Plot Twist Transmigration

Plot Twist Transmigration
Bagian 8: Revan


__ADS_3

Dua mobil sport dan empat motor memasuki kawasan kampus, baru saja mereka masuk gerbang teriakan histeris terdengar dari seluruh penjuru halaman kampus.


Kedua mobil dan empat motor itu terhenti di parkiran khusus. Bahkan disana terdapat penjaga yang menjaganya.


Mereka membuka helm full face mereka, teriakan kembali terdengar dengan cukup keras.


Tak lama kedua pintu mobil itu pun terbuka, keluarlah sosok pria dengan kaca hitam yang bertengger di hidung mancung keduanya.


"Astagaa!!! Itu Kak Theo! Ternyata lebih tampan dari pada foto di media sosialnya!


"Bener, gak sia-sia kita masuk ke kampus ini. Bisa lihat para cogan tiap hari,"


"Kak Samueeelll! Mamah! Mantumu ada disiniii!"


Samuel dan Theo memang menaiki mobil, dengan cuek mereka pun berjalan di ikuti oleh ke empat sahabat mereka.


Aksa, pria itu tengah mengumbar pesona. Dia menyugar rambutnya dan juga melepas kaca matanya.


"Memang pesona babang Aksa tak ada tandingan." Ujar Aksa sambil menggosokkan kaca katanya di kemeja miliknya.


Plak!


"Ngaca dodol! Muka ku sama kain pel beda tipis," ujar Fery.


Aksa mengusap belakang kepalanya, ingin rasanya dia memaki Fery. Namun, dia harus menjaga wibawanya disini.


Mereka berenam pun memasuki aula kampus, Theo memimpin mereka menaiki panggung yang berada di tengah aula.


"Wahhh, most wanted kamous ini telah datang. Beri sambutan pada mereka!" Seru seorang pembawa acara.


PROK! PROK! PROK!


"KAK THEOOO! MAMAH NUNGGU DI RUMAH!"


"KAK SAM! AKU PADAMU!"


Theo sungguh jengah dengan teriakan mereka, ia duduk di kursi yang sudah di sediakan begitu juga dengan ke lima sahabatnya.


Pembawa acara itu memberikan mic pada Theo, sedangkan pria itu malah memberikannya ke Samuel.


"Ekhem, baik ... Saya disini selaku panitia acara penyambutan mahasiswa baru saya ingin menyampaikan selamat datang di kampus Rowland university." Ujar Samuel dengan ramah sambil menatap mereka yang ada di bawah panggung.


Semua pekikan terdengar, Theo pun mengambil mic itu dan memberikannya pada Reksa.


"Emm baik semuanya, silahkan di mulai acara nya. Kalian di beri kesempatan untuk menunjukkan bakat kalian, dan pemenangnya akan menjadi ... Eee menjadi ... Calon pacar Theo!" Seru Reksa yang dengan sengaja memancing amarah Theo.


Theo mendelik tak terima, apalagi ketika para mahasiswi yang berteriak heboh.


"Kau mau aku gantung hah?!" Ketus Theo.


Reksa yang melihat tatapan tajam Theo seketika meringis.


"Sorry boss," ujar Reksa.

__ADS_1


***


Alana tengah termenung di ayunan taman tepat di belakang rumah, ia mengayunkan kakinya dengan wajah sedih.


"Sedang apa kau disini?"


Alana terkejut, dia menoleh dan mendapati Revan yang tengah menatapnya datar.


"A-aku sedang menikmati angin, panas di dalam." Sahut Alana.


"Di dalam pakai AC kalau kau lupa," ujar Revan.


Alana yang mendengar itu pun meringis, Revan membuatnya diam tak berkutik.


"Aku tahu kau tak nyaman tinggal di sini, aku ... Ekhem ... Makssscccudku ...,"


Alana menghela nafasnya kasar, Revan terlihat tengah menyusun kata dan sulit mengungkapkannya.


"Berbicara dengan santai, kau hanya anak umur empat tahun dan tak perlu bahasa selancar orang dewasa." Ujar Alana sambil menepuk pelan kepala Revan.


Revan tertegun, dia menatap Alana dengan wajah polosnya. ALana yang melihat itu menjadi gemas dan tanpa di sangka ia malah mencubit pipi Revan dengan pelan.


"Kau memggemaskan!" Seru Alana.


Revan menutup pipinya, dia memutar badannya dan membelakangi Alana.


"Levan malu." Cicit anak itu.


