mobil itu berhenti.
Saat mobil itu terhenti, Theo terlihat turun dari mobilnya. Ia mengitarinya dan membuka pintu Alana.
"Revan kenapa disini sayang?" Tanya Kinara yang terkejut melihat cucunya berada di depan rumah.
Revan tak membalas ucapan sang oma, tatapannya hanya terpaku pada Alana yang berada di gendongan Theo.
"Pelutna macih melendung, belalti dedekna belum blojol kan oma?" Tanya Revan sambil beralih menatap Kinara.
Mendengar perkataan cucunya, Kinara pun terkekeh. Akhirnya sang cucu bisa kembali seperti dulu walau belum sepenuhnya, tetapi Kinara sudah sangat bersyukur.
"Tadi hanya di periksa saja, apa kau menunggu nya?" ujar Kinara dan bertanya dengan lembut.
"Eunggg? Iya kali, atau penasalan doang yah Levana?" Jawab Revan sambil menggaruk pipinya.
Kinara yang gemas pun mengacak rambut cucunya, setelah itu dia masuk ke dalam rumah meninggalkan Revan yang mengikuti langkah Theo.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
mau ada yg baca atau ndak, bakalan tetep up,
aku up lagi kalo udah mencapai 30 like dan 10 komen thank you
__ADS_1