
"Bagaimana keadaannya? Apakah dia memang benar mengalami kontraksi?" Tanya Kinara sambil menggenggam tangannya satu sama lain.
Victor tadi datang dan langsung memeriksa keadaan Alana, saat ia datang pun Alana sudah pingsan dan membuat kepanikan tambah menjadi.
"Sepertinya bukan tan, dia hanya merasakan perutnya tegang saja. Setelah aku periksa tadi, seperti semuanya sidah normal. Mungkin sebaiknya kita ke rumah sakit untuk melakukan USG untuk memastikan kondisi bayinya." Terang Victor.
"Ya, kamu benar. Kita bawa ke rumah sakit, tante akan suruh Nugi untuk menyiapkan mobil." Putus Kinara dan beranjak dari kamar.
Nugi ada seorang kepala penjaga, ia memang di tugaskan untuk melindungi keluarga itu.
Tatapan Victor mengarah pada Revan yang berada di sudut ruangan sambil menggigit jarinya, dia baru sadar akan kehadiran anak itu.
"Tumben kau berada di luar kamar? Ini masih siang, dan kenapa bisa kau ada disini?" Tanya Victor pada anak itu.
Revan mendongak, ia berjalan pelan mendekati Victor sambil menjauhkan jarinya dari mulutnya.
"Kakak nda papa kan? Dia nda cakit kan? Tadi pelutna cakit, Levan takut," ujar polos anak itu.
Victor tentu saja terkesiap, baru kali ini dirinya mendengar Revan berbicara pelan setelah sekian lama. Bahkan saat mendapati anak itu berbicara, dia harus mendengar kemarahan anak itu.
"Revan marah?" Tanya Victor memastikan sesuatu.
Dengan polosnya Revan menggeleng, dia khawatir bukan marah.
"Bukankah hanya ketika marah anak ini berbicara? Sungguh aneh." Gumam Victor.
Revan mendekati Alana yang berbaring, tangannya terulur dan menyentuh pipi Alana.
"Dia ictli papah, apa kau tahu?" Tanya Revan tanpa melihat ke arah Victor.
"Ya, aku tahu," ujar Victor.
"Mamah kasih tahu Levan, kalau kakak ini yang akan membawa mamah kembali. Makcudna apa yah?" Ujar Revan di sertai kebingungan.
Victor mengernyitkan alisnya, dia tak mengerti kemana arah pembicaraan anak berumur 4 tahun itu.
"Mungkin dia hanya melantur." Batin Victor.
"Ehm ... Revan, orang mati tidak akan bisa kembali. Mamahmu sudah tenang dan bahagia disana," ujar Victor.
Revan menatap tepat di arah jendela, ia kemudian beralih menatap mata Victor.
"Mamah masih hidup, mamah masih ada. Levan yakin mamah akan pulang beltemu Levan." Ujar anak itu sambil meremas seprai.
Victor melangkah mendekati Revan, dia berjongkok dan menyetarakan wajahnya dengan Revan.
"Revan, kau hanya mimpi. Mimpi itu hanyalah bunga tidur, dia tak mungkin bisa kembali. Bukankah sekarang ada penggantinya? Dia Alana, namanya juga persis seperti nama ibumu bukan?" ujar Victor.
"Dia ictli ayah, tapi bukan ibuku," ucap polos anak itu.
__ADS_1
Victor mengangguk, dan berkata, "Benar, dia bukan ibumu. Tapi, kau bisa mendapat cinta dan kasih seorang ibu darinya. Apa kau tak ingin merasakan bagaimana perhatiannya seorang ibu?"
Revan yang di tanya seperti itu pun terdiam, dia masih mencerna apa yang Victor jelaskan.
"Setiap pagi kau akan di beri kecupan dan selamat pagi oleh ibumu, memakan masakan buatannya. Di berikan bekal sekolah, di jemput setelahnya, dan menceritakan segala hak yang terjadi di sekolah. Saat malam tiba, kau akan tidur di pelukannya sambil menikmati sebuah cerita yang akan membawamu ke alam mimpi. Sebuah kecupan hangat di kening kau dapat kan ketika dirimu terlelap, apa kau tak menginginkannya?" Terang Victor memberi nasehat pada anak itu.
"Levan ingin." Cicit anak itu.
Sedangkan di ambang pintu, Kinara tengah berdiri sambil menatap ke arah kedua pria berbeda usia itu. Netranya berkaca-kaca saat mendengar semua apa yang mereka diskusikan.
"EKHEM! E-ehm ... Mobil sudah siap, kau bantu bawa Alana yah." Pinta Kinara memutuskan obrolan mereka.
Victor mengangguk, dia pun mengambil kursi roda yang memang berada di sudut ruangan dan menggendong Alana untuk mendudukkannya ke kursi roda itu.
"Apa tante sudah bicara dengan Theo?" Tanya Victor saat dia akan mendorong kursi roda Alana.
