
9 Desember 2021
Kepulan uap panas dari cangkir putih perlahan menghangatkan telapak tanganku yang sedari tadi menggenggamnya. Aroma kopi menyentil kesadaranku sejenak. Kopi hangat yang cukup membuatku merasakan tendangan kafeinnya yang memacu jantungku berdetak lebih kencang. Bukan kopi mahal atau kopi racikan barista handal. Hanya kopi sachet yang selalu ada di kamar hotel.
Suara deru ombak yang bersautan dengan angin yang berhembus dan ocehan burung laut memanjakan telingaku. Aroma laut yang khas tanpa polusi memenuhi rongga dadaku. Hembusan angin memelukku dalam rasa dingin yang berbeda. Siluet dini hari di depanku memanjakan mataku dalam keheningan. Matahari masih belum muncul. Masih pukul 04.17 WITA.
Kelima indra yang dimanjakan membuatku tiba-tiba merasakan sesak di dada. Memori lama yang tersimpan rapi, menyeruak keluar. Kenangan lama yang tidak pernah tercipta di pantai ini perlahan bermunculan.
Kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan. Kenangan tentang dia yang memenuhi hatiku. Dia yang sempurna. Dia yang selalu aku cinta.
Namaku Sore. Tapi aku bukan anak senja. Aku pecinta fajar. Matahari yang perlahan terbit dengan kehangatannya. Langit gelap perlahan terang. Indah.
***
Flashback ( POV Sore )
10 Oktober 2013
Krekk..
"Selamat datang di Flomart" ucap gadis berambut pendek itu dari belakang meja kasir. Sapaan wajib yang merupakan SOP perusahaan setiap kali mendengar suara pintu itu minimarket dibuka.
"Rere.. ono promo minyak goreng meneh rak? Budhe gelem nduk." Budhe Wati penjual martabak yang mangkal di depan minimarket ini memang pembeli produk promo ter-gercep di toko ini.
Gadis kasir itu bernama Rere, gadis manis itu memang jarang tersenyum, selalu memakai pakaian yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya, rambut hitamnya tetap terlihat lebat meskipun pendek bergaya bob. Entah, mengapa Rere ingin orang-orang menganggapnya tomboy dengan berpenampilan seperti itu. Sepertinya Rere membangun tembok di sekelilingnya.
"Wonten Budhe. Tapi merk nipun sanes B**oli. Pareng mboten Budhe?" (Ada Budhe, tapi merknya bukan B**oli. Mau gak Budhe?)
"Wis gak popo. Sing penting dudu minyak curah. Dosa aku nek sing tuku dadi watuk-watuk."(Udah gak papa, Yang penting bukan minyak curah. Dosa saya kalau yang beli nanti batuk -batuk).
"Sekedap Budhe kulo pendet rumiyen. Bade tumbas pinten Budhe? Beli 2 L gratis 500ML." (Bentar Budhe, saya ambil dulu. Mau beli berapa Budhe?) Rere berjalan keluar dari area kasir menuju island produk promo yang tersusun rapi di depan meja kasir.
Tangan kanan Bude sibuk merogoh kantung celananya untuk mencari dompet kecil dengan sablon nama toko emas. Dan dari tangan kirinya terangkat jari telunjuk, jari tengah dan jari manis.
Krekk... krekk.. krekk... Pintu minimarket terbuka tiga kali.
"Selamat datang di Flomart." sapa Rere tanpa menoleh dan sibuk mengangkat 3 kantong minyak goreng dan berjalan menuju meja kasir.
"Permisi" sapaan lembut konsumen yang baru masuk itu.
Mata Rere reflek menoleh. Di depannya berdiri seorang pria muda tersenyum kearah Rere. Senyum manis, yang membuat gadis-gadis terpikat. Tapi bukan Rere, gadis ini tidak mudah terpikat seperti ada kabut di matanya.
Rere sepersekian detik sempat tertegun menatapnya. "Kayak pernah lihat, tapi dimana y? Artis kah?" batin Rere.
Tetapi rasa penasaran itu, seketika hilang saat tatapan pria itu seperti mescanning Rere dari ujung kaki sampai ujung kepala. Rere tampak risih dan salah tingkah dibuatnya.
"Kak Alex, Kak Liam sepertinya kita sudah menemukannya." pria itu memanggil kedua temannya yang satu menuju lorong snack yang satunya lagi ke minuman.
