
SELAMAT MEMBACA
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, memang dasarnya Alana orang yang tidur cepat sekarang ia sudah tertidur sebelum makan malam.
Theo bahkan tak menyuruhnya untuk makan setelah pertengkaran tadi dan Alana hanya cuek saja karena merasa tak penting.
Cklek!
Pintu kamar Alana terbuka, Theo masuk dengan wajah datarnya. Ia kembali menutup pintu dengan netra yang tak lepas dari Alana.
Kaki jenjangnya melangkah ke arah ranjang, ia terhenti ketika dirinya sudah sangat dekat dengan Alana.
Tangannya terulur untuk menarik selimut hingga bahu Alana, ia mengelus pelan perut Alana dan mendapat tendangan dari dalam sana.
Theo berlutut, ia semakin mengelus perut Alana karena mendapatkan tanggapan dari sang bayi.
Theo kembali teringat apa yang di katakan temannya saat itu, saat Alana terbangun dengan sikap yang berbeda.
Flashback On.
"Kau tidak bisa menekannya! Sedari awal aku sudah mengatakan jika bayi itu tak akan bertahan lama, kandungan istrimu lemah dan hanya ada dua pilihan yang nanti kau pilih. Anakmu atau istrimu!" ujar Victor dengan penuh penekanan.
"Mungkin jika kau belum mencintainya, aku yakin kau pasti memilih bayimu secara kau amat teramat benci pada Alana dan menginginkan bayi itu sebagai pengganti nyawa yang verry lenyapkan!"
"Aku tak mencintainya, aku hanya khawatir pada bayiku," ujar Theo tanpa menatap Victor.
Victor terkekeh sinis, ia membuang pandangan sebentar dan menghembuskannya perlahan.
"Benci dan cinta itu beda tipis, aku tahu jika sebelum adikmu meninggal ... Kau sudah menaruh hati pada Alana, tetapi sayangnya wanita itu malah menjadi adik Verry pria yang telah membunuh adikmu,"
Flashback Off.
Theo menghembuskan nafasnya pelan, ia memandang wajah Alana yang damai saat tertidur.
"Kenapa kau berubah? Dulu kau wanita yang pasrah dengan keadaan, dengan rela kau menyerahkan diri padaku agar aku tak semakin menuntut kakakmu. Beruntung pria itu memiliki adik sebaik dirimu, tetapi sayang ... Karena darahmu dan darahnya sama, aku harus menyakitimu" ujar Theo dengan lirih.
Theo berdiri, ia berjalan menuju balkon dan berniat menutup pintu. Namun, ia melihat langit yang sangat indah dan beda dari biasanya.
"Langit, bisa kah aku memutuskan egoku? Bisa aku mengedepankan perasaanku? Bisakah aku tenang dengan rumah tanggaku tanpa benteng yang aku buat sendiri?" Lirih Theo.
Theo menghembuskan nafas berat, dia menutup pintu dan berbalik badan.
Dia melangkah ke arah kasur, matanya melirik sebentar ke arah nakas yang terdapat gelas kosong.
Kedua sudut bibir Theo terangkat, dia menggelengkan kepalanya sembari menatap Alana.
"Sudah aku duga kau tak bisa menahan lapar, saat tengah malam nanti kau pasti akan terbangun dengan perut yabg keroncongan," ujar Theo dan merebahkan dirinya di samping Alana.
__ADS_1
Theo terlelap, dia memasuki alam mimpi. Biasanya pria itu akan tertidur tengah malam, tetapi entah mengapa ia tertidur dengan cepat hanya karena berada di sebelah Alana.
Betul saja, tengah malam Alana terbangun. Dia berusaha untuk duduk dan menyalakan lampu tidur.
"Aku lapar." Cicit Alana sambil mengelus perutnya.
Matanya melirik ke arah Theo, dia sudah menduga jika Theo pasti akan tertidur di sebelahnya.
Perlahan Alana turun dari kasur, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Sepi ... Itulah yang Alana rasakan, tetapi karena perutnya lapar ia memutuskan untuk langsung pergi ke dapur.
Sesampainya di dapur, Alana melihat lemari. Ia berjalan mendekati lemari itu dan membukanya.
"Wah, ada mie!" Seru Alana dengan keras.