Kinara menggeleng. "Belum, nanti saja. Lebih baik kita langsung ke rumah sakit!" Sahut Kinara.
***
Sedangkan di kampus, Theo tengah berada di kantin. Dia sedang memainkan ponselnya entah apa yang ia kerjakan.
"Ehm, maaf kak. Meja yang lain penuh, bisa kita duduk disini?" Tanya seorang perempuan pada kumpulan pria itu.
Aksa yang sedang memakan baksonya pun mendongak, tiba-tiba ia tersedak dan langsung meminun airnya.
"UHUK! UHUK!"
"Aduh neng cantik, boleh atuh neng. Sini-sini, di sebelah babang kosong," ujar Aksa dan menggeser tubuhnya.
Samuel dan Reksa mendelik menatap Aksa, teman mereka itu sungguh playboy cap kadal.
Kedua perempuan itu duduk di samping Aksa, dan yang satunya lagi duduk di samping Theo yang memang sedang kosong.
Theo hanya cuek, dia harus membalas email yang di kirimkan sekretarisnya. Memang dirinya sudah membantu sang ayah untuk mengontrol perusahaan.
"Hai, aku Resti," ujar perempuan yang berkuncir kuda tepat di sebelah Aksa.
"Eh, halo neng cantik. Nama babang itu Aksa, manggil sayang juga boleh." Ujar Aksa sambil tersenyum genit.
"Aku Jessica, salam kenal," ujar perempuan di samping Resti.
Aksa tersenyum dan mengangguk, dia sempat melirik ke arah teman-temannya yang acuh pada ketiga perempuan itu.
"Ehm ... Aku Cantika, semoga kita bisa berteman baik." Ujar wanita di sebelah Theo sambil mengulurkan tangannya di hadapan Theo.
Theo menatap sekilas uluran tangan itu, Kemudian dia bangkit dan berlalu dari kantin.
Cantika yang merasa tangannya tak di sambut pun segera menariknya, ia menatap teman Theo yang memang berwajah datar kecuali Aksa.
__ADS_1
"Maaf, apa kami menganggu kalian?" Tanya Cantika pada Samuel.
Samuel menatap wajah Cantika dengan serius, dia kemudian mengangguk membenarkan.
"Kau tak lihat palang di sana? Disinilah tempat kami, jika bangku semua penuh kenapa kalian tidak makan di kelas saja?" Tanya Samuel.
"Apa salah kami? Kamu hanya ingin berbaur, jangan karena kalian terkenal disini bisa menggeser kami semau kalian. Ini kan juga tempat umum!" Seru Cantika tepat di hadapan Samuel.
Samuel berdiri dan pergi dari sana, untunglah Cantika perempuan sehingga dia bisa menahan kekesalannya. Bukan hanya Samuel, tetapi yang lainnya pun ikut termasuk Aksa.
"Eh, eh ... Mau kemana woy!" Seru AKsa dan mengikuti para temannya.
"Bakso gue belum habis dodol!" Seru Aksa pada teman-temannya.
Sedangkan ketiga perempuan itu menatap heran pada mereka, sampai kegiatan mereka terhenti karena perkataan Cantika.
"Memangnya mereka siapa sampai sombong seperti itu!" Seru Cantika.
"Apa kalian tidak tahu siapa mereka?" Tanya seorang perempuan yang juga kebetulan melihat mereka.
Ketiga orang itu menggeleng dengan pelan.
"Mereka penerus keluarga terpandang, dan pria yang kau maki tadi menempati posisi keponakan pemilik kampus disini." Terangnya.
Jessica, Cantika dan Resti pun terkejut. Mereka telah menganggu ketenangan para penerus tersebut.
"Berdoalah semoga mereka tak membuatmu keluar dari kampus favorit ini," ujarnya dan berlalu dari sana.
***
Theo memasuki rumahnya, setelah tadi dia berpikir akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
Keadaan rumahnya sangat sepi, dia tak tahu kemana semua orang.
Hingga netranya melihat Revan yang duduk di ujung tangga.
"Revan,"
Revan yang merasa di panggil pun mendongak, ia kemudian berdiri dan menatap ayahnya itu.
"Papah cudah pulang?" Tanya Revan.
Dengan bingung Theo pun mengangguk.
"Kemana oma dan yang lainnya?" Tanya Theo.
"Tadi ictli papah cakit pelutna, telus oma dan om Victol bawa dia ke lumah cakit,"
Tubuh Theo mendadak kaku, dan sedetik berikutnya ia berlari keluar menuju mobilnya meninggalkan Revan yang menatap kesal.
__ADS_1
"Dali tadi di tinggal telus, balhalapna papah pulang cupaya di ajak. Malah di tinggal duga, ta tutuk duga panala nanti,"
"Eh, palana makcudna," ujar Revan meralat kesalahannya.