Plot Twist Transmigration

Plot Twist Transmigration
Bagian 4: Mertua


__ADS_3

Selamat Membaca


Alana kembali ke kamar, ia melihat Theo yang ternyata sudah terbangun. Bahkan sepertinya pria itu baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang basah.


Bunyi pintu kamar terdengar oleh Theo, pria itu yang tadinya sedang menatap layar ponselnya teralihkan pada Alana yang sedang menutup pintu.


"Habis dari mana?" Suara berat Theo menerpa telinga Alana.


Alana memegang dressnya, ia mendekati Theo yang sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah tertunduk.


"Maaf." Cicit Alana.


"Aku gak minta maaf kamu, aku tanya kamu dari mana?" ujar Theo sambil menaikkan satu alisnya.


Alana hanya diam, dia tak berani untuk menjawab. Sedangkan Theo, sebenarnya ia sudah tahu kemana perginya istrinya itu.


Setelah bangun tadi dia langsung mencari Alana dengan menanyakan pada pembantu, dan mereka berkata jika Alana ke kamar Revan.


Awalnya Theo khawatir, tetapi setelah ia melihat Alana dan Revan saling berbincang dia menjadi sedikit tenang dan meninggalkan mereka untuk mandi.


"Huftt ... Tadi aku kan bilang jangan keluar sebelum aku suruh kamu keluar. Kenapa ngeyel?" ujar Theo setelah dirinya menghela nafas.


"Bosan." Lirih Alana.


"Tadi kan aku suruh kamu istirahat, jangan kayak kemarin pendarahan lagi. Bisa-bisa kandungan kamu kenapa-napa, aku juga gak mau bayiku kenapa-napa!" ujar Theo dengan nada sedikit tinggi.


Alana semakin menunduk, dia takut dengan Theo. Sebelum ia menempati tubuh Alana, tak ada satu pun yang berani berkata tinggi padanya termasuk Bara adiknya itu.


Melihat Alana yang ketakutan Theo pun menjadi sadar, dia mencoba mengontrol emosinya dan kembali berbicara.


"Sekarang kamu mandi, sebentar lagi orang tuaku pulang. Kita akan menjelaskan semuanya pada mereka," ujar Theo.


Alana yang bingung pun hanya mengangguk, ia berjalan ke kamar mandi dengan pelan.


Namun, memang dasarnya Aubrey adalah orang yang ceroboh dia tak sengaja tersandung keset yang ada di depan pintu kamar mandi.


BRUGH!


Theo sontak saja terkejut, dia langsung menoleh dan melototkan matanya.


"ALANA!"


Theo berlari ke arah Alana, terlihat wanita itu menopang tubuhnya pada sebuah meja di samping pintu kamar mandi.


Tampaknya saat terpeleset wanita itu mencoba untuk bertahan, dan tangannya menggapai meja untuk bertahan.


"Kenapa kau ceroboh sekali hah?! Kalau kau jatuh bagaimana?" Sentak Theo dengan keras.


Alana hanya bisa menangis, ia terkejut dan lagi-lagi menerima bentakan dari Theo. Bahkan ayah kandungnya tak pernah sekali pun membentak dirinya walau ia sering membuat ulah.


"Hiks ... Aku mau pulang!" Seru Alana dengan keras.


Mendengar hal itu, Theo melototkan matanya.


"Jangan bercanda, kau mau pulang kemana huh? Orang tuamu telah tiada dan abangmu pun ada di penjara!" ujar Theo.

__ADS_1


Alana tertegun, dia baru tahu jika kedua orang tua Alana asli sudah tiada. Bahkan abangnya pun berada di dalam penjara.


Padahal yang di maksud pulang dengan Alana adalah dirinya yang asli. Bukan menjadi Alana, melainkan Aubrey.


"Cepat mandi, aku akan membantumu," ujar Theo dan menarik pelan Alana masuk ke kamar mandi.


Theo mencoba membuka baju Alana, tetapi wanita itu malah menjauh dan menatap Theo tajam.


"Kenapa?" Heran Theo.


"Kamu mau ngapain? Mau macam-macam kan? Ngaku! Aku bukan wanita murahan yah!" Sentak Alana dengan takut.


Theo semakin heran dengan perubahan Alana, dia pikir amnesia hanya lupa ingatan. Namun, sepertinya sikap Alana juga berubah.


"Kamu kenapa sih? Semenjak hamil kan aku yang bantu kamu mandi, kenapa sekarang jadi begini?" Heran Theo.


"APA?!"


***


Selesai drama tadi, kini Alana tengah mengerucutkan bibirnya. Sementara Theo tengah menyisir rambut istrinya itu dengan telaten.


Tok! Tok! Tok!


"Tuan muda, nyonya dan tuan sudah sampai." Seru pembantu dari depan kamar.


"Baik, saya akan menemui mereka." Seru Theo sambil menaruh kembali sisir di tempatnya.


Theo berjalan mendekati meja, sepertinya ia mengambil berkas dan kembali mendekati Alana.


Alana hanya menurut, suaminya itu membawa dia keluar kamar. Mereka berjalan sampai di suatu ruangan, tampaknya seperti ruangan keluarga.