"Yes Leo! I know she is her. I saw her picture before." jawab pria yang di depan chiller. "Leo mau minum apa? Liam?"
"Water please." seru Leo pria yang berdiri di depan Rere.
"Same." seru pria yang masih mencari sesuatu di rak snack.
__ADS_1
"Rere mau minum apa? Orange juice yang ada pulpynya" tanyanya pada Rere yang sontak membuatnya kaget.
"Siapa mereka? Bagaimana bisa tahu nama panggilanku? Name tag nya tertulis Sore P. H. Bahkan tahu minuman kesukaanku dulu. Apakah mereka debtcollector? atau mereka artis atau youtuber yang di acara reality show yang prank-prank itu?" pikiran Rere ruwet dengan pikiran-pikiran aneh yang menakutkan. Ngeri. Takut. Parno. Hingga tak terasa keringat dingin mulai terbentuk di kening Rere
"O.. temennya Rere to? Ganteng-ganteng y" seru Budhe yang memecah fokusku.
"Budhe totalnya 51.500 ya." Rere menyerahkan kantong plastik belanjaan pada Budhe.
Budhe mengeluarkan uang pas yang dihitungnya dengan teliti. Selesai membayar Budhe membawa minyak dengan 2 kantong plastik di kedua tangannya.
Leo berbaik hati membukakan pintu toko dan membawakan kantong-kantong itu ke gerobak Budhe yang ada di depan toko.
Pria yang sedari tadi mencari minum sekarang sudah berdiri di depan kasir dengan 3 botol air mineral dingin dan 1 botol minuman orange yang ada bulir jeruknya.
Rere tertegun dan hanya bisa menelan angin. Ngeri..
"Rere, shift malam tidak boleh perempuan sendirian. Kamu ada temannya?" tanya pria itu. Pria jauh lebih dewasa dari Leo yang tak kalah tampan
Aku menunduk melihat jam tangan tua yang melingkar di lengan kiriku 18.48 pantas dia mengira aku shift malam. "Ada pak 2 orang pria. Mas Faris ke toilet pak. Salah makan. Adit lagi itung stok." jawabku. Aku seharusnya sudah pulang sejam lalu. Tapi dua mahluk Tuhan yang tak tahu diri itu menahanku disini. Tak mungkin kan aku meninggalkan meja kasir kosong. Bisa dipecat aku.
"Hahahaha..." suara tawa terdengar dari rak snack.
Aku sungguh tak mengerti apa yang lucu yang membuatnya tertawa seperti itu.
Pria dari rak snack itu berjalan menuju meja kasir dengan membawa 1 kantong snack kentang rasa barbeque. Wajahnya masih memerah karena tawanya tadi.
Dia mendekat perlahan. Ini aneh atau cuma perasaanku? Dia bergerak slowmotion? kakinya yang panjang melangkah percaya diri kearahku. Matanya yang indah dan senyum yang mengembang di sudut bibir memanjakan mataku. Aku ingin sekali menekan tombol 'stop' dan mengabadikan moment ini. Jantungku... jantungku berdetak seirama lagu dangdut koplo. Gerakannya lincah sekali.
'Rere, hari ini kamu minum kopi 3 cup. Jelas saja jantungmu menari-nari. Kamu kebanyakan kafein.' otak logisku menasehatiku.
Aku tersadar dari lamunanku. Aku hanya bisa tersenyum.
Sesaat tadi aku terbuai dengan pesonanya. Tapi apa yang keluar dari mulutnya tajam sekali seperti tokoh Angry Bird merah.
"Ini ciri khas tiap daerah.Menandakan keragaman bahasa yang beribu banyaknya di dunia. Lagipula saya orang Semarang pak. Lahir dan besar di sini. Dan sehari-hari saya juga ngobrolnya sama warga lokal. Anak ibukota seperti kalian tidak akan paham bagi kami anak daerah, kalian juga medok. Medok logat Jakartaan. Lu gue -an." batinku. Aku malas beradu argument dengan orang yang tidak aku kenal.
"Rere masih ingat aku? Alex. Mungkin terakhir kita ketemu 15 tahun yang lalu." katanya sembari mengulurkan tangan.
Aku menyambut uluran tangan sambil menggelengkan kepala. 15 tahun yang lalu? Saat itu aku masih berumur lima tahun. Bisa ingat apa aku.
"Aku sepupumu. Anak dari kakak tante Flo." jelasnya lagi.
