Princess Catfish & Prince Charming

Princess Catfish & Prince Charming
Welcome to Jakarta


__ADS_3

Rosa menangis mendengar adiknya bertemu keluarga dan memutuskan tinggal dengan mereka di Jakarta. Rosa selama ini merasa bersalah karena meninggalkan adiknya sendirian di Semarang tanpa keluarga. Rosa merasa dia lebih beruntung karena setidaknya ibu kandungnya masih hidup dan Rosa memiliki tiga adik tiri dari pernikahan kedua ibunya. Serta seorang pria yang sangat mencintainya. Tapi kini Rosa merasa sedikit lebih lega, karena ternyata adik tiri yang dicintainya ini memilih hidup bersama keluarganya.


Desi lebih senang lagi karena Rere menjadi satu kota dengannya. Sahabatnya kini menjadi lebih dekat dengannya.


Di dalam pesawat Rere duduk di dekat jendela, memandangi awan yang melayang-layang indah.


Jantungku berdetak membayangkan masa depanku.


Selayak mentari pagi yang pasti akan bersinar.


Masa depan yang pasti akan datang .


Biarkan waktu menjadi misteri.


Biarkan cerita tercipta sendiri.


Rere pasrah dengan garis kehidupan yang akan di jalaninya.Yang bisa dilakukannya hanya melakukan tiap detiknya dengan sebaik-baiknya. Supaya menjadi cerita yang patut di kenang.


Sesampainya di bandara Rere di sambut dengan Leo yang melambaikan tangan gembira melihat kedatangan Rere.


Leo mencium tangan kakeknya dan memberikan ciuman di pipi dan di balas ciuman kening oleh kakek Philip.


Leo menghampiri Rere dan menyapit kepala Rere dengan lengan kanannya. Lalu mengusap-usap rambut Rere gemas.


Mereka berdiri menunggu mobil yang akan membawa mereka pulang. Didepan Rere ada sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dengan seorang driver berseragam safari hitam menunduk hormat dan membukakan pintu penumpang. Kakek memasuki mobil tersebut bersama Antoni yang duduk di samping kakek. Driver itu lalu sibuk memasukkan tas yang di bawa Rere dalam bagasi belakang mobil.


Tangan Rere di tarik Leo saat akan membuka pintu depan mobil sedan itu. "Kamu ikut aku." kata Leo tersenyum dan membawa Rere ke arah parkir mobil. Rere berdiri di samping mobil mini cooper warna biru dengan strip putih. Menunggu Leo membuka kunci mobil. Rere pun memasuki mobil dan memasang seatbelt.


Setengah jam Rere lewati di dalam mobil. Rere melihat ke belakang. Bahkan gedung yang tadi masih terlihat dari sini. Rasanya kita tidak kemana-mana batin Rere.


"Welcome to Jakarta Rere" Leo terkekeh melihat ekspresi Rere yang masih belum terbiasa dengan hiruk pikuk ibukota. "Jam makan siang memang seperti ini."


Ini bukan macet, ini parkir di tol! gerutu Rere dalam hati.


***


Mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar tinggi yang menutupi seluruh pandangan. Tak terlihat seperti apa di balik pagar itu.


Pagar di buka oleh seorang security yang dengan sigap membuka pintu dan memberi hormat. Dari balik pintu, mobil melaju melewati taman berbentuk lingkaran dengan air mancur cantik di tengahnya. Mobil berhenti depan rumah yang lebih seperti lobby hotel dengan pilar-pilar yang besar dan kokoh.


Rere membelalakkan matanya takjub melihat kemewahan dan besarnya rumah ini. Bahkan ada pos security di depan. Tempat Leo memarkirkan mobil sepertinya bisa menampung sepuluh mobil.

__ADS_1


Rere turun mobil dan berjalan ke tangga menuju pintu utama. Mobil kakek yang sudah datang, menurunkan kakek di depan rumah. Antoni membukakan pintu mobil dan kakek turun dari mobil.