Netra Alana yang tadinya melihat kesana-sini akhirnya terfokus pada wanita dan pria paruh baya yang sedang duduk bersampingan di sofa.


"Hai mah, pah," ujar Theo dan memeluk singkat orang tuanya setelah melepas genggamannya pada tangannya Alana.


"Hm." Dehem wanita paruh baya dengan tatapan sinis ke arah Alana.


Theo mengajak Alana duduk di sofa sebrang, dia mengambil bantal sofa dan menempatkannya di belakang perut Alana.


"Nyaman?" Tanya Theo.


Alana hanya mengangguk, ia merasa canggung karena di tatap oleh kedua orang di depannya.


"Mah, kenalin ini Alana. Wanita yang sempat aku ceritakan minggu lalu, sesuai permintaan mamah aku membawanya," ujar Theo.


Alana menatap ke arah wanita itu, ia terheran apa salahnya sampai wanita itu menatapnya dengan pandangan sinis.


"Oh, jadi ini adik si pembunuh itu," ujar Mamah Theo dengan sinis.


"Pembunuh?" Heran Alana sambil menatap ke arah Theo.


"Mah!" Peringat Theo pada sang mamah.


Wanita itu hanya memutar bola matanya malas, sedangkan pria paruh baya itu tengah menatap Alana dengan intens.

__ADS_1


"Berapa bulan?" Tanya papah Theo pada Alana setelah lama terdiam.


Alana mengerutkan keningnya, doa baru sadar setelah Papah Theo menatap perut buncitnya.


"Oh, enggak tahu," ujar Alana dengan polosnya sembari menatap ke arah perutnya.


Papah Theo menaikkan satu alisnya, sedangkan mamah Theo hanya mengerutkan keningnya.


"Kenapa bisa dia tidak tahu? Dia kan ...,"


"Amnesia mah, minggu lalu dia jatuh di kamar mandi." Sela Theo.


"APA? BAGAIMANA BISA? APA DIA TIDAK BERHATI-HATI DAN MENJAGA BAYINYA?!"


Alana menatap takut ke arah Mamah Theo, ia mencengkram lengan Theo sambil menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh tegap Theo.


"Sayang, kau membuatnya takut." ujar Papah Theo saat menyadari jika menantunya itu takut.


Mamah Theo hanya mendengus, ia memutar bola matanya dengan malas.


"Ini salahku mah, aku meninggalkan dia tanpa pengawasan. Dia memintaku untuk mengantarnya ke kamar mandi, karena saat itu dia mengadu jika perutnya sangat sakit. Tapi aku tak menghiraukannya sama sekali." Terang Theo.


"Ck, mulai besok mamah akan mencarikannya asisten buat ngurus dia. Gak bisa ngurus dia, apa gunanya jadi seorang istri!" Ketus mamah Theo dan beranjak pergi dari ruangan itu.


Theo dan sang papah saling menatap, mereka menggelengkan kepalanya karema tahu sifat wanita itu.


"Apa Revan sudah bertemu dengan istrimu?" Tanya Papah Theo.


"Sudah, dan Revan berbicara padanya." ujar Theo sambil menggenggam tangan Alana.


Papah Theo terdiam, dia tahu jika cucunya itu tak sembarangan mengonrol pada orang apalagi orang baru kecuali jika bocah itu tengah marah.


"Jauhkan istrimu dari Revan, papah takut Revan malah berbuat seperti sebelumnya. Untung saja baby sitternya itu masih bisa di selamatkan, berhubung istrimu sedang hamil dan sangat mudah di celakai," ujar Papah Theo yang entah apa maksud dari ucapannya.


Theo hanya mengangguk, dia juga khawatir pada calon anaknya.


"Dan kamu Alana, kamu harus melakukan segala peraturan di rumah ini. Memang kau istri dari putraku, tapi kau hanya menantu yang kami terpaksa harus menerimamu," ujar Papah Theo dan beranjak menyusul istrinya.


Alana menangis, ia takut dan sangat ingin kembali ke tubuh aslinya. Dia juga tidak mau menjadi istri dari Theo, dia juga tidak mau menjadi wanita menyedihkan seperti ini.


"Aku mau pulang hiks ... Aku gak mau disini, aku mau ketemu Bara hiks ...." Rengek Alana sambil menggoyangkan lengan Theo dengan wajah yang basah karena air mata.


"Bara ... Siapa?" Tanya Theo dengan dingin.


Seketika Alana berhenti menangis, dengan sesenggukan ia menatap mata Theo.


"Aku bukan Alana, aku Aubrey. AKu ingin pulang, aku bukan istrimu. Cepat! Antarkan aku pulang!" ujar Alana semakin histeris.


Theo semakin tak mengerti, dia malah menganggap ucapan Alana hanya melantur karena sedih.


"Sudah aku bilang bukan, kau ...,".


"A-awww ... Arghh!"


Theo melototkan matanya, dia melihat Alana yang memegang perutnya dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Kau ... Ck! MAMAH! PAPAH!"


__ADS_2