"Kakaknya mama?" tanyaku binggung. Mama tidak pernah bilang sebelumnya bahwa dia punya kakak.
"Selesai kerja jam berapa? kita ngobrol dulu yuk. Ada banyak yang harus kami jelaskan." katanya lagi.
"Ini prank ya?" pertanyaan bodohku itu lolos begitu saja dari mulutku.
Alex dan pria di sebelahnya hanya tertawa memandangiku.
***
Pukul 19.05
__ADS_1
Rasanya aku enggan keluar dari ruang karyawan saat aku masih melihat mereka bertiga duduk di meja depan minimarket ini. Pingin punya pintu 'kemana saja'nya Doraemon. Tapi jangankan pintu 'kemana saja', pintu belakangpun tidak ada.
Aku sudah hampir keluar pintu dengan membungkukkan tubuhku mengendap-endap tanpa suara tapi langkahku terhenti. Ragu aku lanjutkan langkahku. Sebaiknya aku putar balik dan tunggu mereka pergi.
"Rere"Arif memanggilku dengan nada tinggi. Dan aku yakin suaranya terdengar sampai keluar toko.
"Arif berisikkkk... " aku bersungut-sungut mengumpat tak bersuara. Aku memberikan kode Arif untuk jangan lagi bersuara. Nanti mereka dengar. Dan benar saja mereka menoleh ke dalam toko.
Pria bernama Alex itu memanggilku dengan tangannya.
"Rak bali? wis jam 6 iki. mengko ke wengen tekan kostan." (Ngak pulang? sudah jam 6 ni. Nanti kemalaman sampai kostan). Masih saja dia berani bersuara.
"Berisik" kataku sambil menampilkan mimik wajah kesal dan terpaksa aku berjalan keluar mini market.
Sekali lagi aku melihat pria bernama Leo men-scanningku. Ingin rasanya aku memukul kepalanya.
"Re, kamu selalu berpakaian seperti ini? Tshirt, jaket yang ukurannya lebih besar 2 kali dari ukuranmu, jeans dan sneaker?" tanyanya sembari menarik jaket ku. "Lalu topi ini, dan rambut pendekmu.. Kau tidak terlihat seperti seorang anak gadis Rere."
Aku menepis tangannya yang masih memegangi jaketku dan duduk di kursi kosong disampingnya. "Iya sengaja." jawabku singkat.
Aku duduk di antara Alex dan Leo, lalu di depanku ada pria itu. Pria yang tatapannya membuat jantungku berdetak tak karuan.
"Rere, aku Alex, dia Leo adikku dan ini Wiliam teman kami." Alex mencoba menjelaskan siapa mereka. Ternyata pria itu bernama William. Nama seorang pangeran.
"Mungkin sebelumnya aku mau menunjukan sesuatu terlebih dahulu supaya kamu percaya." Alex menyerahkan album foto yang tampak usang namun terawat.
Aku membukanya perlahan sambil memandangi wajah-wajah itu. Ada wajah yang tak asing di sana. Ada foto mama sewaktu dia masih gadis. Pandanganku terpaku pada satu foto. Foto mama, papa, kak Rosa aku yang di gendong papa. Sepasang suami istri lain dan 3 orang remaja laki-laki dan 1 orang bocah laki-laki. Mereka semua tersenyum. Background foto ada di rumah lama kami.
"Ini aku." kataku menunjuk gadis cilik yang di gendong ayahku. Tak terasa air mataku tertetes.
Oh Tuhan aku merindukan mama papa dan kak Rosa.
Leo melihatku menangis hanya menepuk pundakku.
"Iya itu kamu, dan bocah-bocah ini kami Re." jawab Alex.
"Ini aku, ini Alex,ini William, ini Wilson." terang Leo sambil menunjuk satu persatu remaja yang ada di foto.
"Jadi kalian benar-benar sepupuku?"
Alex dan Leo mengangguk. Sedangkan si Pangeran hanya diam saja.
"Kami kemari ingin membawamu pulang Rere." Alex menatapku tajam.
"Pulang?"
"Kakek dan mama papa ku merindukanmu."
"Kakek?"
Dear mama,
Hari ini Rere kedatangan tamu dari Jakarta. Mereka tamu yang sangat istimewa. Mereka orang asing yang sangat familiar. Mereka mengajak Rere ke Jakarta. Apakah Rere harus ikut? Tapi nanti Rere jauh dari mama dan papa.
__ADS_1
Love
Rere