Plot Twist Transmigration

Plot Twist Transmigration
Bagian 2: Bertemu


__ADS_3

Selamat membaca


Saat ini Aubrey, atau kini menjadi Alana tengah berada di mobil. Entah suami dari tubuh yang sekarang ia tempati akan membawanya kemana, tetapi Aubrey masih tak percaya dengan kejadian yang menimpanya.


Aubrey atau kita sebut saja sekarang Alana tengah menatap luar jendela mobil, tempat yang dia lalui sangat tak asing tetapi dia lupa tempat itu.


"Ehm, apa kau kenal Revan?" Tanya Alana sambil menatap Theo yang asik memainkan ponselnya.


Seketika Theo terdiam, pandangannya masih menatap ponsel. Namun, Alana tahu jika Theo tengah terkejut.


Tak lama Theo pun menoleh, dengan bingung ia berkata, "Dari mana kamu tahu Revan? Baru saja kita akan bertemu dengannya," ujar Theo.


Alana juga bingung, dia tahu karena wanita di mimpinya memberi pesan padanya agar menjaga Revan.


"Aku tidak tahu," ujar Alana.


Theo mengangkat bahunya acuh, mencoba untuk tak memperdulikan Alana.


Alana kembali melihat jalanan, disini sangatlah lebih modern dan indah di bandingkan dengan kehidupannya dulu.


Berselang lama, mobil akhirnya memasuki sebuah gerbang besar. Alana yang saat itu tertidur dengan posisi kepala yang ada di jendela pun tak sadar jika mereka sudah sampai.


"Cepat turun, aku masih ...." Ucapan Theo terhenti kala melihat Alana yang tertidur, wajah cantik dan imutnya membuat jantung Theo berdebar kencang.


Theo menggelengkan kepalanya berulang kali, ia harus secepatnya sadar dari keterkagumannya dan segera membawa Alana masuk ke dalam rumah.


Theo keluar dati mobil, ia memutari mobil dan membuka pintu mobil dari arah Alana.


Theo membawa Alana ke gendongannya, ternyata tubuh Alana tak terlalu berat sehingga Theo pun membawa Alana masuk dengan mudah.


"Apakah orang tuaku sudah pulang?" Tanya Theo pada salah satu penjaga yang berjaga di depan pintu.


"Belum tuan, sepertinya mereka akan kembali sore nanti," ujar penjaga itu.


Theo akhirnya masuk kedalam rumah yang berukuran lumayan besar, terdapat balkon di lantai dua dan lantai tiga adalah tempat mereka berolah raga atau sekedar berduduk santai.


Theo membawa Alana ke kamar yang terdapat di bawah, tempatnya tak terlalu jauh dengan tangga.


Cklek!


Theo masuk kedalam sebuah kamar, dia merebahkan Alana di ranjang dan menyelimuti tubuh istrinya itu.


Tangan Theo mengusap perut buncit Alana, setelahnya dia mengecup perut itu dan berlalu keluar daro kamar. Tak lupa ia juga menutup pintu kembali agar istirahat Alana tak terganggu.


Theo berjalan menuju lantai dua, anak-anak tangga dia lewati hingga sampai pun dia ke lantai dua.


Tujuan Theo adalah kamar dengan pintu bercat biru muda, ia membuka kamar tersebut dan disana terlihat sangat gelap.


Perlahan, Theo berjalan masuk. Ia menyalakam lampu dan melihat seorang anak kecil yang tengah menatap ke arah luar jendela dengan pandangan kosong.

__ADS_1


Theo tak membuka suara, dia hanya duduk di samping anak itu dan menatap apa yang anak itu tatap.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Theo tanpa menatap anak itu.


Tak menjawab, selang beberapa detik anak itu menatap Theo dengan pandangan kosong.


Karena merasa di perhatikan, akhirnya Theo juga ikut melihat anak itu.


"Ada apa?" Tanya Theo.


Anak itu mengambil buku yang di.jadikan kalung di lehernya, ia menulis dan memberikannya pada Theo.


Theo melihatnya, dia membaca tulisan anak berumur 4 tahun itu. Tulisan berantakan tetapi dengan tulisan yang benar, dan Theo dapat membacanya.


"Apa kau membawa pulang ibuku?"


Begitulah kira-kira tulisan bocah itu, Theo hanya menatapnya dengan raut tak terbaca.


"Huh, tentu kau anak yang pintar. Kau pasti sudah tahu apa jawabanku," ujar Theo.


Bocah itu menatap Theo dengan tajam, dia turun dari kasurnya dan menunjuk pintu keluar agar Theo segera keluar dari kamarnya.


Theo yang melihat itu hanya menghela nafas pasrah, dia akhirnya bangkit dan mengelus kepala bocah itu walau sempat di tepisnya.


