
"Diam di sana! kau memakan cake ku?"
Seketika langkah Alana dan Theo berhenti, Theo pun membalikkan badannya dan menyembunyikan Alana di belakang tubuhnya.
"Aku tak peduli jika wanita itu istlimu, yang telpenting apakah dia memakan cake untuk mamahku?" Tanya bocah itu dengan R yang belum bisa dia sebutkan.
"Revan, papah meminta pembantu untuk membuatkannya lagi. Tunggulah sebentar, bibi tak sengaja memakannya," ujar Theo mencoba memberi pengertian.
Mendengar nama Revan, seketika Alana ingat nama itu. Dia memunculkan wajahnya dan melihat Revan yang tengah menatap Theo dengan tajam.
Alana keluar dari persembunyiannya, dia memegangi perutnya sembari berjalan kecil menghampiri Revan. Theo yang melihat hal itu pun berdecak kesal, sehingga ia membiarkan apa yang akan istrinya itu lakukan.
"Maafkan aku, aku akan membuatnya yang baru untuk mamahmu," ujar Alana.
Mendengar suara Alana, Revan pun menoleh menatapnya. Ia mengamati wajah Alana dengan raut wajah yang berbeda, tak seperti tadi.
Tak lama, Revan mengakhiri tatapannya dan berlari pergi dari dapur.
Melihat hal itu, Alana semakin merasa bersalah. Dia mendekati Theo dengan tangan bertaut.
"Maaf, anakmu jadi marah. Pasti istrimu juga akan marah," ujar Alana.
Apakah wanita itu lupa jika dia adalah istri Theo? Kenapa malah menanyakan hal itu yang mana membuat Theo bingung.
"Kau kan istriku?" ujar Theo dengan heran.
Tersadar, Alana melototkan matanya dan menepuk tangannya satu kali.
"Benar juga, berarti aku istri kedua. Begitu maksudmu?" ujar Alana dengan nada terkejut.
"Apaaa ... Lagi ini Alana, hais .... Aku bingung mau berbicara apa," ujar Theo yang tengah frustasi.
Theo menggenggam tangan kanan Alana, ia membawa Alana kembali ke kamar agar wanita itu istirahat karena kondisinya yang masih belum pulih.
Sesampainya di.kamar, Theo menyuruh Alana duduk di tepi kasur. Sehingga kini pria itu berdiri di hadapan istrinya yang tengah duduk.
"Jika aku belum menyuruhmu keluar kamar, jangan keluar. Mengerti?!" ujar Theo dengan nada peringatan.
"Aku istri simpanan yah?" Tanya Alan dengan polosnya sambil memiringkan kepalanya.
Mendengar hal itu Theo tentu saja kesal, dia mendorong kepala Alana dengan jari telunjuknya sembari berkata, "Apa kau pikir aku tidak waras menempatkan istri simpanan beserta sah di dalam satu rumah huh?!"
Alana hanya mampu mengusap keningnya sembari berpikir, dia memang tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Siapa raga yang ia tempati, siapa keluarganya, dan mengapa ia bisa menikah dan hamil.
__ADS_1
"Theo, boleh aku bertanya?" Pinta Alana.
Theo hanya berdehem, dia memutar ranjang dan merebahkan dirinya di sisi lain. Ia pun memejamkan matanya sambil memeluk guling.
"Kok bisa aku hamil?" Tanya Alana.
Theo langsung membuka matanya, dan melotot ke arah istrinya.
"Apa kau bercanda? Tentu saja kau bisa hamil karena punya suami," ujar Theo dengan kesal.
"Tapi ... Kok bisa? Buatnya gimana?" Heran Alana sambil menusuk-nusuk perutnya.
Mendengar hal itu sontak saja Theo menduduki dirinya dan menjatuhkan rahangnya, dia melongo saat sang istri bertanya demikian.
"Buatnya pun kamu lupa? Ku kira kau amnesia hanya sebagian saja, ternyata total yah. Untung saja kau tak lupa bahasamu," ucap Theo yang tengah mengubah ekspresi wajahnya.
"Cepat katakan, bagaimana buatnya?" Paksa Alana.
Theo menggelengkan kepalanya, dia pun merebahkan dirinya dan membalikkan badan memunggungi Alana.
"Theo, aku perlu tahu loh! Kalau aku gak tahu, aku juga bingung gimana cara ngeluarin anaknya," ujar Alana
"STOP!" Sentak Theo.
Alana terkejut, bahkan ia sampai memegangi perutnya. Apakah ada yang salah dari pertanyaannya? Di kehidupan sebelumnya ia masih berumur 18 tahun.
"Bisakah kau diam? Nanti malam kita praktekan kembali, sudah kan? AKu lelah dan ingin tidur, berhenti menggangguku," ujar Theo menyela ucapan Alana.