Jantung Rere berdegup kencang gugup. Berkali-kali Rere menggenggam tali tas ranselnya kuat-kuat mengurai gugup yang menyerang.


Dari balik pintu besar berbahan kayu dengan motif sederhana tapi tampak gagah, berdiri seorang wanita setengah baya yang masih sangat cantik. Dengan dress selutut berwarna biru tua yang sangat cantik menempel di kulit putihnya. Senyum hangatnya terukir menyambut kakek, Leo dan Rere.


Wanita cantik itu mencium tangan kakek. Lalu Leo menghampirinya dan mencium tangannya. Wanita itu mengusap lembut rambut Leo. Rere yang berdiri di belakang Leo pun merasa harus memberi salam yang sopan. Wanita itu membelai wajah Rere dengan kedua tangannya dan mengecupi wajah Rere sambil beruarai air mata. Rere hanya bengong tak tahu harus merespon apa.


"Maaf ya sayang, buat kamu sendirian selama itu..." suara lembutnya bergetar di iringi tangis yang beradu dengan senyum yang susah di sunggingkan.


"Aku Fiona, mama nya Leo & Alex. Tantemu. Panggil aku mama Fiona ya sayang."


Rere tersenyum dan terbata Rere mencoba memanggilnya "Iya, mama Fiona."


***


Rere masih mengagumi tiap sudut bangunan rumah yang di desain apik hingga tiap furniture dan dekorasinya berpadu serasi saling melengkapi. Rumah yang di dominasi warna putih dan plafon yang tinggi membuat bangunan tampak gagah dan anggun sekaligus.


Rere memasuki ruang tengah dengan jendela besar yang menyambung hingga ke atap rumah membuat cahaya dapat menyinari tiap sudut ruangan. Televisi model terbaru dan sofa berwarna ivory melengkapi keindahan ruangan keluarga. Di sudut lain tampak meja makan berbahan kayu utuh yang sangat tebal dengan sepuluh kursi yang elegan dan lampu gantung berwarna hitam betengger anggun di atasnya.


Seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga itu. Alex dan Robert datang sesaat setelah Rere masuk rumah. Kakek duduk di kursi favoritnya yang berwarna coklat. Dengan Antoni yang masih setia duduk di belakang kakek.


"Kenapa kamu memandangi kami seperti itu Re?" tanya Robert penasaran.


Ragu-ragu Rere menjawab, "Saat aku pertama bertemu kak Alex dan kak Leo, aku ragu mereka keluargaku. Karena mereka sangat tampan. Seperti datang dari dunia yang berbeda denganku. Tapi sekarang aku paham kenapa mereka sangat tampan. Saat memandang kakek, aku tahu sekarang dari mana gen rupawan itu berasal. Mamakupun sangat cantik." Rere tersenyum mengenang kecantikan mamanya. Yang tak kalah dengan kecantikan Tamara Bleszynski.


Baik Fiona Robert, Alex, Leo pun hanya tersenyum dan saling memandang. Antoni yang duduk di belakang kakek pun hanya bisa menahan senyumnya. Kakek yang malu jadi salah tingkah dan mengetuk tongkatnya dua kali dan membuat semua kembali fokus pada kakek sang kepala keluarga yang sangat di hormati di rumah ini.


"Anton, tolong panggilkan Pak Rusli, minta dia panggil semua yang sedang ada dirumah."


Dengan sigap Antoni memanggil Pak Rusli kepala ART di rumah ini yang mengkoordinasi semua staff yang bekerja di rumah ini. Baik itu ART, security, tukang kebun, dan driver. Dalam waktu singkat 15 orang berseragam dan berpenampilan rapi berdatangan. Dan menunduk hormat.