"Jangan terlalu larut dalam kesedihan Revan, papah sedih melihatmu seperti ini," ujar Theo.


Theo akhirnya keluar, sedangkan Revan kembali mematikan lampu dan memeluk lututnya di tempat tidur sambil menatap ke arah balkon.


***


Alana bangun dari tidurnya, ia menduduki dirinya dan menatap ke arah sekitarnya.


Perlahan, kakinya turun dari kasur dan melangkah ke arah pintu. Alana keluar tanpa memakai alas kaki, sehingga ia menyentuh lantai yang sangat dingin.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" Tanya seorang pembantu yang entah kapan berada di samping Alana.


Alana tentu saja terkejut, dia memegangi dadanya karema detak jantungnya berdetak keras.


"Kenapa harus ngagetin sih! Kaget saya,' ujar Alana.


"Eh, maafkan saya nyonya," ujar pembantu itu dengan perasaan tidak enak.


Alana hanya mengangguk, netranya bergerak liar mencari sesuatu.


"Hei, ini rumah orang kaya bukan? Kau pasti tau letak dapur, cepat tunjukkan padaku dimana dapurnya?" ujar Alana sambil menarik tangan pembantu itu dan membisikkannya.


Pembantu itu agak sedikit bingung, karena Alana sudah seperti maling yang bergerak secara halus di rumah suaminya sendiri.


"Kau tahu pria yang dateng bersamaku tadi?" Tanya Alana.

__ADS_1


Pembantu itu mengangguk. "Dia tuan Theo, anak dari tuan besar nyonya," ujar pembantu itu.


"Nah, dia suamiku. Ayo cepat tunjukkan dapurnya, perutku sangat lapar." Ajak Alana sambil mengelus perut buncitnya.


Pembantu itu terlihat bingung, dia juga tahu jika Alana adalah istri Theo. Tapi kenapa wanita itu tampaknya tak tahu dan seperti anak kecil yang bermain dengannya.


Tanpa berpikir panjang, pembantu itu membawa Alana ke dapur. Netra ibu hamil itu langsung berbinar kala melihat cake dan berbagai macam makanan manis lainnya.


"Oh ... Kawanku!" Seru Alana sembari menarik piring cake yang berada di meja dapur.


"Nona itu ...,"


"Syut! Diam, aku sedang berduaan dengan kawanku. Biarkan aku menikmatinya sebentar saja yah, biarkan aku tenang menikmati cake ini okay," ujar Alana menyela ucapan maid itu.


Pembantu tersebut dan teman lainnya meneguk ludahnya kasar, mereka membuat kue itu untuk yang lain bukan untuk Alana.


"Buat lagi saja, aku takut tuan kecil akan mengamuk." ujar teman pembantu itu sambil berbisik.


Akhirnya maid yang membawa Alana tadi kembali membuat, sedangkan yang lain sibuk membantu.


"Alana?"


Alana yang sedang makan pun menoleh, dia melihat Theo yang sedang menatapnya dengan terkejut.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memakan kue itu? Cepat singkirkan kue itu," ujar Theo yang terlihat sedikit panik.


Alana bingung, dia melihat Theo menyingkirkan cake nya yang tersisa setengah. Theo mengambil tisu dan mengapit dagu Alana.


Theo membersihkan sisa coklat dan kue itu dari bibir Alana dan juga pipinya yang terlihat cemong. Sebenarnya Theo mau tertawa, hanya saja ia sedikit panik entah karena apa.


"Apakah kue mamah sudah siap?"


Theo mendadak terdiam, hal itu di amati oleh Alana. Ia juga bingung dengan sekitarnya yang mendadak diam.


Alana melihat siapa yang bertanya, dan ternyata itu adalah Revan. Alana yang tak tahu diapa Revan hanya bisa menatapnya dengan bingung.


"Tuan kecil, ku-kuenya ...,"


Ucapan pembantu itu terhenti ketika melihat Revan yang berjalan ke arah meja dapur dan menatap cake yang telah tersisa setengah.


"Siapa yang memakannya? Kalian tahu bukan jika cake itu untuk mamah ku? Mamahku sangat menyukai cake! Dan siapa yang dengan berani memakannya?!" ujar Revan dengan lantang.


Sangat aneh bukan? Revan hanya berbicara ketika dirinya marah, di luar dari itu ia akan menulis di buku kecil yang tergantung di lehernya.


Alana merasa bersalah sekaligus takut, dia turun dari kursi dan memegang erat kemeja Theo. Theo dapat merasakan jika istrinya takut, ia akan membawa Alana pergi dari sana sebelum Revan menyadarinya.


Namun, naas sekali ternyata Revan menatap gerak gerik mereka.


"Diam disana, kau memakan cake ku?"

__ADS_1


__ADS_2