Mendengar hal itu Alana merengut kesal, dia mengelus perutnya. Sesekali tendangan dari bayi di dalam perutnya ia rasakan, pertama kalinya ia merasakan itu.
"Hamil tuh gini yah rasanya, geli hihi ... Bayinya juga suka nendang," ujar Alana dengan suara lirih.
Alana kembali mengingat Revan, dia hanya tahu jika Revan memanggil Theo papah. Itu artinya Revan anak Theo? Alana sungguh penasaran akan hal itu, dia masih tak percaya di umur Theo yang baru 23 tahun ia memiliki seorang anak balita.
Mata Alana melirik sekilas Theo yang ternyata sudah tertidur pulas, perlahan ia bangkit dan menuju pintu.
Alana tak menanggapi pesan Theo padanya untuk tidak keluar sebelum Theo mengizinkannya.
Alana berniat mencari Revan, ia ingin meminta maaf pada anak itu. Netranya melihat pembantu yang tengah membersihkan ruang tamu.
"Bi, apakah bibi tahu dimana Re-Revan?" Tanya Alana.
"Buat apa ya nyonya? Lebih baik jangan di ganggu nya, bisa ngamuk nanti," ujar pembantu itu.
__ADS_1
Alana mengerutkan keningnya, dia terheran dengan jawaban pembantu itu. Revan hanyalah anak kecil, bagaimana bisa memiliki sifat tempramental.
"Biasanya si aden jam segini masih di kamarnya di lantai dua. DIa akan keluar kalau makan saja, selebihnya ia akan mengurung diri di kamar. Lebih baik nyonya istirahat aja atuh, bibi khawatir apalagi nyonya lagi hamil besar gitu," ujar pembantu tersebut.
Alana menganggukkan kepalanya, ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia berniat kembali ke kamar, tetapi dirinya melihat tangga yang menuju lantai dua.
Dengan penasaran, Alana mulai menaiki tangga. Entah mengapa tak ada yang melihat dirinya, dia pun kembali melanjutkan menaiki tangga.
Sesampainya di lantai dua, netra Alana langsung terpaku dengan pintu ber cat biru. Ia mendekat dan membuka pintu itu perlahan, gelap hal yang pertama kali ia lihat.
TAk cukup sampai di situ, malah Alana tambah melebarkan pintu. Terlihat sosok anak kecil yang tengah duduk di tepi kasur memunggunginya sambil memandang ke arah balkon.
"Hai," ujar Alana menyapa Revan.
Tubuh Revan sedikit terlihat bergetar, mungkin anak itu merasa kaget. Tanpa pikir panjang Alana mendekati Revan dengan langkah pelan.
"Maaf soal tadi, aku benar-benar lapar. Biasanya jika aku lapar, aku akan sakit perut." ujar Alana sambil menatap Revan dari samping.
Revan menoleh, ia menatap Alana dengan pandangan yang berbeda. Tak ada lagi pandangan tajam, hanya pandangan lembut dan juga datar.
Revan menulis kembali, ia mengambil bukunya dan menulis beberapa kalimat. Setelah itu Revan menyerahkannya pada Alana.
Alana yang penasaran pun duduk di samping Revan, ia melihat tulisan itu dengan seksama.
"Apa kau malaikat yang mamah maksud? Aku menantikanmu, apa kau juga membawa kembali mamahku?"
Seketika Alana terkejut, dia menatap Revan dengan matanya yang membelalak.
"Aku bukan malaikat dek, tolonglah ... Jika kau bertemu malaikat yang kau cari itu bilang aku ... Aku tak mau ada disini," ujar Alana dengan nada memelas.
Revan terlihat bingung, sama halnya juga dengan Alana. Mereka berbicara melantur dan aneh.
"Kalau aku malaikat, tak mungkin aku menyasar di tubuh ini," ujar Alana dengan pelan.
Revan kembali menulis sesuatu, ia menyerahkan buku kecilnya itu kembali pada Alana.
"Tapi mamah bilang, kau yang akan membawa mamahku kembali,"
"Heh! Aku manusia, bukan tuhan. Kalau mati ya mati, gak ada istilahnya tarik ulur kayak gitu," ujar Alana dengan terkejut.
Revan melihat Alana dengan tatapan bingung, dia pun kembali terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Alana melihat Revan, dan ia pun beralih menatap sekeliling kamar Revan. Sampai netranya jatuh pada sebuah bingkai foto sosok perempuan yang ia temukan di mimpinya.
__ADS_1
"Mamah bilang kau yang akan membawanya kembali," ujar kembali Revan.
"Bukan, lebih tepatnya aku yang akan menjagamu mulai saat ini,"