"Aku meminta kalian berkumpul disini hari ini untuk anak ini." kata kakek sambil menunjuk Rere dengan dagunya. "Mulai hari ini dia akan tinggal di sini. Dan akan masuk kartu keluarga kita. Perlakukan dia dengan hormat. Dia cucuku"


Rere berdiri dan memandangi wajah para staff, tersenyum dan melambaikan tangannya. Beberapa staff wanita muda membalas dengan lambaian juga tapi di turunkan oleh senior di sampingnya. Para staff hanya tersenyum dan menunduk.


Kakek memberi kode dengan tangannya pada Antoni dan Rusli untuk membubarkan diri.


"Fiona tolong antar anak ini ke kamarnya. Terima kasih" kata kakek sambil berdiri yang di bantu Antoni.


Saat hendak beranjak, kakek tiba-tiba berhenti dan menolehkan kepalanya kebelakang "Dan kamu! jaga sikapmu. Perlihatkan kamu memang seorang Sugiharto" katanya lalu melangkah pergi.

__ADS_1


***


Rere merebahkan diri di kasur yang ukurannya lebih besar dan lebih empuk dari si Prince. Sang pangeran sudah di serahkan ke Sari yang menerimanya dengan sukacita. Kamar yang cukup luas dengan dekor yang sederhana tapi tampak girly. Baik itu meja rias, lemari baju, televisi, kamar mandi yang bersih dengan shower, wastafel dengan kaca yang besar dan toilet duduk yang nyaman.


Rere memandang ke arah jendela dengan korden berwarna putih yang tertutup rapat dan di bukanya korden itu perlahan. Tampak pemandangan gunung yang menenangkan hati. Rere membuka jendela dan membiarkan angin memasuki kamarnya. Kembali memandangi gunung yang teduh.


Tok... tok... tok...


Suara ketukan pintu menyadarkan Rere dari lamunan yang sempat tercipta.


Saat membuka pintu, dilihatnya Pak Rusli dan seorang pria yang tadi pagi mejemput kakek di bandara membawakan koper Rere.


"Non ini barang-barang yang tadi di bawa. Jam makan malam jam 7. Baiknya Non Rere istirahat dulu saja." kata pak Rusli sambil menyerahkan koper besar milik Rere.


"Terima kasih pak." Rere memerima kopernya dan menutup pintu saat mereka sudah berlalu dari hadapan Rere.


Dibukanya perlahan koper itu dan Rere mulai mengeluarkan beberapa baju dan barang-barang favorit dan penuh kenangan Rere untuk di letakkan di kamar barunya ini.


Saat hendak memasukkan baju ke lemari, Rere heran dengan lemari yang sudah terisi baju. Baju pesta dengan manik dan model sexy. dan beberapa kardus yang tersusun rapi di dalamnya. Rere tidak berani lancang membuka kardus-kardus itu. Rere hanya menumpuk baju-baju itu ke sudut. Dan kembali merapikan bajunya sendiri.


Rere tampak puas dengan hasil kerjanya memberi nyawa pada kamar barunya itu.


Rere merebahkan tubuhnya dan lambat laun matanya terpejam. Lelah merayap keseluruh tubuhnya. Hingga gadis yang tidak pernah tidur siang ini tertidur.


***


Tidur siang sejenak membuatnya sedikit lebih segar. Terlebih mandi air hangat dengan shower, kemewahan yang meluruhkan lelahnya.


Setelah mandi, dengan pakaian seadanya, kaos dan celana pendek, Rere menuju keruang keluarga. Saat membuka pintu kamar Rere dapat mendengar suara tawa keluarganya di ruang keluarga. Dan suara seorang yang tak asing di telinganya.


Dari ujung tangga, Rere dapat mengenali sosok pria walaupun hanya terlihat bagian belakangnya saja. William sedang tertawa bersama keluarga Rere sangat akrab. Rere berjalan menuruni tangga perlahan namun tak nampak ragu.


***


Dear Mama,


Keluarga mama memperlakukanku seperti seorang putri. Haruskah aku membiasakan diri? Tapi aku takut. Takut terbiasa.


Love,


Rere

__ADS_1


__ADS_2