Tersadar, Alana langsung membekap mulutnya. Dengan senyum yang tak luntur, Alana mengambil bungkus mie itu dan memasaknya.
Tak lupa dia memberi dua telor agar dirinya kenyang.
Sehabis memasak, Alana langsung memakannya. Dia merasa sangat bahagia hanya karena memakan mie yang sangat dia sukai.
Langkah derap kaki terdengar, Alana mengentikan kunyahannya dan menoleh ke belakang.
Terlihat Mamah Theo sedang menatapnya dengan heran dengan tangan yang memegang gelas kosong.
Alana melirik sebentar mangkok mie nya dan kembali menatap Mamah Theo.
"Alana lapar, minta mie boleh?" Tanya Alana dengan lugu.
Mamah Theo mengerutkan keningnya, ia berjalan mendekati Alana yang tengah menatapnya.
"Kenapa makan mie?" Heran Mamah Theo.
"Aku lapar, tidak ada makanan," ujar Alana.
Mamah Theo menarik mangkok Alana, dan hal itu membuat Alana membulatkan matanya.
"Tante, kau boleh menyiksaku semaumu. Tapi jangan siksa perutku, disini ada cucumu dan dia kelaparan," ujar Alana dengan memelas.
Mamah Theo tak menjawab, dia berjalan ke arah tempat sampah dan membuang mie itu.
Alana meringis, padahal perutnya sangat lapar. Namun, sepertinya wanita itu terlihat seperti ibu tiri.
Bahu Alana melemas, dia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya. Tangan lainnya memegang perutnya, sungguh dirinya sangat lapar.
Telinganya mendengar suara wajan, dia tak menghiraukannya karena ia lemas untuk saat ini.
__ADS_1
Tak!
"Makan!"
Alana terkejut, ia mengangkat kepalanya dan melihat nasi goreng yang sangat harum berada di depannya.
"Kau sedang hamil, tak baik memakan mie instan. Berhenti lakukan itu," ujar Mamah Theo.
Alana menganggukkan kepalanya dengan antusias, dia melupakan kejadian tadi. Dia langsung melahap nasi goreng itu dengan cepat.
"Apa kau terbiasa bangun tengah malam karena lapar?" Tanya mamah Theo yang kini sudah duduk di hadapan Alana.
"Iya." jawab Alana dengan singkat.
Mamah Theo terdiam, dia menatap Alana yang sangat lahap memakan masakannya.
Hatinya tersentil, dia kembali mengingat mendiang putrinya. Tak sadar ia menangis, dan Alana melihatnya.
"Tante kenapa nangis? Alana salah yah? Ini gak Alana habisin kok," ujar Alana dan kembali menaruh sendok yang tadi dia pegang.
"Ah, tidak-tidak. Tante tidak papa, sudah ... habiskan makanannya." Ujar Mamah Theo sambil menghapus air matanya.
Alana mengangguk ragu, dia sebenarnya bingung dengan sikap mamah suaminya ini. Walau begitu, Alana dapat merasakan jika wanita di depannya hanya merindukan sosok putrinya yang Theo sebutkan saat pertengkaran mereka.
Alana kembali memakan makanannya hingga habis, setelah habis ia meneguk air yang ibu mertuanya itu sidah siapkan.
"Mulai besok aku akan menaruh makanan agar ketika kau lapar tengah malam tak seperti tadi," ujar Mamah Theo.
"Baik tante ...,"
"Kinara," ujar Mamah Theo yang memberi tahu namanya.
Alana mengangguk sembari tersenyum, walau dia tidak memanggil Kinara mamah tapi setidaknya Kirana sudah cukup luluh padanya.
"Mah,"
Kinara dan Alana menoleh, terlihat Theo dengan wajah bantalnya.
"Istrimu lapar dan kau tidur nyenyak?" Sinis Kinara.
"Aku mana tahu dia keluar kamar, gak bangunin aku juga." Ujar Theo sambil berjalan mendekati istrinya.
"Sudahkan? Ayo lanjut tidur," ujar Theo dan menarik tangan istrinya.
Kinara melihat kepergian putra dan menantunya, wajahnya terlihat sendu. Hatinya bergemuruh, sungguh ia tak tega dengan Alana.
"Jangan buat tante luluh Alana,"
__ADS_1