Alana terkekeh, dia berdiri dan kini berdiri di hadapan Revan.


Revan menjauhkan tangannya, dia mendongak dan menatap Alana dengan bingung.


"Kau memang ictli ayahku, tapi kau bukan ibuku," ujar Revan dengan bingung.


"Ehm ... Begitu yah?" Sahut Alana.


"Iya, bagaimana kalau kau celai dali ayahku dan menikah denganku?" Ujar Revan dengan tampang polosnya.


Alana tentu saja melongo, Revan baru usia empat tahun tetapi sudah mengajaknya menikah.


"Tidak bisa sayang, aku seperti ibumu sekarang. Lagi pula aku sedang hamil adikmu," ujar Alana dan menunjuk perutnya.


Revan menatap perut buncit Alana, dia mengerutkan keningnya. Tangannya terangkat dan mengusap perut itu.


"Aku kila memang pelutmu cepelti ini, telnyata ada adik di dalam yah?" Tanya Revan.


Alana mengangguk, dia sedikit terheran dengan Revan. Tampaknya anak itu sudah menjadi dirinya sendiri, dia berucap dengan lantang tanpa berpikir seperti tadi.


"Kenapa S mu menjadi C?" Heran Alana.


Tiba-tiba Revan terdiam dan menggeleng."Nda tahu, cucah cekali bilang huluf itu. Aku haluc biacakan itu, dan akhilna bica dan kenapa cekalang jadi culit cekali," ujar Revan dengan bingung.


Alana juga terbingung, memangnya bisa seperti itu? Bukankah jika sudah bisa bicara S, maka seterusnya akan bisa? Alana tak mengerti dengan bocah di depannya ini.

__ADS_1


"Coba bilang S," ujar Alana.


"Ec, Ecsss." Revan mengikuti sambil ludahnya tersembur.


"Tadi bisa, kau bahkan bicara sangat lancar. Apa lidahmu keseleo?" Heran Alana.


Kegiatan mereka tak lepas dari pandangan Kinara, memang sedari tadi dia berada di sudut bangunan untuk mengawasi Alana.


Dia juga dapat mendengar hal percakapan kedua orang berbeda usia itu, sesekali dia juga terkekeh mendengar perkataan cucunya.


"Revan memang seperti itu, jika dia berbicara pendek maka ia bisa menyusun kata dengan baik. Jika cerewet, semua kata akan belepotan. Kau orang kedua setelah putriku yang bisa membuatnya persis seperti anak seumurannya." Gumam Kinara.


Alana merasakan keram di perutnya, dia meringis dan duduk di ayunan kayu itu.


"Shh,"


"Kau kenapa? Cakit? Pelutna cakit? Levan haluc apa ini?" Panik bocah itu.


Alana tersenyum walau terpaksa, perutnya sangat sakit dan dia tak tahan.


"Tak apa, tolong panggilkan bibi atau siapapun. AKu tak kuat harus berdiri," ujar Alana.


Revan mengangguk, baru saja dia akan berlari tetapi Kinara lebih dulu mendekati mereka.


"Ada apa?" Tanya Kinara sedikit khawatir.


"Perut aku sakit banget tan, rasanya kayak di remes gitu akhh!" Ringis Alana.


Kinara menjadi takut, dia memegang perut Alana yang menang terasa kencang.


"Umur kandungan kamu berapa?" Tanya Kinara.


"Enggak tahu tan," ujar Alana di sela ringisannya.


Kinara panik, dia memanggil penjaga agar membantu mereka. Dua orang penjaga datang, mereka membawa Alana memasuki kamar.


"Sakit tan hiks ... Sakit,"


Kinara menelpon Victor, dia bahkan sampai meremas tangannya karena gugup dan takut.


"Halo tante, ada apa?"


"Ha-halo Vic, Vitor bisa kau kesini? Alana sepertinya mengalami kontraksi, perutnya sangat kencang. Tante takut kandungannya kenapa-napa," ujar Kinara sambil menggigit jarinya.


"Kok bisa tan? Kandungannya kan baru tujuh bulan?" Heran Victor.


"Tu-tujuh bulan?!" Kaget Kinara.


Memang Kirana tak di beri tahu oleh Theo mengenai berapa usia kandungan Alana.


"Oke deh tan, aku lagi perjalanan ke sana." Ujar Victor dan menutup telpon.


Kinara masih terdiam, dia menolehkan kepalanya pada Alana yang memegang perutnya dengan wajah pucat.

__ADS_1


"Bagaimana ini,"


__ADS_2